
"Bagaimana, dok?" jihan bertanya sama dokter saat memeriksa kandungannya bersama ilham.
Walaupun ilham tahu kalau itu bukan anaknya tapi dia masih berbaik hati menemani jihan.
Dokter masih fokus memeriksa. Dahinya mengkerut saat melihat hasil USG. ilham hasil usg dilayar monitor juga ikut kaget.
"Bagaimana perkembangannya, dok?" ilham pun ikut bertanya.
"Ehmm... dokter ilham, maaf sepertinya ini gejala rahim diluar kandungan." Bisik dokter Toni.
Ilham menatap jihan yang masih penasaran dengan perkembangan janinnya. Ilham tahu khalau kandungan jihan ada masalah. Tapi dia menunggu instruksi dari dokter Toni. Dia tidak mau gegabah, karena dia tahu, pikiran ibu hamil itu sensitif dan gampang baperan.
"Maaf bu jihan. Janin ibu tidak bisa berkembang karena berada diluar kantong rahim." jelas dokter.
"Maksudnya gimana, dok?" Tanya jihan masih belum paham.
"Kandungan ibu tidak berkembang. Kalau dibiarkan akan membahayakan ibu sendiri. Dengan terpaksa ibu harus dikuret."
"Ku..kuret! Nggak! saya nggak mau! pasti ada cara lain dok." Protes jihan.
"Kak, kalau dipertahankan justru nyawa kakak yang melayang. Dokter lebih tahu." Jelas ilham.
Jihan menatap ilham dengan tajam "Ini yang kamu mau kan, ham. Supaya kamu bisa lepas dari tanggung jawab.Supaya bisa kembali mendekati Siti." amuk jihan memukul dada ilham.
Aku tidak akan menggugurkan bayi ini. Bisa saja mereka bekerja sama agar aku dan ilham tidak menikah. Bisa saja ini akal-akalan ilham agar membuangku. Dasar buaya!
Dokter Toni mendekati jihan yang masih menatapnya tajam. Dia tahu tidak mudah meyakinkan wanita didepannya.
"Begini kak jihan. Kak jihan pernah dengar hamil anggur?"
Jihan menggeleng
"Nah yang terjadi pada rahim kak jihan sekarang adalah hamil anggur. Jangan kakak kira itu hal sepele. Kakak tahu tidak? Kalau tidak dibersihkan, si anggur ini bisa menjadi bibit tumor. Kalau sudah begitu nanti kakak bakal susah hamil. Makanya mumpung masih gejala dini kita obati." Terang dokter Toni.
"Nah, jelaskan kak." sambung ilham sambil menyender di bahu Toni.
Tetap saja Jihan tidak bisa menerima penerangan dari dokter Toni.
"Pokoknya aku tetap tidak mau! Aku yakin pasti ada jalan keluarnya selain kuret. Tolonglah, toni, aku tidak mau membunuh janin yang tidak berdosa ini." mohon jihan.
ilham menghela nafas kasar "Tidak ada yang membunuh kak. Tapi ini untuk kesehatan kak jihan."
Dokter Toni menepuk bahu ilham
"Ya, sudah. Kalian rembuk dulu, bicarakan dengan kepala dingin. Toh, ini anak kalian kan. Tapi jangan lama-lama, karena semakin tumbuh semakin besar resikonya. Nyawa taruhannya." Jelas dokter Toni.
Jihan dan ilham keluar dari ruangan dokter Toni. mereka saling terdiam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Kak jihan mau aku antarkan pulang?" tawar ilham
"Aku mau disini dulu, ham. Nggak papa, kan. Terima kasih sudah menemaniku check up." Jihan pergi menjauh dari ilham.
Lalu melihat dodo yang sedang bersama dokter lain. Tertawa riang tanpa beban. Entah kenapa jihan enggan menyapa atau mendekati Dodo. Dia memilih menyingkir ke kantin karena merasa lapar.
Jihan menyantap soto yang dipesannya. Entah kenapa dia mulai memikirkan omongan dokter Toni. Ada rasa setuju kalau memang keadaannya tidak bisa dipertahankan, tapi dia takut ilham akan menjauhinya setelah kandungannya digugurkan.
Jihan menangis saat mengingat semua itu, sebuah sapu tangan muncul didepannya.
Jihan mendongak keatas melihat siapa yang memberikan sapu tangan.
