
"Bu" Sebelum berangkat ke kantor Sari menyempatkan membantu ibunya mempersiapkan dagangan jualannya. Ibu Kurnia membuka usaha makanan kecil, seperti lontong, nasi uduk dan ketoprak. Usaha itulah yang mengantarkan Sari bisa kuliah sampai sekarang. Bahkan Sari tiap gajian memberikan separo gajinya untuk modal jualan ibunya.
"Iya, Nak."
"Sari mau nanya boleh?"
"Silahkan"
"Tadi malam pak Jo bahas apa sama ibu?"
Jujur ucapan Jonathan tadi malam sukses membuatnya tak nyenyak tidur. Bagaimana bisa tanpa angin dan hujan lelaki itu melamarnya? Awalnya Sari menganggap lelaki itu hanya bercanda. Namun, dia juga menganggap Jonathan itu cuma kesepian karena ditinggal nikah mantannya.
Semua orang dikantor tahu perihal pernikahan Vika dan hubungan dengan Jonathan. Maka sejak kabar pernikahan tersiar, lelaki itu jadi pekerja keras, bahkan saking kerasnya, Jonathan rela nginap dikantor.
Sejak dirinya didaulat jadi asisten Jonathan, banyak yang dia lihat dari sosok Jonathan yang menurutnya humble. Bukan sosok yang sombong. Lelaki itu juga sering mengajaknya kerumahnya. Rumah kecil yang sederhana, ibu Jonathan sangat ramah padanya.
"Sar"
Suaranya ibu Kurnia membuyarkan lamunannya.
"Iya, bu."
"Kamu suka sama nak Jo? Ibu tahu, nak. Sejak kamu putus dari Akbar, kamu belum membuka hati untuk laki-laki lain. Dulu, kami bukannya tidak merestui kalian. Tapi kalian masih terlalu muda untuk memikirkan pernikahan."
Sari hanya tersenyum kecut. Dia ingat saat baru lulus SMA Akbar menemui orangtua Sari untuk melamarnya. Dengan bermodal cinta yang mereka bina sejak masuk SMA, dengan bermodal hubungan persahabatan yang mereka bina sejak kecil. Saat itu, Sari yakin mereka pasti direstui, apalagi ayahnya selalu bilang kalau Akbar sudah seperti anaknya sendiri.
Tapi ternyata kenyataannya berbeda. Sang ayah menolak lamaran Akbar. Dengan Alasan mereka masih muda, padahal mereka sudah tamat SMA. Sari hanya bisa menangis saat itu, bahkan dirinya dan Akbar sepakat kawin lari saat itu. Hingga saat hendak kabur, sang ayah tiba-tiba jatuh sakit. Mereka sepakat menurunkan ego. Perpisahan menjadi jalan terbaik bagi mereka.
"Sari minta pendapat ibu dan bapak. Kalau kalian setuju, Sari akan mencobanya, bu, pak. Karena bagi Sari restu kalian diatas segalanya."
"Kami merestuimu, nak. Bapak lihat Jo itu lelaki yang baik. Bilang sama dia kalau kami menunggunya seperti janjinya tadi malam."
Sari memeluk kedua orangtuanya secara bergantian. Lalu pamit berangkat ke kantor naik motor supra.
Di kantor
Braaakkk
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Sari! Masa ngerjain ini saja kamu tidak becus" Sari terdiam berdiri ketakutan saat Jonathan memeriksa hasil kerjanya. Kepalanya menunduk tanda sebagai rasa takut. Tangannya terus melipat-lipat, bibirnya terus menggigit. Kalau dia boleh jujur ini pertama kalinya dia melihat Jonathan marah dan ini pertama kalinya dia dimarahi.
"Kamu revisi berkas ini. Dan Ingat! kamu tidak bisa pulang sebelum tugas ini selesai." Titah Jonathan.
"Iii..ya, pak."
Sari meninggalkan Jonathan ke meja kerjanya. Rasa kesal mendera. Tadinya dia pikir kalau kejadian tadi malam, akan membuat atasannya sedikit melunak. Ternyata anggapannya salah, dikantor Jo tetap menjadi atasannya yang galak dan tegas.
"Eh, tau nggak sih tadi anaknya pak Gilbert kesini."
"Terus?"
"Rumornya sih pak Gilbert mau jodohin pak Jo dengan anaknya."
Entah kenapa coklat yang dikunyah Sari meloncat keluar. Suara muntahan Sari langsung mendapat jelitan oleh orang-orang disekitar.
"Minum, Sar." koko memberikan air putih pada Sari.
"Kamu kenapa? Kok pucet banget? Gimana lamaran tadi malam?" Tanya Hera.
"Gagal." Sari kembali mematahkan coklatnya.
