
"Ti"
Ilham terus memanggil nama istrinya. Sementara Siti masih menekuk tubuhnya didepan pintu kamarnya. Terdengar tangisan dari dalam kamar. Ilham menaikkan kepalanya jika dia didalam kamar, ingin rasanya memeluk Tiara mencoba menenengkan istrinya.
Mama Fatimah dan Ibu Aisyah yang melihat mereka. Kedua wanita tersebut hanya terdiam dengan suguhan tontonan didepan mata. Salah satu dari mereka memegang tangan ilham mencoba menenangkan menantunya.
"Ham, dengar, ya. Mama paham kok kamu sudah menjalan tugasmu sebagai dokter dan suami yang baik untuk Tiara. Tapi selama di rumah sakit dia terus menunggumu, hingga tak bisa tidur. Dia mau mengabarkan berita penting untukmu, ham. Makanya dia sangat marah."
Ilham menaikan kepalanya " berita penting? apa itu, ma?"
"Biarlah Tiara yang langsung mengatakannya padamu, nak. Yang pasti selesaikan urusan kaliam dengan kepala dingin. Bukan dengan emosi." nasihat mama Fatimah.
Mama mengajak ilham duduk diruang tengah. menikmati beberapa cemilan yang di hidangkan sang mertua. Mata Ilham menatap pintu kamar istri nya berharap sosok itu keluar dari sarangnya.
"Terimakasih, ma." Ucap Ilham.
Saat mereka sedang asyik mengobrol. Sosok mata coklat berdiri tegap menatap lelaki yang mengobrol asyik dengan istrinya.
"Mau apa kamu kesini?" Suara bariton mengagetkan Ilham dan Fatimah yang asyik bertukar cerita.
"Pa..." Ilham langsung menyalami ayah mertuanya. Tapi ditepis oleh Adolf. Lelaki itu masih marah pada menantunya setelah semua yang terjadi pada Tiara semalam.
"Mau apa kamu kesini! mau bikin anak saya sedih lagi. hah!?" Bentak Adolf yang masih panas hati.
"Saya mau menjemput Siti, pa. saya minta maaf jika kemarin tidak bisa menemuinya. Kemarin pasien covid tidak berhenti masuk. Banyak dokter yang kewalahan termasuk saya. Nggak ada maksud untuk mengabaikan Siti, pa. Tapi keadaan memang sedang tidak memungkinkah." balas Ilham masih berusaha bersikap tenang, walaupun dia tahu penjelasannya tidak akan meluluhkan hati Adolf.
Adolf berdecih.
"Alasan! emangnya tidak ada dokter lain sampai kamu harus ikut turun tangan! Keluar kamu! anak saya tidak sudi bertemu kamu!"
Ilham menunduk lesu. Dia tahu ini kesalahannya.
"Seharusnya kamu ada disampingnya. Dimasa-masa dia berjuang mempertahankan nyawanya. apa kau tahu dia sempat pingsan dikamar mandi berjam jam lamanya, seperti layaknya hipotermia. Apa kamu sejak sadar istrimu ini selalu menanyakanmu? indro berusaha memghubungimu berkali-kali tapi tak pernah kamu balas. Begini cara suami memperlakukan istrinya yang sedang sakit."
__ADS_1
Adolf terus menyalahkan Ilham atas semua yang menimpa putrinya. Sementara Ilham hanya diam saja saat Adolf terus menyalahkannya. Dia sadar memang itu murni kesalahannya yang tak menemani istrinya di rumah sakit.
"Saya tidak berniat membuat Tiara seperti itu,pa. Saya minta maaf. Izinkan saya menebus kesalahan saya pada Tiara." Ilham bersujud di kaki Adolf. Tapi sepertinya hal itu tidak membuat lelaki itu luluh seketika.
"Mas, maafkan Ilham. Dia kan sudah mengakui kesalahannya. Seharusnya orangtua kita memberikan solusi atas permasalahan mereka. Bukan malah membuat masalah lebih buruk. Aku tahu mas sayang sama Tiara. Izinkan illham bicara berdua dengan Tiara, mencari solusi untuk permasalahan mereka." ucap mama Fatimah menenangkan suaminya yang masih emosi.
Bagi Fatimah tugas mereka sebagai orangtua sudah selesai. Sekarang Tiara adalah tanggung jawab suaminya, walaupun begitu dirinya tetap memantau hubungan rumah tangga putrinya. Fatimah tahu kalau Adolf masih kecewa pada Ilham setelah yang terjadi di rumah sakit semalam.
Setiap permasalahan pasti ada ada solusinya. Di selesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan perang dingin.
"Mas, aku mau makan di restorant jepang langganan kita. Kamu mau kan ajak aku kesana sekarang?" bujuk mama Fatimah agar membiarkan Ilham dan Tiara menyelesaikan masalah mereka.
" Tapi sayang, aku capek sekali. Bisakah besok saja." Elak Adolf yang memang benar-benar lelah dengan pekerjaan kantor.
"Massss...." Adolf kaget tiba-tiba istrinya menjadi sangat manja. Sesekali menghela nafas panjang hingga akhirnya mengalah pada sang istri.
"Iya, sayang kita berangkat sekarang. Berdua?"
