
...Pernikahan adalah ibadah, dan setiap ibadah bermuara pada cinta-Nya sebagai tujuan. Sudah sewajarnya setiap upaya meraih cinta-Nya dilakukan dengan sukacita."...
...*****...
Pov Tiara
Pernikahan adalah awal baru dari sebuah kehidupan. Kehidupan yang sesungguhnya. Menjalani biduk rumah tangga bersama seseorang yang tadinya hanya kita ketahui sisi baiknya saja. Menyatukan dua hati dalam satu cinta. Menyatukan pola pikir dan sudut pandang yang berbeda. Melebur keegoisan dan belajar meredam amarah.
Pernikahan bertujuan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata tetapi menyempurnakan separuh agama. begitu juga denganku, sudah 10 hari ini aku menyandang status sebagai seorang istri.
Di awal pernikahan ini, selalu kejadian manis yang kami rasakan. Mempunyai suami yang aku cintai dan mencintaiku, di kelilingi dua keluarga yang sayang pada kami berdua.
Tapi ada yang bilang kalau awal pernikahan memang terasa manis. Ya, memang saat ini terasa manis, jika suatu ada kepahitan aku yakin itu adalah proses perjalanan hidup.
Kami melewati perjuangan hingga bisa bersama seperti ini. Berat! Iya, berat sekali. Dimana aku dan Ilham harus mengejar restu dari ibuku. Dimana aku dan dia beberapa kali terpisah. Namun itu membuat cinta kami semakin kuat. Semoga kami bisa melalui nya dengan indah.
Pov author
Setelah Ilham berangkat kerja, Tiara mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyapu, mengepel, hingga masak.
Tak ada paksaan baginya untuk mengerjakan itu. Mama mertuanya juga tak pernah menuntutnya, dia melakukannya untuk menyibukkan diri. Tangannya tak berhenti beraktivitas. Matanya melirik jam dinding, tak terasa sudah pukul 11, itu tandanya dia harus menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya.
Ting tong
Bel berbunyi. Dengan cepat Tiara membuka pintu. Dua wanita yang dirindukannya ada didepan mata. Tiara memeluk keduanya karena rasa rindu teramat dalam.
"Ibu! Mama!
Tiara bahagia saat dua wanita yang dianggapnya orangtuanya datang mengunjunginya. Padahal dirinya selama satu minggu ini belum ada mampir pada mereka.
"Kamu berisi selama disini. Ilham berhasil membuat kamu nyaman disini berarti." Ibu Aisyah melihat tubuh Tiara lebih berisi dari biasanya.
"Itu apa, ma?"
Tiara melihat box kardus yang diletakkan di meja ruang tamu. Membuat Tiara penasaran apa isi box tersebut. Mama Fatimah langsung mengambil box tersebut dan memamerkan pada putrinya.
"Ini jamu kesuburan. Cocok buat pengantin baru seperti kalian. Ini juga jamu keperkasaan buat suamimu, biar semangat diranjang. Ini ada juga mama bawakan jamu untuk kamu, biar suami kamu lengket terus sama kamu. Ini semua jamu olahan asli turun temurun keluarga kita." Mama Fatimah mempromosikan bawaannya.
Tiara cuma menggaruk kepalanya. Dia tidak terlalu paham soal yang begitu. Tiara tertawa kecil saat melihat jamu keperkasaan. Terbayang tubuh Ilham malah berotot segede Ade Rai.
"Mama nggak perlulah bawa yang seperti ini. Mubazir"
Tiara kaget saat mamanya sudah membuat jamu racikan tersebut. Mama Fatimah mendekati Tiara untuk meminum tersebut.
__ADS_1
"Minum dulu, nak." Mama menyodorkan minuman tersebut ke bibir Tiara. Dengan terpaksa Tiara meneguknya, walaupun rasanya tidak enak dilidahnya.
"Itu jamu buat bikin kamu semangat saat melayani suami kamu. Kalian sudah malam pertama kan? Tadi mama lihat cara jalanmu biasa aja, mama saja berhubungan dengan papamu, perlu 4-5 hari bisa jalan normal."
Tiara hanya bisa terdiam. Tangannya tak berhenti berputar.
Ya Allah jadi yang aku minum jamu perangsang. Bagaimana ini! Bagaimana nanti kalau aku mendadak agresif didepan mas Ilham. Kan malu-maluin nanti.
Tiara bolak-balik kebingungan, terbayang dibenaknya jika dirinya dan Ilham meminum jamu itu.
