
Dikediaman Alex Prasetyo
Jihan menepikan mobilnya didepan rumah papanya. Saat rapat dikantor tadi, dirinya mendapat kabar kalau sang papa drop karena serangan jantung. Sebagai seorang anak berita itu pasti membuatnya tidak fokus.
"Kak Jo, bisa gantikan aku buat mimpin rapat. Nanti ada Sari yang membantu kak Jo mengurusi berkasnya."
"Loh, kenapa?" Jawab Jo yang kaget dengan permintaan Jihan.
"Papaku drop, kak. Makanya aku mau pulang dulu."
"Ya, udah. Semoga Om Alex cepat sembuh."
"Terimakasih, kak. Aku duluan, ya." Jihan meninggalkan ruangannya.
Jonathan saat ini bukan lagi menjabat menjadi sekretaris Jihan. Sekarang dia adalah manajer perusahaan tempat kerjanya. Jonathan diangkat menjadi manajer karena kegigihannya dalam bekerja. Walaupun workaholik yang dilakukannya untuk menepis rasa sakitnya akibat ditinggal menikah oleh Vika.
"Sar, mana berkas yang untuk rapat nanti."
Sari yang gelagapan saat mendengar suara atasannya, langsung buru membenarkan riasannya.
"Kamu nangis?"
"Ah ... eh ... anu .. pak saya ambil berkasnya dulu." Sari mencoba menghindar dari pertanyaan atasannya.
"Ada apa? cerita sama saya ... kalau kamu pendam nanti jadi penyakit."
"Nanti aja, pak. Kita bukannya sudah ditunggu." Sari menyerahkan berkasnya. "Maaf, pak. Bisa keluar dulu, saya mau benerin make up, kan nggak enak kalau klien kita lihat nanti." Jo meninggalkan ruangan Sari yang saat ini jadi asistennya.
Rapat berlangsung sangat lancar. Klien sangat puas dengan persentasi yang ditampilkan Sari. Sejenak Jo menatap Sari penuh arti. Lama dirinya terdiam melihat wanita berhijab itu mempersentasikan laporannya.
"Pak, rapatnya sudah selesai." Jo terkaget saat Sari mendekatinya.
"Sari"
"Iya, pak."
"Kalau ada laki-laki yang mau mengkitbahmu bagaimana?"
Sari tampak berpikir sejenak "Tergantung, pak."
"Tergantung apa? Di gantung nggak enak, lo."
"Ya, tergantung sama lakinya. Dia niat ngajak kitbah tulus atau buat nutupin umur doang."
Jo mendelik merasa tersindir dengan ucapan Sari. Seakan Sari tahu arah pembicaraan mereka. Tapi dia menepis prasangkanya. Sari sudah kenal baik dengan mama Linda dan Sheila.
__ADS_1
"Sar, kamu mau bantu aku cari kado untuk mama. Besok mama ultah, aku mau cari kado."
"Gimana, ya, pak. Maaf, pak aku ada urusan jadi nggak bisa ikut." Tolak sari.
"Ya udah nggak papa." Jo beranjak dari ruang rapat menatap punggung sari yang masih memberesakan berkas setelah rapat.
"Jo"
"Ah, iya Tuan Gilbert. Terimakasih anda mau bekerjasama dengan perusahaan kami."
"Jo, saya mengenal Hermawan dengan baik. Cukup kaget saat tahu kamu bekerja jadi bawahannya Alex. Padahal kurang baik apa papamu sama Alex dan Donal. Kalau kamu mau mendapatkan perusahaan ini kembali saya bisa bantu." Tawar Tuan Gilbert.
Jo tersenyum, saat ini dia tidak terlalu bernafsu lagi soal perusahaan papanya. Baginya kebangkrutan orangtuanya adalah teguran atas yang mereka lakukan dimasa lalu. Jika perusahaan itu memang rezekinya pasti akan kembali.
"Tuan, terimakasih tawarannya. Tapi maaf, saat ini saya sudah nyaman dengan pekerjaan ini. Saya belajar dari bawah lagi. Sama seperti yang papa saya lakukan dulu."
Tuan Gilbert menepuk pundak Jonathan. Ada rasa bangga melihat anak temannya bisa belajar mandiri. Mau merangkak dari bawah lagi. Tuan Gilbert pamit sambil menawarkan dinner di sebuah restorant ternama.
"Jo, bisakah kau meluangkan waktu makan malam bersama keluarga saya. Ajak juga mamamu dan adikmu."
"Insya Allah tuan. Terimakasih tawarannya."
"Jangan panggil aku tuan. Panggil saja, paman Gilbert. Bukankah dulu kau sering memanggilku itu."