"Bertigalah masa kak Aisyah jadi obat nyamuk disini." jawab Fatimah.
Adolf sebenarnya sudah mulai risih dengan kehadiran Aisyah dalam rumah tangga mereka. Tapi dia enggan mengutarakannya pada istrinya. Karena yang dia dengar, Aisyah belum berani pulang ke jambi karena warga masih mengucilkannya. Adolf ingin membelikan Aisyah tempat sendiri, hanya saja dia masih mencari waktu untuk membicarakan pada istrinya.
"Ham, mama, papa dan ibu Aisyah pergi dulu,ya. Bicarakan dengan kepala dingin pada istrimu. Mama yakin Siti juga menunggu kamu. Mama percaya sama kalian berdua." Mama Fatimah langsung meninggalkan apartemen yang terletak di lantai 6.
klik
Masih Di apartemen milik keluarga Ford.
Pukul 20.30 WIB
Tiara terbangun memegang perutnya yang sedari berbunyi. Sekarang dirinya harus membiasakan makan banyak karena akan si janin yang juga akan diberi nutrisi. Kakinya melangkah menuju dapur membuka stok makanan yang ada.
Tiara melangkah ke ruang tv, rencananya akan makan sambil menonton sinetron favoritnya, Badai Pasti Berlalu. Tatapannya beralih ke sosok yang tertidur disofa. Guratan lelah terpancar di wajah lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu pasti lelah sekali, mas. Apalagi menghadapi pasien yang begitu banyak. Dengan resiko penularan yang sangat mengerikan. Maafkan aku, mas. Aku ini istri yang egois, hanya karena ingin mengabari kehamilanku, aku sampai lupa kalau kamu juga punya kewajiban sebagai dokter untuk menyembuhkan pasien, nyawapun jadi taruhannya."
Tiara membelai rambut suaminya, lalu pergi ke kamar mengambil bantal dan selimut. Sepeninggalan Tiara, Ilham membuka mata, senyumnya mengembang ketika mengingat perkataan istrinya.
"Aku tahu, ti. Kamu nggak akan bisa marah lama lama sama aku. Maafkan aku juga, ti yang sudah bikin kamu sedih."
Ilham melangkah memasuki kamar Tiara, saat istri sedang menyiapkan bantal dan selimut. Sebuah tangan melingkar di pinggang wanita itu. Tiara tahu itu kerjaan suaminya, dia memilih membiarkan suaminya melakukan apapun yang dia mau.
Ilham memeluk Tiara dengan erat. Meresapi setiap momen yang pernah mereka lalui. Ilham sadar pekerjaannya saat ini penuh tuntutan dimana nyawa taruhannya. Bulir bulir airmatanya menetes, dia ingin memanfaatkan momen ini. Sesekali mengecup pucuk rambut Tiara.
"Maafkan aku,ti. Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang kamu banggakan, aku belum bisa suami yang selalu ada disampingmu, aku belum menjadi suami siaga untukmu. Aku janji akan memperbaiki semuanya memulai dari awal lagi."
Tiara melepaskan tangan suaminya. Ada rasa sesak yang di dadanya. Dia mencoba meresapi ucapan Ilham tapi entah kenapa saat pikirannya mengingat momen di rumah sakit, sakit rasanya.
"Kamu tahu, mas. Saat melihat kamu sebegitunya perhatian pada Gita, dulu. Saat Gita masih amnesia dimana kamu selalu menyempatkan waktu untuk selalu menjaga Gita, mengecek kondisinya, saat itu dalam hatiku berkata alangkah bahagianya jika aku punya pasangan atau suami seperti dokter Ilham. Aku selalu merasa iri dengan kehidupan Gita yang dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Setiap lelaki yang mendekat langsung jatuh cinta. Dan setiap aku menyukai seseorang lelaki, pasti lelaki itu lebih memilih Gita.
Hingga kejadian kemarin sedikit membuka mataku bahwa apa yang ku hayalkan tak sesuai kenyataan. Suamiku yang kuharap datang, ternyata lebih peduli pada pasiennya. Iya oke aku tahu mas. Aku tahu kalau memang tugas seorang dokter seperti itu. Tapi aku cuma minta waktu 10 menit saja. Untuknya mengenalkan dia padamu."
Tiara meletakkan tangan Ilham diatas perutnya.
"Dia, mas. Dia yang ingin kukenalkan padamu. Sayang, beri salam pada papa nak."
Ilham mendekatkan telinganya diatas perut Tiara.
Tak terasa air matanya menetes, dia tidak menyangka akan langsung dikaruniai seorang anak. Ilham mencium perut Tiara berkali-kali menandakan rasa bahagia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Ini bener sayang." Tiara mengangguk.
"Serius, kamu hamil." ucapnya masih tidak percaya.
Ilham langsung menggendong istrinya. Lalu memutar tubuh Tiara.
"Aku jadi ayah ... aku jadi seorang ayah sekarang ya Allah. Terimakasih ya Allah. Terimakasih atas anugrah yang engkau berikan."
__ADS_1
Ilham bersujud mengungkap rasa syukurnya atas kehamilan istrinya.
"Maaaaa paaaaaa... aku akan jadi ayaaaaah!"