Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
77. H-1


__ADS_3

"Mau kemana, ham?"


Mama Mila melihat ilham menenteng ransel seperti akan bepergian. Mama paham perasaan ilham sedang kalut, dia menyabarkan sang putra agar lebih dengan yang mahakuasa.


"Aku mau liburan ke tempat ayah, ma. Bolehkan?"


ilham meminta izin pada mamanya untuk ke sukabumi. Ke tempat ayah kandungnya Brian. Menenangkan diri setelah semua yang terjadi.


Begitu banyak masalah yang menimpanya dari Jihan yang meminta pertanggungjawaban dirinya hingga Tuan Adolf yang tidak menyetujui hubungannya dengan siti.


Kamu dimana, ti. Kamu ingat saat itu, saat aku diterpa masalah, kamu selalu ada menguatkan aku.


Kamu selalu memberiku semangat, menerangkan hatiku, kamu juga selalu ada saat aku membutuhkan. Kamu dimana, ti? Aku tidak kuat seperti ini terus, aku butuh kamu. Tolong pulang, aku mohon pulang!


"Ham, mama yakin siti pasti sedang di tempat yang aman. Mungkin dia sedang menenangkan diri. Buktinya keluarga siti biasa saja, nggak heboh." Mama Mila menenangkan ilham.


"Darimana mama tahu kalau mereka tenang-tenang saja. Kemarin bukannya mama sendiri yang bilang kalau keluarganya mengancam papa. kok mama sekarang bilang begitu, apa siti ada ngabarin mama?" Ilham penasaran sama ucapan mamanya yang menurutnya aneh.


Mama Mila segera meralat ucapannya "Begini, mama yakin aja kalau siti pasti baik-baik saja. Sudah, mama mau ke salon dulu." Mama mila langsung meninggalkan ilham yang masih dalam kebingungan.


"Satu lagi, ham. Mulai sekarang kamu jangan keluyuran lagi, termasuk ke rumah sakit, paham!"


"Mama apa-apaan, sih! Masa nggak boleh kemana-mana. Masa aku harus dirumah saja kayak anak cewek!" Ilham mengejar mamanya yang sudah siap pergi ke salon.


Pintu rumah langsung dikunci sama Mama Mila. Begitupun kunci mobil dan handphone disita sama sang Mama. Sikap mama yang menurutnya Aneh,membuat ilham kesal bukan kepalang.


Aku berasa seperti anak perempuan yang sedang dipingit orangtuanya. Jangan-jangan mama mau maksa aku nikah dengan gadis pilihannya. Aduh, mama aku ini udah gede udah 28 tahun. Ya, kali masih disuruh nikah dengan wanita yang tidak aku kenal.


Ilham memandang langit yang mulai mendung. Seperti perasaannya saat ini, gejolak rasa yang tak menentu. Tatapannya beralih sebuah photo, tangannya mengelus wajah sipemilik photo. Ilham mengambil gitar, rencana untuk pergi ke sukabumi pun gagal.


Aku masih ada di sini


Masih dengan perasaanku yang dahulu


Tak berubah dan tak pernah berbeda


Aku masih yakin nanti milikmu


Aku masih di tempat ini


Masih dengan setia menunggu kabarmu


Masih ingin mendengar suaramu


Cinta membuatku kuat begini


Aku merindu, ku yakin kau tau


Tanpa batas waktu, ku terpaku


Aku meminta walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku masih di dunia ini

__ADS_1


Melihatmu dari jauh bersama dia


Walau pasti ku terbakar cemburu


Tapi janganlah kau ke mana-mana


Aku merindu, ku yakin kau tau


Tanpa batas waktu, ku terpaku


Aku meminta walau tanpa kata


Cinta berupaya, ooh


Aku merindu, ku yakin kau tau


Tanpa batas waktu, aku terpaku


Aku meminta walau tanpa kata


Cinta berupaya


Engkau jauh di mata tapi dekat di doa


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu


Aku merindukanmu


Siti dimana kamu? Sungguh hari-hari tanpamu sangat menyiksaku, sayang. Kamu tahu, seperti mama lagi-lagi akan menjodohkanku dengan wanita lain. Mengapa, ti? mengapa setiap aku dekat dengan wanita selalu bernasib seperti ini?


Malam ini papa memanggil ilham, dia mau bicara empat mata pada putranya. Ilham terkejut saat melihat ada Oma dan tantenya di ruang kerja Pramono.


"Ham, papa, mama dan oma juga tante Tari mau bicara terkait kamu." Suara papa terdengar tegas.


"Iya, pa. Ada apa? sepertinya pembicaraan berat."


