Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
13. Tiga belas


__ADS_3

"Makannya pelan-pelan, om. Nggak baca doa ya." Ledek Siti melihat Jonathan makan seperti orang kelaparan. Jo tidak peduli dengan ucapan Siti. Dia lapar sekali, ditambah perasaannya senang karena rivalnya mengundurkan diri.


Ibu melihat calon mantunya makan cuma bisa menggeleng kepala. ibu mencoba mulai bicara serius dengan Jo.


"Kamu serius dengan Siti." tanya ibu


Jo yang tadinya sibuk dengan lalapan, menghentikan makannya. Kepalanya mengangguk. Di tatapnya Siti yang sibuk memotong tempe tanpa melahapnya. Suara sendok yang kencang, melebihi suara pentungan.


Ibu menatap Siti dengan tajam. Seolah menganggap sikap Siti kurang sopan. Tapi tetap saja Siti melakukan aksi protesnya. Ibu menghela nafas. Dia tahu putrinya tidak suka dengan obrolan ini, tapi tetap pernikahan ini harus terjadi.


Ibu berhutang Budi pada Jonathan yang dulu membebaskan lilitan hutang. Lilitan hutang yang di pakai ayahnya Siti, sehingga Siti harus menikah dengan Rudi anak pak kades yang sudah duda ( cerita ini ada di novel sebelah ).


Kalau saja Jonathan tidak datang mungkin Siti sudah jadi istrinya Rudi.


Siti membawa makanannya didapur, padahal belum dia makan sedikitpun. Selera makannya hilang. Dia hanya ingin berbaring di kamar.


"Bu, aku kekamar dulu. Ngantuk!" pamit Siti.


"Siti! Kamu sini dulu, ibu mau ngomong bersama Jo. Kita bahas soal.."


"Ibu kan yang suka sama dia? Kenapa bukan ibu saja sama si bujang lapuk ini. Bukan ibu juga tidak punya pasangan."


"Siti!" tangan ibu ingin menampar wajah Siti tapi di tahan oleh Jo.


"Ti. Kalau kamu mau istirahat pergilah! biar aku yang bicara sama ibu." ucap Jo.


Siti masuk ke kamar dan menangis. Dia menyesal sudah marah ke ibu, tapi dia juga kecewa dengan sikap ibu.


Bu, maafkan Siti.


Siti sudah kasar dengan ibu.


Bukan maksud aku untuk bersikap seperti ini


Aku hanya ingin ibu tahu


Aku butuh waktu untuk semua ini


Bu, Bukankah ibu memberi waktu pada Ilham


Tapi kenapa ibu yang mengingkarinya


Apa sebenci ini ibu pada Ilham?

__ADS_1


Apa salah dia pada ibu?


Siti mencoba memejamkan mata, tapi tetap tidak bisa. Tubuhnya bangkit disandarkan dinding kasur. Matanya menatap pintu, terbayang dimana malam itu ilham mencumbunya. Siti melempar barang seolah sakit hatinya mengingat soal Ilham.


"Maafkan Siti, nak Jo. Siti itu belum pernah pacaran. Makanya sekali kenal pria Siti jadi buta." ucap ibu tidak enak dengan sikap Siti di depan Jo.


"Nggak Papa, Bu. Saya mohon ibu jangan seperti itu lagi pada Siti. Untuk sementara ini kita jangan bahas soal ini. Hati Siti sedang panas, saya siap menunggu sampai dia siap, Bu. saya akan menunggu masalah ini sampai kondisi hati Siti tenang." bujuk jo.


Kamu memang menantu idaman ibu, nak Jo. Kamu dengan sabar menghadapi sikap Siti yang kekanak-kanakan itu. Ibu harap suatu saat nanti Siti terbuka hatinya. Kamu yang sabar ya, nak Jo.


Ibu memandang Jo dengan kekagumannya. Dia salut pada Jo yang bisa santai menghadapi siti yang sedang emosi.


"ibuuu!" seisi rumah kaget melihat Edwar berlari masuk ke rumah. Seperti orang ketakutan.


"Ada apa, war? Kenapa kamu panik sekali?" ibu heran kepanikan anaknya.


"Gita! Gita hilang!" jawab Edwar


"APAAAA! hilang lagi!" Siti langsung keluar dari kamarnya.


"Emang sudah sering, ya, ti?" tanya ibu yang kaget dengan penuturan Siti.


Siti belum sempat menjelaskan pada ibu langsung menarik tangan Edwar. Dia ingin ikut mencari Gita. Tapi dilarang sama Edwar karena sudah malam. Siti tetap ngotot mencari Gita, dia khawatir dengan keadaan Gita. Apalagi Gita sedang hamil.


