Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
30. Tiga puluh


__ADS_3

Aku masih menyayangimu


masih cinta padamu


Bila masih saja kita bertemu


Semakin susah hati ini untuk


Melupakanmu


Telah kuhapus fotomu


Dari bingkai di kamarku


Tapi masih ada wajahmu


Singgahi mimpi-mimpi


Selalu


Kau buatku


Luluh dengan kata-katamu


Semakin kuhindari


Semakin aku ingin bertemu


(Rossa, masih)


Siti menundukkan kepalanya saat lagu itu menggema di salah satu ruang perawat. Bagaimana tidak, Siti sudah berusaha menghindari Ilham. Tapi ada saja hal yang membuatnya bertemu kembali dengan Ilham.


Bagaimana bisa dirinya melupakan Ilham kalau terus bertemu.


Sedikit menghela nafasnya. Siti menatap pintu


lift yang tadi mempertemukan mereka lagi. Sejak Dua Minggu yang lalu. Sejak kejadian kecelakaan itu, siti sedikit melupakan sosok Ilham. Hari harinya di penuhi bersama Jonathan, membuat dirinya mencoba membuka hatinya pada Jo.


Tapi hari ini kegoyahan itu kembali terjadi


"Mungkin jalan terbaik adalah pindah rumah sakit."


Aku tidak tahu harus sembunyi dimana lagi. Aku sudah janji pada diriku sendiri, pada ibu, pada kak Jihan. Aku sudah janji pada mereka untuk tidak berurusan dengan Ilham lagi. Tapi kenapa? Kenapa keadaan semakin rumit? Ah, seandainya aku mendengar kata ibu untuk pulang dan berobat di Jambi. seandainya aku tidak menuruti kemauan kak Jo yang ingin aku berobat di Jakarta.


Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kak Jihan yang sudah seperti kakakku sendiri. Sekarang sudah seperti orang lain. Seandainya aku tidak backstreet dibelakang kak jihan, mungkin saat ini hubungan kami masih baik.


Ya, tuhan. Aku harus bagaimana sekarang! rasanya sesak sekali setiap bertemu dengannya.

__ADS_1


Ya, solusi terbaik aku harus pulang ke Jambi.


Aku harus bilang ke kak Jo, untuk pulang ke Jambi.


Siti menggeret kursi rodanya sendirian. Mbak Susi asisten yang di daulat Alam untuk mengurusi adiknya. Sampai saat ini belum juga menyusulnya. Padahal tadi dia bilang ke toiletnya.


Saat Siti sedang sibuk dengan gawainya ada seorang suster mendekati dirinya. Wajah suster itu terlihat ketus padanya. Siti tetap membalas senyuman, walaupun yang di senyumi tetap ketus padanya.


"Kamu bukannya mantan dokter ilham yang OB itu ya." ucap salah satu perawat di RS kasih bunda.


Siti hanya mengangguk. Banyak yang mengenal dirinya di RS itu, tapi banyak yang julid dengan dirinya saat itu. Termasuk Nita, resepsionis rumah sakit yang katanya mendukung hubungan Ilham dan Gita. Siti hanya bisa menelan salivanya, karena nyinyiran para perawat disana.


"Ngapain kesini lagi? Pak Ilham sudah punya pengganti yang pasti levelnya setara. Mbak Jihan itu cantik, baik dan kaya. Cocok buat pak Ilham. Bangun mbak! Jangan mimpi ketinggian!" omel perawat tersebut.


"Saya kesini berobat mbak. Bukan cari pak Ilham. Lagian urusan mbak apa, ya?" balas Siti yang kesal dengan ucapan perawat tersebut.


"Berobat apa modus!" perawat itu berlalu sambil cekikikan bersama teman-temannya.


Siti hanya diam saja. Tadi barusan Ilham membantunya keluar dari lift lalu berlalu begitu saja. Siti paham mungkin Ilham sedang banyak pasien. Masih untung Ilham mau mengantar Siti sampai depan ruang praktek dokter Nanda.


Siti terkejut saat Mbak Susi menepuk pundaknya, mbak susi minta maaf karena meninggalkan Siti sendirian.


"Maaf mbak, aku tadi ke WC dulu. Kebelet soalnya eh malah bab. Maaf mbak, mohon jangan diaduin sama mas Alam."


"Nggak papa, mbak. Untung ada yang nolong tadi."


