
Assalamualaikum, anak anakku. Gimana nih? Sukses nggak?" Mama Fatimah membuka pembicaraan.
"Alhamdulillah, baik, ma. Mama apa kabar?" Tanya balik Tiara.
"Kami disini sehat-sehat saja, nak." Sambung Ibu Aisyah.
"Alhamdulillah kalau kalian sehat."
"Ti, suamimu sudah minumkan jamunya belum. Gimana kuatkan suamimu?" Cerca mama Fatimah.
Tiara cuma tersenyum mengantup bibirnya. Secara bergantian ketiga wanita satu generasi menanyakan proses malam pertama mereka. Tiara malu menjelaskan pada mereka. Handphone di alihkannya ke arah suaminya.
"Assalamualaikum, anak mama yang ganteng."
"Waalaikum salam, ma. Mama apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik. Duh wajah anak mama kelelahan banget kayaknya. Pasti 3 malam ini bertempur terus, ya." mama Mila terus menggoda anaknya. Yang ditanya hanya mematung mendengar celotehan sang mama.
Ilham hanya bisa nyengir. Tiga hari di bali tak bisa jalan-jalan, setiap sore hujan terus, membuat mereka lebih banyak dikamar. Masa itu di manfaat Ilham untuk kembali bertempur. Walau kadang Tiara protes merasa masih sakit. Tapi istrinya tak pernah menolak saat dirinya melancarkan aksi.
Pagi ini pun begitu, mereka kembali bergelayut di bawah selimut. Bertempur melepas hasrat, meskipun sakit, Tiara tetap melayani suaminya dengan ikhlas. Kecupan di tubuh Tiara sudah seperti di serang tawon, saking banyaknya. Hal itu membuat Tiara harus membeli baju yang bisa menutup lehernya.
"Mas, aku capek." Protes Tiara saat Ilham kembali mengajaknya bergelayut sehabis sholat subuh.
"Ya, udah sayang. Besok kita lanjut lagi."
"Huuuh dasar duda mesum!" cebik Tiara menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Hey! aku bukan duda lagi!" protes ilham.
"Hati-hati mengatakan aku duda lagi!" ancam Ilham.
Tiara mengerutkan keningnya "Emang kenapa?"
"Nggak papa, takut dikabulin sama Allah." Jawab Ilham merebahkan kepalanya diatas paha istrinya.
"Sayang..." Tangan Ilham menarik kepala siti menatap lebih dekat.
"Iya, mas."
"Cium, dong." Pinta Ilham sudah siap memuncungkan bibirnya.
"Mas, katanya mau ngajak aku jalan-jalan ke jimbaran." Tiara mengingatkan janji suaminya.
"Cium dulu baru aku turutin."
Tiara menghela nafas panjang. Lalu mengucapkan bismillah sebelum menuruti keinginan suaminya. Ilham melihat istrinya berdoa menatap heran.
"Kenapa baca bismillah?"
"Biar apa yang kita kerjakan di ridhoi Allah." jawab Tiara
__ADS_1
"Tapi kan ini mau mesuman, masa pakai bismillah juga. Lagian kita sudah halal, pastilah Tuhan meridhoi." Ucap Ilham masih mencoba menggoda istrinya.
"Mas!!!!" Pekik Tiara saat Ilham membalikkan tubuh mereka.
"Apa, sayang?" Tubuh Ilham merayap seperti katak menjamahi leher milik istri. Tiara mendorong tubuh llham.
Dia malu karena lehernya sudah banyak tanda milik dari suaminya dan sekarang lelaki itu mau mencobanya lagi.
zreeet zreeet
Ilham melirik handphonenya, pelan-pelan menarik nafas panjang saat tahu siapa yang menelepon.
"Apa, ma?" jawab Ilham nadanya terdengar kesal.
"Masa mama kamu biarkan didepan pintu?"
"Mama disini? sama siapa?" tanya ilham.
"Buka dulu, nak."
Ilham dan Tiara langsung panik mengambil pakaian mereka. Membereskan kamar serta membersihkan diri. Dalam pikiran mereka kenapa mama Mila mendadak datang tanpa mengabari terlebih dahulu. Saat sudah rapi mereka turun ke lantai bawah. Membuka pintu rumah karena takut mamanya menunggu lama.
Tak ada siapapun.
Ilham menelpon mamanya, tapi tidak diangkat.
"Sepertinya kita dikerjain mama, yang." Ucap Ilham kearah istrinya.
"Hhahahaha .. baru tau ya? Dari dulu juga gitu? dulu waktu aku kecil aku sering di goda sama mama. Diajak belanja ke pasar terus ada ibu-ibu nyowel pipiku, kamu tau apa yang mama bilang sama-sama mereka?"
