
Suasana kota jakarta dengan hiruk pikuknya. Kemacetan yang sudah menjadi tradisi kota metropolitan. Dalam sebuah mobil seorang wanita muda sedang asyik dengan gawainya. Sambil menatap beberapa kendaraan yang berjejer.
Netra terfokus pada sebuah motor gede yang terhenti pada sebelah kacanya. Dia mengenal pemilik motor itu. Sontak dia menurunkan tubuhnya agar si pemilik motor tak melihatnya.
"Nona kenapa?" Tanya sang sopir yang melihat majikannya bersembunyi layaknya seorang maling.
Wanita itu hanya menempelkan jarinya dibibir. Memberi peringatan agar pak sopir diam. Matanya kembali mengintip ke kaca. Ternyata sosok itu masih ada.
Ya, ampun itu kak jo. Bagaimana bisa malah bertemu dia.
Jangan sampai dia melihatku.
"Nona tiara..."Lagi-lagi pak sopir memanggilnya.
Tapi tetap saja dia meminta sopirnya untuk diam.
"Maaf, itu lampu sudah hijau. Nona pakai kembali sabuknya."
Tiara kembali duduk dikursinya lalu memasang safety beltnya. Ada rasa lega kalau yang ditakutkannya sudah pergi.
Jadi kapan aku ke brunai sih? perasaan sudah berbulan-bulan aku disini. atau jangan-jangan aku mau di jual nih.
Masa sih adik ibu tega mau ngejual aku.
Berbagai pertanyaan bergelayut dipikirannya. Apalagi gerak-geriknya terus diawasi oleh asisten atau bodyguard milik tantenya.
Dulu dia sering mendengar kalau anak gadis diiming-iming kerja enak di kota besar, tapi ternyata malah disuruh kerja menemani laki-laki hidung belang.
Tapi buru-buru ditepisnya karena dia yakin tantenya tidak seperti itu.
"Nona sudah sampai." panggilan pak sopir membuyarkan lamunannya.
Hamparan pantai yang menyegukkan hatinya. Dengan tongkatnya dia berjalan diikuti asistennya.
Jujur, dia risih diikuti terus. Matanya menatap ombak yang terus menggulung pasir-pasir pantai.
"Mbak, bisa tinggalkan saya sendiri dulu."
Tak lama asistennya mundur agak menjauh. Toh masih ada bodyguard yang menjaga gadis itu.
Lama dia hirup udara pantai tersebut.
Ibuuuu
Siti rindu sama ibu. Siti tidak mau jadi nona Tiara.
Aku lebih suka kehidupan yang dulu.
Ibuuuuuu
__ADS_1
Siti mau pulang, bu. Siti rindu tidur dipangkuan ibu.
Siti alias nona Tiara terus menerus mengeluarkan isi hatinya. Ada rasa penyesalan karena meninggalkan ibunya sendiri. Walaupun dia tahu ada edwar yang pasti menjaga ibunya. Tapi tetap saja dirinya merasa tidak enak. Apalagi dia tahu
semua fasilitas yang diterimanya adalah hak edwar.
Seketika tubuhnya merasa lemas, tapi tetap mencoba kuat.
Sejak dirinya tinggal di apartemen milik tante Fatimah, hidupnya jadi berubah. Semua jadi serba dilayani, kemana geraknya diikuti. Tapi yang lebih parah, tantenya menutup akses untuk berkomunikasi dengan keluarganya di sarolangun. Bahkan untuk berkomunikasi dengan gita pun tidak diperbolehkan.
"Ingat kamu sekarang adalah Tiara ford, bukan Siti. Putri keluarga Ford. Jadi yang berhubungan dengan Siti hilangkan!" ucap tante fatimah.
"ibu aku merindukanmu!" bisiknya lirih, dengan suara berat.
Air matanya menetes saat itu. Tapi lebih sesak saat membaca berita online tentang seorang dokter berprestasi.
Seorang dokter yang saat ini sedang di gandrungi kaum hawa baik para gadis dan ibu-ibu.
Seorang dokter yang katanya rajin ke mesjid dan pintar mengaji. Dokter yang sampai saat ini belum ada yang menggantikan di hatinya. Walaupun dia teramat kecewa pada dokter tersebut, karena mundur sebelum mengejar restu ibunya.
Lamunannya buyar saat suara gemuruh menghiasi pantai ancol.
Hujan yang turun membasahi pantai ancol. Para pengunjung berlarian mencari tempat teduh. Tapi tidak dengan siti, dia masih ingin menikmati udara pantai. Tak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup.
Lama dirinya menghirup udara hujan. Tak kuat dengan kondisi tubuhnya.Siti merasa pandangannya gelap, dia tak tahu apa yang terjadi.