"Besok kamu fitting baju bersama keluarga yang lain. Lea, adik sepupumu, akan menikah dengan pacarnya di sukabumi. Sekalian papa akan mengenalkan kamu dengan seorang gadis disana."


Ilham kaget. Lagi-lagi orangtuanya mencoba menjodohkan dirinya dengan gadis lain. Dia lelah dengan kemauan kedua orangtuanya.


"Maaf, ma, pa, tolong jangan lagi mengenalkan aku pada gadis lain. Aku capek, ma, pa. Please, mengerti perasaan aku sekarang."


"Tapi, ham. Mama ingin sekali nimang cucu."


"Kalau pun aku menikah, aku tidak mungkin memberi kalian cucu."


"Maksud kamu, ham."


Ilham menunduk, mau tidak mau dia harus mengatakan yang sebenarnya "ma, pa, aku...aku.."


"Rama divonis mandul, pram, mila." Suara Oma memotong pembicaraan ilham.


"Mama tanya apakah siti tahu soal ini?"


Ilham menggeleng. Dia belum punya waktu mengatakan yang sebenarnya.


klik

__ADS_1


Siti duduk di kamar salah satu villa milik orangtuanya, ada 5 kamar disana. Siti menempati kamar paling atas dimana view pemandangan kebun teh terlihat jelas.


Wajahnya masih tampak murung. Bagaimana tidak? minggu besok dia akan menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. Bagaimana bisa dia harus menerima sosok asing dalam hidupnya. Siti ingin menangis, tapi air matanya tak kunjung keluar. Dia ingin pergi tapi setiap sudut bodyguard papanya terus mengintai.


Siti atau Tiara berjalan keluar kamar, wangi masakan dari dapur menariknya untuk kesana. Siti melihat suasana vila sangat sepi. Untunglah masih terang, jadi dia tidak takut. Tapi kalau malam, siti memilih tetap dikamar.


"Mbak masak apa nih?" Siti mencoba menyapa para petugas dapur.


Mereka menoleh kearah suara. Siti mengambil wortel dan ikut mengupas, bahkan pekerjaan siti lebih rapi dari mereka. Salah satu pembantu berdecak kagum melihat cara kerja siti. Mereka sadar tidak seharusnya melibatkan anak majikannya didapur.


"Non biar kami saja. Non istirahat, non kan calon penganten, jangan banyak aktivitas." ucap mbak Rena.


"Iya, non. Nanti non nggak jadi nikah." sahut mbak Tuti


"Nggak papa kalau nggak jadi nikah. Emang itu yang aku pengen. Biarin aja batal, mbak bayangin aja, disuruh nikah dengan laki yang tidak dikenal." Curhat Siti.


Siti mendaratkan bokongnya di salah satu kursi meja dapur. Karena tidak disuruh kerja sama para mbak- mbak akhirnya Siti memilih nimbrung sama rumpian mereka.


"Kok non nggak mau sama mas bule, kan ganteng orangnya?" celetuk mbak Rena.


"Kok mbak tahu si bule itu ganteng, aku aja belum pernah liat mbak?"


"Makanya non Tiara kenalan dulu sama dia, udah ganteng, dok...." Mbak Rena yang masih bicara langsung dicubit sama mbak yang lain.


"Dok apa mbak?" Siti masih penasaran sama lanjutan ucapan mbak Rena.


"Maaf non, si Rena latahan orangnya."


Mbak Isa mencubit tangan Mbak Rena dengan spontan menyebut " Dok kodok, eeh ada kodok eh kodok... aduh kodok lagi." Siti tertawa lepas melihat latahan Mbak Rena.


"Non baru kali ini ngeliat non bahagia, selama non beberapa hari disini, non murung terus. Kan cantik lihat non tersenyum." Celetuk Mbak Rena.


Siti tertawa mendengar celotehan mereka. Ada rasa terhibur mendengar cerita mereka. Sejenak ingatan siti teringat ketika di kampung, para emak emak berkumpul bercerita tentang kehidupan mereka, ada yang bangga, ada yang sedih, ada yang pamer dan ada juga yang minder. Semua berbaur menjadi satu.


Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau sedih saat tahu papaku akan menikahkanku dengan lelaki lain.


berharap ada satu keajaiban yang mengubah pikiran mereka.


Tapi entah kenapa itu tidak mungkin


kekerasan hati papa membuatku pesimis akan hubunganku dengan ilham.


Ilham maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi janjiku bersamamu.


Mungkin kita memang tidak berjodoh, ham.


Semoga kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.


...#####...


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2