A... aku ... aku.. belum siap. Aku masih takut, kata orang malam pertama itu sakit. Bahkan mama Fatimah bilang dirinya tidak bisa berjalan selama empat hari.
"Aaaaaaa ...." Pekik Tiara yang membayangkan adegan malam pertamanya.
Mama Fatimah dan ibu Aisyah berlari kekamar Tiara. Mendapati putri masih syok, meski mereka tidak tahu apa yang membuat putri mereka menjerit.
"Eh, ada besan." Mama Mila muncul saat keduanya berada di kamar Tiara.
Ketiga wanita satu generasi tersebut saling menyapa. Membahas rutinitas mereka sehari-hari. Apalagi kalau bukan tentang kegiatan mereka yang ikut mendampingi suami.
Mama Mila melihat wajah menantunya mendung pun ikut penasaran. Apa yang membuat sang menantu seperti itu?
"Kamu kenapa, ti? berantem sama Ilham?"
"Pasti karena jamu itu kan? Ti, itu bagus lo untuk kesehatan. Nah yang ini kasih sama suamimu, ya. Suruh dia minum biar malam nanti kuat. Biar kami cepat dapat cucu." Mama Fatimah menyodorkan jamunya pada Tiara.
"Ma, Tiara baru seminggu lo nikahnya. Santai aja dulu, Ilham aja nggak ngebet amat. semoga ya, ma aku bisa cepat hamil."
Mama mila mendengar ucapan Tiara langsung terdiam.
Ya Allah kasihan Siti, pasti dia berharap bisa hamil. Sebagai seorang wanita yang sudah menikah, pasti masa itu sangat ditunggunya. Padahal Ilham tidak bisa memberinya keturunan.
Kamu lihat, Ham. Seandainya kamu jujur dari awal mungkin Tiara tidak akan berpikir seperti itu. Mama harap kamu secepatnya jujur pada Siti.
"Ti"
"Iya, mama mila."
"Mama mau ke medan hari ini, ada pekerjaan. Papa tadi pagi udah duluan berangkat. Kamu mau kan antarkan mama ke bandara. Jeng Fatimah sama Ibu Aisyah ikut, ya. Sekalian ajak Siti Refresing." Ajak mama Mila.
Tiara hendak menghubungi Ilham, tapi dicegah sama mama Mila.
"Mama tadi sudah bilang ke Ilham, kok. Kamu siap-siap ya."
__ADS_1
Tiara pun bersiap diri, menggunakan kemeja kuning polos dipadu dengan celana jeans berwarna biru langit. Tubuhnya yang tingginya 160 cm, dengan berat badan 48 kilogram terlihat seperti ABG. keempat wanita tersebut melenggang masuk ke mobil pribadi mama Mila.
Dalam perjalanan mereka hanya terdiam. Mama Mila mengirimkan pesan pada putranya.
"Target sudah menuju bandara." pesan mama Mila.
"Oke, ma. Terimakasih sudah membantuku." Balas Ilham.
Klik
Bandara Soekarno-Hatta
14: 00 wib
Keluarga besar Pramono Wijaya dan keluarga Adolf Ford tengah berkumpul di bandara Soekarno-Hatta, tepat didepan orang-orang mama Mila menyerahkan sebuah tiket.
"Bali?"
Tiara menatap orang-orang disekitarnya. Karena bukan mama Mila yang akan berangkat melainkan dia dan suaminya. Masih dalam keadaan bingung, Tiara menatap mereka untuk meminta penjelasan.
"Ti" Mama Mila mendekati menantunya.
"Ini kado pernikahan kalian dari mama dan papa. Nikmati Honeymoon kalian selama satu minggu. Kalian akan tinggal di vila keluarga di ubud." tambah mama Mila.
Air mata Tiara menetes, sungguh kejutan yang tak terduga. Seumur hidupnya belum pernah pergi ke Bali.
"Yuk, sayang kita berangkat." Ilham tiba-tiba muncul merangkul bahu istrinya.
Tiara dan Ilham berbalik menatap keluarganya, saling melambaikan tangan.
"Ma, pa, Mama Fatimah dan Ibu Aisyah. Terimakasih atas hadiahnya. Siti dan Ilham berangkat dulu, ya." pamit Tiara, memeluk para orangtua, lalu mencium punggung tangan mereka.
"Ham, ibu titip Tiara, ya. Jangan lupa oleh-olehnya."
"Ibu mau dibeliin apa?" tanya Ilham.
"Ibu mau cucu." Jawab Ibu tersenyum simpul.
...#####...
Ada yang mau ikut ke bali?
bersambung
__ADS_1