
Bruuuukkk!!!
Edwar mendorong Siti ke dalam kamar. Ada kemarahan yang mendalam kepada adik semata wayangnya.
"Bang!" tangis Siti.
"Abang kan sudah bilang jangan dekat-dekat dengan Ilham. Kenapa sih kamu susah dikasih tau!"
"Tapi bang ...kami bertemu sebagai teman tidak lebih. Emang Abang ada lihat dia melakukan hal yang aneh padaku! Tidak kan!"
"Pokoknya malam ini kamu disini sampai dia pulang besok. Apapun alasannya Abang tidak akan setuju kamu sama dia!" Edwar menutup pintu kamar.
Siti bukan dibawa Edwar pulang ke rumah ibu. melainkan ke kediaman Edwar dan Dinda. Siti di kunci dalam kamar milik Sita, adiknya Dinda.
Menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Dinda menemui suaminya yang masih panas hatinya.
"Bang, Jangan keras sama Siti?" bujuk Dinda pada suaminya.
"Aku melakukan ini buat kebaikan Siti. Ilham itu bukan lelaki yang pantas untuk Siti."
Dinda mengernyitkan dahinya. "Kenapa? apa yang buat kamu tidak setuju dengan Ilham. Kamu lihat dia aktif di mushola pinter adzan, pinter ngaji. Apa yang kurang? Apa karena dia mantan Gita? Kan Abang tahu Gita sudah nikah sama Alam."
"Tapi... Dia pernah meninggalkan istrinya demi Gita. Dia pernah melecehkan Gita. Apa pantas Siti dapat lelaki seperti itu?"
"Abang nggak berkaca. Abang dulu juga narkoba kan? punya masa lalu yang kelam kan? Terus kalau Siti sama Jo apa bisa menjamin kalau adikmu itu bahagia."
Edwar tidak mendengarkan apa yang dibilang istrinya. Hatinya masih tersulut panas akibat ketidaksukaannya pada Ilham. Sesekali menyebut astaghfirullah setelah mengingat yang dia lakukan pada Siti. Ada rasa sesak yang membludak di dadanya. Karena apa yang dilakukan Siti juga masih dalam tanggung jawabnya sebagai kakak.
Sita melihat kamarnya dikunci dari luar, mendatangi kakaknya karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dinda akhirnya menceritakan kalau Edwar mengurung Siti karena ketahuan bertemu dengan Ilham.
"Ilham dokter ganteng itu?" Sita lumayan kaget.
Dinda mengangguk "Kamu temenin Siti, ya. Kasihan dia." bujuk Dinda pada adiknya.
Siti enak ya. Di kelilingi cowok ganteng seperti kak Jo dan dokter Ilham. Sedangkan aku? Boro-boro yang ganteng nempel. Yang ada malah si Asep yang pengangguran.
__ADS_1
Ilham berdiri di depan jendela kamar Siti. Berharap Siti keluar dari jendela. Tak ada rasa lelah buat dirinya untuk menunggu.
"Kamu tahu kan, aku sayang sama kamu. Aku pun tahu kalau kau juga sayang padaku. Kita sama-sama tahu kalau rasa itu masih bersarang di hati kita. Lebih dari yang orang-orang tahu.
Kamu tahu kalau aku ini orang yang setia. Buktinya sampai sekarang aku masih menunggu kamu, ti. Di depan jendela ini aku ingin melihat wajahmu, senyummu, untuk yang terakhir kalinya.
Tapi kenapa kita malah berakhir seperti ini, ti. Aku tahu kesalahanku padamu sangat fatal, dimana saat itu kamu mempertanyakan perasaanku. Perasaan yang masih terombang-ambing antara kamu dan Gita.
Maafkan aku, ti. Maafkan aku yang dulu sudah membuat perasaan kamu hancur. Aku memang pantas seperti ini, ti. Mungkin inilah yang di sebut karma.
Selamat tinggal, Siti. Semoga kamu bahagia bersama kak Jonathan."
Kaki Ilham ingin melangkah pergi tapi entah kenapa masih tertahan disana. Seketika kakinya bergetar, tangisnya pecah. Ilham menyesali kesalahannya yang dulu pada Siti. Kesalahannya yang masih di bayang-bayangi Gita dalam hubungan mereka.
Saat Ilham melangkah keluar kebun ada Jonathan yang menghadang langkahnya. Dengan malas Ilham menghindari lelaki yang pernah menjadi kakak iparnya. Tapi tubuhnya tertahan oleh Jonathan.
"Kak Jo mau apa? Kalau kakak mau minta saya jauhi Siti, sudah saya lakukan."
