Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
151. Saling memaafkan


__ADS_3

"Assalamualaikum"


Suara bariton datang masuk ke dalam ruang rawat Siti. Semua mata memandang kearah pemilik suara, muncul seorang wanita berhijab yang sedang menuntun wanita dikursi roda.


Edwar yang melihat kedatangan tamu tersebut mencoba menahan amarah. Tamu yang datang adalah sosok yang membuat keluarga mereka terusir dari desa. Siti menerima kedatangan mereka, tapi tidak dengan ibu dan Edwar. Mereka memilih meninggalkan ruangan daripada memancing emosi.


Bisa-bisanya mereka muncul setelah semua yang terjadi pada kami. Gara-gara mereka, anak-anakku terkucilkan, sampai mogok sekolah. Gara-gara mereka Ibu sampai tak berani pulang ke jambi, sekarang dengan santai mereka muncul ditengah kebahagiaan kami. batin Edwar


Bagi Edwar apa yang dilakukan Linda sudah diluar batas. Rumah mereka hancur, orang-orang mengucilkan keluarganya, Siti hampir meninggal karena bunuh diri. Hal itu membuat Edwar belum bisa memaafkan Linda.


"War" Panggil Alam saat tahu suasana hati sahabatnya.


"..."


"Aku tahu yang kamu rasakan, war. Tapi coba kamu dengar penjelasan mereka dulu. Siapa tahu mereka mau berdamai." Alam menenangkan Edwar.


"Gampang banget mereka ngomong gitu, Lam." Balas Edwar yang mulai emosi.


"Kamu tahu, Lam. Karena mereka anakku trauma keluar rumah atau berbaur dengan orang lain. Karena mereka kebunku diboikot sama warga. Kamu tahu, bibi terkena Imbas dari masalah ini." Keluh Edwar.


Alam sudah tahu cerita tentang masalah mereka dari Ibu Aisyah. Dia pun menyesalkan tindakan keluarga Jonathan pada keluarga Siti. Seandainya dia tahu sejak awal masalah itu, Alam akan mengerahkan orang-orangnya untuk membantu Edwar dan keluarganya.


"War"

__ADS_1


"Iya, Lam."


"Setelah ini kamu bawa Dinda dan anak-anakmu tinggal dirumahku. Soal sekolah Bella dan Aura biar jadi urusanku. Kalian keluargaku, War. Aku mau membalas jasa-jasamu selama ini."


Edwar dan Alam saling berpelukan. Rasa haru yang menyelimuti keduanya. Dua sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Edwar juga tidak menyangka kalau Alam menawarkan pekerjaan padanya. Alam mendaulat Edwar sebagai supir pribadinya.


"Sejak kapan aku bisa kerja, Lam?"


"Setelah kamu memboyong keluargamu ke Jakarta." Jawab Alam sambil tersenyum.


"Ibu." Panggil Edwar ketika melihat sang Ibu termenung di koridor rumah sakit.


"War, antar ibu pulang ke apartemen." Ajak Ibu Aisyah.


"Bukdang, aku harap bukdang bisa menerima mereka."


"Maafkan saya, Bu. Maafkan yang pernah saya lakukan pada ibu dan Siti. Saya memang dibutakan ketidaksukaan pada Siti saat itu, terlebih saat saya tahu Siti juga kekasih Ilham. Lelaki yang pernah meninggalkan anak saya, Raisa. Rasa benci saya pada Ilham saat itu yang membutakan saya untuk menindas orang yang dekat dengan Ilham. Setelah itu keluarga saya bangkrut, Itu juga yang menyadarkan saya bahwa ini adalah karma akibat perbuatan saya dimasa lalu."


Ibu Aisyah hanya terdiam. Gurat kekecewaannya terpancar diwajahnya yang mulai berkerut. Bagaimana rumahnya hancur diserang warga dan buldoser keluarga Hermawan. Bagaimana kebun milik ayahnya Edwar diboikot oleh warga dan Juga di bakar habis akibat hasutan Linda. Bagaimana dia langsung terusir walaupun menumpang di rumah bibinya Alam. Semua masih terasa perih di ingatannya. Ibu Aisyah menatap wanita yang masih bersimpuh dikakinya.


"Bu" Ibu Aisyah mengangkat tubuh Linda hingga berdiri sejajar dengan dirinya.


Sosok didepannya yang sudah basah karena air mata. Disambut tatapan seorang wanita yang ikut terharu melihat keduanya.

__ADS_1


"Dia siapa? cantik sekali kamu, nak." Ibu mengalihkan pembicaraan.


"Sari, bu. Istrinya Jonathan." Jelas Linda sambil dibantu naik ke kursi roda.


"Cantiknya. Tidak salah Jonathan memilih istri. Sholehah." ucap ibu Aisyah mengelus wajah Sari.


"Makasih, Bu. Mas Jo sudah banyak cerita tentang Ibu."


Ibu, Edwar, Linda dan Sari kembali ke ruangan tempat Siti dirawat. Suasana yang hening langsung terasa di dalam ruangan tersebut.


"Siti, Ilham. Maafkan saya atas yang selama ini saya perbuat pada kalian. Terutama sama kamu, ti. Saya mohon ampun atas yang pernah terjadi dimasa lalu. Atas yang pernah saya lakukan padamu dulu. Maafkan saya, Siti." Linda bersimpuh dikaki Siti.


"Tante. Saya sudah memaafkan anda. Saya juga minta maaf kalau ada sikap saya selama ini ada menyinggung perasaan anda. Kita hanya manusia biasa yang tak luput dari kekhilafan." Ucap Siti dengan tenang.


"Makasih, kak. Terimakasih sudah memaafkan mama. Hati kakak sangat baik. Beruntung kak Ilham punya istri seperti kak Siti."


"Ilham juga minta maaf sama mama Linda. Karena selama menikah dengan Raisa, Ilham belum bisa menjadi suami yang baik. Ilham juga banyak mengecewakan kalian, maafkan saya mama Linda kalau saat Raisa hamil saya tak ada disampingnya. Tapi sumpah demi Allah bukan saya yang menghamili Raisa."


Jo menatap ilham dengan penuh arti. Dia tahu soal Raisa hamil dengan laki-laki lain. Hanya saja dia belum tahu siapa lelaki itu? kenapa tidak bertanggung jawab pada Raisa? Semua rasa penasaran itu sudah lama ingin dikoreknya.


"Saya tahu siapa ayah bayi yang dikandung Raisa, kak Jo, Ilham?" Sahut Jihan.


"Siapa?"

__ADS_1


"Dodo, kak. Dia pernah cerita sudah pernah mengajak Raisa menikah, tapi Raisa menolak lamaran Dodo." Cerita Jihan yang teringat obrolannya dengan Dodo saat di Jambi.


"Jonathan, Sheila, Sari kalian tetap menjadi anak-anak kesayangan ibu sampai kapanpun. Siti dan Ilham, kamu juga Edwar dan Alam, kumpul disini. Sekarang kita semua disini adalah keluarga inti. Seandainya ada Gita disini rasanya lengkap sudah. Ibu Linda, Saya sudah memaafkan anda. Kita buka lembaran baru." Ucap ibu Aisyah.


__ADS_2