Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
34. Dilema


__ADS_3

Dua hari setelah Siti pulang


"Kak, ada klien yang menunggu kakak dikantor." telpon Nana salah satu stafnya.


"Iya, aku lagi dijalan. Suruh dia tunggu, sebentar lagi! Ini macet tau, kayak nggak tahu Jakarta saja." omel Vika pada stafnya.


"Tapi dia bilang tidak bisa lama, kak?" jawab Nana


Vika geram. Kliennya ini banyak tingkah, kalau tidak memikirkan ini adalah job gede. dia juga malas meladeni kliennya ini.


"Ya, udah biarin aja dia pulang. Nggak usah ditahan." jelas vika sambil menahan dongkolnya.


Huh! Tuh, bapak-bapak dari kemarin ganggu job gue! Tapi bayarannya gede Lo. Lumayan buat bayar biaya berobat ibu. Ah, ini gara-gara Jo! coba dulu dia nggak kabur, ibu nggak akan sedrop ini.


Vika kembali melajukan mobilnya ke arah daerah Menteng, dimana kantornya berada. Saat ini Vika adalah pemilik wedding organizer yang lumayan laku keras. Sweetie organizer, itulah nama WO nya.


WO itu sudah dia bangun sejak suaminya


masih hidup. Bukan berasal dari uang orangtuanya, melainkan berasal dari modal suaminya. Vika menyeka air matanya, teringat sang suami yang sangat mencintainya. Hidup mereka saat itu bahagia. Tak ada yang namanya pelakor atau di gerecoki mertua. Karenanya suaminya yatim piatu. Erik hanya punya seorang adik yang sudah lebih dulu menikah dan diboyong sama suaminya ke negeri ginseng.


"Mas, kalau kamu masih hidup kamu pasti bangga melihat keberhasilan usaha kita." Vika menekan dadanya yang terasa sesak, air matanya menetes "Mas, aku kangen."


Tak lama Vika turun dari mobil sportnya.Lalu melenggang santai masuk ke kantornya. Beberapa staf menyapanya, Vika pun membalas sapaan mereka.


"Nana!saya tunggu di ruangan!" panggilnya pada Nana staf kepercayaannya.


"Baik, kak!" Nana berdiri dari kursi lalu berjalan menuju ruangan Vika.


Nana dan Vika adalah sepupuan. Nana sudah menikah dan sudah dikaruniai satu buah hati.


Karena nanalah yang awalnya mengajak Vika membuka usaha WO. Nana sampai di ruangan Vika. Mereka duduk bukan seperti bos karyawan. Tapi seperti dua orang akrab dan saling mendukung.


"Gimana si om Alex tadi? Dia mau apa?" tanya Vika.


"Dia minta kita bikin acara event untuk perjodohan anaknya. Ini photo anaknya."


Vika menatap dengan seksama "cantik. Dari wajahnya sudah dewasa sekali."


"Iyalah, kak. Aku kenal sama Jihan, la wong satu SMA dulu. Paling seumuran aku sekitar 32-33 lah." Kenang Nana.

__ADS_1


"Oh, emang sih kalau sudah betah berkarir wanita pasti bakal lupa kalau kodratnya menikah. Saking enaknya kerja dan cari duit." Jelas vika.


Beda dengan dirinya dulu tamat kuliah dua tahun kemudian langsung dipinang sama Erik. Dan saat itu dia juga belum putus sama Jo.


"Terus calon si cewek ada photonya nggak?"


"Nggak ada kak Vika. Tadi om Alex nggak sendiri datang. Tapi bareng istrinya."


Vika tergelak "Tumben si om ganjen pake pengawal."


"Untung dong kak! Kalau nggak pasti dia udah gelinjitan ngobrol sama karyawan disini. Mana kita rata-rata cewek semua, paling yang cowok cuma mas Ivan sama Andreas ( Make up)." terang Nana.


" Kakak sejak putus dari Jo, kok jarang ngantor. Jangan gitulah, Kak. Jangan mentang-mentang lagi patah hati, mengabaikan pekerjaan." tambah Nana.


Vika tersenyum kecut "Nggaklah, ngapain aku nangisin si gondrong. Enak dianya dong. Aku kan ngurusin ibuku yang masih di rumah sakit. Kamu tahu kan sejak tragedi pertunangan itu, ibuku drop parah. Mana biaya operasinya gede."


