Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
135. Keajaiban Doa


__ADS_3

โ€œDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaranโ€ (QS. Al-Baqarah: 186)


...๐Ÿ‡๐Ÿ‡๐Ÿ‡๐Ÿ‡...


Banyak hal yang kita inginkan dalam hidup, banyak hal yang kita harapkan menjadi kenyataan, Semoga bisa berjalan sesuai keinginan. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti, bisa kita hari ini tertawa, esoknya malah kesedihan yang melanda. Ada saja takdir yang tak terduga, itu bisa terjadi tanpa diduga. Ada pula takdir yang membawa keberuntungan karena kita bergantung dengan Doa. Untaian doa yang selalu menjadi harapan kita sebagai titik terang dalam kehidupan. Untaian doa yang selalu tumpuan hidup manusia.


"Ham." Ilham menoleh kearah pemilik suara.


"Papa Adolf?"


Ya Allah apa yang harus kukatakan padanya. Papa pasti murka sekali kalau tahu yang sebenarnya. Kuatkan hamba ya Allah.


" Ham, bagaimana Tiara bisa pendarahan?"


Ilham menunduk "Maaf, pah. Ilham tidak siaga. Papa mau marah sama aku nggak papa. Mau tampar aku nggak papa. Aku ikhlas karena semua salahku, pa. Ini semua keteledoranku, pa."


Papa Adolf tertawa melihat sikap menantunya "Hey! papa tidak butuh jawaban seperti itu. Papa bertanya kenapa anakku bisa pendarahan. Cucu twinsku bagaimana keadaannya. Papa tidak suka jawabanmu, seperti lelaki lembek saja."


Ilham menghela nafas panjang. Ada rasa lega karena Adolf tidak memarahinya seperti biasanya. Tapi hatinya belum tenang saat melihat tubuh lemas terbaring di hospital bed. Jika dia bisa memilih, dia mau menggantikannya tidur disana. Helaan nafas yang berat terdengar sangat pelan, bulir air mata yang sempat mengering kini kembali membasahi wajah tampannya. Ilham mendekati istrinya, mengecup sang buah hati yang tertanam di perut.


"Nak, papa harap kalian kuat ya. Supaya mama kalian bisa cepat sembuh. Papa harap juga kalian bisa saling menjaga, papa berharap kalian tidak pergi meninggalkan kami. Kalian harapan kami, nak. Kalian yang menguatkan kami."


Ilham duduk disamping istrinya. Membelai rambut wanita yang hampir 8 bulan dihalalkannya. Sedikit tersenyum saat pertama kali mengenal gadis itu.


Flashback


3 tahun yang lalu


Seminggu setelah Gita dirawat dirumah sakit. Ilham melihat seorang gadis yang senantiasa berada disamping tunangannya.


"Yang, kenalin ini siti. Sahabatku dari Jambi."


Ilham mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.


"Ilham"

__ADS_1


"Siti"


Siti kembali mendaratkan bokongnya dikursi. Tangan gadis itu berkutat dengan pisau dan mengupas buah apel. Tak lama setelah apel itu selesai dikupas, potongan buah itu mendarat ke mulut Gita satu persatu.


"Gita aku pulang dari dulu, ya. Kan kamu ada dokter Ilham yang nemenin. Dok, aku titip gita, ya. Saya pulang dulu." Pamitnya lalu meninggalkan mereka berdua.


Ilham menatap punggung Siti dengan seksama hingga sosok itu hilang dari pandangannya.


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Ilham terus dipertemukan dengan Siti. Dimana gadis itu tak pernah jauh dari sisi Gita. Setiap Gita menjenguknya di rumah sakit, Siti selalu ikut. Hingga saat Gita hilang, Ilham dan Siti menjadi semakin dekat. Ditambah saat dirinya mengajak gadis itu bekerja dirumah sakit, setiap berangkat kerja Ilham selalu menjemputnya. Walau keluarga Gita sempat mempertanyakan kedekatan mereka. Ilham menegaskan kalau dirinya dan Siti memang hanya teman.


"Aku memang mulai nyaman dengan Siti. Dia beda dengan Gita, Gita itu kalem, sedangkan Siti itu cerewet. Tapi sejauh ini aku nyaman sebagai teman tidak lebih." Ucap Ilham saat memandang Siti yang membersihkan ruang kerja.


