Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
147. Sadar


__ADS_3

Sebuah hamparan air yang tenang terbentang luas didepan mata. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjang yang terurai indah. Sepasang mata menatap takjud pada pemandangan didepannya. Kakinya dihempaskan diatas rumput hijau. Pupil matanya yang berwarna coklat menatap lurus, tak peduli baju putihnya kotor karena dibiarkan mengenai tanah.


"Tempat ini seperti surga."


Kalimat itu keluar sebagai rasa syukurnya atas karunia yang tersaji didepan mata. Sebagai rasa syukur dirinya bisa berada ditempat yang menurutnya betapa hebatnya kuasa Tuhan. Hirupan udara sejuk membuatnya tak ingin beranjak dari sana.


"Ti."


Sebuah suara halus menyapanya. Sosok wanita dengan pakaian yang sama seperti dirinya. Sosok yang sudah lama dia rindukan. Tubuhnya beranjak menuju arah wanita itu.Tangisannya meledak, disambut sapuan belaian tangan dari lawan bicaranya.


"Aku kangen kamu, Gita." Isaknya.


Gita hanya tersenyum pada sahabatnya.Tangannya membelai wajah sahabatnya. Tatapan tenang yang selalu menjadi andalan Gita pada setiap lawan bicaranya.


"Bentar! Kalau aku bisa lihat kamu, apakah aku juga sama denganmu, apakah aku juga sudah meninggal?"


Gita menggeleng.


"Belum waktunya, Ti. Hanya saja kamu sedang beradu antara hidup dan mati. Ibarat kata, Koma. Selamat ya, ti. Akhirnya kamu menikah dengan Ilham. Dari awal aku yakin cinta kalian kuat, hanya saja Ilham masih belum peka."


"Gita, maafkan aku."


"Untuk?"


"Untuk kesalahanku dimasa lalu. Kesalahanku yang terlalu meyakini kalau kamu dan kak Alam saling mencintai, sehingga membuat tragedi antara kamu, ilham dan Raisa. Aku Git, aku yang menghubungi Raisa saat itu. Sehingga pada akhirnya Ilham gagal menikahimu. Maafkan aku."


Tubuh Gita menyergap Siti, membuat tubuhnya merasa damai.


"Ti, yang lalu biarlah berlalu. Aku justru berterimakasih padamu. Karena hal itu justru menguatkan aku kalau memang sejak awal Alam belum bisa tergantikan dihatiku. Sejak kejadian tragedi yang membuat Alam masuk rumah sakit, sejak itu aku mulai menyadari kalau dia masih ada dihatiku. Meskipun dia sudah menyakitiku karena tak ada disampingku saat aku membutuhkannya. Meskipun aku pernah merasa hancur ketika mendengar dia menikah dengan kak Dinda. Tapi hatiku terpaut padanya. Padahal Ilham sudah mati-matian memperjuangkan aku, meskipun aku tahu, langkah kami selalu terhambat oleh Raisa. Itu sudah membuka mataku kalau kami memang tidak berjodoh, Ti."


Siti memandang sahabatnya dengan rasa takjub. Masih Gita yang dulu. Masih Gita yang dia kenal, Gita yang gampang pemaaf, Tidak ada yang berubah pada sosok dihadapannya. Siti menunduk malu, malu pada Gita yang sering dulu pernah dia tikung karena cinta pertamanya lebih memilih sahabatnya. Dulu, bibi dan Ibu selalu bilang ingin Alam menjadi mantunya, Awalnya Siti menanggapi biasa saja. Tapi entah kenapa rasa itu mulai berkembang. Hingga dia memanfaatkan situasi saat Alam down ketika Gita hilang tanpa kabar.


Akhirnya Siti menyadari kalau usahanya tetap sia-sia. Alam tetap condong ke Gita, walaupun lelaki itu terpaksa menerima pinangan pak Irwan, itu pun juga karena paksaan dari bibi.

__ADS_1


"Ti."


Siti menoleh kearah Gita.


"Pulanglah, Aku yakin Ilham pasti menunggumu. Aku cuma titip pesan padamu, tolong dekatkan gadis itu pada Kak Alam."


" Gadis? Siapa?"


"Aku tidak tahu namanya, ti. Tapi saat aku melihatnya saat mendaftarkan diri jadi pendonor, aku yakin dia bisa menjaga anakku dengan baik."


Siti masih belum paham dengan yang dimaksud Gita. Sosok Gita sudah menghilang, bersamaan dengan pekikan Siti yang memanggil nama Gita.


Sebuah pantulan cahaya yang menyilaukan pandangannya. bersamaan dengan itu tubuhnya seperti disedot.