Beberapa jam kemudian
Dipaksakannya untuk bangun karena sudah melewatkan sholat subuh. Tapi tante Fatimah menahannya.
"Semalam badan kamu panas, nak. Mungkin efek kehujanan. Lain kali jangan cari penyakit."
"Terimakasih, tante. Maaf kalau aku sudah merepotkan tante." ucapnya pelan.
Siti sejak kamu disini aku belum melihat senyuman diwajahmu. Apa kamu keberatan dengan semua ini? Betul kata kak Aisyah, semenjak kaki nya lumpuh tak ada keceriaan lagi di wajahnya.
"Tante keluar dulu, ya. Mau mandi. Kamu istirahat saja dulu. Nanti tante suruh si bibi mengantarkan makananmu ke kamar."
"Terimakasih, tante."
Tante fatimah keluar dari kamar dan menutup pintu kamar. Tak lama setelah Tante fatimah pergi, tiara menghela nafas panjang. Lalu mendaratkan tubuhnya diatas dipan ranjang.
Langit jakarta mulai menampakkan sinar terangnya. Tapi entah kenapa dia merasa tidak bahagia dengan semua ini.
"Non Tiara, makan dulu. Biar cepat sehat." Ada si bibi yang masuk kedalam kamarnya.
"Bibi suapin, ya, non." Ucap bibi menyodorkan sati suapan bubur ayam ke mulut gadis itu.
"Aku bisa makan sendiri, bi." Siti mengambil mangkok bubur lalu memakannya sendiri. Dia malu umurnya sudah tua tapi masih disuapin.
__ADS_1
"Terimakasih." Jawab Tiara sambil tersenyum simpul.
Bibi meninggalkan Tiara keluar dari kamar.
Beberapa hari kemudian
Tiara duduk di sebuah balkon kamar, menatap langit malam yang bertabur bintang. Dengan menggunakan tanktop hitam dan celana baggy pants hitam, gadis itu berdiri melihat lampu kelap-kelip.
"Non..." Panggil bibi seperti panik
"Iya, bi." Tiara heran kenapa bibi sangat panik
"Ibuuuu...masuk rumah sakit. Non disuruh menyusul kesana."
"iyyaaaa...bi.. aku ambil jaket dulu." Tiara langsung mengambil jaketnya untuk ke rumah sakit.
"Eeehhh ... bentar bi. Di rumah sakit mana?" tanya Tiara.
"Pak sopir tau kok tempatnya. Non ikut saja."
Tiara langsung masuk ke mobil. Perasaannya cemas karena tante Fatimah adalah satu-satunya keluarga. Sampai dirumah sakit Tiara kaget ternyata rumah sakit tersebut sangat tidak asing dengannya.
Sementara itu di sebuah koridor rumah sakit. Ina duduk melamun menatap langit malam. Hatinya sakit karena dodo mengacuhkannya. Sikap dodo yang akhir-akhir ini ketus padanya. Hingga jantungnya kumat, dodo hanya menyuruh asistennya untuk memeriksanya.
Salahku apa? Kalau memang kakak dodo sudah tidak suka lagi padaku, bilang! Jangan buat aku berharap.
"Ina, kok kamu disini? Angin malam nggak bagus buat jantungmu. Ayo aku antar ke dalam." ilham menyapa ina yang duduk diteras depan kamarnya.
Ina menangis memeluk ilham. lelaki yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Tangisnya makin kencang. Ilham mencoba menenangkan, ingatannya melayang saat gita masih dihantui masa lalu bersama ronal dulu.
Sebuah kaki indah, melangkah mencari ruangan orang mau dijenguknya. Saat ini tiara sudah bisa berjalan dengan baik. Tante Fatimah mengirimkan tim medis sehingga kakinya cepat sembuh.
Untungnya dia sudah memakai masker dan hoodie. Jadi tidak ada yang mengenalinya.
Matanya terpaku pada sosok sepasang dua anak manusia yang sedang berpelukan. Sedikit menghela nafas kasar. Mencoba kuat melewatinya.
Jadi dia masih ada rasa sama Gita. Kenapa pula Gita mau dipeluk seperti itu. Bukannya kak alam sangat posesif kalau soal ilham.
Ah, peduli amat bukan urusanku.
Lelah bernafas dari masker, Tiara membuka hoodienya. Lalu menatap tante fatimah yang belum sadar.
"Sus, mama saya sakit apa?" tanya Tiara yang duduk disamping tante fatimah.
"Jantung,mbak. Oh ya itu ada dokter dodo dan dokter ilham mau periksa ibu."
Tiara langsung memakaikan kembali masker dan hoodienya. Dia panik harus sembunyi dimana. Karena saat ini dia belum siap bertemu dengan ilham.
...#######...
__ADS_1
Bersambung