
Suara deburan ombak tak bisa menutupi suara tangisan milik Tiara. Rasa kecewa yang dirasakannya sangat menohok perasaan. Bebannya untuk menyenangkan keinginan keluarga pupus sudah. Tiara yakin kalau papanya tahu pasti akan murka. Pastinya akan memaksa dirinya bercerai dari Ilham.
"Kamu nangis, ti?"
Sebuah suara muncul dibelakangnya. Tapi Tiara enggan menoleh. Suara itu semakin dekat dan duduk disampingnya.
"Apa Ilham menyakitimu? sekarang kamu tahu kan seperti apa suamimu."
"Kak jo, please. Jangan ikut campur urusanku lagi!"
"Tidak bisa, ti. Aku sudah berjanji untuk selalu ada buat kamu."
Tiara pergi meninggalkan Jonathan, dia malas meladeni lelaki yang bukan suaminya. Tangan ditahan oleh Jonathan. Menarik tubuhnya ke dalam dekapan Jonathan.
"Jika kamu adalah masalah cerita sama aku. Aku tidak mau melihat orang yang aku sayangi tersakitik, aku tidak mau melihat kamu dihancurkan lagi oleh ilham." ucap Jonathan masih mendekap Tiara.
Tiara melepas pelukan Jo, baginya tidak etis kalau dirinya terlalu dekat dengan Jonathan. Entah kenapa Tiara merasa Jo selalu menguntitnya. Kakinya melangkah meninggalkan lelaki itu. Namun sayang ada sosok yang ternyata melihat mereka. Tangan kekar itu langsung menarik dirinya. Ada gurat kekecewaan di wajahnya.
"Mas!"
"Besok kita pulang, ti. Kita beres-beres." ucap Ilham tanpa menatap istrinya.
"Mas, tadi yang kamu liat tidak seperti pikiranmu!" Tapi tetap saja Ilham tak bergeming.
"Mas! Aku tidak mau pulang! Aku kecewa sama kamu! Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku. Kalau saja dulu kamu jujur mungkin akan beda ceritanya."
"Sama aja, ti. Toh, tetap saja kamu tidak bisa menerimaku, kan. Kamu tetap saja lari saat tahu aku mandul! Mungkin kalau dulu aku jujur kamu akan tinggalkan aku dan menikah dengan laki-laki lain, iya kan! Sekarang saat kamu tahu yang sebenarnya kamu malah melabuhkan tubuhmu pada Jonathan. Kamu tahu kenapa aku menyembunyikannya? Itu karena aku takut kamu pergi! Aku takut kehilangan kamu, ti. Sekarang aku pasrah jika memang kamu mau pergi dengan Jonathan."
"Mas...."
"...."
"Tolong kasih aku waktu untuk merenungkan semua ini. Aku butuh waktu, mas. Tolong pahami keadaanku."
Tiara berjalan meninggalkan Ilham yang masih syok apa yang dia lihat barusan. Keduanya saling berjalan membelakangi. Sesekali mereka saling menatap punggung.
__ADS_1
"Maafkan aku, mas."
Ilham merasakan ada yang memeluknya. Tapi hanya diam yang dilakukannya.
"Aku memang egois, ti. Aku takut kehilanganmu makanya aku mencari waktu yang tepat untuk menceritakan yang sebenarnya. Maafkan aku, sayang. Tapi kalau memang kamu mau mencari lelaki yang sempurna. Aku ikhlas, ti."
Tiara melerai tubuhnya dari punggung Ilham. Ucapan Ilham seakan menalak dirinya. Sakit! Tiara pergi meninggalkan suaminya yang masih mematung.
"Mas made, antarkan aku pulang ke villa." perintah Tiara saat masuk ke mobil.
"Nggak tunggu, mas Rama dulu."
"Nggak usah! dia udah gede bisa pulang sendiri." Ucap Tiara ketus.
Made mengantarkan Tiara pulang ke vila. Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara tangisan. Made melirik Tiara seperti orang menggigil lalu memberhentikan mobil.
"Ya tuhan, non Tiara!"
Made langsung menghubungi Ilham mengabari kalau Tiara demam. Tapi ternyata handphone Ilham ada dimobil. Pada akhirnya Made berinisiatif membawa Tiara ke rumah sakit terdekat.
Sementara di pantai, Ilham baru menyadari kalau Tiara sudah tidak ada didekatnya. Kakinya berlari mencari istrinya. Sepanjang pantai ilham berteriak memanggil nama Siti, tapi tak juga menemukannya.