"Masih antri ya, mbak" Siti mengangguk. Lalu kembali fokus ke gawainya. Entah kenapa dia merasa bosan dengan antriannya.


"Mbak aku lapar. Kita turun ke bawah, ya." Susi langsung membawa Siti ke lift.


Apakah hina seorang OB seperti aku? Apakah hina sekali kalau aku mempunyai hubungan dengan seorang lelaki. Kenapa semua orang memandang rendah? Padahal dimata Tuhan kita semua sama.


✉️ Kak Jo


Sayang maaf, aku tidak jadi menyusul. Soalnya ada kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Kamu naik grab aja, ya.


✉️ Siti sayangku


Iya kak Jo. Nggak papa. Jangan diforsir kerjanya.


Nasi uduknya enak nggak?


✉️ kak Jo


Enak dong siapa dulu yang masak. Kalau kita nikah nanti aku bakal betah makan di rumah.

__ADS_1


Tak terasa sudah sampai di lantai bawah. Siti menunjuk pada mbak Susi tempat soto langganannya.


"Pak saya pesan Soto nya dua pake nasi di taburi bawang goreng. Plus kerupuk empingnya." Siti memesan makanan.


Siti memakan dengan lahap. Karena inilah yang bisa dia lampiaskan atas semua yang terjadi barusan. Mbak Susi mewanti-wanti Siti agar pelan-pelan, sampai Siti tiba-tiba tersedak. Ada yang menepuk punggungnya. Lalu memberikan minuman. Tanpa menatap Siti mencomot minuman.


"Makasih" Jawabnya tak menoleh siapa pemberi minuman.


Siti pun tidak peduli siapapun itu. Tak lama dia bersendawa, menandakan dirinya sudah terlalu kenyang. Bukan hanya kenyang dengan yang dimakan, tapi kenyang dengan nyinyiran orang.


"Mbak kita ke kantor kak Jo aja." Siti menggeser kursi rodanya. Lalu memutar melihat siapa yang tadi menolongnya, tapi orang itu sudah tidak ada.


"Mbak lihat yang kasih aku minuman. Aku belum berterimakasih sama dia."


Mbak Susi tersenyum "Ada tadi mbak, ganteng kayak bule, mas Jo kalah ma dia." ucap Mbak Susi senyum-senyum sendiri.


Siti menggaruk kepalanya. Dia malas menebak siapa yang dimaksud mbak Susi. Tapi sempat terbersit kalau orang itu adalah Ilham. lagi-lagi dia mengenyampingkan pikirannya.


klik


Siti dan mbak Susi masuk ke kantor Jonathan. Saat berjalan bisik-bisik menyakitkan kembali terdengar. Siti mencoba diam, ingin rasanya dirinya melabrak mereka.


Kepalanya terus menunduk


"Oooo jadi itu calonnya pak Nathan. Biasa aja sih, nggak cantik amat. Masih cantik saya daripada tuh cewek."


"Katanya dari desa, ya. huuuu!!! paling juga mau duitnya keluarga Hermawan. Kebanyakan sih seperti itu. Udah kebaca tabiatnya."


Siti terus menunduk saat mendengar celotehan para karyawan. Mbak Susi terus menghibur Siti.


"Mbak apa orang miskin seperti aku nggak boleh jatuh cinta ya? Apakah aku nggak pantas sama lelaki yang diatas kita."


Mbak Susi jongkok didepan Siti lalu memegang tangan Siti.


"Mbak Siti, cinta itu tidak mengenal kasta. cinta itu datangnya dari hati, jika ada cinta yang berdasarkan paras dan materi, itu bukan cinta namanya tapi obsesi.


Mbak Siti orang baik. Orang baik pasti dapat pasangan yang baik juga seperti mas Jo. jangan dengarkan apa kata orang. Karena yang punya rasa itu kita sendiri, bukan orang lain. Percaya sama saya mbak, mbak Siti dan mas Jo pasti bahagia."


apakah benar yang dikatakan mbak Susi? Tapi kenapa aku masih meragukan kak Jo. Bukan ragu sama kak Jo melainkan sama mama Linda. Entah kenapa aku ngerasa ada yang aneh sama beliau.


Kalian percaya cinta sejati itu ada?


Yuk bantu Siti menemukan cinta sejatinya


...####...


Bersambung,

__ADS_1


__ADS_2