Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
115. Pagi ini


__ADS_3

Pagi ini keluarga Spencer sudah bersiap-siap sarapan di lobby atas. Mama Marni menggendong Shasa sambil mengajak sang cucu melihat pantai. Alam menyusul sang ibu untuk menggantikan mengasuh Shasa.


"Lam" Mama Marni mendaratkan bokongnya di gazebo.


"Iya, bu." Sahut Alam sambil menggoyangkan tubuh bermain dengan sang putri.


"Ina mana? Kok semalam ibu nggak melihat dia. Ibu cuma Yulia sama Dul."


Alam menatap sang mama dengan pandangan aneh. Aneh buat dia karena Ibunya menanyakan Ina.


"Mana ketehe, bu. Ngapain juga aku ngurusin dia. Kayak kurang kerjaan aja." Mama Marni terkekeh mendengar jawaban putranya.


Sejak Gita meninggal 9 bulan yang lalu. Marni berusaha mendekatkan Alam dengan beberapa wanita. Namun putranya itu bersikeras tidak akan menikah lagi. Marni cuma ingin Shasa merasakan kasih sayang seorang ibu. Marni takut kalau umurnya tidak sampai melihat sang tumbuh besar.


"Kamu jangan begitu, lam. Kamu lupa sudah dua hari Ina membantu mengasuh Shasa. Coba tanya sama mama mertuamu soal Ina."


Alam mendengus kesal. Entah kenapa dari mama Yulia hingga mama Marni begitu menyukai Ina. Padahal menurutnya, sikap Ina standar-standar saja. Tidak ada yang wah dalam diri gadis itu. Alam membawa Shasa menghindari obrolan ibunya.


"Selalu saja, Ina. Apa sih bagusnya anak itu? ya, memang dia mirip Gita tapi sikapnya tidak mirip sama sekali." Omel Alam.


Kakinya terhenti saat melihat gadis yang baru saja diumpatnya, Alam memilih berbalik arah tapi shasa menangis saat melihat Ina.


Aaaaammaaaa aaaaaamaaaaa


Alam kelimpungan menghentikan tangisan shasa. Berkali mencoba menenangkan sang putri tapi tetap saja merengek.


"Ayah macam apa yang diam saja lihat anaknya menangis!"


Alam berbalik melihat Ina berkaca pingggang. Ina meraih Shasa dari pangkuan Alam. Alam mendengus pelan, menatap gadis itu layaknya penculik anak.


ciiiiii lukkkk baaaaaa


Ina menutup wajahnya lalu membuka kembali. Shasa yang tadinya murung menjadi riang kembali.


Ina membawa Shasa tanpa memperdulikan kehadiran Alam. Tentu saja Alam langsung mengikuti Ina dari belakang.


"Pelan-pelan main sama bayi. Awas kalau anakku kenapa-kenapa" omel Alam saat ini meletakkan shasa diatas kepalanya.


Mereka berjalan beriringan. Suasana terasa hening hanya kicauan suara Shasa yang mengoceh versi dunianya.


"Kak boleh nanya?" Ina memulai obrolan demi memecahkan keheningan.


"Waktu dan tempat dipersilahkan."


Ina tertawa kecil.


"Laki-laki diphoto kamar kakak siapa? kayaknya dekat banget sama Gita."


Alam menjelit kearah gadis disampingnya. Yang ditatap masih asyik bermain dengan Shasa.


"Itu aku." jawabnya


Ina memandang Alam dari atas sampai bawah. Dimatanya sosok yang ada dihadapannya sama sekali tidak mirip dengan lelaki yang diphoto itu.


Gadis itu menertawakan Alam, mengira lelaki itu sedang menghalu.

__ADS_1


"Nggak mungkin itu kamu kak Alam. Sudah jelas imut yang diphoto daripada lelaki yang didepanku."


Ucapnya sambil tertawa.


Ina menendang pasir dengan kuat membuat Alam segera mengambil putrinya dari pangkuan gadis itu.


"Kamu mau bikin anak saya sakit mata!" bentak Alam.


"Maaf, kak." Ina menunduk takut. Langkah nya berjalan mundur pelan-pelan.


Tiba-tiba dia merasa menginjak sesuatu yang bergerak. Sontak Ina kaget langsung memeluk Alam. Nafasnya terdengar seperti sesak. Ina dan Alam saling bertatapan lama.


Kenapa jantungku seperti ini. Ah, Alam dia masih kecil, kamu ingat janjimu pada mendiang istrimu untuk tidak jatuh cinta lagi.


"Maaf, kak aku reflek"


"Huuuh... kamu mau nyari kesempatan 'kan. Jangan kamu pikir saya akan tergoda sama kamu nona Ina."


Alam pergi membawa Shasa menjauhi Ina.


Hidih, sok kecakepan. Siapa juga yang mau duda seperti kamu!


Justru kak Rangga 100 kali lebih dari kamu tuan Alam.


klik


Masih di hotel milik keluarga Ine.


Kriiiiiiiing....


"Maaaas angkat teleponnya." Panggil Tiara.


