Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
105. Rahasia Ina #2


__ADS_3

Ina membereskan semua barang-barangnya yang notabene pemberian Rangga. Sudah satu bulan mereka jadian, Ina pun menyesali tindakannnya yang menerima cinta Rangga. Lelaki idamannya setelah Dodo.


Matanya menatap sebuah photo di nakas kamar yang kini ditempatinya. Sebuah album photo masa muda Gita yang sangat mirip dengannya. Ina mematut diri di depan kaca, berkali memutar badannya, melepas rambutnya yang hitam dan lurus.


Jika aku merubah penampilanku seperti Gita, apakah aku akan dipandang layaknya wanita dewasa. Sehingga aku bisa menyesuaikan penampilanku dengan kak Rangga yang sudah 35 tahun.


Ah, Ina kenapa kau tidak mencari lelaki yang sepantaran denganmu? Kenapa kamu menerima lelaki yang jelas-jelas usianya setengah dari usiamu. Ah, bukan setengah lagi tapi lebih dari setengah.


Ina terus bermonolog didepan cermin. Sambil memegang sebuah gaun merah cantik karena malam ini dia akan dinner bareng Rangga. Ina beranjak dari kamarnya lalu beralih ke kamar mandi.


Flashback on


"Inaaaa ..." Seorang perempuan memakai jas mahasiswa sama dengan dirinya. Perempuan itu berjalan mendekati dirinya.


"Iya, ras." Perempuan itu bernama Laras,Teman akrab Ina. Hanya Laras yang baik padanya setelah mamanya meninggal dunia.


Dulu, Ina punya tiga sahabat karib. Lala, Laras dan Angel. Laras, Angel dan Ina memang berteman sejak SMA. Sedangkan mereka baru mengenal Lala saat masuk kuliah. Angel dan Lala berbeda prodi dengan Ina dan Laras. Walaupun begitu, mereka tetap menyempat waktu untuk berkumpul.


Sekarang semua tinggal kenangan. Dua sohibnya sudah menjauh sejak mamanya meninggal dunia. Sejak satu kampus tahu mamanya suka plesiran dengan beberapa lelaki. Sejak satu kampus tahu mamanya punya penyakit HIV AIDS. Sejak saat itu semua yang dikampusnya merundung dirinya sebagai anak gundik.


Jika dia bisa memilih, dia tidak mau dilahirkan sebagai anak mama Kania, dia tidak mau dibilang anak yang menyusahkan mamanya. Dia ingin punya orangtua normal, dia tidak ingin dilahirkan sebagai gadis kelainan jantung. Tapi apa daya, dia tidak bisa memilih hidup sesuai dengan keinginannya.


"Melamun, aja lo" Suara Laras berdentang keras di telinganya.


"Hobi banget ngagetin orang. Kalau jantung gue kumat gimana!" Omel Ina yang kesal dengan kebiasaan sahabatnya.


"Kamu kan sudah punya jantung baru, na. Masa masih kumat juga. Jangan-jangan pemilik jantungmu belum ikhlas ngasih jantungnya kekamu." Ledek Laras.


"Eeeehhh, anak gundik masih berani muncul dikampus."


Ina tahu siapa datang menemuinya. Dia mencoba bersikap acuh pada gadis yang berdiri di depannya.


"Ngel, aku lagi malas, ya berdebat sama kamu. Minggir kami mau lewat." Ina menarik Laras meninggalkan Angel yang kesal dicuekin duo mantan sahabatnya.


Hari berganti hari semua berlalu begitu cepat. Berita tentang kelakuan mama Kania semakin berhembus kencang. Tapi Ina tetap mencoba kuat walaupun ada beberapa orang yang ingin menyingkirkannya.


"Kalau kamu masih mau kuliah disini, jauhi kak Rangga!" Ancam Angel.


"Coba aja, Ngel. Kalau dia memilihku berarti dia cinta sama aku, Ngel."


Hingga pagi ini saat dirinya sudah sampai dikampus. Semua mata memandang dirinya, ada yang sinis, ada yang menatap menertawakannya. Ina mencoba cuek.


Angel menatap Ina dengan perasaan benci. Dia berdiri di sudut lorong kampus. Matanya memandang punggung Ina hingga hilang dari pandangan.

__ADS_1


Kamu tahu kan, na sejak dulu aku mencintai kak Rangga. Tapi kenapa malah kamu yang jadian dengan dia. Jahat kamu,na! sahabat macam apa yang menikung lelaki pujaan sahabatnya.


"Ooo ... jadi dia anak gundik, ya? Sekarang tinggal sama istri tua ayahnya .. ckckckxk udah anak simpanan, Jadi parasit pula di rumah orang." Teriak lala di depan semua orang.