Jihan sampai dirumah langsung berlari memasuki rumahnya. Tapi sebelum pulang, Jihan menjemput Azka, anak tirinya yang sekarang lebih sering menemaninya.
"Assalamualaikum" Sapanya saat masuk ke kediaman orangtuanya.
"Waalaikumsalam, eh ada cucu oma. Sini maen sama Oma, bunda mau ngobrol sama Opa dulu." Mama Kiki langsung menyambut sang cucu yang sudah akrab dengannya..
"Oma, tadi sekolah aku dipukul sama Roni." Adu Azka sambil memamerkan kepalanya yang benjol.
"Lo, kenapa cucu dipukul?"
"Aku minta makanannya dia marah oma. Abis Roni pamer mulu ya aku ambil deh." adunya dengan polos.
"Azka, Kalau ada yang ambil barang azka, suka nggak? Marah nggak?" Tanya Mama kiki pada cucunya.
Azka menggeleng "Enggak oma, kata mama Azka nggak boleh pelit sama oranglain. Nanti nggak ada yang mau temenan sama Azka." Mama Kiki terenyuh mendengar ucapan polos anak berusia lima tahun tersebut.
"Tapi kita nggak boleh main ambil saja, nak. Harus izin sama yang punya makanan. Itu namanya maling, nak. Lain kali jangan begitu lagi, ya, nak."
"Iya, Oma. Maafkan Azka."
__ADS_1
"Itu baru cucu oma. Azka mau makan apa? Ini Oma ada ayam goreng, ayam mie goreng."
Dari jauh Jihan memandang keromantisan antara Azka dan Mama kiki. Bulir air matanya keluar membasahi make up wajahnya. Ada rasa haru kalau Mamanya menerima Azka walaupun bukan cucu kandungnya.
"Sayang" Jihan merasakan pelukan hangat dari belakang.
"Eh, mas sudah pulang." Jihan langsung menyalami suaminya.
"Kalau ada waktu kita liburan ke Medan. Kampung mamaku. Mau?"
"Mau, Letnan Akbar Syahputra Sihombing."
"Bunda ... Ayah ... yuk temenin Azka makan."
"Mas, aku mau ngobrol penting sama papa. Kamu temenin Azka dulu, ya."
Jihan memasuki kamar dimana papa Alex terbaring lemah diatas ranjangnya. Alex yang melihat sang putri datang langsung bangun dari tempat tidur. Wajahnya dipaksakan senyum, padahal tubuhnya masih terasa sakit.
"Papa bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Jihan sambil memijit kaki Alex.
"Papa baik-baik saja, jihan."
"Jihan kan sudah bilang jangan diforsis kerjanya. Buat apa anak buah papa yang banyak, tapi tetap saja papa yang turun tangan. Jihan minta papa tidak usah mengurusi perusahaan lagi."
"Nak."
"Iya, pa."
"Bagaimana kinerja Jonathan selama jadi manajer disana? Apakah ada sikap dia yang mencurigakan?"
Jihan terdiam sesaat. Wanita bermata coklat itu sedikit tersenyum karena yang dulu ditakutkan tidak terjadi. Jo sangat baik dalam bekerja, sejak Jo jadi manager banyak proyek yang dimenangkan lelaki itu. Kemajuan pesat pada perusahaan yang sebenarnya milik orangtua Jonathan.
"Pa, Jihan lihat kak Jo kerjanya bagus. Malah perusahaan memilki banyak kemajuan saat dikelola Jonathan. Pa, Jihan punya satu permintaan."
"Apa itu, nak. Katakanlah"
Jihan menghembus nafas pelan. Sebuah permintaan yang sudah lama ingin dia bicarakan dengan papanya. Netranya menatap lelaki dengan penuh kelembutan.
"Pa, kembalikan perusahaan kak Jo. Kak Jo dan keluarganya lebih berhak mengelolanya. Bukankah Om hermawan yang mengangkat derajat perusahaan kita. Memang kita semua tahu kalau om Hermawan dan tante Linda orang yang arogan dan sombong. Tapi kak Jo dan Sheila bukan seperti kedua orangtuanya. Papa lihat kan kinerja kak Jo sejak jadi sekretarisku sampai dia jadi manajer. Lagipula papa sudah tidak terlibat kerjasama dengan Om donal lagi, kan."
"Nak?"
"Iya, pa."
"Papa mau menceritakan sebuah rahasia tentang dirimu."
__ADS_1
Apakah Alex akan mengembalikan perusahaan Hermawan pada Jonathan?
Rahasia apa yang akan dibuka Alex?