
Episode ini mengandung hareudang.
...*****...
"Ham!"
Ilham masih terdiam saat mama Mila masih menginterograsinya. Matanya masih menatap istrinya yang tertidur di hospital bed. Wajah Tiara tenang seolah menikmati tidurnya.
"Ma, ilham sudah mengatakan yang sebenarnya pada Siti. Bukankah dalam pernikahan harus saling jujur satu sama lain. Maka itu, ma, aku mencoba jujur pada siti."
"Apa siti menerimanya?"
Ilham menggeleng. Sikap Tiara langsung berubah setelah dirinya mengumumkan kemandulannya.
Mama menghela nafas panjang " Siti pasti kaget, ham. Kamu tahu, ham. Keluarga siti sangat berharap anaknya bisa cepat hamil. Permintaan mereka yang awalnya menjadi semangat buat Siti. Mama yakin setelah Siti tahu yang sebenarnya, akan jadi beban berat."
Mama Mila menepuk bahu Ilham. "Mama tahu pasti berat untuk siti. Tugas kamu adalah memberi pengertian pada istrimu dan juga mertuamu. Cepat atau lambat mereka juga akan mengerti keadaanmu. Mama pernah mengingatkan kamu untuk cepat terbuka pada siti. Tapi kamu terus mengulur waktu, sekarang kamu lihat kan, reaksi siti."
Mama duduk disamping Tiara yang masih terlelap. Tangannya membelai rambut menantu yang disayanginya.
Ilham menemui dokter untuk mengetahui keadaan istrinya.
"Dok, istri saya sakit apa?" Tanya Ilham di ruangan dokter.
"Istri anda tidak papa. Hanya perlu istirahat saja." terang dokter saat ilham meminta penjelasan.
Lega hatinya setelah tahu keadaan Tiara. Ilham menatap jam tangannya ternyata sudah jam 9 malam. Ilham baru teringat belum sholat isya. Tapi sayangnya dia tidak menemukan mushola, akhirnya Ilham sholat di samping ranjang Tiara.
Sebenarnya Tiara sempat bangun. Dia juga mendengar pembicaraan mama Mila dan Ilham. Tiara pun menganggap seluruh keluarga Pramono sekongkol. Hatinya terasa sakit, suami dan keluarganya menusuk dari belakang.
"Jadi mereka semua sudah tahu soal ilham. Jadi mereka sekongkol menyembunyikan dariku. kalian jahat!"
Tiara menangis dalam diam. Rasa kecewanya pada Ilham bukan karena lelaki itu mandul, tapi dia merasa tidak ada keterbukaan dari suaminya.
Kalau dulu dia mengatakan padaku soal kemandulannya mungkin aku bisa terima. Tapi kenapa di saat keluargaku berharap aku malah mengecewakan mereka. Ya Allah cobaan apalagi yang kau berikan padaku.
"Sayang"
Tiara merasakan pelukan hangat di tubuhnya. Tubuhnya berbalik wajah mereka saling berhadapan. Tiara membelai wajah suaminya, entah kekecewaannya hilang seketika. Mungkin karena rasa cinta yang lebih kuat dalam dirinya.
__ADS_1
Ilham meletakkan kepala Tiara diatas pergelangan tangannya yang kekar.
"Mas"
"Apa sayang?"
"Aku lapar"
"Mau makan yang mana? Yang disini apa yang disini?" ilham menunjuk kening dan bibirnya.
"Nggak lucu!" Tiara membalikkan badannya.
"Maafkan aku, sayang." ilham meletakkan kepalanya diatas leher istrinya. Mengecup ceruk leher Tiara dengan lembutnya.
"Apakah kau tidak merindukanku, ti? Bahkan sedetik saja jauh dari kamu aku tidak sanggup. Maafkan aku, ti. Jika ada ucapanku tadi yang di pantai ada menyinggup perasaanmu. Saat melihatmu dipeluk kak Jo, aku merasa sakit, ti. Seolah kamu memang tidak bisa menerima kekuranganku.
Ti, aku memang bukan lelaki sempurna, tapi bagiku kamu yang membuat aku sempurna. Jangan tinggalkan aku, ti. Aku butuh kamu." ucap Ilham.
Tiara terdiam mendengar ucapan Ilham. Hatinya yang terasa sakit sedikit melunak. Tiara berbalik menatap suaminya lebih dekat.
"Mas, untuk saat ini beri aku waktu. Kejadian tadi rasanya menusuk jantungku. Sakit, mas, bukankah dalam suatu hubungan harus ada terbuka. Tapi kamu menghancurkan momen indah kita.
