Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
11. sepuluh


__ADS_3

Malam itu, Siti terbangun. Perutnya merasa lapar, dengan malas dia membuka kulkas yang ada di dapur. Mengorek apa yang bisa dimakan. Siti menemukan roti, setelah itu membuat chocolator drink. Dengan menenteng roti dan coklat hangat Siti duduk di depan tv.


Tatapannya beralih ke arah ilham yang tidur di depan TV. Siti beringsut mengambil selimut untuk Ilham. Siti kembali ke depan tv menutupi tubuh Ilham yang masih tertidur.


Siti menghidupkan TV karena sudah tidak mengantuk lagi, sembari mencuil roti sobeknya, Siti merasa bulu kuduknya berdiri. Seperti ada yang meniupkan ke telinga. Dengan rasa takut Siti menoleh ke samping, dan ....


Plaaaaak


Siti memukul kepala Ilham yang mencoba menakutinya. ilham meringis kesakitan, lalu tertawa melihat wajah Siti yang kembali jutek.


"Aku lebih suka liat kamu kayak gini, daripada senyum. Kamu tuh tambah cantik kalau seperti ini." Bisik ilham.


Ilham langsung memeluk Siti di sofa TV.


"Sayang, kamu tahu kan kalau momen ini yang aku rindukan. Dimana kita duduk berdua, santai, mesra, dan cuma ada kita. Aku kangen sama kamu, ti. maafkan aku yang tidak peka dengan perasaanmu. Bukan maksudku membandingkan kamu dengan Gita. Kamu kan tahu, kalau aku sedang mencoba melupakannya. Kamu kan tahu, dan sudah berjanji padaku akan membantu aku move on. Jadi, please jangan pergi lagi. Kalau kamu mau, aku akan bilang ke ibu tentang kita." ucap Ilham meyakinkan Siti.


Sesaat Siti terdiam. Dirinya senang kalau memang benar akan menemui ibu. Di satu sisi, Siti belum yakin dengan ucapan Ilham. Siti merasa itu hanya rayuan semata.


Siti meminum coklat panasnya sampai menempel di bibirnya. Ilham mencoba menghapus bekas coklat di bibir Siti. Jantung Siti berdegup kencang. Karena jarak mereka terlalu dekat. Sontak Siti mendorong tubuh Ilham karena terkejut.


"Maaf..." ucap Siti lalu beranjak membawa makanannya ke kamar.


Ilham mendekap tubuh Siti dari belakang. Seakan tidak mau jauh dari kekasihnya. Siti melepaskan dekapan Ilham, dia takut ada yang melihat. Siti masuk ke kamarnya, tapi ternyata Ilham mengikutinya masuk ke kamar.


"Ham! Tolong keluar!" usir Siti.


Ilham semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Siti. Entah mengapa Siti seperti tidak menolak saat Ilham hendak menciumnya. Siti seperti pasrah, bibir mereka bergelayut mesra. Tangan Ilham pun mencoba meraih pinggul Siti.


"Aku cinta sama kamu, Siti. Aku ingin menikahimu. Aku akan bilang sama ibu tentang kita." desah Ilham. Bibir mereka kembali bergelayut, kaki mereka mengiring ke tempat tidur Siti.


"Aku akan tanggung jawab, ti. Kamu tenang saja." janji Ilham.


"Ham, Jangan! Aku juga mencintaimu, tapi kita tidak perlu seperti ini. Aku mau kamu melamar dengan baik-baik. Bukan dengan nafsu seperti ini." Siti melepaskan diri tubuh Ilham.


Ilham menunduk malu. Dia berkali-kali mengucapkan istighfar karena hampir menggagahi Siti. Lalu memeluk Siti dengan erat "Maafkan aku Siti. Maafkan aku!"


"Sekarang kamu istirahat dikamar. Aku mohon jangan seperti ini lagi. Aku ingin kita menikah, tapi menikah secara baik-baik. Aku menjaganya untuk suamiku nanti. Aku tidak mau suamiku seperti kak Alam yang mendapati istrinya sudah tidak perawan lagi. Kamu jangan lupa, ham kalau kamu sudah pernah seperti ini dengan Gita. Kasihan kak Alam yang menikahi Gita yang sudah kamu renggut mahkotanya. Tapi karena mereka saling cinta, makanya mereka saling menerima. Tapi belum tentu Lelaki yang akan menjadi suamiku akan seperti itu. Jadi ku mohon jangan ulangi kesalahan yang sama,ham." Siti berdiri di depan pintu mempersilahkan Ilham keluar kamar.

__ADS_1


Ilham masih menunduk. Secara tidak langsung ucapan Siti menampar dirinya. Ya, yang dia lakukan pada Gita karena pengaruh obat yang dimasukkan Raisa. Apalagi ternyata minuman yang ditenggaknya ternyata alkohol. Ilham masuk ke kamar Edwar mendapati Jonathan yang sudah bangun. Bayang-bayang ucapan Siti membuat dirinya malu. Tapi dia berjanji akan memperjuangkan Siti sebelum keduluan Jonathan.


