
POV Ilham
Malam ini aku di duduk depan kamar mess ku. Menatap bulan yang membulat terang. Apa kabar bulanku? Apakah kamu merindukan mataharimu ini? Aku hanya bisa menunduk mengingat kenangan kita. Waktuku disini hanya tiga hari. Setelah itu kami kembali ke Jambi untuk laporan ke dinas pusat tentang pembangunan RS. kasih bunda.
"Ham" Toni teman sejawatku mengagetkan aku.
Toni duduk di sebelahku sambil menyodorkan aku kerupuk sate. Kerupuk lebar yang di topping kuah sate Padang. Aku menikmati kerupuk tersebut sebagai pengganjal perut. Walaupun tadi sudah dihidangkan makanan enak di rumah pak Kades.
"Iya, ton." jawabku sambil menikmati kerupuk sate.
"Tunangan kamu mana? Nggak nginap sama kita."
Toni pasti menanyakan soal Jihan. Ya, Jihan ikut bersamaku ke Sukasari. Aku tidak enak menolak keinginannya untuk ikut. Dia sudah membantuku keluar dari penjara.
"Hey!!! ditanya diam saja!" Toni lagi-lagi mengagetkanku.
"Nginap di tempat familinya" jawabku santai.
"Oh, kamu cinta sama dia."
"Kenapa nanya begitu?"
"Ya, soalnya kamu kan bukan pertama dekat sama wanita, dulu Raisa terus Gita balik lagi ke Raisa terus siapa tuh yang sering ngirimkan kamu bekal?"
"Siti?" tebakku.
"Iya yang dulu pernah jadi OB di kantor kita."
"Iya, emang dia kok."
Toni menepuk pundakku "Dasar playboy!"
Enak aja dia bilang aku playboy. Aku pacaran pake jarak kali. Namanya hati siapa yang tahu. Dulu aku juga nggak menyangka bisa benar-benar jatuh cinta pada Siti. Gadis yang bawel, jutek setiap ketemu aku. Yang sekarang aku rindukan bawelnya, juteknya, yang selalu pasang jarak tiap aku ingin mencumbunya.
Ya Allah bagaimana keadaan kakinya. Semoga ada yang berbaik hati menyembuhkannya. Semoga kak Nathan bisa membahagiakannya. Aku mengambil nafas panjang. Entah kenapa aku ingin sekali menemui Siti, meskipun aku tahu ada jihan disana. Paling tidak aku ingin tahu keadaannya. Karena gara-gara aku dia seperti ini.
Toni malah tertawa melihat aku yang rada kesal dengan julukannya "Playboy" tadi. Siapa yang tidak kesal. Aku bukan playboy, aku tidak pernah mempermainkan perasaan wanita.
Bukankah dulu Raisa yang meninggalkan aku tanpa kabar, lalu muncul kembali saat aku bahagia dengan Gita. Bukankah Gita yang meninggalkan aku dan memilih Alam, padahal sudah jelas Alam yang buat dia trauma. Dan sekarang Siti pun lebih memilih Jo, daripada berjuang bersamaku.
Pada akhirnya aku kembali dalam kesendirian. Kalau mengingat rentetan perjalanan cintaku, apa kalian juga menjulukiku Playboy.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Aku membuka handphoneku. Sebuah nama yang kusayang bertengger di layar handphone. Baru sehari kutinggal dia sudah rindu. Ah, mama ku, aku juga rindu padamu.
📳 Mama
__ADS_1
Assalamualaikum, ham. Sudah sampai nak? Sudah buka puasa belum? jangan lupa teraweh.
Aku tersenyum melihat kebawelan Mama. Itulah bentuk kasih sayang seorang ibu, bawel sebagai tanda sayang.
📳 Ilham
Alhamdulillah,ma. aku sudah sampai, tadi buka di rumah pak Kades, ini baru pulang dari teraweh.
mama gimana kabarnya! Papa gimana keadaannya?
📳 Mama
Alhamdulillah mama baik, nak. Papamu sudah rawat rumah nak.
Ham mama boleh minta tolong?
📳 Ilham
Apa ma?
📳 Mama
Mama ingin ketemu Siti. Mama dengar dia lumpuh. Mama rindu sama Siti. Dia mau bantu mama di dapur, ngingetin mama sholat. Beda dengan Jihan, dia jarang ke rumah.
Aku hanya bisa menunduk saat mendengar cerita mama. Dulu Gita sering main sama mama saat aku tak di rumah. Hitung-hitung pendekatan lagi setelah dulu mama sempat melarang hubungan kami. Siti adalah wanita kedua yang mau mengakrabkan diri dengan Mama.
Aku juga rindu,ma sama Siti. Aku juga ingin bertemu dengannya. Tapi percuma,ma. Dia sepertinya tidak mau menemuiku.
