
Di apartemen kediaman Ford
11:00 WIB
Tiara duduk dibalkon memandangi jalanan jakarta yang masih padat. Tapi sebenarnya dia tidak memandang itu, tatapannya serasa kosong. Bahkan sahutan ibu Aisyah yang sedari tadi mengetuk pintu kamarnya tak digubrisnya.
Hatinya teramat sakit, lelaki yang dicintainya bahkan lebih sayang dengan pekerjaannya daripada menemuinya. Bulir air matanya terus mengalir.
Sebenarnya bukan kedua orang tuanya yang memaksanya pulang ke apartemen. Melainkan permintaan dirinya. Dia merasa suaminya tidak memperdulikannya. Baginya, kesibukan ilham hanya basa basi semata. Hatinya teramat sakit karena sampai dirinya mau pulang pun lelaki itu tetap tidak muncul.
Tiara teringat saat ilham masih berpacaran dengan gita, jadwal lelaki itu padat, tapi masih sempat mengecek keadaan Gita. Tiara merasakan perbedaan perhatian Gita dan cara Ilham memberi perhatian pada dirinya. Beda sekali.
"Ti, kamu makan dulu, nak. Sejak pulang dari rumah sakit kamu tidak keluar kamar. " Panggil ibu Aisyah.
Diam tak bergeming. Ibu Aisyah paham apa yang dirasakan sang putri.
"Ti, Ibu paham apa yang kamu rasakan, nak. Tapi pikiran soal bayimu. Dia butuh asupan gizi. Ibu mohon buka pintunya, nak." bujuk ibu Aisyah.
Tetap saja tak ada sahutan dari dalam sana.
"Gimana, kak?" tanya mama Fatimah.
Ibu Aisyah menggeleng kepalanya "Aku merasa siti masih marah pada suaminya. Kita biarkan dia menenangkan diri dulu." Ibu Aisyah mengajak adiknya untuk meninggalkan Tiara untuk sementara dulu.
Sepeninggal Aisyah, Tiara akhirnya keluar dari kamar. Perutnya terasa lapar, Lalu membuka kulkas mencoba mengolah bahan yang ada. Sambil mengajak bicara pada calon bayinya.
"Sayang, kamu mau makan apa?"
Tiara mengambil coklat "Ini?"
Dug!
Tiara memakan coklat jumbo yang diambil dari kulkas. Melahap habis sampai menjilati sisa coklat yang melumuri tangannya. Ingatannya berputar awal pacaran dengan Ilham. Dimana lelaki memakan es krim yang dipegangnya sampai menetes ke tangannya. Ilham bahkan menjilati sisa eskrim yang ada ditangannya.
"Jorok" Jawabnya saat itu.
"Bantu bersihin biar nggak susah cuci tangan." jawab ilham sekenanya.
Huuuuft
"Aku rindu kamu,mas. Tapi aku juga kecewa sama kamu, mas. Kenapa kamu tega melakukan ini sama aku? kenapa kamu mengabaikan aku?apa pasienmu lebih penting daripada aku? iyalah, kalau mereka nggak penting kamu nggak akan pergi pagi pulang pagi."
Tiara masih asyik bermonolog sendiri. Masih terhimpit dengan rasa kecewanya pada suaminya. Apalagi dia belum mengabarkan soal kehamilannya pada suaminya. Tiara mencoba menghubungi ilham, tapi lagi lagi gengsi menyerangnya dan mengurungkan niatnya itu.
"Ti"
__ADS_1
Mama Fatimah menyodorkan beberapa kebutuhan kehamilan seperti susu hamil dan buah-buahan. Tiara meminum susu hamil instan sedangkan mama fatimah menyiapkan sup daun katuk untuk sang putri.
"Itu apa, ma?" Tiara melihat mamanya memasak sayur daun katuk.
"Ini daun katuk bening, nak. Ini untuk Asi mu."
Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Asi? Dirinya saja baru hamil 3 minggu sudah dikasih makanan penunjang Asi.
"Tapi kan aku masih hamil muda, ma? terlalu cepat makan untuk ASI." Jawab Tiara yang mencoba seribu cara menolak masakan mamanya. Saat ini dia kurang berselera makan.
"Ma, aku mengantuk. Aku balik kamar dulu, ya." Tiara beranjak dari ruang dapur menuju kamarnya.
Matanya menatap tumpukan photo yang menempel didinding kamarnya. Sesekali menarik nafas panjang. Tiara menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
klik
"Bagaimana,ham? Apa kata dokter? Siti sakit apa?" cerca mama Mila saat menelepon putra semata wayangnya.
Tapi yang ditelepon hanya diam seribu kata. Ada rasa penyesalan karena semalaman tak bisa menengok istrinya. Selalu saja ada halangan yang menerpa.
"Ham?" Suara mama Mila kembali membuyarkan lamunannya.