Apa kamu tahu, mas? saat mama Fatimah memberiku beberapa jamu, saat Ibu Aisyah memberi nasihat agar aku cepat hamil. Saat papa Adolf meminta... " Tiara tidak melanjutkan ucapannya.
"Nggak papa, mas." Tiara kembali membelakangi suaminya dan tertidur lelap. Ilham terus menghujani kecupan di pipi istrinya. Namun, Tiara cuma bisa menahan perih didada.
Maafkan Tiara mama Fatimah, aku tidak bisa mewujudkan harapan kalian. Maafkan Tiara papa Adolf, sepertinya ini akan mengecewakanmu lagi. Tiara cuma minta satu, pa. Jangan pisahkan kami lagi.
Beberapa hari kemudian.
"Ti, tolong ambilkan handuk?" Pekik Ilham dari kamar mandi.
Tiara yang sedang asyik nonton spongebob di tv vilanya. Beranjak mengantarkan handuk ke kamar mandi. Saat dirinya menyerahkan handuk, ilham menarik tangannya masuk ke kamar mandi.
"Maaaaaas!" Pekik Tiara
Ilham tersenyum nakal. Mata Tiara membelalak besar. Tubuh suaminya yang polos tanpa sehelai benangpun, membuatnya berbalik karena malu. Tapi bukan Ilham namanya kalau tidak bisa menggoda istrinya.
"Maaaaaas!"
__ADS_1
Tiara menutup matanya saat tangan Ilham membelai wajah dan bibirnya. Tiara membiarkan Ilham menyentuh tubuhnya. Serangan yang dilakukan suaminya membuatnya mui itu menyentuh dadanya, lalu meremasnya dengan lembut.
Guyuran air shower yang tadinya hanya membasahi Ilham, sekarang membasahi keduanya. Terdengar desahan panjang dari suara Tiara. Mereka sangat menikmati momen itu, melupakan momen yang beberapa hari yang lalu merenggangkan mereka. Tiara menyandarkan tubuhnya diantara lekuk kekar milik suaminya. Menikmati sentuhan dari bibir hingga ke bagian sensitifnya.
"Sayang, aku harap momen ini jangan berlalu. Aku mencintaimu, Siti Marlina. Kamulah penyemangat hidupku.
Bersamamu, aku selalu merasakan jatuh cinta, saat ini setiap detik, setiap menit dan selamanya."
Ilham terus melontarkan kata-kata manisnya yang membuat Tiara terbuai. Nafasnya terdengar begitu berat saat suaminya tak hentinya menyentuh bagian tubuhnya. Ilham menggendong Tiara untuk kembali melakukan pelepasan di dalam genangan air bathrub.
"Aaaaaaaahhhhh"
"Sayang apakah kamu merasakan ada yang masuk ke tubuhmu?" Tanya ilham memastikan miliknya masih bisa ditanamkan ke dalam tubuh istrinya.
Tiara hanya diam saja. Dia belum bisa membedakan apakah yang dirasakannya itu milik suaminya atau mungkin air bathrub yang masuk. Tapi yang dirasakannya sebuah getaran aneh seperti aliran listrik yang menyengat tubuhnya.
"Kita kapan pulang, mas."
"Besok, sayang. Kenapa? Apa kamu ingin mengadukan pada keluargamu tentang aku?"
Tiara menggeleng. Dia bukan tipe istri yang suka mengadu masalah rumah tangganya pada orangtua. Keinginannya untuk pulang karena dia sudah rindu pada keluarganya. Tiara mengeringkan rambutnya yang basah. Ilham hanya menatap nakal saat istrinya mengibas rambut layaknya iklan shampoo.
"Mas aku capek"
Ilham memberi kode agar istrinya meletakkan kepala diatas bahunya. Tiara merebahkan kepalanya diatas bahu suaminya. Mata mereka saling memandang seolah tak ingin saling melepas.
Hari ini adalah hari terakhir bulan madu kami. Masa masa yang indah sudah kami lewati beberapa hari ini. Walaupun aku sudah mencoba jujur dengan keadaanku, aku yakin lambat laun istriku akan menerima keadaanku.
Siti, walaupun aku tidak bisa memberimu keturunan.Tapi cintaku padamu tidak akan pernah luntur sedikit. Asalkan kamu tetap berada disampingku. Aku yakin, kita akan tetap hidup bahagia.
...####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung