
Suara-suara memanggil warga untuk bangun sahur berkumandang. Para dokter yang sedang berada di mess pergi ke mesjid untuk sahur bersama para petugas mesjid. Tak terkecuali Ilham. Dia ikut makan sahur bersama dengan para pengurus mesjid. Dodo dan Ilham datang belakangan.
Sebenarnya Ilham terbiasa sahur tanpa makan. Tapi karena menghormati para pengurus mesjid mau tidak mau dia harus ikut.
"Ham..." panggil Edwar yang juga ada disana.
"Eh, kak Edwar." Ilham menyalami Edwar yang dia tahu kakaknya Siti.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Iya, boleh Kak."
"Kamu punya hubungan apa dengan Siti?"
"Kenapa kak Edwar menanyakannya itu?"
"Jawab saja!"
"Aku dan Siti ..."
Salah satu petugas mushola memanggil mereka.
"War... cepetan bentar lagi imsak."
"Ham, kita sahur dulu. Sehabis itu kita lanjutkan pembicaraan ini." ucap Edwar sambil mengajak Ilham masuk kedalam Mushola.
"Kak .. aku mencintai Siti dan aku yakin Siti juga merasakan hal yang sama. Apa itu salah?"
Edwar menghentikan langkahnya, menatap lelaki didepannya. Lalu kembali berbalik masuk kedalam Mushola. Ada senyum mengembang di bibirnya mendengar ungkapan hati Ilham. Tapi entah kenapa dia kurang sreg dengan Ilham. Baginya Jonathan lebih baik dari pada ilham.
Sama seperti dulu, saat dia tahu Alam mendekati Gita. Entah kenapa dia kurang setuju Gita dengan alam. lelaki itulah yang membuat Dinda melepaskan dirinya. Lelaki itu bertahun-tahun menghilang lalu muncul kembali saat Dinda sudah move on.
Ah entahlah. Aku harap Siti tahu mana pria yang lebih baik. Jonathan adalah pria yang bagus untuknya. Beda dengan Ilham, yang dulu masuk ke dalam rumah tangga Gita dan Alam. Ilham yang dulu pernah membuat Gita trauma sampai di ungsikan ke Malaka. Rasanya jejak kelam pria itu sulit membuat aku menerimanya. Apalagi untuk adikku. Ya walaupun yang dulu terjadi pada Gita dan Ilham adalah jebakan seseorang. Tapi tetap saja bagiku sulit untuk menerima Ilham.
Edwar terus bergelayut dengan pikirannya. Ada rasa ketakutan, dia ingin melindungi adiknya dari ilham.
klik
Jihan masuk ke kamar Siti membangunkan gadis itu. Dengan berat Siti membuka mata. Kaget saat tahu siapa yang membangunnya.
Jihan memeluk Siti seperti layaknya seorang saudara. Siti pun menyambut pelukan Jihan dengan baik. Karena Siti tidak pernah merasa memusuhi Jihan.
"Kak jihan kapan sampai?"
__ADS_1
"Tadi malam, ti. Aku mau masuk kamarmu tapi sudah di kunci."
"Maaf, kak. Aku sudah tidur tadi malam."
Apa kak jihan datang kesini bersama Ilham? Mungkin iya, karena mereka punya hubungan. Ah, untuk apa aku mikirin hubungan mereka. Bukan urusanku! lebih baik aku pikirkan hubunganku dengan kak Jo Saja.
Siti bangkit dari tempat tidurnya, badannya terasa sakit karena terjatuhnya semalaman. Jihan pun membantunya untuk duduk di kursi rodanya.
Kak jihan ternyata masih baik padaku. Aku pikir setelah kejadian itu dia akan memusuhiku. maafkan aku, kak aku malu karena dulu sempat terbuai dengan janji-janjinya Ilham. Sampai akhirnya aku sadari dia memang tidak akan berubah.
Jihan dan Siti keluar dari kamar menuju dapur. Ibu sudah menyiapkan beberapa lauk pauk untuk sahur. Siti baru beberapa sendok sudah tidak ingin makan lagi.
"Makanlah,ti. Biar ada tenaga untuk puasamu nanti." Bujuk ibu.
"Siti kenyang, bu. Siti balik kamar ya, Bu." Siti membalikkan kursi rodanya.
Jihan menatap Siti dengan tatapan penuh arti.
"Siti sejak pulang kesini nggak pernah keluar rumah ataupun keluar kamar. entah kenapa semenjak bertemu laki-laki itu Siti jadi pemurung. Padahal dulu nggak seperti itu. Sepertinya lelaki itu membawa pengaruh negatif buat Siti." cerita ibu Aisyah pada Jihan.
"Ti." Jihan duduk di samping Siti.
"Iya, kak."
"Nanti habis sholat subuh kita jalan keliling kampung ya. Jangan di dalam terus. Kamu harus bersosialisasi dengan masyarakat."