Siti merasa kikuk karena lelaki itu terus memperhatikannya. Seakan tatapan itu mengawasi semua kinerjanya, malah gadis berpikir kalau Ilham takut ada barangnya yang hilang.


"Pak, dokter tenang saja. Saya tidak akan mengutil barang-barang anda. Lagian nggak ada gunanya juga buat saya." bela nya yang makin kikuk saat ilham berdiri jarak dekat dengannya.


Hingga saat mereka kembali dekat ketika Gita masuk rumah sakit setelah menikah dengan Alam. Siti yang selalu membela hubungan Alam dan Gita. Kalau seandainya Gita menikah dengannya, mungkin dia tidak akan jatuh cinta dengan Siti. Kalau seandainya Raisa masih hidup, mungkin tidak akan ada wanita yang bisa dia dekati.


Flashback off


Malam semakin larut, gulirnya waktu tak membuat lelaki itu lelah duduk disamping istrinya yang terbaring lemah. Ilham membuka alquran kecil untuk menghilang rasa kantuk yang mendera. Lantunan ayat demi ayat terdengar sangat merdu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4.15, Ilham berdiri memasuki kamar mandi guna mengambil wudhu.


"Kamu cepat sembuh, sayang. Biar kita bisa tahajud bareng."


Selesai tahajud Ilham pun mendengar lantunan Adzan berkumandang. Gegas dia langsung menyambung sholat subuh. Menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Ya, Allah, berilah kami kekuatan menjalani semua cobaan ini. Kuatkanlah aku agar tidak melupankan-Mu, kuatkanlah istriku agar bisa sembuh seperti semula.


Ya Allah, Jika anak ini adalah rezeki hamba sehatkanlah mereka. Tapi jika memang mereka bukan rezeki hamba, saya Ikhlas. Hanya padamu kami meminta, hanya padamu kami memohon.


Amin ya robbalalamin."


Ilham kembali mendekati ranjang Tiara. Memandang komputer yang mendeteksi detak jantung yang semakin mengecil gelombangnya. Tak lama tubuh Tiara berguncang hebat.


"Ti, kamu kenapa?"

__ADS_1


"Dokter! Dokter!"


Ilham berlari keluar memanggil Dokter disana. Sayangnya Mona sudah pulang dari tadi malam, sedangkan Toni sudah dimutasi. Tubuhnya lemas, tak tahu meminta bantuan kemana lagi. Papa Adolf dan Mama Fatimah tak kalah khawatir melihat keadaan Tiara.


Akhirnya Ilham berinisiatif mengambil alatnya sendiri memeriksa keadaan istrinya. Adolf dan Pramono memanggil suster untuk membantu pekerjaan Ilham. Sebagian suster malah enggan membantu karena Ilham sudah tercatat bukan dokter disana lagi. Mereka takut menyalahi aturan rumah sakit.


Pada akhirnya hanya dua suster yang membantu Ilham memeriksa kondisi Tiara. Dengan sekuat tenaga Ilham mengguncang tubuh Tiara dengan alat pacu jantung, sampai salah seorang suster meminta Ilham menunggu dokter lain datang.


" Sampai kapan?Mereka datang dan terjadi sesuatu pada istriku. Apa kalian mau tanggung jawab?"


"Tapi, dok. Anda bukan dokter disini lagi, anda bisa dikenakan kasus malprakter jika tetap melakukan ini." Saran salah satu suster.


"Aku tidak peduli! Aku akan menyelamatkan nyawa istriku dan anak-anakku."


Tiga jam Ilham masih berkutat didalam ruang rawat Tiara. Hingga beberapa keluarga sudah berkumpul termasuk keluarga besar Spencer. Semua berdoa agar Ilham berhasil menyelamatkan nyawa Tiara.


Ceklek


Semua berhambur mengerumuni Ilham yang keluar dari ruangan. Mereka menunggu jawaban Ilham yang terlihat lelah setelah berjuang sendiri.


"Alhamdulillah. Siti sudah sadar."


"Alhamdulillah." Seru mereka bersama - sama.


Terimakasih, Ya Allah engkau mendengar doaku.


Doa adalah senjata terbesar yang dimiliki umat manusia. Itulah menjadi kekuatan sehingga Ilham bisa menyelamatkan nyawa istrinya. Kekuatan doa yang mampu merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin.


Tetap terus pantengin cerita ini.


Teimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate

__ADS_1


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


BERSAMBUNG


__ADS_2