
Pukul 17:30
Ilham pulang ke rumahnya, walaupun badannya tak enak, tapi dia tetap bersikukuh untuk datang membawa keluarga besar ke apartemen keluarga Ford. Tak dengan ucapan Tuan Adolf tadi, ilham tetap akan menepati janjinya pada Siti.
Matanya mencari kedua orangtuanya, omanya, ayahnya dan keluarga besarnya. Mereka sudah akan berangkat sehabis maghrib nanti.
Lelah mencari keluarganya, ilham menghubungi papanya, sayangnya tidak ada yang mengangkat.
Hp nya tiba-tiba bergetar, ilham membuka telpon dari mamanya. Terdengar sang mama masih berada di kantor papanya. Lagi-lagi ilham melirik jam tangan sudah berjalan 17:50.
Kenapa mereka santai sekali? ilham terus merasa gusar.
"Mama dimana? Sebentar lagi kita mau..."
"Ham ... mulai sekarang lupakan, siti, nak."
"Ma...maksud mama apa? Lupakan bagaimana? ma kita nanti malam.."
tuuuut tuuuuut tuuuuut
Telepon dari Mama Mila terputus. Di sambut dengan lemasnya tubuh ilham.
Kenapa jadi seperti ini?
ilham membentang sajadah karena sudah waktunya sholat maghrib. Paling tidak, dia sudah menunaikan kewajibannya kepada sang khalik. Ilham membuka alquran untuk mengaji sedikit. Walaupun dia belum bisa hapal ayat tersebut diluar kepala. Seperti janjinya dulu, pada Siti, dia pernah berjanji bahwa mahar menikah mereka adalah surat Al-baqarah.
Selesai mengaji, ilham membuka ponselnya. Dia kaget kalau siti sudah banyak menghubunginya. ilham yakin Siti pasti menunggunya. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Aku di rooftop rumah sakit. Aku tunggu, ham. Waktuku tidak banyak. Kalau kamu tidak datang, mungkin bisa jadi pertemuan kita yang terakhir.
ilham langsung mengambil kunci mobilnya. Bergegas ke rumah sakit menemui Siti. Berharap ada titik terang hubungan mereka.
Aku tak tahu mengapa begitu banyak aral melintang dalam hubungan kami.
Apakah salah jika kami saling mencintai?
Apakah statusku yang duda masih jadi penghalang? atau karena kesalahanku dimasa lalu.
entahlah..
__ADS_1
Siti harusnya kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu. Mari kita terus melangkah memperjuangkan cinta kita apapun yang terjadi. Jika nanti kita tetap tidak bisa bersama tak mengapa, saat ini aku ingin memperjuangkanmu, membahagiakanmu, selalu berada disisimu.
ilham terus bermonolog, memikirkan perjalanan cintanya bersama Siti. Entah kenapa ada saja masalahnya.
Sampai di rumah sakit, ilham langsung menemui Siti. Derap kakinya melangkap ke lantai paling atas di rumah sakit swasta tersebut. Beberapa anak tangga dilaluinya, sama seperti dia melewati kerikil tajam dalam kisah cinta mereka.
"Ti..." Sapanya melihat gadisnya tengah melamun dipinggir.
Ilham menghampiri sang kekasih. Membelai rambut gadis itu, menghujani kecupan dipucuk rambut. Siti berbalik memeluk tubuh ilham. Terdengar isakan tangisan dibalik wajahnya. Ilham terdiam, membiarkan sang kekasih meluapkan kegundahannya.
"Sayang." tangannya membelai pucuk rambut siti yang sudah disanggul.
"Ham, kenapa harus seperti ini? Kenapa papa malah menjodohkan aku dengan bule itu? Tolong aku, ham. Bawa aku pergi dari sini."
"Ti"
"Ham, kamu harus menepati janjimu, kita nikah saja. Nggak perlu mereka tahu, aku capek,ham!"
"Ti, dengarkan aku! Aku pasti menikahimu tapi bukan begini caranya! Aku mau kita menikah baik-baik, bukan karena nafsu tapi karena Allah. Aku mohon kamu bersabar,ti. Minta sama Allah, insyaallah akan ada petunjuk.
