
"Akhirnya sampai dirumah" seru Ilham sambil membimbing istrinya duduk di ranjang mereka.
"Aku rindu kamar ini, mas. Padahal sudah dua hari aku meninggalkannya." Tiara menatap setiap sudut kamar.
"Sama aku nggak rindu, sayang. Satu hari kita tidak bertemu dan satu hari pula kamu mengacuhkanku. Sehari saja berat tanpa kamu,ti. Apalagi dua hari." Ucap Ilham sambil memeluk tubuh istrinya.
"Bohong! Kalau kamu rindu mengapa kamu tidak langsung menemuiku padahal kamu tahu aku dirawat. Masa iya tidak ada dokter lain yang mengabarimu, padahal kata mama yang periksa aku dokter Toni. Masa dokter Toni nggak ngabarin kamu, mas." Ucap Tiara yang masih merasa kesal dengan suaminya.
Ilham memeluk erat tubuh istrinya. Meresapi harum tubuh wanita yang sudah dinikahinya 4 bulan yang lalu. Tangan Ilham membelai rambut Tiara yang mulai panjang.
"Jangan dibahas lagi, dong sayang. Kita udah maaf-maafan. Aku minta maaf kalau malam itu belum sempat menemuimu. Kamu kan tahu pasien covid membludak kita kekurangan tenaga kesehatan. Soalnya beberapa perawat sudah ada yang diisolasi." Cerita Ilham masih mencoba memberi pengertian pada istrinya.
Ilham teringat bagaimana dalam satu minggu sudah 3 suster dan 1 dokter yang tumbang. Saat melihat itu ada rasa takut di benaknya. Dimana jika dirinya ikut tumbang, siapa yang akan menjaga istrinya. Dia juga tidak bisa membayangkan jika dirinya meninggal karena Covid.
Matanya menatap sang istri, dengan belaian penuh Cinta ilham mengecup kening istri. Tiara membalas tatapan suaminya.
Tangan Tiara menarik wajah Ilham. Peraduan bibir membuat mereka tenggelam dalam indahnya cinta.
"Mama Mila belum pulang, mas?" Tanya Tiara yang melihat rumah mertuanya masih sepi.
"Nanti malam mereka pulang. Tadi aku bilang sama mereka minta pulang cepat buat mengabari kabar bahagia ini."
ilham membayangkan reaksi papa dan mamanya ketika tahu sang istri tengah mengandung. Mungkin kedua orangtuanya akan heboh atau mungkin sebaliknya. Ilham hanya bisa menebak-nebak saja, semoga saja kabar ini membahagiakan orang-orang terdekatnya.
Flashback On
"Kalian mau kemana?" Sebuah suara mengagetkan mereka.
"Mau pulang, pa." jawab Tiara
"Tidak ada yang pulang ke rumah. Ti, kamu tinggal sama mama dan ibumu. Disini kamu tidak akan kesepian. Dan kamu Ilham, silahkan kamu pulang sendiri ke rumahmu!"
"Paaa... Ilham itu suamiku. Dimana seorang istri harus ikut kemana suaminya pergi. Surgaku sekarang ada pada suamiku, pa."
Adolf menatap pada menantunya dengan tajam. Sebenarnya dia sudah mencoba menerima kehadiran. Tapi karena kejadian di rumah sakit yang membuatnya kecewa pada lelaki itu.
"Baik sekarang aku kasih pilihan padamu, Ilham. Kalau kamu masih ingin mempertahankan rumah tanggamu, tinggallah disini. Tapi kalau tidak, tinggalkan rumah ini dan tinggalkan Tiara."
__ADS_1
"Paaaaa...." Tiara kaget dengan permintaan ayahnya. Kalau disuruh memilih tentu saja dia memilih ikut dengan suaminya.
Tiara berlari mengejar suaminya yang sudah keluar dari apartemennya. Papa Adolf mencoba menahan putri tapi dihalangi oleh mama Fatimah dan Ibu Aisyah.
Bagi mama Fatimah papa Adolf sudah terlalu jauh ikut campur urusan rumah tangga Tiara. Mama Fatimah menyayangkan sikap Adolf yang menurutnya cukup berlebihan. Padahal semalam mereka sudah bicara dari hati ke hati terkait masalah Ilham dan Siti.
"Pa, dengarkan mama. Anak kita Tiara, sekarang sudah punya suami. Sekarang setiap gerak gerik Tiara adalah tanggung jawab suaminya, sebagai orangtua kita hanya menjadi penengah buat mereka, bukan pemisah."Bujuk mama Fatimah pada suaminya yang masih tersulut emosi.
