Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
127. Akur


__ADS_3

"Kamu kenapa mas?"


Tiara heran sama suaminya yang sejak tadi bolak balik wc. Dalam sehari Ilham sudah tujuh kali keluar masuk.


"Mas nggak papa, kan?"


Tiara mulai cemas melihat suaminya terlihat pucat.


Dia takut suaminya kenapa-kenapa.


"Ti, rasanya aku mau mati"


Suara Ilham melemah. Sedari tadi bolak balik wc gara - gara menyantap rujak hasil ngidam istrinya.


"Ti, kalau aku mati ..."


"Maasss, aku belum mau jadi janda."


Tiara menangis saat Ilham bilang soal kematian. Dia benar-benar belum siap jadi janda saat hamil. Terbayang olehnya mengurusi dua anak tanpa suami.


"Ti ... "


"Mas, sudah jangan bilang mati sekarang."


"Ti..." ilham masih melemahkan suaranya.


"Aku sudah nggak kuat lagi." Ilham mulai memejamkan mata.


Tiara menangis kencang, tangannya mengguncang tubuhnya suaminya. Mama Fatimah dan Papa Adolf langsung masuk kamar anaknya.


"Kenapa, ti?" tanya mama Fatimah.


"Mas Ilham, ma. Mas Ilham sakaratul maut." Tiara menangis memeluk tubuh suaminya.


"Aku nggak mau jadi janda, ma." Isaknya.


Saat Adolf hendak menyentuh nadi Ilham, mata Ilham mengedipkan mata pada papa mertuanya.


Papa Adolf akhirnya paham dan mengajak istrinya keluar kamar.


"Yuk, ma." Ajak papa Adolf


"Tapi, pa coba cek dulu." Mama Fatimah masih belum paham kode suaminya.


"Udah, ma. Nanti papa jelasin dikamar. Yuk, papa udah ngantuk nih." Adolf mengajak istrinya keluar dari kamar sang putri.


Tiara masih menangis karena mengira suaminya meninggal dunia. Sementara Ilham tersenyum melihat istrinya masih memeluknya. Merasa rencananya berhasil untuk mengerjai istrinya. Tangan Ilham mulai menjalar kepunggung istrinya. Sayangnya, Tiara belum menyadari hal itu.


Kok jantungnya masih berdetak


Tiara mulai aneh pada gelagat suaminya. Kembali diperiksanya detak jantung Ilham. Dengan cepat Tiara melepaskan diri. Sesekali matanya mengintip apakah Ilham masih pingsan atau pura pura pingsan.


Tiara mengambil air yang dikoboknya dalam gelas. Sedikit demi sedikit dia meneteskan ke wajah suaminya. Tak ada reaksi apa-apa.


Setetes

__ADS_1


dua tetes


tiga tetes


Tuang semua isinya


Bibir Ilham mulai komat kamit saat air meluncur ke wajahnya. Matanya terbuka melihat wajah sang istri seperti ingin menerkamnya.


"Maaas, tadi katanya mau mati? kok nggak jadi?" ucap Tiara sambil gaya lembut dibuat-buat.


"Sayang, aku nggak jadi mati. Tuhan belum izinkan sepertinya. Aku juga nggak mau buat istriku jadi janda dan anak kita tidak jadi yatim."


"Ooo .. Gitu, ya." Tangan Tiara menggapai telinga Ilham.


"Aduuuuh" Pekik Ilham yang merasa telinganya sakit.


"Seneng, ya liat istrinya sedih. Senang, Iya."


"Ampuuuun, mama. Papa janji nggak ngulangi lagi."


"Jadi malam ini, kamu ..... tidur ...di luar .." Tiara mengeluarkan bantal guling dan selimut. Lalu ditimpukkan ke atas tangan Ilham.


Ilham berjalan pelan menuju ruang tv, merebahkan diri disofa. Padahal dia hanya iseng, tapi lagi-lagi dia membangunkan singa yang sedang tidur. Masih terasa telinganya yang perih karena jeweran istrinya. Ilham tersenyum sendiri sambil berbaring diatas sofa.


Dia kalau marah tambah cantik.


klik


"Belum tidur, ham."


"Belum ngantuk, pa."


"Ham" panggil Adolf pelan.


"Iya, pa." jawab Ilham


"Kamu mau temenin papa. Papa nggak bisa tidur." ucap Adolf dengan santai. Ilham merasa canggung didekat ayah mertua.


"Kamu berantem sama siti." Ilham menggeleng. Dia sempat kesal saat pertanyaan Adolf terkesan kepo.


"Kalau tidak kenapa tidur diluar." Tanya Adolf lagi.