Tiara menggeleng.
"Cowel aja, bu. siapa tahu makannya turun?Gitu katanya?"
"Kenapa bisa begitu?"
Ilham membuka handphone lalu memberikannya pada Tiara. Sebuah photo seorang anak kecil bertubuh gempal, berdiri memakai baju paudnya. Terlihat juga beberapa photo di berbagai sudut ilham kecil suka sekali makan-makanan manis.
"Hahahaha... aku paham sekarang? Mama pasti kewalahankan karena anak lakinya kuat banget makannya. Kalau kata orangtua dulu, anak kalau pipinya di towel nafsu makannya jadi turun" Sahut Tiara.
"hmmm ... aku pasti bakal gede lagi nih. Istriku kan pinter masak. Dan sekarang..."
Tiara menowel pipi suaminya sampai kemerahan.
"Ini buat apa di towel lagi?"
"Siapa tahu nafsu omes nya juga ikut turun." Jawab Tiara.
Ilham menggendong istrinya kembali ke dalam. Udara hari ini benar-benar membuat mereka enggan keluar rumah. Kesempatan bagi Ilham untuk menempel pada istrinya.
Klik
__ADS_1
Pantai Jimbaran, Bali
15:00 Wib
Ilham dan Tiara sampai di jimbaran, Bali. Awalnya Tiara mengira bakal ada bule-bule yang sedang berjemur. Tapi ternyata sepi suasananya. Mereka berlari mengitari pantai, saling mengejar lalu Ilham menaikkan istrinya duduk diatas pundaknya. Ilham berlari memutar sudut masih dalam posisi menggendong.
"Mas, turun!"
"Kenapa?"
"Emang kamu ngga capek gendong aku terus, mas? Badanku berat, lo?"
"Sayang, mau kamu berat mau kamu ringan sekalipun. Tidak akan membuatku lelah, asalkan selalu bersamamu."
Untuk wanita yang aku cintai, untuk kamu yang sudah kuhalalkan. Kamu memang bukan wanita pertama dalam hidupku. Tapi kamulah orang pertama yang bertahan padaku, kamulah wanita pertama yang membuat aku berjuang.
Hampir dua minggu pernikahan kita. Setelah hampir satu tahun kita berjuang mengejar restu dari keluarga. Tidak terasa ini adalah hasil perjuanganku untuk mengejar cintamu Siti. Berusaha menjadi sosok yang bisa mengimbangimu. Aku benar- benar bahagia bisa memilikimu seutuhnya. Menjadi kekasih halalmu.
Ilham menggenggam tangan Tiara.
"Siti, terimakasih sudah mau menjadi istriku. Menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Aku berharap jika aku mengatakan hal ini kamu tidak akan pernah meninggalkanku. Ada satu rahasia yang ingin aku katakan padamu."
Suasana mendadak hening, Tiara menatap suaminya dengan mimik wajah serius. Masih dalam menunggu lanjutan kata suaminya. Tiara berjalan mengitari pantai menatap matahari yang mulai menurunkan cahayanya.
Kakinya terhenti melihat Ilham tidak berjalan mengikutinya.
Ada apa dengan mas Ilham? Apa yang membuatnya menjadi serius begitu?
"Ti"
"Iya,mas."
"Maafkan aku belum bisa membahagiakanmu? Maafkan aku suatu saat nanti tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan?"
"Mas ngomong apa sih? To the point aja deh?"
"Ti" Ilham menghempas nafas kasarnya.
Kepalanya menunduk takut melihat reaksi istrinya.
"Aku mandul!"
Ilham berbalik tidak menemukan sang istri. Kakinya berlari mencari Tiara tapi tak menemukannya. Pada akhirnya Ilham menganggap Tiara sudah pulang.
Tak jauh di sebuah ujung pantai seorang wanita menangis kuat. Rasa sesak di dadanya semakin kuat. Secara tidak langsung ucapan Ilham barusan serasa menghantam hatinya.
Sakit! Iya, sakit sekali! Apakah dirinya egois? mungkin iya! Teringat permintaan papanya yang ingin punya cucu laki-laki! Teringat begitu semangatnya para orangtuanya memberikan jamu. Karena sangat berharap dirinya bisa hamil.
Sekarang aku harus bagaimana? apa yang harus aku lakukan?
"Tiara, papa harap kamu bisa cepat hamil. Biar papa punya penerus usaha nantinya. Tapi kalau sampai setahun suamimu tidak bisa memberikan keturunan, tinggalkan saja dia!"
__ADS_1