"Ham!" suara Jonathan terdengar berat.


Ilham menoleh ke arah Jo. Sedikit senyum yang dia sunggingkan kepada mantan kakak iparnya. Tapi Jo masih dingin pada dirinya. Ilham tahu sejak kematian Raisa, keluarga Raisa membenci dirinya termasuk lelaki di depannya.


Tapi Ilham akan membuktikan pada keluarga Raisa kalau bukan dirinya yang menghamili Raisa.


"Kamu cinta sama Siti?" tanya Jo


"Iya. Sangat mencintainya." jawab Ilham.


"Yakin? Bukan untuk pelarian semata." Jonathan kembali mencoba meyakinkan pria yang pernah menjadi suami adiknya.


Jo mencoba bangkit, menyandarkan tubuhnya di dipan ranjang. Tangannya menepuk pundak Ilham.


"Aku cuma mau memastikan Siti tidak akan mengalami apa yang Raisa alami. Jika suatu saat aku mendengar kamu menyakitinya. Aku orang yang pertama membunuhmu." ancam Jonathan.


klik


ibu mengetuk pintu kamar Siti, mengajak sholat bersama. Siti mengambil wudhu, lalu bersiap sholat di kamarnya.


"Ti." suara ibu masuk ke kamarnya.


"Iya, Bu." jawab Siti sambil memakai mukenanya.


"Ibu sholat disini, ya. Sekalian ada yang ibu bicarakan dengan kamu."


"Iya, Bu."


Siti dan ibu akhirnya sholat bersama di kamar. Setelah sholat Siti bangun melipat mukenanya. Ibu menatap putri semata wayangnya.


Siti kamu sekarang sudah dewasa. Sudah seharusnya menikah. Perasaan, baru kemarin ibu melahirkanmu berjuang melawan maut, karena ayah kandungmu meninggal dunia. Sekarang kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik.


Air mata ibu menetes saat teringat pertama kali membawa Siti yang berusia 6 tahun ke desa ini. Karena dirinya akan menikah dengan ayah Edwar. Ibu teringat saat mereka baru beberapa bulan di Sukasari, Siti selalu menangis karena tak punya teman, Edwar selalu memusuhinya.


"ibu mau ngomong sama kamu, nak."

__ADS_1


Siti langsung duduk disamping ibu. Siap mendengarkan apa yang mau dibicarakan ibu padanya. Mata ibu menatap Siti dengan lembut, mata yang membuat hatinya teduh.


"Ibu mau kamu menikah,ti."


"Aku pasti menikah, Bu. Ibu tenang saja. Ada seseorang yang sedang serius denganku, bu. Hanya saja dia sedang mengumpulkan mentalnya untuk melamarku." jelas Siti.


"Jonathan apa Ilham, ti."


Siti tercekat, ibu sepertinya memberi sinyal agar dirinya memilih salah satu dari mereka. Kalau Siti boleh memilih, tentu saja Siti memilih Ilham. Karena saat ini yang dia cintai hanya Ilham.


"Kalau ibu boleh jujur, ibu lebih suka Jonathan daripada Ilham.Jonathan itu orangnya sopan. Tidak agresif."


"Ibu kenapa bilang seperti itu? Apa Ilham itu tidak baik dimata ibu?"


ibu terdiam. Tadi malam, ibu melihat bagaimana Ilham mencoba masuk kamar Siti. Dari situ ibu menyimpulkan kalau Ilham bukanlah lelaki yang baik. Baginya, lelaki yang baik tidak akan lancang memeluk wanita yang bukan muhrimnya.


"Ibu harap lelaki itu Jonathan, bukan Ilham." ucap ibu langsung keluar dari kamar Siti.


Ibu dan Siti langsung menyiapkan sarapan untuk kedua tamu mereka. Masih dalam suasana kaku setelah pembicaraan tadi. Siti ingin sekali meyakinkan ibu soal Ilham. Tapi Siti harus mencari waktu yang tepat.


Siti menyiapkan beberapa bahan, sedangkan ibu menyeduh kopi untuk Ilham dan Jo.


Tak lama Ilham bangun sambil memapah Jo yang memakai tongkat. Ilham membantu Jo duduk di kursi.


Hp Ilham bergetar. Rupanya telpon dari rumah sakit. Ilham pamit mau mengangkat telepon, sampai dia mendengar ucapan Jonathan.


"Ibu, Siti saya ... saya ..." Jo pelan-pelan menghembuskan nafasnya.


"Saya mau melamar Siti!" ucap Jo dengan lancar.


Deg! Semua yang di rumah kaget termasuk Ilham.


#####


Hayo pilih siapa?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2