Sebuah bogem melayang ke wajah mulus Ilham. Dua pasang mata saling bertatapan penuh amarah. Sekali lagi hantaman itu menembus wajah Ilham.
"Sudah aku bilang kalau menyakiti Siti, aku akan membunuhmu!"
"Bangun! Kamu tidak akan pernah berubah, ham!Daridulu kamu hanya bisa menyakiti perasaan perempuan!"
Ilham menatap Jonathan dengan penuh emosi. Lalu menghajar lelaki itu demi membalas apa yang barusan menimpanya. Satu bogem dibalas satu bogeman, tak ada rasa takut diantara keduanya.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung melerai. Jo masih dalam keadaan emosi ingin berontak mengejar Ilham.
"Kamu yang sudah membuat adikku meninggal! kamu yang sudah membuat siti lumpuh! Sekarang mau kamu apa, ham! belum puas kamu membuat siti menderita! siti masuk rumah sakit setelah mengetahui kamu dan jihan bertunangan! siti kabur ke sukasari karena kamu masih membawa Gita ke hubungan kalian! Belum puas kamu, ham! belum puas kamu setelah pengorbanan yang dilakukan siti padamu." Berang Jonathan.
"Lalu apa urusannya dengan kak jo! Apa kak jo masih mencintai siti? Ingat kak siti sekarang istriku. Jadi mulai sekarang jangan ikut campur urusan rumah tangga kami!"
__ADS_1
Ilham meninggalkan Jonathan sambil menahan sakit wajahnya. Bukan hanya wajahnya di hantam oleh Jonathan, tapi juga perutnya. Dengan berjalan tertatih Ilham mencari mobil Made. Baru disadarinya kalau handphonenya tertinggal di mobil.
Pukul 19:00
Ilham menatap pintu kamar yang terkunci. Beberapa kali mengetuk pintu kamar tak ada yang membuka. Ilham melorotkan tubuhnya di dinding pintu. Ada penyesalan yang besar sudah melukai perasaan istri.
"Kamu tahu, ti. Saat aku mendengar vonis ini hatiku rasanya hancur. Aku takut jika dekat dengan wanita lain nanti mereka malah meninggalkanku.
Kamu tahu, ti. Saat kamu meminjam bahuku dirumah sakit. Entah kenapa perasaanku mulai tak menentu? Padahal sebelumnya kita sering sama sama, tapi nggak sebesar ini.
Kamu ingat,ti. Saat kita mengantar gita ke vila untuk kejutan dari kak Ronal. Aku pernah bilang kalau aku sedang mencoba mendekati seorang gadis, dan gadis itu kamu, tapi kamu malah bilang aku masih memikirkan Gita.
Ti, asal kamu tahu aku sangat mencintaimu. Karena rasa cinta ini, aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena aku takut kamu seperti perempuan yang lain. Yang nolak aku karena kekuranganku.
Ti, tolong keluar sayang. Aku tidak tahan seperti ini sama kamu! Please maafin aku, maafin aku jika ada sikapku yang menyakitimu." Ilham menangis tergugu didepan pintu.
"Mas, ilham ngapain disini?" Bi atun mengejutkan sambil berdiri didepan pintu.
"Kangen, ya sama non Tiara? Kan tadi sudah ketemu di rumas sakit. Gimana keadaan non Tiara, mas?" cerocos bi atun.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit, bi?"
"Non Tiara, mas!"
"Kenapa bibi baru bilang sekarang!" bentak ilham pada bi atun yang bertahun-tahun menjaga vila keluarganya.
"Bi, telpon Made suruh susul saya ke Vila!"
Ilham berlari gerudak geruduk menurun tangga di vila. Perasaannya makin tidak karuan sejak mendengar istrinya di rumah sakit.
Made tiba di depan villa, mendapati majikannya seperti ingin menerkamnya. Ilham tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Pikirannya terus berkecamuk, dimana dialah yang menyebabkan istrinya drop.
Mobil berhenti didepan rumah sakit. Setelah Made memberitahukan dimana ruang Tiara di rawat, ilham langsung berlari. Ilham mendapati istrinya masih tertidur, tubuhnya lemas. kaki nya ditekuk ke lantai, menggenggam tangan sang istri. Ilham terus meminta maaf pada Tiara.
"Sebenarnya apa yang terjadi, ham?"
__ADS_1
Ilham menelan salivanya saat tahu siapa pemilik suara.
"Mama!"