
"Ma..." seru Jason yg melihat Venita sejak tadi menatap ke pintu masuk "Mereka belum sampai?"
"Katanya sebentar lagi, Pa" jawab Venita sambil melirik arlojinya, jam sudah menunjukan pukul 9.45 dan ia sangat tidak sabar menanti anak dan calon cucu nya itu.
Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil, Venita segera berlari keluar yg segera di ikuti Jason dan Freya.
Sarah keluar dari mobil, dan seketika air mata Venita mengalir bebas. Ia langsung berlari dan memeluk putri satu satu nya itu, begitu juga dengan Sarah yg juga tak bisa menahan tangis nya. Ia memeluk ibunya dengan penuh kerinduan, Jason pun tak mau kalah. Ia Memeluk istri dan putri kecilnya itu...
"Sayang..." seru Venita, kemudian ia mencium seluruh wajah Sarah "Kamu dari mana saja, Nak?" tanya Venita dengan suara serak.
"Cuma travelling sebentar, Ma..." jawab Sarah terkekeh sambil mengusap air mata nya. Kini Sarah menatap ayahnya dengan sedikit rasa takut, Sarah tak bisa lupa apa yg di katakan Jason tentang bayi nya. Jason tak mau bayi itu karena itu bayi nya Devano...
"Gadis nakal..." Jason mengusap pucuk kepala Sarah "Kenapa harus kabur ke pedesaan, kasian cucu Papa. Kalau dia kenapa kenapa kamu mau tanggung jawab, huh?" tanya Jason yg membuat Sarah terharu dan merasa sangat bahagia.
"Pa..." lirih Sarah.
"Apa?" ketus Jason "Kamu mau memisahkan Papa dari cucu papa, hm?" tanya nya dan Sarah langsung menggeleng.
Devano dan yg lain nya yg melihat itu hanya bisa terdiam penuh haru, mereka tahu betapa sayang nya Jason dan Venita pada Sarah. Sarah adalah anak emas mereka, kesayangan mereka.
Kini Freya yg memeluk Sarah "Kamu sehat aja kan, Dek?" tanya Freya dan Sarah mengangguk. Freya kemudian membisikan sesuatu pada Sarah yg berhasil membuat Sarah melotot sempurna namun kemudian tersenyum lebar.
"Benaran, Kak Fe?" tanya Sarah antusias.
__ADS_1
"He'em..." jawab Freya yg juga tersenyum lebar.
"Kalian bicara apa?" tanya William.
"Kak Will engga tahu?" tanya Sarah dan Freya menggeleng.
"Apa nya yg engga tahu?" tanya William penasaran.
"Will, sebenarnya aku..." Freya menggenggam tangan William dengan erat "Aku hamil..."
"Huh?" William tercengang, kemudian ia mengerjapkan mata nya berkali kali dan akhir nya ia pun berteriak girang.
William bahkan langsung menggendong Freya dan memutar tubuh Freya saking bahagia nya.
Semua orang yg melihat itu pun ikut bahagia "Dev, kamu engga terkejut Freya hamil?" tanya William karena semua orang hanya terlihat bahagia dan tak terlihat terkejut.
"Kami semua sudah tahu kalau Nyonya Fe hamil, Tuan" jawab Dominic santai yg membuat William menganga.
"Terus kenapa aku di kasih tahu belakangan?" tanya William cemberut.
"Karena aku engga mau kamu khawatirin aku sementara kamu masih harus mencari Sarah" jawab Freya yg seketika membuat Sarah tertunduk sedih penuh penyesalan.
"Maaf ya, Kak. Sarah ngerepotin..." ucap Sarah lirih.
__ADS_1
"Sangat..." jawab Freya "Semua orang jadi gila dengan kepergian mu, karena itulah, jangan pergi pergi lagi ya..." pinta Freya dan Sarah langsung mengangguk.
"Ya sudah, sebaik nya sekarang kalian semua masuk dan mandi. Mama akan siapkan makan malam, setelah itu kalian harus istirahat" ujar Venita.
"Kebetulan banget, Tante..." ujar Jacob dan ia melesak masuk kerumah Sarah.
"Kami memang butuh istirahat, Nyonya. Di desa itu kami tidak bisa istirahat, banyak nyamuk, dingin dan juga tempat nya sempit" tutur Dominic.
"Engga ada air hangat disana, Ma. Harus masak kalau mau mandi" sambung William yg membuat Venita terkekeh.
"Dan juga engga ada sinyal, Tante. Bayangkan betapa membosankan nya hidup tanpa internet" teriak Jacob yg kini sudah masuk ke kamar tamu yg ada di lantai satu.
"Devano engga mengeluhkan apapun?" tanya Venita pada menantu nya ini.
"Selama di sana ada Sarah, aku engga masalah dengan air hangat, nyamuk dan apapun itu..." jawab Devano yg membuat Sarah merona.
"Ya sudah, sebaiknya kalian mandi. Sudah di siapkan air hangat nya" ujar Jason.
"Dan buang saja daster mu ini, Sarah..." seru Venita yg membuat Sarah terkikik geli.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1