Jihan memegang tangan Siti, seolah menguatkan gadis itu.
"Kenapa mesti malu, ti. Kamu itu adalah pahlawan buat aku. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Sudah pokoknya sudah subuh kita jalan-jalan ya."
Siti dan Jihan saling berpelukan "Makasih, kak. Aku pikir kakak akan memusuhiku. maafkan aku kak."
"Emang ada masalah apa diantara kalian?" Ibu penasaran kenapa Siti minta maaf pada Jihan.
"Aku nggak pernah musuhi kamu, ti. Sudah lupakan yang kemarin. Sekarang kita menatap untuk ke depan saja. Aku sudah maafin kamu."
"Makasih, kak." Siti menyeka air matanya. Ada rasa haru karena permasalahannya Jihan sudah selesai. Ada rasa lega menyelinap di hatinya.
Siti dan jihan melahap makanan buatan ibu. Mereka bercerita penuh canda tawa seperti layaknya sebuah keluarga. Ibu menatap Siti yang penuh bahagia. Beda dengan Siti yang selalu murung beberapa hari sebelumnya.
Mungkin Siti memang butuh teman bicara. Jihan sepertinya bisa membantu Siti untuk keluar dari kegalauannya. Terimakasih tuhan engkau kirimkan malaikat seperti jihan.
Jihan menatap Siti dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
"Siti .. Siti .. kamu lihat kan. Ilham tidak akan peduli lagi sama kamu. Jo pun sepertinya akan nurut pada orangtuanya untuk perjodohan kami. Sudahlah Siti jangan bermimpi untuk masuk ke lingkungan kami.
Kalau tidak mikir permintaan Jo yang minta aku menjaga kamu. Aku juga nggak Sudi nginap di sini. Mending aku nginap di mess bareng ilham.
Aku masih menghormati ibu. Tapi aku masih kecewa sama kamu, ti. Kenapa kamu tega nusuk aku dari belakang. Padahal kurang baik apa aku sama kamu. Aku tak peduli kalian pernah punya masa lalu, aku cuma mau bilang Ilham itu milikku.
Kumandang adzan adalah saat ketika umat Islam harus berhenti meneguk air terakhir serta mulai melaksanakan puasa Ramadhan serta mulai menjalani sholat subuh.
klik
Pukul 05:40 di desa Sukasari, Jambi.
Saat fajar muncul di pagi hari sebenarnya seluruh bola Matahari masih berada di bawah ufuk, namun demikian cahayanya telah mulai menerangi Bumi hasil pantulan lapisan atmosfer.
Masih terdengar lantunan suara orang sedang mengaji subuh. Siti terhenyak mendengar suara tersebut. Siti baru tahu si pemilik lantunan sudah pintar mengaji. Ada rasa haru yang menyelinap di hatinya.
Ya Allah terimakasih engkau sudah menuntunnya menjadi lebih baik. Semoga kamu Istiqomah ya.
Jihan mendengar lantunan itu, sedikit terharu. karena kekasihnya bisa mengaji. Jihan merasa bangga saat mendengar Ilham mengaji. Tak lama lantunan itu terhenti, menandakan kegiatan sudah selesai.
"Ti, sepertinya ada yang ketinggalan. Kamu tunggu sini, ya." Jihan pergi meninggalkan Siti sendirian di dekat sawangan.
Siti mencoba mengutak-atik gawai nya sambil menunggu Jihan. Tiba-tiba sebuah tangan memegang pundak Siti. Reflek Siti menoleh melihat siapa yang memanggilnya.
"Hai Siti apa kabar?" sebuah wajah yang tidak asing dimata Siti.
"Ru... Rudi?" Siti kaget melihat kedatangan Siti.
"Iya. Ini aku mantan calon suamimu. Hahahaha." teriak Rudi dengan keras.
"Ka...kamu mau apa?" Siti mulai takut saat berhapan dengan Rudi.
"Aku mau melepas rindu padamu, Siti. Bukankah kita dulu akan menikah. tapi Gara-gara si gondrong, semuanya kacau,ti.
Asep dan paku cepat bawa Siti kesana. Aku mau bermain-main mesra bersama dia." Rudi mengelus wajah Siti dan memegang paha Siti.
"lepaskan aku, Rudi. Tolong!toloooong!" Siti terus menjerit minta tolong.
"Kamu minta tolong sama siapa? sama si gondrong! Dia nggak ada disini! Sudahlah Siti, kamu tenang saja. Si gondrong nggak akan tahu apa yang kita lakukan."
Siti melompat dari kursi, mengesot mundur tubuhnya. Masih berusaha teriak meminta pertolongan.
Tiba-tiba....
__ADS_1
Buuuughhh!
Kalau kamu sentuh Siti! Kamu akan mati!