📳 Mama
suara Mama mengejutkan lamunanku. Handphone masih di tanganku tapi pikiranku sudah kemana-mana.
📳 Ilham
iya, ma. Ma, sudah dulu ya. Aku mau istirahat. Sudah malam.
📳 Mama
Ya, sudah kalo. Pokoknya sampaikan salam Mama untuk Siti. Assalamualaikum
📳 Ilham
Waalaikumsalam, ma.
Setelah selesai teleponan dengan mama, aku kembali ke kamar untuk istirahat. Tapi entah kenapa aku terus kepikiran soal Siti. Please, ham disana ada Jihan.
klik
__ADS_1
POV author
Di sebuah kamar berdinding semen. Siti membuka jendelanya. Meskipun sudah malam dan larut entah kenapa Siti tidak bisa tidur. Seharusnya dirinya merasa takut karena menatap perkebunan di belakang rumahnya. Tapi entah kenapa dia tidak merasa takut kali ini. Mungkin karena sudah biasa dengan suasana ini.
Teringat saat dirinya dan Jo berteleponan di kost Jo. Saling menatap langit, lalu Jo menyanyikan sebuah lagu untuknya dan meyakinkan dirinya bahwa Jo serius. Siti menatap handphone, berharap Jo menelponnya. Saat ini, cuma Jo yang bisa mengobati kegundahan hatinya. Walaupun dia tahu sikap seperti hanya akan memberi harapan buat Jo.
Siti tersentak saat sosok lelaki berdiri tepat di hadapan. Lelaki yang dia rindukan. Tetapi juga yang ingin di lupakannya. Dengan cepat Siti menutup jendela kamarnya, tapi di tahan oleh Ilham.
"bisakah kita bertemu sebentar saja." ucap Ilham yang masih berdiri di depan jendela kamar Siti.
"Tidak. Aku mengantuk." jawab Siti langsung menutup pintu jendelanya.
"Nggak papa. Aku tetap disini. Menunggu sampai sahur. Menunggu seseorang yang sangat aku cintai. Menunggu seseorang yang kurindukan.
Ti, mama menelpon katanya dia rindu padamu. Siti, kamu itu rembulanku yang terus menyinari saat aku dalam kegelapan. Dan aku adalah matahari buat kamu, yang akan terus menghangatkan hatimu yang dingin." suara Ilham terdengar dari luar jendela kamar Siti.
Siti hanya diam saat mendengar ungkapan hati Ilham. Ada perih yang menyayat hatinya. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Siti mencoba berdiri walaupun kakinya masih berat untuk berjalan. Tapi kenekatan Siti malah jadi petaka, Siti berjalan lalu menabrak roda kursinya. Tubuhnya terpental, Siti akhirnya merayap ngesot hingga sampai ke ranjangnya. Menahan kesakitan di tubuhnya.
"Siti! tolong buka jendela! Kamu tidak apa-apa kan." teriak Ilham yang ternyata masih di luar.
Tak ada sahutan. Ilham nekat menerobos jendela kamar Siti. Takut terjadi sesuatu pada Siti. Tapi Ilham melihat Siti sudah tertidur di ranjangnya. Lega, itulah yang di rasakannya. Ilham mengecup kening Siti, mengucapkan selamat tidur. Lalu kembali keluar dari jendela kamar.
Siti membuka mata, menata jendela yang sudah tertutup kembali.
Tolong jangan buat aku seperti ini, ham. Tolong pergi dari hidupku. Aku tidak membalas perasaanmu lagi. biarkan aku bahagia bersama Kak Jo. Biarkan aku berbakti pada ibu, biarkan aku membalas jasa-jasa kak Jihan dengan melepaskanmu. Aku mohon jangan datang lagi. Anggap saja cerita kita selesai sampai disini.
Ilham membuka hp nya menerima pesan dari Siti
✉️ Siti
Tolong jangan datang lagi. Hubungan kita sudah selesai. Tolong jaga kak Jihan.
✉️ Ilham
Baik. Kalau itu mau kamu. tapi asal kamu tahu, Aku tidak akan pernah menikah dengan Jihan.
Tak ada jawaban lagi. Ilham kembali ke mess menatap bulan yang mulai tertutup awan.
Bersambung
...####...
akhirnya bisa post kembali setelah tragedi virus semalam. Ya ampun semalam rasanya mau nangis udah capek-capek nulis, malah begitu hasilnya. semoga yang ini nggak error lagi ya.
Terimakasih buat kakak-kakak yang sudah mau mampir ke cerita receh ini. Semoga menghibur kalian semua. Nanti sore insyaallah ada up double, ya.
Tetap aku pesankan jangan lupa like dan komen disini ya. Vote nya boleh kok, dan siapa tahu ada yang berbaik hati memberikannya bunga atau kopi.
__ADS_1
Insyaallah besok masih up tapi di novel sebelah.
Sampai bertemu kembali di hari Senin.