
"Kita mau kemana, ma?" Daffa kaget saat mamanya membereskan barang kedalam koper.
"Kita mau pindah ke rumah Oma. Mama sudah membereskan barang kalian." Siti menunjuk beberapa koper yang berjejer didepan pintu.
"Terus papa gimana?" Tanya Dita sambil membetulkan hijabnya.
"Kalau papa sayang sama kita dia pasti menyusul. Tapi kalau dia nggak datang itu artinya dia nggak sayang sama kita." Siti memeluk ketiga buah hatinya menahan sesak rasa yang mendera.
"Ma, tunggu papa aja. Kami nggak mau pergi kalau nggak sama papa." ucap Dita.
"Ya, sudah itu artinya kalian nggak sayang sama mama." Siti tetap kukuh membereskan pakaiannya.
Siti duduk disudut kamarnya. Hanya isak tangis kecil yang terdengar. Tatapannya menatap photo pernikahannya, mengenang deretan perjalanan cinta mereka. Kakinya melangkah kearah kamar mandi, rasanya perutnya tak bisa diajak kompromi lagi.
Dita dan Zalika mendengar tangisan mamanya. Mereka hanya menggelengkan kepalanya.
"Mama kenapa?" Tanya Dita pada adiknya.
"Papa bandel kak. Makanya mama nangis." Jawab Zalika.
"Emang papa ngapain?"
"Kakak tahu kalau Dokter Mauren sering menjemputku disekolah menggantikan papa. Aku mencium aroma aroma...." Zalika seperti mengendus.
"Kamu ngadu sama Mama kan. Tuh liat gara gara kamu mama jadi nangis." Dita melototi adiknya.
"Kan katanya bohong itu dosa,kak." Zalika memamerkan wajah imutnya.
"Dasar, kamu ya. Kalau kata guru disekolah kita tidak boleh membuat orangtua kita sedih. Nah kamu lakukan barusan apa? bikin mama sedih, kan!"
Zalika menunduk saat mendengar omelan Dita.
"Maaf, kak. Aku janji nggak akan bikin mama sedih lagi. Tapi gimana caranya supaya nggak jadi ke rumah oma. Aku nggak mau pindah kak."
Siti keluar dari kamar membawa barang-barangnya. Termasuk tiket dan paspor untuk dirinya dan ketiga anaknya. Siti yakin tidak ada yang tahu kalau dirinya sedang mengandung. Karena belum kelihatan.
Siti menatap surat yang sudah diletakkannya diatas nakas. Helaan nafas panjang sambil menutup pintu rumah mereka.
"Ma"
"Iya, Dita."
"Mama sudah pamit sama papa. Aku pernah baca kalau kita tidak pamit sama orangtua artinya sama saja dengan Durhaka." Jelas Dita.Siti memeluk putri sulungnya. Mencoba menahan tangis didepan anak anaknya.
Papamu tidak sayang lagi sama kita, nak. Dia punya sosok baru. Dia lebih peduli dengan keinginannya sendiri daripada keluarganya.
__ADS_1
"Sudah. Mama sudah pamit. Yuk itu taksinya sudah sampai."Siti mengajak ketiga anaknya masuk naik taksi. Matanya yang sedari tadi sembab, membuat ketiga anaknya merasa ikut sedih.
"Ini semua karena tante genit itu." Ucap Zalika.
Dita dan Daffa melototi adiknya. Mereka menempelkan telunjuk di depan bibir, meminta adiknya diam. Terlebih Daffa yang terus melototi Zalika.
klik
Di Jakarta
"Jihan"
Jihan menoleh kearah seorang wanita yang menyapa. Senyumnya mengembang kearah sosok yang dikenalnya.
Jihan pergi kesekolah Azka mengurusi ijazah anak sambungnya. Azka baru saja tamat SD dengan NEM yang sangat bagus.
"Kamu Jihan Almira kan?" Tebak wanita itu.
"Iya, ini Diana bukan sih anak SMA Nusa bangsa." Jihan pun ikut menebak.
"Aaah, kamu masih ingat ya? Kamu apa kabar?" Balas Diana mengajak Jihan mengobrol di dekat lapangan sekolah.
"Alhamdulillah baik, Diana. Kamu sendiri ngapain disini? Anakmu sekolah disini, ya."
"Iya, anakku sakit. Makanya aku pamitin nggak bisa ikut ujian akhir. Aku mengurus dinpensasi supaya Ayu bisa ujian ulang." ceritanya.
"Bu Desi" sapa Jihan.
Desi wali kelas Azka pun menyambut Jihan dengan Ramah. Mereka pun berbincang seputar prestasi Azka.
