Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
103. Sebuah Pilihan


__ADS_3

"Mas." Tiara menggeliat geli saat suaminya mencium-cium punggungnya.


"Iya, sayang. Ada apa?" Tiara menatap tangan kekar suami yang mencoba menggeser rambutnya yang menutup leher. Kini punggung itu terlihat polos. Ilham menahan liurnya agar tidak tergoda dengan tubuh istrinya.


Tapi sayang dia kalah dari rasa tahannya. Ilham meneguk bibir Tiara dengan nikmat. Sambil mengiring tubuh istrinya ke atas ranjang. Tiara memegang kemeja kerja Ilham dengan erat.


"Apakah selama pernikahan kita ada yang tidak kamu sukai dariku?" tanya ilham sambil merebahkan kepalanya dibahu istrinya.


"Banyak ... tapi yang utama kamu itu nggak peka. Nyebelin tapi ngangenin ... semoga dengan adanya anak ini kamu bisa menaikan standar kepekaanmu." jawab Tiara yang merasa berat saat kepala suaminya bertumpu di bahunya.


Ilham menatap wajah istrinya semakin dekat. Wajah Wanita yang sudah dinikahinya selama 4 bulan. Tangannya membelai rambut hitam Tiara lalu merebahkan tubuh istrinya diatas pahanya "Terimakasih, ya." Bisik ilham.


Tiara menatap balik ke arah ilham "Buat?"


"Buat menjadi ibu dari anakku. Semoga dengan adanya ilham junior akan ada berkah melimpah yang lainnya. Akan membuat aku makin cinta sama kamu Siti Tiara Marlina." Ilham mengecup kening Tiara.


"Terimakasih di terima. Mulai sekarang kamu harus menjadi suami siaga. Siap antar jaga. Aku juga tidak menyangka akhirnya bisa hamil, mas. Aku pikir, aku tidak akan bisa hamil setelah kamu divonis mandul. Ngomong-ngomong soal vonis kok kamu nggak marah saat tahu aku hamil. Kamu kan bukannya belum periksa, ya soal keakuratan vonis itu."


Ilham tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Bagi Ilham, harusnya Tiara sudah tahu jawabannya. Bukankah kehamilan istrinya sudah membuktikan kalau dirinya tidak mandul. Jadi tak perlu mencari tahu lagi soal kemandulannya. Tapi Ilham masih mempertanyakan, kenapa dulu Raisa memberikan surat keterangan bahwa dirinya mandul. Tapi kenapa juga Raisa tiba-tiba datang meminta pertanggungjawaban dirinya.


Ilham menatap wajah Tiara yang sudah terlelap. Ada gurat kelelahan di wajah istrinya. Tangannya memindahkan kepala Tiara ke atas bahunya. Sembari membelai rambut istrinya lalu mengecup pucuk rambut.


Ti, kamu tahu? aku adalah pria yang bahagia saat mendengar kabar ini. Aku akan menjadi seorang ayah, akan ada yang memanggilku dengan sebutan papa, akan ada tangisan malam yang akan membangunkan tidur kita, akan ada tawa kecil yang akan menjadi penghiburku.


Sejak aku di vonis mandul. Hari-hariku selalu diliputi ketakutan. Ketakutan kalau kamu akan meninggalkanku dan ternyata benar dugaanku, kamu belum bisa menerima kekuranganku. Tapi lama-lama aku melihat kamu mulai bisa menerima keadaanku. Sekarang, tuhan malah memberikan kepercayaan itu padaku. Sungguh anugerah yang tidak terkira.


Terimakasih ya Allah...


atas keajaiban yang telah kau beri dalam hidupku


memiliki istri yang menerima kekuranganku.


Memiliki istri yang mencintaiku, memiliki keluarga yang menyayangiku.


Begitu nikmat karunia yang kau berikan pada kami Ya Allah.


Maafkan aku yang selama ini sering melupakan dirimu, ya rabb.

__ADS_1


Ilham membentang sajadah untuk melakukan sholat isya. Bersujud dihadapan yang maha pemberi kehidupan untuk mengungkapkan rasa syukur. Kakinya berdiri memulai sholatnya.


Paginya...


"Pagi istriku." Tiara menggeliat membuat matanya.


Wanita itu menatap suaminya dengan senyuman mautnya. Entah kenapa dia malas menggerakkan badannya. Tangannya kembali menarik selimut dan membelakangi suaminya.


"Ehhh, kok tidur lagi? bangun sayang ini sudah jam delapan."


Ilham membangunkan Tiara yang memperpanjang waktu tidurnya. Tapi tetap saja istrinya kembali terlelap.


