
Jihan mendatangi mess tempat dimana Ilham dan teman-temannya tinggal. Dengan koper yang di tentengnya Jihan mengadu pada ilham kalau dirinya di usir oleh Siti dan keluarganya.
"Kak, Siti tidak mungkin begitu? Kakak melakukan apa sampai mereka marah sama kakak." Ilham tidak percaya dengan cerita jihan.
"Sepertinya Siti dan keluarganya sudah dipengaruhi oleh Jonathan. Sejak Jonathan datang Siti berubah padaku. Mungkin karena aku masih ada hubungan denganmu, ham." tambah Jihan yang menangis di depan Ilham dan beberapa teman sejawatnya.
"Apa kubilang, ham? dulu sudah pernah kubilang, cewek seperti Siti biasanya lebih membela yang berduit banyak. Kan Jonathan adalah pemilik rumah sakit tempat kita bekerja." ucap Rio.
Apa iya Siti seperti itu? ah, tidak mungkin. Aku kenal Siti lebih dari yang mereka tahu. Kalau memang Siti seperti itu, pasti dulu sudah kelihatan sifatnya.
Aku tidak percaya. Aku yakin kak jihan sudah melakukan sesuatu hingga keluarga Siti marah. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api.
Ya, Allah lindungi Siti dimanapun dia berada. Kalau memang kak Jo di takdirkan untuk Siti. Aku ikhlas, Siti berhak bahagia.
"Ham!" Jihan melihat Ilham yang masih termenung.
"Kakak istirahat di kamar Dodo ya. Biar Dodo tidur sama aku. Do, antarkan kak Jihan ke kamar kamu." titah Ilham pada Dodo.
Dodo mengajak jihan istirahat dikamarnya. Lalu Dodo duduk seperti ada yang akan di bicarakan dengan Jihan.
"Ehmm ... maaf kalau pertanyaanku ini bersifat pribadi?" Dodo memulai pembicaraan.
"Iya kenapa, do?"
"Kak jihan cinta sama Ilham?"
Jihan tertawa mendengar pertanyaan Dodo "Ya, tentu saja, do. Kalau tidak aku sudah lama mundur."
"Mundur kenapa, kak?" Dodo mulai kepo.
"Karena di pikiran Ilham bukan aku. Tapi.."
"Tapi ilham cintanya sama Siti, kan?" tebak Dodo.
Jihan mengangguk "Tapi aku belum lelah berjuang, do. Aku yakin suatu saat Ilham bisa menerimaku. Kamu tahu Ilham sudah di tolak oleh Siti. Siti sekarang mulai jatuh cinta pada Jo. Aku bisa melihat wajah bahagia Siti saat Jo datang tadi."
Dodo tersenyum simpul " Dasar perawan tua! pede banget dia! Kayaknya dia lebih cocok sama Jo, bujang lapuk dan perawan tua. Serasi!" umpat Dodo dalam hati.
Dodo memegang tangan Jihan "Kak cinta itu tidak harus saling memiliki. Coba kakak ingat selama bersama Ilham, ada nggak sesuatu yang dilakukan Ilham untuk kakak."
__ADS_1
Jihan berpikir sejenak "Belum ada. Tapi Kenapa Ilham banyak berbuat untuk Siti? kenapa bukan untukku?"
"Itu karena cinta Ilham untuk Siti, kak. Cinta itu bisa dilihat bagaimana seorang lelaki berkorban untuk membahagiakan pasangannya. Walaupun Ilham sadar, siti tetap akan menikah dengan Jonathan, dia rela mengorbankan perasaan dan nyawanya demi Siti. Karena dia tahu cinta tidak harus saling memiliki tapi tetap harus saling menjaga.
Dan kak Jihan, harus bersikap seperti itu. Bantu mereka untuk menjaga, bukan malah menyakiti diri sendiri dengan memaksa hati."
Jihan tertunduk malu. Selama ini yang dirinya tahu cinta itu harus saling memiliki. Jihan sudah terbiasa mendapatkan apa yang dirinya mau. Termasuk soal pasangan. Banyak lelaki yang mendekatinya membuat dirinya puas. Tapi Ilham! Sejak awal mereka dekat lelaki itu masih sulit dia taklukan.
Apa aku salah kalau aku mencintainya. Apa aku salah kalau aku berjuang mendapatkan hati Ilham. Bukan aku yang salah! tapi Ilham. Kenapa dia menerima perjodohan itu dan memberiku Harapan! ya semua ini salah Ilham, aku dan Siti hanya korban!