"Kak! apa yang terjadi sebenarnya!" tanya Siti melihat kakaknya masih syok saat mencari istrinya.


"Kak Alam! Apa yang sudah kakak lakukan pada Gita! kakak kan tahu Gita itu sakit! kenapa kakak menambah rasa sakitnya! Pantas mama Yulia sangat membencimu!" bentak Siti pada Alam.


"Gita ketemu! Gita ketemu!" Teriak salah satu warga.


"Dimana! dimana!" Alam langsung berdiri mengikuti warga untuk menunjukkan keberadaan Gita.


Warga membopong Gita yang ternyata pingsan di dekat sawangan. Alam mengikuti warga untuk membawa istrinya. Suara alam yang terus minta maaf pada Gita membuat warga penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Gita bangun! maafkan aku, Gita! maafkan aku!" Alam terus mengguncang tubuh Gita yang kotor kena becek tanah merah. Wajah Gita terlihat pucat. Tangannya memegang perutnya yang buncit.


Tak lama puskesmas rame, karena banyak yang menanti kabar Gita. Petugas langsung membawa Gita ke ranjang dorong, memeriksakan keadaan Gita. Alam menunggu di luar dengan perasaan tidak karuan. Setiap detik tangannya terus mengacak rambutnya. Menandakan rasa penyelesalan yang mendalam.


"Ya, ampun nak. Sebenarnya ada apa ini?" tanya ibu melihat kondisi wanita yang sudah seperti anaknya sendiri.


'


"Aku yang salah, bukdang. Aku yang membuat Gita marah dan pergi dari rumah. Aku yang suami tidak peka perasaan istri." alam terus menyalahkan diri.

__ADS_1


"Emang! Emang benar ini salah kak Alam! Kakak selalu membuat Gita menderita. Kakak selalu membuat Gita menangis. Kakak yang selingkuh dengan sekretarisnya, beruntung Gita masih mau menerima kakak kembali. Sekarang, apa yang kakak buat lagi!" Siti terus memarahi alam.


"Aku tidak pernah selingkuh, ti! Jangan fitnah!" alam membantah tuduhan Siti.


Siti sudah geram dengan sikap Alam yang terus menyakiti Gita. Beruntung Gita masih memaafkan kakaknya itu. Kalau Siti di posisi Gita, sudah lama dia tinggalkan Alam. Di tatapnya sahabatnya yang terbaring lemah.


Ya Allah berilah kesembuhan untuk sahabatku.


Dia berhak bahagia. Semua ini pasti gara-gara kak Alam. Kenapa Gita! kenapa kamu masih bertahan dengan orang seperti dia!


klik


Beberapa hari kemudian


Ilham mulai disibukkan dengan aktivitasnya di rumah sakit. Sambil mengontrol keadaan Papa Pramono. Sedikit demi sedikit dia mulai melupakan masalahnya dengan Siti. Termasuk janjinya pada keluarga Siti. Saat ini bagi Ilham, dia fokus menunggu ayahnya sadar.


Mama Mila terus menasehati Ilham agar tidak terlalu larut dalam pekerjaan. Tapi ilham tetap saja menyibukkan diri


"Ham, kenalkan ini Jihan. Anak teman mama. Kebetulan Tante Kiki sedang di rawat disini. Jihan itu lulusan Harvard Lo." ucap Mama Mila mengenalkan anak sahabatnya pada Ilham saat bertemu di rumah.


"Oh, ini anak Tante yang duren itu. By the way, keisya apa kabar Tante?" tanya Jihan.


Ilham dan mama Mila saling memandang. Mungkin Jihan belum tahu kalau keisya sudah meninggal dunia.


"Kak kei, sudah meninggal karena kecelakaan." cerita Ilham.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Maaf, ya. Aku tidak tahu kalau kei sudah tiada. Mama juga tidak cerita padaku." Jihan merasa tidak enak pada mama Mila dan Ilham.


"Nggak papa, jihan. Itu juga kejadiannya sudah lama sekali." jawab Ilham.


"Ya, udah aku duluan dulu, ya Tante dan Ilham. Salam sama Om Pram, Semoga om Pram cepat sembuh." Jihan pamit dan berlalu dari hadapan Ilham juga mama Mila.


"Jihan cantik ya." bisik Mama Mila


Iya dia cantik


Tapi bagiku Siti lebih cantik.


Cantik wajah dan hatinya.


Siti aku merindukanmu.


Kenapa akhir-akhir ini kamu tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


Apakah kamu sudah menerima pinangan kak Jo.


__ADS_2