"Mas aku ikut!" pekik Tiara memeluk punggung suaminya.
"Ti, aku akan kembali kesini menjemputmu. Kamu percayakan sama aku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Justru aku akan mengambil barangku untuk tinggal bersama mereka."
"Mas, aku akan ikut sama kamu. Bukankah seorang istri kiblatnya adalah suaminya? Jadi izinkan aku ikut bersamamu. Anak ini butuh ayahnya."
Ilham dan Tiara saling berpelukan. Tangis mereka pecah mengingat yang baru saja terjadi. Masalah demi masalah yang akhir-akhir ini mereka hadapi, membuat perasaan mereka semakin kuat.
"Maafkan aku, siti. Sejak awal kita pacaran hingga menikah aku sering membuatmu terluka. Maafkan aku yang masih kurang peka terhadap dirimu." ucap Ilham masih mendekap tubuh Tiara.
Ilham dan Tiara kembali ke apartemen untuk pamit pada keluarga istrinya.
"Iya, nggak papa, ti. Kami ngerti kok. Kamu baik-baik disana. Ham, kami titip Siti, ya. Jaga dia baik-baik. Jadi suami siaga, siti kan sedang hamil muda." Ucap mama Fatimah.
Papa Adolf meninggalkan mereka dengan masuk ke kamar. Terdengar bantingan keras pintu.
Mama Fatimah menggelengkan kepalanya melihat kekerasan hati suaminya.
"Pa, Siti pamit, ya. Maafkan siti yang selalu bikin papa kesal dan kecewa. Siti tahu kalau yang papa lakukan tadi karena papa sayang sama aku. Tapi, siti cuma ingin berbakti pada suamiku, pa. Memang kejadian dirumah sakit kesalahan Ilham. Tapi siti yakin, pa. Nggak ada maksud Ilham untuk mengabaikan aku.
Pa, sekali lagi aku minta maaf atas nama ilham. Maafkan suamiku yang menurut papa bukan menantu idaman. Siti pamit, pa. Aku mau pulang kerumah mama Mila."
"Assalamualaikum"
Tiara berjalan menjauh dari pintu kamar orangtuanya. Dimana sang papa terlihat marah saat sang putri lebih memilih ikut suaminya daripada menetap dengan kedua orang tua kandungnya.
Flashback off
klik
__ADS_1
"Selamat pagi anak ayah."
Tiara membuka matanya ketika pandangannya terfokus saat sang suami menciumi perutnya.
"Mas, Geli aaaah..." Tiara berontak ketika Ilham masih terus menciumi perutnya.
"Maaasss.... jauh jauh giiiih." Tiara mendorong suaminya keluar dari kamar.
Ilham heran melihat istrinya yang jutek saat bangun pagi. Tidak biasanya istrinya seperti itu. Sesekali menghela nafas panjang sembari mengelus dada.
"Kamu kenapa, sayang? salahku apa?"
"Pokok aku benci liat wajah kamu!" Pekik Tiara dari dalam kamar.
Mama Mila yang baru bangun mendekati putranya. Kakinya melangkah mendekati putranya.
"Kamu kenapa, ham? berantem sama siti?"
"Mama kapan sampai? Kok nggak ngabarin?" Ilham kaget melihat mamanya sudah dirumah.
"Tadi malam, nak. Kata indro kamu semalaman nginap di tempat mertuamu, ya." tanya mama Mila yang tahu permasalahan putranya berdasarkan informasi dari indro.
"Iiiya, ma."
"Siti mana?" Mama Mila sedari tadi tidak melihat menantunya.
"Ini dikamar. Dari tadi dia jutek sama aku, ya. Nggak mau dekat-dekat sama aku."
Mama Mila tertawa "Makanya jangan cuekin istri kalau nggak mau diginiin. Terasa kan sekarang."
"Ma, siti tadi malam masih baik-baik saja. Tahunya pas bangun dia marah marah sama aku. Bilang nggak suka lihat wajahku. Kan aneh, ma."
Mama sedikit terdiam.
Apa siti ngidam, ya? Ah, tidak mungkin. Ilham kan mandul mana mungkin dia bisa hamil. atau jangan-jangan siti hamil dengan laki-laki lain tapi ilham tetap menerimanya karena cintanya pada siti.
Ya, Allah semoga dugaanku salah.
__ADS_1