Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
79. H-3 ( Versi siti)


__ADS_3

POV Siti


Malam semakin larut, mata ini tak bisa terpejam Rasanya ada setitik kegelisahan yang melandaku. Ku tatap jam dikamar sudah jam dua pagi. Aku coba berdoa sebelum tidur, kurubah posisi tidur, tapi tetap tak mengobati insomnia ini.


Seketika aku teringat seseorang, dia yang harusnya mendampingiku saat pernikahan itu. Harusnya? Iya harusnya seperti itu, tapi sekarang kenyataan lain. Kenyataan bahwa aku harus menerima seorang baru dalam hidupku.


Seorang lelaki yang akan menjadi pendamping hidupku, masih asing terasa. Tapi aku bisa apa, melawan? kabur? ah, itu hal bodoh yang tidak akan aku lakukan. Kalau masih bisa dengan kepala dingin ngapain pake cara itu.


Kulirik jam sudah jam empat pagi. Astaga aku belum bisa memejamkan mata. Udara sekitar vila semakin dingin, jangan sampai pilek datang. Tapi kalau aku sakit, siapa tahu rencana pernikahan itu batal. Disini sepertinya jauh dari perumahan warga. Sudah dua hari disini, tak terdengar suara azan.


"Ibu, siti kangen."


Aku mencoba tidak menangis, tapi ternyata aku tidak bisa menahannya. Sesak, iya! Pasrah, mau gimana lagi! Bahkan aku tak berani berharap kalau ilham akan menyusulku kesini.


Ngomong-ngomong soal Ilham? Dia apa kabar, ya? apakah dia mencariku?atau jangan-jangan dia sudah menemukan gadis lain lagi, seperti terjadi sebelumnya. Jujur sampai saat ini aku belum bisa positif thinking padanya. Setelah selama ini banyak yang terjadi diantara kami, dari dia mendekatiku saat tak bisa mendekati gita, hingga dia menerima pertunangan dengan kak Jihan.


Hingga tiba saat ini, kami kembali dijauhkan karena restu papa. Ham, apakah kamu merindukanku? atau mungkin kamu memang sudah melupakan aku? Entahlah. Aku merindukanmu, ham. Iya aku yang merindukanmu! Rindu wangi parfummu, rindu narsismu, apapun dalam dirimu selalu kurindukan.


Kubentangkan sajadah karena sebentar lagi waktu subuh akan masuk. Paling tidak ada sedikit rasa lega yang kurasakan, dengan mengadu kepada-Nya.


Ya, Allah besok aku akan menikah. Menjadi seorang istri, mohon bimbing aku untuk tetap berada di ridho-mu. Beri petunjuk apakah lelaki ini memang jodohku.


Tetap kuatkan aku untuk berjalan ke Jalan-Mu ya Allah.


klik


POV author


Besok adalah hari yang bersejarah bagi keluarga besar Adolf Ford. Putri tunggal mereka akan melepas masa lajangnya. Semua sibuk mempersiapkan Putri seorang CEO perusahaan maskapai tersebut.


Semua dipersiapkan secara mewah, mulai dari lokasi akad dan resepsi, apalagi rencananya resepsi akan diadakan dua lokasi yaitu di Sukabumi dan Jakarta.


Beberapa staf dari WO sibuk mendekor lokasi akad nikah. Tema pernikahan adalah serba putih. Sesuai permintaan Tiara, karena baginya putih itu suci. Sebuah kebiasaan setiap ada keramaian pasti dirinya ingin berbaur. Tapi ternyata dirinya tidak diperbolehkan keluar. Tiara kesal, lagi-lagi dirinya hanya dikurung dalam kamar.


Terdengar suara mobil terparkir Terdengar suara seorang wanita yang mengucapkan salam.


Ibu!


Mama!

__ADS_1


Tiara langsung berhambur memeluk mereka.Hatinya senang kalau dua wanita yang disayanginya sudah datang, itu berarti dirinya sudah tidak kesepian lagi. Mereka mengantar Tiara masuk kamar. Masih dalam rangka melepas rindu, tak henti-hentinya Tiara tak mau lepas dari ibunya.


"Kamu itu sudah mau jadi istri. tapi masih aja manja sama ibu." Tiara memasang wajah imutnya. Makin erat dengan ibu Aisyah.