Ilham keluar kamar melihat suasana apartemen yang masih sepi.


"Jam segini masa belum ada yang bangun."


Ilham membuka lemari mencari apa yang bisa dimakan. Tercetus ide membuat bubur ayam untuk sang istri. Tangan membuka gawai untuk melihat pembuatan bubur ayam di mister google.


Pertama Ilham memasak buburnya terlebih dahulu. Semangkuk nasi dingin dimasak dengan air sekitar 3-4 gelas.


"Ibu hamil jangan makan yang asin." Maka ia memutuskan memasukkan gula dalam sup sayur untuk istrinya.


Setelah buburnya masak, Ilham menggoreng ayam untuk suwiran bubur. Tetap masih ada drama dalam acara masak dimana ilham melompat ketakutan. Suara teriakan yang terkejut cipratan minyak membangunkan Tiara.


"Ada apa sih mas jejeritan? Kamu lihat kucing, ya? mana?" Tiara celingukan mencari kucing. Yang dia tahu suaminya phobia kucing dan ayam hidup.


Ilham menghidangkan bubur nasi ayam goreng dan sop sayur untuk istri tercinta. Tiara menatap tak berkedip, dia bukan bangga melihat masakan suaminya, melainkan dia takut mencicipi hasil masakan Ilham. Teringat saat Ilham menggoreng ikan hingga gosong.


"Pesawat mendaratttt cuuuuuussss..." Ilham melayang satu suapan pada Tiara.


Wajah istrinya berubah pias "Sejak kapan sop sayur rasanya menjadi manis." ucapnya dalam hati.


"Enak, sayang."


"Enak mas... enak banget..." Tiara mencoba menyenangkan suaminya. Walaupun sebenarnya dia sangat mual setelah mencicipi masakan suaminya.


Makasih sayang atas perhatianmu pagi ini. Walaupun masakanmu rasanya seperti bubur sumsum. Tapi aku acungkan jempol buatanmu ini.

__ADS_1


Semoga setiap hari kita bisa seperti ini.


"Sayang. Kita siap-siap pulang, ya. Kita mengabari berita ini pada mama dan papa. Mereka pasti senang sekali dengan berita ini."


Tiara mengangguk lalu bersiap siap mandi. Dengan gesit Ilham menggendong istrinya membawa ke kamar mandi.


"Mas, aku bisa mandi sendiri!"


Ilham menggeleng "Kamar mandi ini lantainya basah. Nanti kamu terpeleset gimana? Nanti tiba-tiba kamu pingsan mendadak lagi. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan anakku."


"Anakku? ooo... jadi kamu khawatir sama anak ini! Bukan sama emaknya? Turun! aku mau mandi sendiri!"


"Enggak. Pokoknya kamu nurut sama aku!"


"Maaaaaaaassss!" pekik Tiara saat Ilham menciumnya diatas guyuran shower. Tangannya terus memukul dada suaminya. Tapi tetap saja tak menggoyahkan lelaki itu.


Selesai mandi mereka bersiap-siap untuk pulang ke kediaman pramono. Ilham hanya memakai baju semalam karena tidak membawa baju ganti. Tiara memandang beberapa bajunya. Dalam beberapa bulan yang akan datang baju-baju itu tidak bisa dipakai. Tiara membayangkan akan berjalan dengan perut yang membuncit.


"Kalian mau kemana?" Sebuah suara mengagetkan mereka.


"Mau pulang, pa." jawab Tiara


"Tidak ada yang pulang ke rumah. Ti, kamu tinggal sama mama dan ibumu. Disini kamu tidak akan kesepian. Dan kamu Ilham, silahkan kamu pulang sendiri ke rumahmu!"


"Paaa... Ilham itu suamiku. Dimana seorang istri harus ikut kemana suaminya pergi. Surgaku sekarang ada pada suamiku, pa."


Adolf menatap pada menantunya dengan tajam. Sebenarnya dia sudah mencoba menerima kehadiran. Tapi karena kejadian di rumah sakit yang membuatnya kecewa pada lelaki itu.


"Baik sekarang aku kasih pilihan padamu, Ilham. Kalau kamu masih ingin mempertahankan rumah tanggamu, tinggallah disini. Tapi kalau tidak, tinggalkan rumah ini dan tinggalkan Tiara."


"Paaaaa...." Tiara kaget dengan permintaan ayahnya.


Kalau disuruh memilih tentu saja dia memilih ikut dengan suaminya.


Apa yang akan dilakukan Ilham?


Apakah Ilham akan tinggal bersama mertuanya? atau mungkin dia memaksa istrinya untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2