"Iya, assalamualaikum" Tiara mengangkat telepon yang diyakini handphone suaminya.


"Ti, Ilham mana? Mama telepon nggak diangkat" suara mama Mila terdengar di seberang.


Deg!


Baru disadarinya kalau suaminya tak ada dikamar.


Tiara yang posisinya masih meringkuk diranjangnya membalik badan. Tak ada suaminya, pantas saja dia merasa pinggang ringan. Biasanya tiap tidur suaminya memeluk kencang.


Dengan terpaksa Tiara bangun dari tempat tidur. Pelan-pelan tubuhnya berdiri meraba bantal disebelahnya. Kakinya meraih meja guna mengambil sisir. Seketika kakinya melangkah ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Seperti biasanya trimester pertama ibu hamil akan mual dan muntah.


Mas kamu benar-benar meninggalkan aku. Maafkan aku, mas.


Tiara duduk ditepi ranjang, melipat kedua kakinya. Ada rasa takut kalau suaminya benar-benar pergi meninggalkannya.


Tiara sadar yang dia lakukan semalam salah. Dengan kasar dirinya mengusir suaminya, tanpa mendengar penjelasan lelaki itu. Saat dirinya bangun pagi, tak ada pelukan mesra yang selalu dilakukan suaminya. Biasanya saat dia bangun suaminya selalu menyerang dirinya dengan sarapan bibir.


Tiara bangun dari ranjangnya. Membersihkan kamar sebisanya, lalu beranjak keluar hotel. Kakinya melangkah ke lobby hotel, sepanjang perjalanan menuju ke lobby perutnya terus berdemo.


"Iya, nak mama juga lapar." Tiara berbicara dengan calon anaknya.


"Ti" Panggil mama Fatimah.

__ADS_1


"Iya, ma."


"Kok kamu sendiri? Ilham mana?"


"Tadi pagi dia sudah duluan keluar, ma." kilahnya.


Ada rasa bersalah karena telah berbohong pada mamanya.


Tiara menghela nafas panjang. Dia sendiri tak tahu dimana keberadaan suaminya saat ini. Apakah suaminya pulang ke rumah terlebih dahulu? Atau mungkin masih disekitar hotel.


Kamu dimana, mas.


"Kamu makan yang banyak ya, sayang. Biar dedek didalam perut juga ikut kenyang." Ucap seorang lelaki sambil menyuapi wanita yang disampingnya, Tiara yakin wanita itu istrinya lelaki itu.


"Terimakasih, sayang. Kamu memang suami siaga." Ucap wanita itu.


Tiara hanya menunduk saat mendengar obrolan kedua suami istri tersebut. Kebiasaan yang sama selalu dilakukan suaminya. Kadang suaminya memasakkan makanan untuknya walaupun rasanya acak kadul alias tidak karuan, tapi dia yakin, Ilham melakukannya dengan penuh cinta.


Tiara pergi meninggalkan lobby mencari keberadaan suaminya. Rasa rindu yang mendera sudah tak terbendung lagi. Cuma satu yang diinginkannya saat ini yaitu berada disisi suaminya.


Sementara Ilham tertidur diruang monitor cctv. Dimana dia takut terjadi sesuatu pada istrinya, maka berinisiatif masuk ke ruang cctv untuk memantau.


"Mas"


Ilham merasa tubuhnya di goyang tapi enggan membuka mata.


"Iya, aku disini. selalu ada untukmu." Igaunya.


"Mas, bangun. saya mau kerja sebaiknya anda kembali ke kamar anda."


"Ti... Siti ... aku akan kembali ke kamar asal kamu mau maafin aku." Masih dalam model mengigau.


Ilham membuka matanya dengan pelan. Seorang lelaki tersenyum dihadapannya. Tangannya langsung meraba kantong celananya untuk mengambil ponselnya.


Shittt!


Handphoneku tertinggal dikamar sepertinya.


Ilham keluar dari ruang cctv, berjalan menuju kamarnya. Dia merindukan istrinya, merindukan memeluk istrinya saat tidur, merindukan sarapan bibir mereka yang biasa mereka lakukan setiap pagi. Dia merindukan semua yang ada dalam diri istrinya.


Tok tok tok ...


"Ti, tolong buka pintunya. Maafin aku, nggak ada maksud aku bikin kamu sedih dan terluka." Pekiknya di depan pintu kamar hotel.


Tak ada sahutan.


Sebuah tangan melingkar dipinggangnya. Ilham tersenyum, dia yakin istrinya juga melakukan hal yang sama. Tubuhnya berbalik, tanpa permisi Ilham langsung melakukan sarapan bibir mereka.


"Mas. Maafin aku."


"Aku juga minta maaf, sayang. Maafin aku yang punya ide gila ini sampai membuat kamu terluka."


"Aku tahu kamu lakukan ini karena ingin memberiku kejutan. Tapi jangan kayak gitu juga,mas."


"I love you Siti Marlina."

__ADS_1


"Love you to Ilham Ramadhan."


__ADS_2