"Syukur deh kalo kak Vika sudah move on. Ya, udah. Ada yang mau dibahas lagi nggak? Kerjaanku masih banyak nih." ucap Nana yang ingin kembali ke meja kerjanya.


"Oh, ya. Apa mbak reya jadi memakai jasa kita untuk pernikahannya dengan mas Seno?"


"Wah, kayaknya belum ada dia ngabarin mbak. Nanti kalau dia ngabarin, aku kasih tau deh. Masih ada?"


"Oke, kak. Aku keluar dulu." Nana langsung keluar dari ruangan kerja Vika.


Tok tok tok


Pintu ruangan Vika ada yang mengetuk. Ada Nana yang kembali masuk "Kak ada yang mencari, nih."


Vika memberi kode agar tamunya disuruh masuk "Suruh masuk aja." titah Vika.


Nana meninggalkan Vika dan meminta tamu tersebut masuk. Suara bariton yang Vika kenal membuat dirinya menelan salivanya "Apa kabar Vika?"


"Jo?" Vika lumayan kaget. Lelaki yang dia cintai ada di depan mata.


Untuk apa Jo kesini? Pasti dia minta aku untuk menjadi WO nya untuk pernikahannya dengan gadis kampung itu. Itu sama aja bikin aku mati berdiri. Sudah tahu aku masih terluka akibat perbuatannya. Tapi kenapa dia kembali menghantam hatiku. Vika, sudahlah, lupakan lelaki itu!


"Maaf apakah aku mengganggumu?" ucap Jo yang sudah duduk di hadapannya.


"Ada apa?Aku masih banyak kerjaan?" elak Vika.

__ADS_1


"Aku mau kamu menjadi pengurus pernikahanku di Jambi."


"Jambi? jauh sekali? jadi itu daerah asal gadis itu?" Jawab Vika ketus.


"Iya, aku mau bikin konsep pesta rakyat. Dimana aku tidak membatasi undangan, para warga bisa datang tanpa harus menggunakan undangan."


"Sulit kayaknya? Kalau tidak dibatasi bagaimana dengan kateringnya? Oh ya kalau boleh tahu Jambi nya di kota atau di desa?"


"Di desa." jawab Jo sambil menikmati minuman yang sudah disediakan OB.


"Nah apalagi didesa Jo. Warga disana pasti tidak terkontrol."


"pokoknya kamu buat acara nya, seapik mungkin. Aku percayakan semuanya sama kamu." Jo langsung bangkit dari tempat duduk ruangan Vika.


"Oke. nanti akan aku kabari lagi bagaimana konsepnya. Oh, ya kapan kalian akan menikah?"


Jo tersenyum " Tiga Minggu lagi kami akan menikah."


"Hah! Kalian menikah tiga Minggu lagi, tapi baru mengurus WO nya sekarang. Harusnya sebulan yang lalu kalian datang.Kenapa baru sekarang?" Vika kaget.


"Pokoknya aku percaya kemampuan kamu, Vika. Kamu itu sahabatku yang paling aku andalkan." Jo menepuk pundak Vika.


Sahabat Jo! Jadi selama ini kamu anggap aku sahabat. Kamu tahu aku sangat mencintaimu, tapi kenapa kamu buat aku seperti ini. Jahat kamu, Jo! Tidak Jo aku ingin kamu membayar apa sudah kamu lakukan padaku dan keluargaku.


Jo keluar dari kantornya Vika. Kepalanya menunduk ada rasa bersalah pada Vika. Jo tahu kalau dulu sudah menyakiti perasaan Vika. Tapi jika dia paksakan hubungan itupun semakin menyakiti hati Vika. Karena hatinya hanya untuk Siti.


"Halo, pak Surya. Saya hari ini tidak ngantor ya. Ada urusan penting. Jadi suruh mereka menghandle pekerjaan saya."


"oke terimakasih, pak." Jo menutup telponnya.


Maafkan aku, Vika jika keputusanku menyakiti perasaanmu. Tapi jika diteruskan akan terus menyakitimu. Aku doakan kamu mendapatkan sosok yang benar-benar menerimamu apa adanya.


Maafkan aku jika kejadian waktu itu membuat ibumu jatuh sakit. Maka sebagai permintaan maafku terimalah aku sebagai sahabatmu.


Jo melajukan motornya untuk pergi ke suatu tempat. Lama dirinya memutar-mutar jalanan Jakarta. Hingga beberapa saat kemudian, motornya berhenti didepan kantor polisi.


####


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2