Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
10. Sembilan


__ADS_3

Sampai di rumah, Siti di kagetkan dengan kedatangan Gita dan Alam. Semua warga rame berkumpul di depan rumah Siti. Seperti di ketahui, Gita dan Alam pernah mengalami sebuah tragedi yang mencoreng nama mereka dan desa Sukasari.


Semua warga berkumpul, karena petinggi desa mau meminta maaf pada Gita. Dulu karena hasutan salah satu petinggi desa, Gita harus mengalami kekerasan hingga buta dan lumpuh.


Siti senang sahabatnya datang kembali ke Sukasari. Tapi ternyata mereka tidak berdua, ada Ilham yang ikut dengan mereka.


"Gita..." teriak Siti memeluk sahabatnya.


"Kamu nggak marah lagi kan sama aku." tanya Gita mencoba meyakinkan Siti.


"Sedikit, sih!"


"Makanya sebagai permintaan maafku, aku bawa hadiah buat kamu."


"Apa itu?" Siti penasaran dengan hadiah yang di katakan Gita.


"Itu ..." tangan Gita menunjuk ke arah seorang lelaki berdiri di samping Alam.



Siti mendekati pria itu. Dengan senyum simpulnya yang dia rindukan. Ilham menatap Siti dengan tatapan rindu. Ingin sekali dia memeluk gadis itu, tapi malu dengan keramaian disana.


"hayo, jangan aneh-aneh ya, kalian." goda alam yang melihat Siti menggandeng tangan Ilham.


Ilham sedikit menggamit tangan kakaknya itu.


"Jadi ini yang kalian bilang penting!" sungut Siti


"Hehehehe...maaf ya, ti. habis aku takut kamu lupa waktu gara-gara berdua dengan Jo." jawab Edwar.


"Jo?" Ilham kaget saat mendengar nama itu. Di tatapnya gadis disampingnya seolah meminta jawaban. Tapi Siti masih terdiam, seolah mengabaikan tatapan Ilham.


"Sudah kalian istirahat dulu, yuk Gita, alam dan nak Ilham. Masuk dulu bentar lagi mau magrib." ucap ibu mengajak tamunya datang.


Mereka semua langsung masuk ke dalam rumah. Gita dan Alam akan menginap di rumah bibi. Sementara Ilham tidur di kamar Edwar. Mata ilham tertuju pada sebuah tas besar di kamar Edwar. Dia mengenali pemilik tas itu, lama Ilham menatap tas itu.


Seperti mengaitkan ucapan Edwar tadi.

__ADS_1


Apakah Siti kesini bersama kak Jo? Kenapa Siti tidak mengabari aku kalau dia berangkat bersama Jonathan? Apakah dia sengaja tidak mengabariku karena ingin bersama kak Jo? Siti, tadinya aku pikir kamu pergi karena masalah kemarin. Tapi ternyata aku salah? pantas kamu mengabaikan pesanku, teleponku. Ternyata ini alasannya.


Ilham terdiam sejenak. Pikirannya melayang dimana dia sampai cemas memikirkan Siti yang hilang tanpa kabar. Dimana sampai mengabaikan profesinya sebagai dokter. Hanya karena seorang Siti. Entah kenapa rasa kecemburuannya muncul saat mendengar nama Jonathan. Karena sejak dulu Jonathan selalu bersaing dengan dirinya. Dari mendapatkan hati Gita hingga mendekati Siti.


Ilham mengambil kamera milik Jonathan. Berbagai photo Siti terkumpul disana.


"Nak Ilham, yuk makan." suara ibu mengagetkan lamunannya.


Ilham beranjak keluar dari kamar yang hanya ditutupi tirai. Berbagai menu di hidangkan membuat selera makannya naik. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Gita dan kak Ronal mana, Bu?" tanya Ilham.


"Oh, mereka nginap di rumah bibinya Alam. Kasihan bibi sendirian di rumah, nggak ada yang menemani." cerita ibu.


"Baru sampai aja udah nanyain Gita?" ucap Siti ketus.


"Ya, kan aku tadi bareng mereka." jawab Ilham ikut ketus


Emangnya kamu yang berangkat bareng Jonathan diam-diam.


"Udah, kalian cepat makan. Kita jenguk nak Jo. kasihan dia sendirian di puskesmas." ucapnya ibu menengahi perang dingin keduanya.


Ilham yang mendengarnya menganggap Siti mulai cemburu pada Jonathan. Baginya, kalau memang Jonathan tebar pesona pada suster, kenapa nada Siti seperti sewot. Siti melihat wajah Ilham seperti tidak suka kalau dirinya membahas Jonathan.


