
"Sar, kamu nggak usah ngantor." titah Jihan pagi ini.
Sari yang sudah bersiap-siap langsung menatap heran kearah bos nya. Jihan yang sekarang tinggal dikediaman orangtua Akbar datang pagi-pagi hanya untuk melarangnya ke kantor.
"Kenapa?"
"Kan nanti sore kamu mau lamaran, jadi kamu cuti saja, Sar."
"Bentar! nanti sore! mereka mau datang hari minggu. Ini masih rabu."
"Tadi Jo bilang sore ini mereka mau datang."
Sari mendengus kesal, Bisa-bisanya lelaki itu bikin keputusan sendiri. Mau tidak mau dia harus mengabari hal ini pada kedua orangtuanya.
"Bu, pak ... pak Jo nanti sore mau datang kesini bawa orangtuanya."
"Iya, ibu tahu. Tadi nak Jo menelpon ibu mengabari hal ini."
Sari membulatkan mata
Bahkan ibu dan bapak sudah tahu. Kenapa aku seperti orang bodoh disini. Hanya aku yang dikabarinya.
Dengan perasaan dongkol Sari menghubungi Jonathan.
"Kenapa, sayang? Kangen, ya. Tenang nanti kita bakal bertemu. Bahkan dengan durasi yang lebih lama."
"Jadi benar, pak Jo mau datang sore ini? apa susahnya menelepon sejak semalam? kemarin ketemu dikantor Bapak nggak bilang apa-apa." Ucapnya yang sedang kesal setengah mati.
"Kalo dikasih tahu bukan surprise namanya."
"Surprise .. surprise .... makan tuh surprise!" Sari menutup teleponnya. Rasa dongkolnya semakin menjadi ketika dia mengetahui kalau orang-orang disekitar bekerjasama.
__ADS_1
Sari menghempaskan tubuhnya dikamar. Matanya menerawang ketika lelaki itu mencicipi bibir saat di ruang pantry. Sesekali bibirnya tersenyum, tangannya terus meraba bibirnya seakan itu terulang kembali.
Bahkan Akbar saja belum pernah seperti itu padanya. Sari yang awalnya sangat menjaga dirinya sendiri dari jangkauan laki-laki pada akhirnya termakan oleh buaian Jonathan.
"Tapi pak Jo masa di usia segitu belum nikah-nikah, ya? Padahal umurnya sama dengan mbak Eka, mbak Eka saja anaknya sudah mau tamat SMA."
Klik
Keluarga besar Hermawan datang ke kediaman pak Tamrin. Mereka membawa seserahan untuk melamarkan calon mempelai perempuan. Beberapa rombongan membawa serangkai alat seserahan dan mahar nikah. Prosesi lamaran yang bukan yang pertama dikeluarga Tamrin.
Keluarga Pak Tamrin menyambut dengan hangat kedatangan calon menantunya beserta keluarganya. Mereka dipersilahkan masuk keruangan yang sudah di tata rapi.
Acara dibuka dengan siraman kalbu dari perwakilan keluarga. Kebetulan yang memberikan ceramah petuah adalah seorang Ustadz yang masih punya hubungan keluarga dengan Sari. Jihan dan Akbar pun ikut andil dalam membantu prosesi acara lamaran tersebut.
"Selamat ya Sari. Sebentar lagi kamu bakal jadi nyonya Jonathan. Kak Jo itu kalau sudah sayang sama perempuan dia akan melakukan apapun demi wanitanya."
Ucapan Jihan bukan tidak beralasan. Jihan ingat betapa sayangnya Jonathan pada Siti. Betapa sayangnya Jonathan pada Siti, tapi ternyata bertepuk sebelah tangan. Jonathan harus merelakan Siti kembali ke pelukan Ilham.
"Maaf, pak, bu..saya tidak jadi melamar Sari." Ucap Jo ditengah acara lamaran.
Semua warga yang ikut diacara lamaran kaget. Mereka sibuk berbisik membicarakan Sari yang lagi-lagi gagal lamaran. Sari hanya menunduk malu, lagi-lagi dia hanya dipermainkan. Wanita itu berlari menangis memasuki kamarnya. Malu? Iya, apalagi banyak kerabat dan tetangga yang datang.
"Nak Jo, kalau boleh tahu apa alasannya?" tanya bu Kurnia.
"Tidak ada, pak. Saya datang kesini bukan untuk melamar Sari." Jawab Jo dengan senyum.
"Lalu?" Tanya pak Tamrin.
"Saya datang kesini justru untuk menikahi Sari."
Keduanya saling memandang saat mendengar permintaan Jonathan. Sungguh mengejutkan bagi keduanya, disamping mereka tak punya persiapan apapun.
__ADS_1
"Tapi nak, Jo. Kami tidak mempersiapkan apa-apa untuk acara pernikahannya. Kenapa begitu mendadak?"
"Bapak tenang saja. Semuanya sudah saya persiapkan. Cuma akad nikah saja. Resepsi nanti menyusul."
Jihan menemui Sari yang masih menangis dikamar. Sari langsung memeluk Jihan, mengeluarkan uneg-unegnya tentang yang didengarnya barusan.
"Aku malu, Mbak. Dia seolah mempermainkan aku. Tahu begini nggak akan aku terima lamarannya." Isaknya dalam pelukan Jihan.
"Malu kenapa, Sar? Emang Jo bilang apa?"
"Tadi .. saya ... dengar dia tidak jadi melamar saya. Mbak tahu bagaimana perasaan saya saat ini? sakit mbak. Sakitnya tuh disini." Sari menunjuk letak jantungnya.
Jihan tertawa dalam diam melihat omongan Sari. Gadis itu sepertinya salah paham dengan ucapan Jonathan.
"Sari, kamu dandan yang cantik. Keluarga Jo menunggu di luar."
Beberapa menit kemudian, Sari menatap pakaian yang dikenakannya. Masih heran dengan gaun yang membaluti tubuhnya. Seakan dirinya akan menikah bukan Lamaran. Di dalam kamar dirinya terus bertanya dalam hati, apakah keluarganya menemukan pengganti Jonathan, yang jelas-jelas baru saja menolak melamarnya. Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir di pikirannya.
"Saudara Jonathan Abraham saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan putri saya yang bernama Sari Amanda binti Tamrin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Sari Amanda binti Tamrin dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saaah"
"SAAAAH" sahut para undangan.
Sari yang masih berada dikamar kaget ketika mendengar siapa yang menikahinya. Ada rasa bahagia ketika lelaki itu menepati janjinya, ada rasa penasaran kenapa lelaki itu mendadak menikahinya.
"Sar, ayo temui suamimu."
Suami? Apakah aku sekarang seorang istri? Ya Allah mimpi apa aku semalam. Terimakasih Ya Allah engkau kirimkan seseorang untuk menjadi Imamku.
__ADS_1
Terimakasih.