Dodo memegang tangan Jihan
"Kak tolong buka mata hatimu. masih ada pria lain yang berharap cintamu, kak. Kak Jihan cantik, terpelajar, dan kaya. Jangan hanya karena seorang Ilham membuat kakak buta."
Jihan kaget saat Dodo mencium tangannya. Dengan cepat dia melepaskan tangannya dari Dodo "Kamu apaan sih? Pake kayak gitu segala!"
Dodo menahan tubuh Jihan ke dinding. Seketika Jihan sesak karena tubuhnya di kunci oleh Dodo.
"Aku suka dengan kak jihan sejak pertama kali melihat kakak di rumah sakit. Memang ini salah kak! Tapi cinta nggak salah, aku cinta sama kakak. Makanya saat kakak ikut kesini aku senang sekali."
Dodo memegang wajah Jihan lalu mencium bibir Jihan. Entah kenapa Jihan terbuai dengan lembutnya cara dodo menciumnya.
"Aku tahu kakak punya perasaan yang sama padaku. Buktinya kakak menikmatinya."
"Kamu tahu, do. Kamu lelaki yang kesekian yang menikmati tubuhku. Tapi aku minta satu, bantu aku untuk memisahkan Siti dan Ilham. Kalau aku tidak dapat Ilham. Tak ada gadis manapun yang bisa mendapatkannya."
Tok tok tok
"Kak Jihan!Dodo!" Dodo dan Jihan saling berpandangan.
klik
Pukul 21:00, malam Minggu di desa Sukasari.
Seperti biasa Siti duduk di dekat jendela kamar. Matanya menatap kebun lapangan bola yang sedang ramai. Anak-anak sedang menyalakan obor menyambut datangnya malam Lailatul Qadar. Ini pertama kalinya siti melihat malam obor di lapangan belakang rumahnya.
"Kamu mau kesana?" Sebuah suara mengangetkan dirinya.
"Kepala kamu kenapa? Apa gara-gara Rudi, ya? Maaf, ya. Gara-gara aku kamu jadi celaka." Siti memegang perban kepala Ilham. Ada rasa bersalah yang di rasakannya.
__ADS_1
"Yuk." ilham menyambut tubuh Siti lalu menggendongnya.
"Kok kamu berat, ya. sekarang?" keluh ilham saat menggendong Siti.
"Ya, udah turunin kalo gitu." ambek Siti.
"Nggak papa, itung-itung ngedate untuk yang terakhir. Sebelum aku pulang dan sebelum kamu nikah sama kak Jo."
Siti terdiam. Ada sesak yang dia rasa saat mendengar kata terakhir dari Ilham.
Ilham mendudukkan Siti disalah satu batang pohon yang sudah tergelatak di tanah. Melihat anak-anak berlarian memegang kembang api. Ilham menatap Siti yang tertawa melihat tingkah para anak-anak.
Senyum ini akan aku rindukan, ti. Bukan hanya senyummu tapi kamu akan selalu ada di hatiku. Meskipun kita tak berjodoh.
"Kamu pernah dengar kata kata Qais kepada Layla." tanya Ilham
"Siapa itu?" Siti masih asing mendengar nama yang disebutkan Ilham.
"Mau ku ceritakan?" Siti mengangguk.
" Disebuah tanah Arab, terdapatlah sebuah kisah dua anak manusia yang saling mencintai. Mereka adalah Layla dan Qais, sepasang kekasih yang cintanya berakhir tragis."
Siti menoleh ke arah Ilham "Seperti Romeo dan Juliet gitu." Ilham menggangguk lalu meneruskan ceritanya. Tetapi ...
"Siti!" mereka menoleh kearah suara.
Siti menelan salivanya saat sosok itu mendekati mereka.
"Ayo pulang! Ngapain kamu sama dia! kamu itu sudah mau nikah masih aja gatal sama laki-laki lain." Edwar menarik Siti dengan paksa.
"Kak, jangan kasar gitu. Siti belum bisa jalan." ucap Ilham saat melihat Siti dibawa paksa oleh Edwar.
Ilham mengejar Siti yang terus memanggilnya namanya.Tapi tubuhnya di tahan oleh seseorang.
"Do, kasihan Siti. Abangnya kasar banget!"
"Sudah, ham. Kamu nggak usah urusin Siti lagi."
Ilham kaget dengan ucapan Dodo. Karena yang dia tahu Dodo sangat mendukung hubungannya dengan Siti.
__ADS_1
####
bersambung