Pasti dia cemburu! Rasain! emang enak!


Malam itu angin berhembus sangat kencang. Suasana desa terlihat sepi. Ilham menatap beberapa rumah yang belum terjamah dengan semen. Masih ada rumah yang menyerupai panggung, tapi ada juga yang sudah memakai semen dan beton.


Siti menunjuk sebuah rumah kecil, yang terdapat lampu neon kuning didepannya. Siti mengenalkan kalau itu rumah bibinya Alam.


Ilham menatap rumah kecil di dekat perkebunan. Dalam pikirannya, betahkah Gita disana? Dia biasa melihat Gita hidup dengan kemewahan. Ilham membayangkan Gita yang mengomel karena tidak betah di rumah itu.


Siti memperhatikan sikap Ilham yang terus melihat rumah bibi.


Ham, kamu datang kesini karena ajakan Gita kan. bukan karena inisiatif kamu sendiri. Kelihatan kok, dari awal kamu sampai yang kamu tanyakan mereka, bukan menanyakan kabarku. Sudahlah, ham. Aku lelah dengan sikapmu yang seperti ini.


Mau kamu apa sih?

__ADS_1


Siti hanya menggunakan sweater tipis merasa sedikit kedinginan. Ilham menutup tubuh Siti dengan jaket Jeansnya. Di tatapnya gadis itu, tak ada senyum yang dia lihat saat dirinya sampai tadi.


Alunan decitan jangkrik menambah dinginnya hati mereka. Tak ada kerinduan yang mereka pendam. Yang ada malah saling mencurigai. Kaki Siti terhenti, dia capek dengan sikap Ilham sedari tadi.


"Kamu ngapain kesini? Ngekorin Gita lagi?" Siti memulai pembicaraan.


Siti sudah jengah dengan Ilham yang memikirkan Gita, padahal dirinya ada di depan mata. Dengan langkah pelan kedua nya menyusuri jalan yang penuh bebatuan. Ilham menatap ke arah Siti yang masih membuang muka.


"Kamu tahu! Waktu aku mendengar kamu pulang kesini. Aku langsung menanyakan alamatmu sama Gita. Ya, walaupun sempat kena ceramah panjang dari mereka berdua. Satu Minggu,ti! Kamu tidak ada kabar, kamu tidak mengangkat teleponku, pesanku tidak kamu balas. Satu Minggu, ti! aku cemas mikirin kamu, mama nanyain kamu terus. Dan sekarang saat aku sampai ada Jonathan disini. Kamu mikir, dong!"


"Itu baru satu Minggu, ham! Aku! enam bulan menahan perasaan gara-gara kamu belum move on dari Gita. enam bulan aku mencoba bersabar dengan hubungan kita! Kamu sadar nggak sih! Kamu tuh nggak akan bisa sepenuhnya mencintai aku. Karena kamu belum melupakan Gita. Jangankan aku, Raisa pun kamu buat hancur hatinya karena sikap kamu yang seperti ini. Aku muak sama kamu,ham!"


"Jadi itu sebabnya kamu dekati kak Jo!Apa bedanya kamu sama aku, ti! sama aja, kita!" suara Ilham mulai terlihat emosi.


Tanpa mereka sadari sudah berada di depan puskesmas. Ilham dan Siti melangkah masuk ke dalam, Siti mendahului Ilham memasuki ke dalam kamar rawat Jonathan. Siti memijit tangan Jonathan di depan Ilham. Ilham pergi keluar ruangan.


"Ti!" Jo memulai pembicaraan saat ada ibu dan Siti.


Jo melihat ada Ilham sedang di depan pintu kamar rawatnya. Menatap lelaki itu dengan senyuman penuh arti. Lalu berbalik menatap Siti dan ibu.


"Ada apa? Jangan bilang kamu mau bahas soal tadi?" gertak Siti.


"Bukan. Bukan soal itu?" jawab Jo.


"Lalu?" Siti masih menanggapinya dengan ketus.


"Aku mau istirahat di rumah. Disini aku kesepian. Takut." jawab dengan malu-malu.


Jo akhirnya pulang ke rumah Siti. Satu kamar dengan Ilham membuat keduanya perang dingin. Siti mengambil makanan lalu menyuapi Jo di depan Ilham.


"Om, belum makan, kan. sini aku suapin. Aaaaaaa... buka mulutnya!" suara Siti lantang sampai Ilham memilih duduk di ruang tv.


Rasain! umpat Siti.


...****************...


Hareudang!

__ADS_1


Hareudang!


__ADS_2