"Bukan. Tapi calonku yang berengsek."
"Ya, udah, sar. Bukan jodoh kamu berarti."
Sari hanya mengangguk. Sejujurnya ucapan Jonathan tadi malam sukses membuatnya tak nyenyak. Memikirnya saja malas, tapi ucapan itu berasa debt collektor yang terus menagih hutangnya.
BRAAAKK!!
Beberapa tumpukan berkas menumpuk di meja kerjanya. Sari menoleh kearah Jonathan yang sibuk dengan gawai. Bibirnya mengerucut, menandakan dia ingin bernafas setelah merevisi berkas tadi.
"Ini masih banyak yang belum kamu revisi. Nanti ada rapat dengan klien di restoran cepat saji." Sari menatap punggung Jonathan dengan tatapan sayu. Matanya kembali menatap tumpukan berkas yang menutupi akses meja kerjanya.
"Iya, pak." Ucap Sari masih menunduk.
"Kalau orang ngomong dilihat." Gertak Jonathan.
__ADS_1
Sari yang sedari tadi menahan gondok akhirnya angkat bicara "Bapak bisa kan ngomong baik-baik. Nggak usah gertak, bapak pikir saya apaan. Kacung? Ingat, pak, status bapak sama dengan saya, sama-sama di gaji. Sama-sama bawahan, yang gaji saya bukan bapak, tapi perusahaan ini."
Kakinya melangkah meninggalkan Jonathan yang masih mematung. Perasaannya kesal setengah mati, sejak dia baru menginjakkan kaki dikantor itu, sudah disuguhi omelan-omelan tidak jelas. Kenapa harus dia yang kena sasaran amarah lelaki itu? Kenapa sikap manis Jonathan semalam berubah menjadi monster yang mengerikan.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar dipikiran Sari. Dia tidak tahu mengapa masih mempertanyakan sikap bos nya yang berubah seharian ini.
"Maaf.." Suara itu sukses membeku tubuh Sari yang merenung di pantry kantor.
"Bapak nggak salah, kok. Aku aja yang sensian. Maaf kalau aku marah-marah tadi. Aku cuma kaget kenapa aku .. aku .. Ah, sudahlah pak! lupakan saja!"
Sari bermaksud meninggalkan ruang pantry. Tapi lagi-lagi Jonathan menahan tubuhnya dan mengunci ruang pantry. Hanya mereka berdua disana. Hanya berdua. Jo duduk tak jauh dari hadapan Sari. Menatap wanita itu dengan lembut, tapi lawan bicaranya hanya memalingkan wajahnya.
"Sar, aku serius sama kamu. Ucapanku didepan kedua orangtuamu bukan ucapan main-main. Kalau memang kamu bersedia aku akan bawa keluargaku kerumah hari minggu besok."
Jonathan yang biasanya memanggil dirinya dengan sebutan saya, kini mengganti sebutan aku agar terdengar lebih akrab.
"Pak... makasih tadi malam sudah menyelamatkan saya dari si bajingan Radit. Tapi saya masih belum siap dengan lamaran bapak ...."
Jonathan menunduk lesu. Dia sudah menebak kalau lagi-lagi dirinya akan ditolak wanita. Dia bahkan sudah siap dengan status bujang lapuk yang disematkan nitizen padanya.
"Saya tahu, Sar. Saya lelaki tua yang berharap mencari pendamping hidup disisa usia saya."
"Oh, ya bukannya bapak sedang dekat dengan anaknya tuan Gilbert. Kenapa bapak tidak buka hati buat dia?"
"Kamu cemburu?"
"Apakah pertanyaan seperti orang cemburu? Saya cuma nanya, lo."
Jonathan menyeringai tipis. Pancingannya tentang gosip dirinya dengan Reina, putri tuan Gilbert, ternyata berhasil. Jonathan yakin kalau Sari cemburu padanya.
"Apakah kamu tahu, Reina itu sudah bersuami. Masa aku pedekate sama istri orang, Sar."
"Ya, mana saya tahu, pak. Saya kan nggak kenal sama anak tuan Gilbert, situ yang kenal sama dia."
Sari menjelit kearah jari Jonathan yang sudah bertumpu diatas jarinya. Jari itu meremas jarinya dengan erat, seeratnya perasaannya saat ini. Apakah dia jatuh cinta pada lelaki itu? Sari sendiri belum tahu apakah perasaannya cinta atau bukan. Tapi yang pasti saat lelaki itu mendaratkan bibirnya diatas pucuk hijabnya, hatinya terasa tenang.
"Sari... will you marry me..."
__ADS_1
Sari menatap Jonathan yang masih menunggu jawabannya.
"Bismillah .... Iya pak. Saya mau."