"Biasa, pa. Orang hamil bawaannya sensi. Diam salah, nggak diam juga salah." jawab Ilham lagi.


"Nih, papa buatin kopi buat kamu. Mau dengar cerita papa?"


"Mau, Pa." Ilham mulai membenarkan cara duduknya. Bersiap-siap mendengar kisah yang akan di ucapkan papa mertua.


"Pada suatu kisah, disebuah kediaman elit, ada seorang gadis yang cantik dan manis. Tingginya sekitar 165 cm, rambutnya selalu dijalin dua. Dia selalu memakai daster batik setiap bekerja. Gadis itu bertemu seorang duda yang berusia 30-an, siapa sangka rencana berkunjung saja, sang duda tersebut langsung cinta pada pandangan pertama. Kamu tahu, ham. Gadis itu selalu menunduk saat bertemu duda tersebut.


Dia tak pernah banyak bicara setiap bertemu. Kalau bersuara dia cuma bilang "Tuan dan nyonya ada didalam, pakcik" Selebihnya tidak ada."


Ilham masih asyik mendengar cerita sang papa. Matanya menatap jam dinding yang tertempel dihadapannya. Ilham mencoba menghormati papa mertua dengan mengalahkan rasa kantuk. Pada akhirnya dia menyerah dan tertidur.


Papa melihat menantunya tertidur, tangannya yang mulai berurat menarik selimut. Adolf menutupi tubuh Ilham dengan selimut.

__ADS_1


Makasih, nak sudah mencintai anak papa. Setidaknya jika aku dan Imah pulang ke brunai, aku akan tenang kalau ada yang menjaga putriku.


Mungkin bagi kalian saya terlalu lebay atau terlalu ikut campur urusan kalian. Sebenarnya aku ingin kamu menjadi suami yang tegas dan berwibawa.


Nanti, ketika anak kalian dewasa, kalian akan berada diposisiku sekarang.


Adolf pun menguap. Rasa kantuknya tak bisa diajak kompromi lagi. Pada akhirnya mereka berdua tertidur disofa.


Pagi ini


Ilham hari ini benar-benar melihat papa Adolf beda dari biasanya. Papa Adolf mengajak Ilham joging bersama. Semua yang Ilham mau dituruti oleh Adolf.


" Ham, tadi malam kamu kenapa?" Tanya papa Adolf sambil menyantap siomay mang Ayong.


"Mules, pa. Aku disuruh Siti makan rujak 10 cabe rawit."


"Uuuuhh ... ngebayanginnya udah bikin papa merinding, ham."


"Apalagi aku, pa. Badanku lemes bolak-balik wc, rasanya kayak mau mati."


Adolf dan Ilham mengobrol lepas tentang istri mereka. Selesai makan siomay, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen. Papa melihat penjual peyek lalu membelinya.


"Kamu tahu, ham. waktu mama Fatimah hamil Tiara, ada ngidam yang susah buat papa lupain."


"Apa, pa?"


"Mama kamu mau madu yang didalam sarang lebah hidup. Papa disuruh manjat pohon besar yang ada sarang tawonnya. Terus papa kena sengatan lebah disekujur tubuh."


"Sakit, dong, pa." Ilham mengelus tangannya serasa kulitnya yang diserang lebah.


"Banget, ham. Papa dirawat dirumah sakit selama satu minggu. Itupun rasanya mau mati. Terus papa bilang sama mama Fatimah kalau hidup papa nggak lama lagi."


"Kok sama sih, pa. Terus apa reaksi mama?"


"Dia nangis bilang nggak mau jadi janda ...."


"Hahahahahha.." Ilham dan Adolf tertawa berbarengan.


"Makanya Papa nggak kaget liat Siti gampang ngambek. 11 12 sama mamanya."


Sementara dirumah


Pagi itu Tiara terbangun, melihat suaminya tak ada disampingnya. Tiara melangkah keluar kamar. Ruang tengah terasa sepi. Dia hanya menemukan bantal dan selimut yang sudah rapi.


"Ti,liat papa nggak?" Tanya mama Fatimah.


"Enggak, ma. Tapi mas Ilham juga tidak ada ditempat."


"Jangan-jangan ..."


Tiara dan mama Fatimah takut terjadi sesuatu diantara keduanya. Apalagi kedua lelaki itu saling bertolak belakang. Mereka pun berdoa supaya para suaminya pulang dengan selamat.


Assalamualaikum


Kedua wanita itu berhambur ke pintu depan. Terlihat Ilham dan Adolf sedang asyik berbincang. Ilham dan Adolf memeluk pasangan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Ma, aku nggak mimpi kan liat mereka kayak akur"


__ADS_2