"Bu, ini ada hadiah buat ibu. Sebagai rasa terimakasih mendidik Azka menjadi anak yang pintar dan Sholeh." Jihan mengeluarkan hadiahnya untuk guru putra sambungnya.
"Terimakasih, bu. Sebenarnya tidak perlu pake hadiah. Bukannya Azka akan menyambung di SMP sekolah ini juga, bu."
"Nggak, bu. Azka bakal sekolah di pesantrennya Aa gym dibandung. Soalnya ada neneknya tinggal disana." Jelas Jihan.
"Oh, apakah ini keinginan Azka,bu. Maaf yang saya tahunya Azka bercita-cita sebagai TNI seperti ayahnya. Kalau masuk pesantren bukannya akan susah mewujudkan cita-citanya, bu."
Jihan terdiam. Keputusan sekolah Azka bukan dari dirinya atau Akbar. Penempatan sekolah Azka sudah diatur sama Tia dan keluarga besarnya. Dia bisa apa? Statusnya dan Akbar hanya orang tua sambung.
"Bu."
"Eh, iya maaf. Kalau soal sekolah Azka itu sudah kemauan Azka sendiri. Oh, iya tujuan saya kesini mau ambil ijazah Azka. Sekarang Azka sudah dibandung."
"Sebentar, ya Bu Jihan." Desi mengambil berkas Ijazah di lemarinya. Tak lama Ijazah itu sudah berpindah tangan ke Jihan.
__ADS_1
Jihan pamit pada wali kelas Azka. Dia pun tak hentinya mengucapkan terimakasih atas jasa mendidik Azka. Langkah terhenti melihat Diana terburu-buru pergi.
"Di, kamu mau kemana?"
"Han, ayu drop. Aku mau kerumah sakit, lain kali kita ngobrol lagi."
"Diana, aku temani, ya."
Jihan tahu pasti kondisi hati Diana sedang down. Makanya dia mengajukan diri menemani teman SMA-nya. Sepanjang perjalanan Diana hanya menangis. Jihan yang mengendarai mobil milik Diana. Sementara mobilnya dijemput sopir kantornya.
Sampai dirumah sakit, mereka berlari keruangan Ayu. Ada beberapa keluarga yang sudah menunggu, banyak yang menangis saat melihat kedatangan Diana.
"Ayu kenapa, bu?"
"Ayu tadi kejang-kejang, sekarang ditangani dokter."
Jihan pun tak kuasa menahan tangis. Dia merasa iba, usia ayu yang masih sangat muda harus mengemban penyakit yang sangat parah.
Tatapan beralih sepasang wanita dan lelaki masuk ke praktik dokter. Jihan tanpa sadar mengikuti keduanya. Lalu membaca plang didepan pintu "khusus penyakit dalam". Lama Jihan tercengang dengan tulisan di papan itu.
Ceklek
"Jihan.." Wajah itu pucat melihat sosok didepan pintu.
"Ka..kamu ngapain disini?"
"Jadi kamu punya banyak waktu menemani dia berobat. Sedangkan saat aku meminta kontrol ke dokter kandungan, kamu banyak sekali alasannya. Jahat, kamu, mas!"
Jihan berlari menangis meninggalkan Akbar yang terpaku didepan praktik dokter.
"Tia, kamu disini dulu. Aku mau menemui Jihan dulu."
Tia menahan tangan Akbar "Biarkan dia tenang dulu, bar. Saat ini dia lagi emosi, kamu nyusul juga akan percuma. Kamu antar aku pulang dulu, setelah itu kamu temui istri kamu. Bicarakan baik-baik."
Dirumah
Jihan yang sudah merasa tenang akhirnya masuk kerumah. Wajah heran melihat rumahnya rame dengan Edwar dan anak istrinya berkumpul. Ada Bella yang sudah kelas dua SMP, Aura yang sudah kelas 5 SD dan Dewana yang baru saja berusia 6 tahun.
"Jihan untung kamu datang. Ibu mau kasih kabar gembira."
Jihan mencoba tersenyum " Apa itu, bu?"
Ibu Aisyah mengajak Jihan duduk disofa "Kamu tahu, nak. Tadi Ilham menelepon kalau Siti hamil anak ketiga." Ucap Ibu dengan Riang.
"Alhamdulillah." Jawab Jihan Datar.
__ADS_1
Siti hidupmu selalu beruntung. Punya suami sukses dan sekarang anakmu sudah mau empat. Sedangkan aku, sudah tujuh tahun menikah tapi belum juga dikaruniai seorang anak.