Di rumah sakit


Ilham berdiri di sebuah ruangan. Tatapannya berarah pada sosok mungil di inkubator. Seorang bayi cantik dan lucu tengah terlelap dalam.inkubator, sang bayi terpaksa dimasukkan didalam box kaca tersebut, tubuhnya dihiasi dengan alat-alat pernafasan. Dia terlahir karena bobotnya melebihi dari normal, dengan masalah pernafasan.


Mereka belum memberi namanya pada keduanya. Tapi Ilham selalu memanggil putrinya dengan sebutan Little Siti atau siti kecil. Juga putranya yang disebutnya little Rama. Ilham memegang kaca inkubator, airmatanya menetes tatkala teringat sang istri belum juga sadar. Ilham senang kalau ketiganya selamat. Walaupun istri dan putrinya masih berjuang.


"Kedua anakmu mirip kamu. Gen kamu kuat dalam diri mereka." Tambah mama Mila.


Saat anakku lahir, aku melihat wajahnya. Saat pertama kali aku melakukan hal ini, hal pertama yang muncul di benakku adalah..


Aku tak menyadari, sampai sekarang, betapa aku sudah lama menunggu hari ini. Aku terlahir untuk menyaksikan momen ini.


Pria dulunya adalah anak lelaki yang lahir dengan naluri berpetualang dan bermain yang tinggi. Mungkin tidak pria ingin cepat-cepat menjadi ayah. Namun kebanyakan pria bisa merasakan getaran luar biasa pada saat ia tahu dirinya kini menjadi seorang ayah.


Aku agak cemas dengan apa yang dilakukan para perawat pada malaikat kecilku. Aku tahu mereka sedang membersihkannya. Dan ketika aku menggendongnya, aku bisa merasakan dia begitu ringkih dan mungil. Aku berharap aku tak akan menyakitinya. Setelah itu aku memperkenalkan diri dan dia meraih jemariku.


Sebagaimanapun kuat dan besarnya seorang ayah, ia memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Mungkin ketika sudah dewasa ini, para ayah sering membuat Anda keki. Namun bila Anda menilik pada hari di mana pertama kali dia menimang Anda, maka Anda akan menyadari bahwa Anda memiliki ayah yang sangat menyayangi Anda dan patut dibanggakan.


Setiap pria di dunia ini, sedikit atau banyak, memiliki naluri melindungi dan naluri menjadi seorang ayah. Ibu memang luar biasa, begitupula ayah yang selalu melindungi kita dalam bayang-bayangnya yang kuat, sederhana dan tak banyak bicara.

__ADS_1


Ilham keluar dari ruang bayi. Kakinya berbalik melihat box bayi dari kejauhan. Tampak beberapa suster menundukan kepala saat bertemu dengannya. Ilham tetap berjalan menuju ruang rawat istrinya. Beberapa dokter dan perawat berlari ke arah berlawanan. Tadinya Ilham berpikir kalau ada pasien gawat darurat.


Sampai di ruang istrinya, kakinya terpaku melihat pemandangan dihadapannya. Dokter melepas alat-alat yang ada ditubuh istrinya.


"Kenapa dilepas?"


Semua yang ada diruangan hanya terdiam.


"JAWAB! kenapa dilepas!"


"Ham, kamu yang sabar. Ikhlaskan Tiara. Dia sudah tenang." Ucap Mona menenangkan teman sejawatnya.


"Enggak! enggak mungkin! Siti tidak mungkin meninggalkan aku dan anak-anakku. Pasang lagi alatnya."


Semua masih terpaku melihat sikap Ilham.


"Kenapa kalian diam? Aku bilang pasang lagi alatnya, CEPAT!" Bentak Ilham.


Tanpa basa basi Ilham memasang alat-alat infus ke tubuh istrinya. Sikap Ilham yang diyakini belum bisa menerima kenyataan, justru memancing rasa iba bagi yang melihatnya.


Ilham menggunakan alat pacu jantung, menghentak tubuh Siti yang masih terbujur. Air matanya terus mengalir sembari memacu tubuh istrinya.


Mama Mila memeluk sang putra yang masih tidak terkontrol emosinya. "Sudah, nak. Ikhlas Siti. Istigfar, ham. Istigfar!" Tangis mama Mila melihat sikap putranya.


"Subhanallah, ham. Lihat!" Pekik dokter Ray


Sebuah tangan bergerak dengan lambat. Mata itu terlihat terbuka sedikit demi sedikit. Sebuah ruangan bercat hijau muda yang menjadi penglihatan pertamanya.


Hening.


Ilham menatap istrinya yang mulai menunjukkan reaksinya.


"Aaaku... dimana?"

__ADS_1


Tanpa basa basi Ilham memeluk tubuh istrinya. Tangis haru menyelimuti ruangan tersebut.


Terimakasih Ya Allah. Engkau mengembalikan istriku.


__ADS_2