Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
131. Pasien Depresi


__ADS_3

"Ham, kamu sudah tahu kabar mutasi kita." Ucap Toni saat mereka bertemu di klinik dokter Ahmad SpOg di daerah casablanca.


"Sudah, tapi belum tahu penempatannya dimana? Kalau diluar jakarta aku harus memboyong siti yang sedang hamil atau aku minta kelonggaran waktunya sampai istriku melahirkan."


"Huft" Toni mengendurkan nafasnya.


"Kamu sendiri gimana?" Ilham balik bertanya pada teman sejawatnya.


"Lani minta cerai, ham. Dia juga minta hak asuh sikembar." Ucap Toni yang mengacak kasar rambutnya.


Ilham tertawa kecut " Istri kamu lucu, ya. Dia yang selingkuh, dia yang selalu meremehkan kamu, malah dia yang minta cerai."


Toni cuma tersenyum kecut. Memandang wajah lelaki disamping dengan kesal. Sejak kejadian itu, Ilham mulai bersikap sinis padanya. Dia maklum kalau sikap Ilham adalah bentuk kekecewaan tindakan Lani yang membahayakan Tiara. Namun, Toni tidak menyangka mempengaruhi persahabatan mereka.


"Ham, aku di mutasikan ke daerah cibubur. Kalau kamu?" tanya Toni demi mencairkan suasana ketegangan diantara mereka.


"Bandung" Jawabnya singkat.


"Jauh juga, ya. Kenapa kamu yang paling jauh, ya." Suara Toni terdengar seperti mengejek dirinya.


Ilham menjelit kearah Toni. Jelitan yang sukses membuat Toni bungkam. Lelaki itu meninggalkan Toni di lorong rumah sakit. Pikirannya berkecamuk takut Tiara tahu kalau penyebab mutasi adalah masalah arisan kemarin. Sebagai suami dia tak mau masalah ini mempengaruhi kehamilan istrinya.


klik


Di rumah sakit Kasih Bunda


Pukul 11.00 WIB


"Ham" Dokter Sasono datang menghampiri Ilham yang hendak memasuki ruang prakteknya. Walaupun sudah mendapat surat mutasi dan penempatannya. Tapi Ilham masih bisa praktek seperti biasa.


"Iya, dok."


"Kamu mau gantiin saya menangani pasien anak seorang pengusaha."


"Kalau, dokter mengizinkan saya mau."


Dokter sasono menepuk pundak lelaki yang sudah seperti anaknya sendiri. Ilham dan Dokter Sasono langsung menuju ke ruangan dimana pasien itu berada.


"Sakha" Sahut wanita yang sedang dirawat tersebut.

__ADS_1


"Mas sakha inikah kamu? Kamu masih hidup?" Wanita itu memegang wajah Ilham.


"Maaf, bu. Saya bukan Sakha, saya Ilham." Jawab Ilham melepas tangan wanita itu.


"Tidak! Kamu sakha! Kamu suamiku, mas. Kenapa kamu pura-pura lupa padaku. Mas!" Pekik wanita itu.


"Sepertinya kamu harus pura-pura menjadi suaminya supaya wanita itu mau diperiksa." Bujuk Dokter Sasono.


"Tapi, dok. Itu sama saja memberi dia harapan. Sudah cukup aku merasakan perempuan pengharap seperti Raisa dan Jihan. Maaf,dok aku keberatan." Ilham meninggalkan ruang rawat wanita itu.


"SAKHAAAA!!!! KALAU KAMU PERGI LAGI LEBIH BAIK AKU MATI!" Pekik wanita itu. Wanita itu berlari mengejar Ilham walaupun tangannya terluka karena melepas jarum ditangannya. Ilham terhenti sejenak bukan karena wanita itu, melainkan karena melihat sang istri berjalan kearah dirinya.


"Mas." Sahut Tiara memeluk suaminya.


"Kamu kesini nggak bilang-bilang, sayang."


"Ya, kalau bilang bukan surprise namanya. Kamu sudah makan, mas. itu ada bekal aku buatin khusus buat kamu."


"Belum. Yuk kita makan berdua, aku kangen sama twins." Tangan Ilham mengelus perut istrinya.


"Dokter, diminta ke ruangan pak sasono." Sahut seorang suster.


"Mas, malu tuh sama suster."


Tiara menatap suaminya yang sudah berjalan jauh darinya. Entah kenapa sejak mau berangkat ke rumah sakit perasaannya tidak enak. Makanya, dia mengunjungi tempat kerja suaminya.