"Ti, nanti kalau kamu nikah puas-puasin deh manja sama suamimu. Ibu bisa lihat dia sayang banget sama kamu."


Tiara pun menangkap omongan Aisyah.


"Bentar, bu! emang ibu pernah ketemu sama si bule? Aku aja belum pernah ketemu sama dia, kok ibu bisa tahu kalau dia sayang sama aku."


"Ti, ibu ada titipan dari mama yulia buat kamu, nak." ibu Aisyah mengalihkan pembicaraan.


Tiara melihat sebuah kotak besar, lalu membukanya. Kebaya cantik berwarna putih dan sebuah long dress cantik juga berwarna putih. Tiara terharu melihatnya.


Sepucuk surat buat dirinya. Pelan-pelan dibukanya dan membacanya...


Dear Sahabatku Siti Marlina...


Jika kamu membuka kotak ini, berarti gaun ini adalah milikmu...


Jika suatu saat aku sudah pergi


Selamat ya, ti


Semoga kamu bahagia bersama pasanganmu


Maafkan aku jika selama ini sering menyakiti perasaanmu ....


Dari sahabatmu.


Gita Mandasari


Tiara menatap sang ibu, meminta penjelasan tentang surat ini. Dengan lembut Ibu Aisyah membelai rambut sang putri sambil duduk disamping Tiara.


"Ti, kata mama Yulia. Gaun ini Gita yang buat waktu kamu mau nikah sama Rudi. Karena kondisi Gita agak lemah saat itu, makanya dia merancang gaun sebagai hadiah untuk kamu."


Tiara langsung menangis memeluk gaun buatan Gita. Rasa haru terselip di hatinya, tatkala sahabatnya tidak bisa melihatnya bersanding.


"Kamu ingat gaun ini, ti." Ibu memperlihatkan gaun panjang yang sudah tidak asing baginya.

__ADS_1


"Ingat, bu. Gaun yang ini yang dipakai Gita saat pertamakali di jodohkan dengan kak Alam." Ucap Tiara masih diselimuti rasa haru.


Dan Gaun inilah awal mula tragedi yang menimpa Gita dan Ilham. Untung pasanganku bukan Ilham. Kalau pasanganku Ilham, aku takut membuka memori masa lalunya.


"Kamu coba dulu ti, ibu mau lihat anak ibu pakai kebaya rancangan gita."


Tiara berdiri mengganti bajunya dengan kebaya buatan Gita. Simpel, sederhana tapi elegan. Ibu takjud melihat sang putri memakai kebaya tersebut. Aura pengantinnya terpancar. Tak terasa air matanya menetes.


Nak sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Ibu senang bisa melepasmu pada lelaki yang tepat.


Sebagai seorang ibu, aku pasti bahagia melihat kamu akan ada yang menjaga, melihat kamu bersanding dengan seorang lelaki. Menempuh hidup baru, yaitu rumah tangga.


Aku tak sabar menunggu saat itu tiba, melihat putri ibu bersanding di pelaminan.


Meskipun begitu aku masih terselip rasa gelisah yang mendalam. Aku harus merelakan anakku untuk ikut dengan suaminya. Masih berat rasanya melepaskanmu, nak. Aku membesarkanmu dengan penuh perjuangan, dibesarkan dengan cinta, dirawat dengan kasih sayang, hingga tumbuh menjadi gadis cantik. Gadis cantik ini sebentar lagi akan menjelma menjadi seorang istri dan seorang ibu.


Ibu menatap Tiara dengan perasaan takjub. Terselip haru karena akan melepas sang putri kepada lelaki yang menikahinya nanti. Ibu berharap, Tiara bahagia dipernikahannya nanti.


"Bagaimana perasaanmu, nak? Besok kamu akan menjadi istri." Tanya mama Fatimah.


Tiara menunduk, dia belum bisa mengungkapkan perasaannya. Bahagia? Entahlah, baginya ini menyakitkan.


Ibu dan Mama Fatimah melihat Tiara menangis. Sontak keduanya memeluk sang putri. Mencoba menenangkannya.


Ti, seandainya kamu tahu siapa yang akan menikahimu, apakah kamu akan sesedih ini?



Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2