"Saya mau kamu bilang ke siti. Kalau kamu itu mandul. Tidak bisa memberinya keturunan."
Ilham tercekat. Karena cuma Raisa yang tahu masalah itu. Bahkan mamanya sendiri tak tahu masalah itu. "Kak Jo tahu darimana?"
Saya tahu bayi yang dikandung Raisa bukan anakmu, tapi dari laki-laki lain."
Ilham menggepal tangannya "Kalau kakak tahu, kenapa keluarga kakak masih membenciku. Kenapa Kak Jo tidak bilang pada mereka bukan aku yang menghamili Raisa.
Atau kak Jo memanfaatkan semua ini agar namaku jelek. lalu orang-orang tetap membenciku."
Jonathan menyeringai lebar. Tapi tetap lelaki itu tidak memberikan alasan yang tepat. Ilham menerobos tubuh Jo lalu pulang ke mess. Tangannya terus melipat seakan ada keresahan yang mendalam.
Sebuah rahasia yang sudah lama dirinya simpan. Bahkan sudah dilupakannya. Kakinya terus mondar-mandir seakan rahasia itu adalah hal yang menyakitkan baginya. Tapi juga akan menjadi senjata untuk orang-orang terdekatnya.
Ilham mengambil wudhu untuk sholat malam. Seakan pengobat untuk kegundahan yang dihadapinya. Dia tidak takut kalau seandainya Siti tahu kemandulan dirinya. Dia cuma takut jika Siti menikah dengannya gadis itu akan kecewa. Karena sejatinya seorang wanita ingin punya anak.
Dalam sholatnya Ilham memanjatkan doa:
Ya Allah, hanya kepada-Mu aku pasrah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku bertaubat, hanya dengan petunjuk-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku memohon keputusan, karena itu, ampunilah aku atas dosaku yang telah lewat dan yang akan datang, yang kulakukan sembunyi-sembunyi maupun Kiyang kulakukan terang-terangan. Engkau yang paling awal dan yang paling akhir. Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.
__ADS_1
Ilham menyelesaikan sholat malamnya. Lalu mengambil tasbih untuk berdzikir. Setidaknya ada ketenangan dalam hatinya setelah melakukan sholat malam.
klik
Di rumah Edwar
Siti terbangun, kepalanya sedikit sakit mungkin karena lama menangis. Matanya melirik jam dinding di kamar Sita. Sudah jam 23:00, Siti mengambil mukena yang ada di tempat tidur Sita.
Tadi malam saat Siti mencurahkan perasaan hatinya pada Sita. Sita meminta iparnya itu untuk sholat agar meminta petunjuk. Karena ketiduran Siti melupakan niatnya untuk sholat isya.
Siti memulai shalat malamnya. Diawali dengan sholat isya terlebih dahulu. Karena tadi dia melupakan kewajiban sholat yang kelima. Setelah sholat isya, Siti menyambungnya dengan sholat malam.
Siti kembali memanjatkan doa kepada Allah SWT. Mengeluhkan kegelisahannya, karena dia yakin hanya Allah yang maha mendengar.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuasaan-Mu (untuk menyelesaikan urusanku) dengan kodrat-Mu, dan aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu yang agung, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak berkuasa, Engkau Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.
Ya Allah, hanya engkau yang maha mengetahui jika urusan ini baik buatku, dalam ridhomu, maka mudahkanlah semua urusan ini.
jika memang engkau tidak meridhoi hal ini, untuk kehidupanku, maka jauhkanlah semua ini dariku. Berilah satu titik terang untuk jalan keluar urusan ini. Aku ikhlas jika hal memang di gariskan untukku.
Siti mengakhiri sholatnya lalu kembali tertidur dalam balutan mukena yang dipakainya.
...####...
Sebagai umat muslim yang taat, sudah sepatutnya kita berharap ridho kepada Allah SWT, satu di antaranya dengan beribadah.
Menangislah kepada yang Maha kuasa di malam hari yang paling gelap di saat orang lain sedang tertidur nyenyak. Lihatlah rahmat-Nya menyentuhmu dengan menakjubkan.
...###...
Terimakasih buat semua yang masih mendukung cerita ini. Walaupun saya belum bisa membuat kalian baper akut dengan kisah cinta Siti, Ilham, Jo dan Jihan.
Tulisan ini saya buat berdasarkan pemikiran saya sendiri. Walaupun masih kacau balau.
Selamat membaca
Jangan lupa like dan komennya yang masih berhubungan dengan jalan ceritanya.
__ADS_1
Kalau ada yang mau menyumbangkan vote dan hadiahnya saya sangat berterima kasih.
bersambung