"Maaf, ma. Ilham belum sempat menemui Siti,ma."
Ilham kembali menundukkan kepalanya. Terasa berat menumpu pada dirinya.
Toni yang melintas melihat Ilham seperti sedang banyak masalah. Lelaki itu mendekati ilham mencoba membantu sahabatnya. Ilham akhirnya bercerita perihal masalahnya dengan Tiara. Toni menghela nafas kasar setelah mendengar cerita Ilham. Bagi Toni yang dilakukan Ilham cukup mengecewakan. Mengatasnamakan pasien dengan mengabaikan istrinya.
"Aku nggak mengabaikan Siti, ton. Tapi aku mencoba profesional. Bukankah seperti tugas seorang dokter." bela Ilham.
"Ham, kan aku sudah kasih instruksi ketemu sama istrimu. Tapi kenapa kamu tidak datang menemuinya. Aku rasa siti langsung pulang karena dia kecewa padamu, ham." omel Toni pada lelaki yang sudah seperti adiknya.
"Tapi .... harusnya dia ngerti keadaanku?"
"Terserah kamu,ham. Aku lihat papa mertuamu sangat marah saat meminta izin membawa siti keluar dari rumah sakit. Kamu tahu kan kalau orangtua sudah marah terkait anaknya seperti apa."
Ilham masih terus berdiam diri. Kepalanya ditekuk kebawah, ditutupi dengan kedua tangannya. Sesekali mengacak rambut lebatnya. Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya tapi dia takut menjadi pusat perhatian orang dirumah sakit.
"Mau kemana, ham?" tanya toni saat Ilham mengambil kunci mobil.
"Pulang. Tiara pasti menungguku di rumah." Jawab Ilham meninggalkan Toni yang masih bingung dengan permasalahan sahabatnya.
Ilham melajukan mobilnya pulang ke kediaman Pramono. Pikirannya masih berkecamukan antara mencemaskan kondisi istrinya tapi dia juga takut dengan kemarahan papa Adolf.
"Tiiiii." pekiknya di depan pintu rumah.
__ADS_1
Tak ada sahutan dari dalam. Pintu rumah masih dikunci. Lagi-lagi ilham menggedor pintu rumah hingga akhirnya tubuhnya melemas.
"Kamu kemana, ti? Maafkan aku."
"Den ilham." Ilham menoleh kearah suara. Di tatapnya Indro yang berdiri didepannya.
"Ndro tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?"
Indro akhirnya menjelaskan apa yang dia tahu. Ilham membuka ponselnya mengecek beberapa panggilan dari Tiara dan Indro. Yang parahnya tadi malam istrinya mencoba menghubunginya. Tapi handphonenya tertinggal di ruang kerjanya. Ilham menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali memukul kepalanya tanda penyesalan teramat dalam.
"Sekarang Tiara dimana, ndro?" tanya Ilham yang wajahnya sudah sembab.
"Saya kurang tahu, den. Bisa jadi non Tiara di bawa sama orangtuanya. Coba saja den Ilham datang ke rumah orangtua."
Klik
Pukul 17:00
Tiara terbangun dari tidurnya, kepalanya masih terasa berat untuk diajak bekerjasama. Tangannya merogoh handphone mengecek waktu yang baginya terasa sangat lama. Dia bosan dikamar terus.
Kakinya melangkah hendak membuka pintu,.sayup terdengar suara asyik mengobrol.
"Tiiii ... coba lihat siapa yang datang?" panggil mama Fatimah.
Tiara menatap lelaki didepannya. Spontan dia berlari kembali memasuki kamarnya. Ilham langsung menggedor kamar Tiara.
Braaaaaakkkk!
Tiara menutup pintu kamarnya dengan kencang. Ilham masih menggedor dibelakang pintu.
"Ti... tolong buka, sayang. Biar aku jelaskan."
"maaaaa...suruh dia pulang saja!" Pekik Tiara dari balik pintu.
"Aku nggak akan pulang sebelum keluar dan maafin aku, sayang."
Ilham tetap bersikukuh tidak akan pergi sebelum istrinya menemuinya. Tapi tetap saja Tiara berkeras hati tidak mau menemui suaminya.
"Maafkan aku,ti, please..." Mereka sama sama sedang terduduk di dinding pintu kamar.
...#####...
Dalam rumah tangga komunikasi itu perlu. Agar tidak terjadi salah paham antar pasangan. Tapi dalam kasus ini sebenarnya kesalahan memang bertumpu pada Ilham. Dimana selama di rumah sakit lelaki itu lebih menyibukkan bersama pasien ketimbang melihat istrinya sendiri.
Maaf, ya aku lama postnya. Soalnya akhir-akhir ini kondisi tubuh sedang tidak memungkinkan. Terimakasih masih mau mampir dikaryaku ini
__ADS_1