Aku cinta kamu, ti. Tapi aku tidak mau menghancurkanmu dengan bertindak bodoh."
Ilham dan Siti saling menatap. Degup jantung terus berdetak semakin kencang. Tangan ilham membelai wajah sang kekasih, semakin dekat wajah mereka. Sentuhan bibir yang membuat keduanya terbuai. ilham mengangkat tubuh siti tanpa melepas pagutan bibir mereka.
"Ti"
"Ya"
"Ayo kita temui papamu. Apapun yang terjadi kita hadapi bersama-sama." bisik ilham ditelinga Siti.
Ilham menarik tangan siti untuk keluar dari rooftop rumah sakit. Ilham menggendong Siti seperti gendongan belakang.
"Makasih, ham."
"Buat?"
"Buat tetap bertahan bersamaku, buat tetap memperjuangkan aku, buat semuanya yang sudah kamu lakukan untukku."
"Aku melakukannya tulus,ti. kamu tahu? Saat ibu Aisyah memberiku waktu, aku datang menemuimu membawa ayah Brian dan Tante Tami, karena mamaku masih mengurus papa yang sakit waktu itu. Maaf jika keterlambatanku malah membuatmu menerima kak Jo. Tapi saat aku sampai ibu bilang kalau kamu menikah dengan kak jo. Saat itu aku hancur sekali,ti.
Makanya mama mengenalkanku pada kak jihan, yang dulu adalah temannya kak Keisya. Aku mencoba melupakanmu dengan membuka hati pada kak jihan, tapi ternyata aku belum bisa membuka hatiku untuk perempuan lain selain kamu,Siti Marlina."
__ADS_1
Ilham menyadari tak ada respon dari Siti. Sedari tadi dirinya cuap-cuap gadis itu hanya diam saja.
Ilham menatap kaca di salah dinding rumah sakit. Melihat gadisnya sudah tertidur pulas dibelakangnya.
klik
plaaaakk
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah mulus ilham. Tamparan kuat yang berasal dari tangan tuan Adolf Ford.
"Beraninya kamu bawa lari anak saya!"
"Saya tidak bawa lari, Siti, om. Justru saya mengembalikan Siti dengan selamat." bela ilham yang saat tiba didepan apartemen langsung dikepung beberapa bodyguard tuan Ford.
"Fatimah kamu temani Tiara. Jangan sampai dia kabur lagi. Kalau perlu kunci kamarnya, biar mereka yang menjaga tempat kita." Perintah Tuan Ford pada istrinya.
"Mas, jangan keras begitu dengan anak kita."
"Ini demi kebaikannya, imah. Lelaki seperti dia tidak pantas untuk anak kita, mantan napi, pelaku asusila, apa kalian tahu kalau dia juga menghamili anaknya Alex. Aku heran dokter seperti dia bisa bertahan di rumah sakit itu?"
Ilham kaget, dia tidak menyangka kalau Tuan Adolf mengetahui masa lalunya. Tapi sungguh dia memang tidak menghamili Jihan. Mata menatap Adolf seperti ingin memberikan pembelaan.
"Saya memang mantan napi,tuan. Tapi apa tuan tahu kenapa saya dipenjara? Saya menyelamatkan seorang gadis yang hampir dilecehkan oleh pria tua. Apa tuan tahu siapa gadis itu? Putri tuan sendiri! Saya dipenjara karena saya menghajar lelaki itu sampai babak belur. Kalau tuan tidak percaya silahkan tanya ke putri anda sendiri.
Satu lagi,tuan! Saya tidak pernah menghamili anak om Alex, dia hamil dengan laki-laki lain."
Adolf terdiam tapi tetap tidak memperdulikan pembelaan dari ilham. Baginya, kalau sudah cacat selamanya akan cacat walaupun sudah dipoles sedemikian rupa.
Karena Adolf mempunyai prinsip kesempurnaan diatas segalanya, baginya kesempurnaan itu adalah hidup tanpa cacat sedikitpun
####
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1