"Nggak bagus ibu hamil suka nangis" sahutnya
"Do...do!" Jihan langsung memeluk lelaki itu.
Dia tidak peduli jadi tontonan orang ataupun ilham melihatnya. Sejak dinyatakan hamil entah kenapa dia selalu nyaman didekat dodo walaupun hanya berpapasan saja.
Dodo mengusap air mata jihan. lalu mengajak jihan kembali duduk menyantap sotonya.
"Kak apakah dia.."
Jihan mengangguk. Dodo memegang perut jihan.
"Berapa bulan?"
"Maaf. Aku tidak bisa menikahimu. Aku mencintai wanita lain." Ucap Dodo
"Setelah yang terjadi diantara kita.Kamu baru bilang mencintai wanita lain. Brengsek!" jihan mendorong tubuh dodo. Lalu menangis keluar.
Kenapa rasanya sakit sekali saat dodo yang mengatakan hal itu. Padahal aku sama sekali tak punya perasaan apapun padanya. Dia yang mendekatiku, Dia yang merayuku, Bahkan ilham saja tidak pernah melakukan itu.Ya, Allah perasaan apa ini?Apa ini karena aku hamil anaknya?
Sementara itu ilham yang sedang santai kedatangan Alam. Lelaki itu heran kenapa alam menemuinya. Karena terakhir bertemu adalah saat Gita meninggal.
"Ada angin apa kak Ronal kemari?" ilham membuka pembicaraan.
Alam duduk menghadap ilham. Tatapannya tajam ada kekecewaan yang mendalam.
"Ham,.tolong jawab jujur!"
"Soal?"
"Apa benar gita mendonorkan jantungnya?"
Lama ilham terdiam. Meresapi nafasnya. Berat untuk dia jelaskan.
"Iya" jawabnya singkat
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberitahukanku? Aku ini suaminya. Kenapa aku harus tahu mama yulia?Bahkan mama yulia memintaku mencari si penerima donor." Ucap Alam, suaranya terdengar marah.
ilham menunduk " Ini permintaan dari gita, kak."
Alam meninju dinding "Bahkan disaat terakhir kamu masih menyembunyikannya dariku, gita. Kenapa! Hak asuh anakku jatuh pada mama yulia dan papa Dul. Padahal aku? Ayah kandungnya sendiri tidak diberi kepercayaaan untuk membesarkannya. Sekarang aku baru tahu kalau gita mendonorkan organnya pada orang lain."
"Kak Ronal! Dengar, ya. Kenapa gita tidak mempercayakan shasa pada kakak karena kakak orang teledor. Kakak sadar yang terjadi pada gita beberapa kali itu karena siapa? Karena keteledoran kakak. Seharusnya kakak intropeksi diri. Satu lagi kak! mama yulia tidak melarang kakak kan untuk menemui shasa, bahkan kakak tidak diusir dari kediaman mereka. Karena apa? Karena mereka tahu shasa masih butuh ayahnya.
Asal kakak tahu! Paru-paru yang kakak pakai sekarang ada milik Gita."
Alam terkejut saat ilham mengatakan kalau paru-parunya adalah donor dari Gita. Tubuhnya lemas, sebegitu berkorbannya Gita untuk dirinya.
"Lalu siapakah penerima jantung gita?" tanya Alam lirih.
"Maaf, kak sesuai prosedur rumah sakit kami harus merahasiakan identitas si penerima. Ini privacy, kak. Maaf kali ini aku tidak bisa membantu kakak."
Terang ilham.
Alam pamit setelah mendengar keterangan dari ilham. Dia pulang dengan tangan kosong. Pikirannya kacau.
Bruuukk!!
Alam seperti merasa menabrak seseorang.
"Maaf, kak. Saya tidak sengaja." terdengar suara seorang wanita terus meminta maaf.
Alam yang sedang gusar langsung memaki si wanita.
"Makanya kalau jalan lihat - li ..." Matanya terpaku pada sosok gadis berseragam mahasiswa.
Gita!
"Maaf kak, saya kurang hati-hati." ucapnya sekali lagi.
Alam masih terbengong melihat sosok yang mirip istrinya. Sampai gadis itu hilang dari pandangan, tidak membuyarkan Alam dari lamunannya.
Siapakah yang menerima donor jantung gita?
...####...
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiahnya
__ADS_1