"Ada apa, dok?" Ilham memasuki ruang kerja dokter Sasono. Ternyata dokter Sasono tidak sendiri, melainkan tampak sepasang lelaki dan wanita berpakaian rapi, duduk dihadapan Dokter senior tersebut.


"Duduklah. Mereka ingin bicara denganmu." Dokter Sasono mempersilahkan Ilham duduk didekat tamunya dokter Sasono.


"Kami orangtuanya, Risma. Kami minta bantuan anda itu menjadi dokter pribadi putri saya. Kasihan dia, setelah mengalami keguguran suaminya meninggal saat kecelakaan mobil. Wajah kamu juga mirip dengan mendiang Sakha, menantu kami."


"Maaf ibu dan bapak. Kalau hanya menjadi dokter putri anda, saya bersedia. Tapi kalau wajah saya hanya untuk memancing kesembuhan putri anda, saya menolak. Saya punya istri dan sedang mengandung saat ini. Mohon maaf saya tidak bisa." Tolak Ilham.


Tak lama Ilham muncul diruang prakteknya, menatap istrinya yang tertidur. Setelah menghadap dokter Sasono, dokter yang paling disegani dirumah sakit tersebut, Ilham langsung diperboleh kembali ke ruangannya. Tapi sebelum itu, dokter Sasono meminta Ilham memikirkan lagi tawaran tersebut.


klik


"Tidak mau! Aku mau suamiku! Aku mau mas sakha disini. Mama, papa, tadi mas Sakha datang, dia pura pura tidak mengenaliku." Tangis Risma setelah kepergian Ilham dari kamar rawatnya. Tubuh Risma sedang berbaring tak berdaya, dia terus mengamuk ingin bertemu suaminya hingga melukai diri sendiri.

__ADS_1


"Risma, sadar nak. Ya Allah, pa bagaimana ini? Kasihan Risma harus mengalami hal seperti ini." ucap mamanya Risma. Dia tak tega melihat kondisi sang putri yang depresinya makin parah.


Mamanya Risma memencet bel agar suster dan dokter segera datang. Tak berapa lama kemudian beberapa suster berlarian ke ruang VIP.


"Ada apa,bu?" Tanya suster pada mamanya Risma. Mamanya menjelaskan bahwa putrinya kembali mengamuk.


"Bapak dan Ibu tunggu diluar. Kami akan memeriksa pasien."


"Pa, kita temui dokter Ilham. Bujuk dia agar mau menjadi dokternya Risma."


"Tapi, ma..."


"Please, pa ini demi keselamatan anak kita. Papa mau kan Risma sembuh. Kita sudah dua tahun mengobati anak kita, tapi apa? bukannya sembuh malah semakin parah."


Papanya Risma hanya terdiam. Menatap pilu melihat kondisi putrinya yang semakin parah.Tapi dia juga tidak mau putrinya jadi perusak rumah tangga oranglain. Dengan langkah gontai dia duduk di salah satu kursi di depan ruang rawat putrinya.


Sementara di ruang praktek Ilham. Lelaki itu memandangi istrinya yang tertidur di sofa. Tatapannya beralih ke perut istrinya yang sedikit membuncit.


"Mas" Suara Tiara membuat lamunannya buyar.


"kamu sudah bangun, sayang." Ilham mendekati Tiara dan mengecup kening istrinya.


"Aku dari tadi sudah bangun. Kamunya aja yang melamun. Mikirin apa sih, mas?" Tiara membelai rambut suami. Tubuh mereka saling berhadapan, tangannya membelit pinggang istrinya.


Tiara merasakan tarikan dari depan dan belitan perutnya ketika dirinya ingin melepaskan diri.


"Aku kangen twins sayang." Ilham berbisik sensual setelah mengunci ruang prakteknya. Entah kenapa Tiara merasakan sensasi luar biasa saat suaminya menghembus ke telinganya. Setelah membelitkan tangannya Ilham langsung membenamkan bibir istrinya dengan rakus.


"Mas...ahhh. Nanti kamu dicari pasien."


Tiara mencoba melepaskan belitan suaminya, tapi apa daya lelaki itu lebih kuat darinya. Dia pasrah, lebih memilih menikmati sentuhan demi sentuhan dari suaminya.


"Sudah, aku geli."


"Tidak, sayang tanggung sedikit lagi, ya. Aku masih kangen."


"Mas, ini rumah sakit. Nanti saja dirumah."


"Bener, ya. Aku tagih lo." Ilham mengedipkan matanya dan menyudahi sarapan bibir mereka.

__ADS_1


Mas, kenapa perasaanku masih tak enak. Ya Allah lindungi orang-orang terdekatku.


__ADS_2