Ina terdiam. Dia bisa apa? Mau marah apa yang akan dia marahkan? karena apa yang dibilang memang nyata adanya. Ina tak menampik perilaku mamanya yang suka gonta-ganti pria. Sebulan sekali mamanya pulang, dalam satu bulan mamanya hanya tahan dirumah 3 hari. Tapi dia membantah karena memang dia bukan tinggal dengan istri tua ayahnya, melainkan tinggal bersama anak ayahnya.


Ina hanya berlalu dari hadapan orang-orang yang menertawakannya.


"Ina... kamu di panggil bu ramida di ruang TU." panggil Dewi dengan ketusnya.


Ina hanya mengikuti Dewi yang berjalan didepannya. Saat memasuki ruangan TU, beberapa pasang mata menatapnya dengan sinis.


Braaaaakkkkk!


Laras memukul meja yang ada didepan Angel. Rasa kesalnya pada Angel yang sudah membuat Ina tersudut.


"Mau lo apasih, ngel!"


Angel menatap Laras dengan remeh "Waaaaah, anteknya ngamuk." ucap Angel diiringi tawanya yang keras.


"Kenapa, ras. Lo mau gabung sama kita aku masih welcome kok. Daripada kamu terus di repotin sama cewek penyakitan. Anak gundik pula ..... hahahahahahha..."


"Lo nggak ngaca jadi orang! Bokap lo tukang selingkuh ... mama lo baik ... gue ragu lo anak kandung nyokap lo...!" balas laras.


Ina masuk ke ruangan TU duduk menghadap bu Ramida yang terkenal galak.


"Kamu tahu kenapa saya panggil kesini?" Ina menggeleng. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.


"Kamu tahu masalah kamu sudah membuat reputasi kampus kita turun. Karena kampus ini nyimpan anak gundik dan ayam kampus seperti kamu." cerca Ibu Ramida.


Ina menelan salivanya.


Ayam kampus? kenapa bu ramida menyebutku seperti itu.


braaakkkkk


Ibu Ramida melemparkan beberapa photo Ina keluar dari mobil dengan lelaki yang berbeda. Ina kaget karena sebenarnya photo ini adalah momen yang berbeda.


"Bu, ini fitnah. Saya tidak seperti yang anda tuduhkan! Itu semua tidak benar. Mereka semua keluarga saya." Bela Ina sambil memandang beberapa photo yang bertebar di meja.


Bukan gampang meyakinkan bu Ramida yang terkenal galak. Semua orang dikampus tahu kalau bu Ramida tidak pernah memberi ampun setiap berhadapan mahasiswa bermasalah. Tapi yang pertanyaannya siapa yang memberikan photo ini pada bu Ramida. Angel kah? atau Lala. Ina tak tahu siapa pelakunya, yang pasti dia hanya ingin membersihkan namanya.


Ina keluar dari ruangan bu Ramida dengan wajah mendung. Tak pernah terbayang dibenaknya ancaman kampus atas tuduhan yang tak dilakukannya.

__ADS_1


"Na, gimana? apa yang dibilang bu Ramida sama kamu?" Laras muncul langsung mencerca beberapa pertanyaan.


Yang ditanya hanya diam saja, berjalan tanpa arah tak memperdulikan kehadiran Laras. Tapi Laras tidak menyerah, dia terus berjalan di samping Ina, takut sahabatnya kenapa-kenapa.


"Na, aku antar pulang, ya?"


Flashback off


Klik


Sore ini, Ina terbangun karena perutnya terasa lapar. Terlihat Ina turun dari tangga lalu membuka kulkas memeriksa apa yang bisa dimakan.


Dia terlihat seperti masih mengumpulkan nyawa, karena tertidur saat berteleponan dengan Rangga.


Padahal sebenarnya sudah sejak tadi dia merasa lapar.


oooooweeeek oooooweek


Ina menghentikan aktivitas lalu bergegas memasuki kamar bayi. Menenangkan shasa yang masih rewel, pada akhirnya Ina memberikan payudara untuk menyusui shasa. Saat Ina hampir menyusui shasa, tiba-tiba ada yang menarik Shasa dari genggamannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Alam yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan Shasa.


"Kasian, kak. Shasa rewel dan haus. Makanya aku kasih..." Alam melempar handuk ke arah Ina.


"Tutup payudaramu ... jangan sampai .. Ah sudahlah!" Alam mendorong Ina keluar dari kamarnya.


Alam masih berdiri terdiam. Entah kenapa terbayang dalam pikirannya saat Ina dengan telaten menenangkan Shasa. Serasa melihat mendiang istrinya sedang bermain dengan sang anak.


Gita seandainya kamu masih ada .....


Aku rindu kamu, Gita ....


...####...


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2