
"Dokter mau pulang ke indonesia?" Mauren duduk disamping Ilham yang hendak menemui dokter Belt. Dokter Belt adalah pemimpin rumah sakit tempat dia bekerja saat ini.
Setelah kejadian tadi yang menyinggung perasaan istrinya. Ilham mulai berpikir, apakah dia harus kembali mempertaruhkan kariernya demi rumah tangganya atau dia tetap mempertahankan egonya demi karirnya. Sungguh berat memilih salah satunya. Tapi harus ada yang mengalah, pilihan Ilham jatuh pada keluarganya. Rezeki bisa dicari tapi dia tidak mau kehilangan kebahagiaannya yaitu anak dan istrinya.
"Iya, dok. Saya mau pindah ke indonesia. Istri saya sedang hamil. Dia bilang mau melahirkan di dekat keluarganya. Makanya dari sekarang saya bersiap-siap untuk memboyong anak dan istri saya pulang ke Jakarta." jelas Ilham.
Beberapa dokter yang mengetahui rencana resign Ilham mendatangi ruang kerjanya. Hubungan kerja yang terjalin selama 3 tahun, sudah menjadi keluarga bagi Ilham. Dirumah sakit itu tidak ada persaingan, yang ada hubungan kerja saling membantu.
Setelah tujuh tahun aku menimba ilmu di Belanda. Memboyong istri dan anak-anakkku kesini, hingga lahirlah Zalika di negara ini. Aku rasa sudah saatnya memenuhi keinginan Siti yang ingin hamil dan melahirkan di tengah keluarga besarnya. Ya, walaupun itu keinginan Siti saat hamil Zalika dulu.
Aku juga rindu rumah, rindu semuanya yang dijakarta.
Kejadian tadi membuat aku tersadar bahwa aku terlalu mementingkan pekerjaan. Aku lupa bahwa dalam kehidupan rumah tangga ada masa memberi dan menerima. Dimana Siti tadi menuduhku egois. Mungkin iya kedengarannya egois. Tapi kan tugas istri adalah dirumah. Bukannya aku mengekang, tapi selama aku mampu menghidupi mereka buat apa istri ikut bekerja.
Soal Mauren? Aku rasa itu hanya kecemburuan Siti semata. Karena memang tak ada hubungan apapun antara aku dan Dokter Mauren. Menurutku sikap Mauren kepadaku juga sama yang dia lakukan ke dokter yang lain.
Hari ini aku memberanikan diri menemui kepala rumah sakit untuk mengajukan resign. Tiga tahun aku bekerja disini, mereka sudah seperti keluarga sendiri. Sama seperti keluarga rumah sakit Kasih Bunda. Aku jadi rindu sama mereka.
Kalau urusanku cepat selesai besok aku langsung memboyong mereka pulang ke jakarta.
"Dokter benar mau pulang ke indonesia?" Ucap dokter Belt selaku Kepala Rumah Sakit.
"Iya, dok." Ucap Ilham dengan mantap.
Dokter Belt hanya menatap senyum pada Ilham. Menurutnya Ilham sangat dibutuhkan tenaganya dirumah sakit itu.
"Oke, Dok. Kalau itu sudah keputusan anda, saya hargai. Terimakasih sudah mendedikasi diri dirumah sakit ini." Dokter Belt menjabat tangan Ilham.
Dengan semangat Ilham kembali ke ruang kerjanya. Membereskan barang-barangnya sekaligus berpamitan dengan staf rumah sakit. Bayangan reaksi istrinya ketika mengabarkan berita ini terus menanari di pikirannya.
Siti berita ini akan jadi hadiah anniversary pernikahan kita.
Setelah pamit, Ilham pun berangkat pulang kerumah. Jarak rumah dan tempat kerjanya memakan waktu sekitar satu jam lebih. Dengan semangat Ilham melajukan mobilnya lalu memarkirkan mobilnya disebuah toko bakery.
Membeli kue cheese kesukaan Daffa dan Zalika, Kue Brownies untuk si Sulung Dita dan tentu saja kue untuk Anniversary pernikahannya dengan Siti yang ke 7.
"Papa pulang ... Assamualaikum ..." Ilham menyahut didepan pintu.
"Siti.. Buka pintunya dong sayang." Ilham terus mengetuk pintu rumahnya. Tetap saja tak ada sahutan.
Ilham mencoba menghubungi Siti tapi tidak diangkat. Terbayang dipikirannya terjadi sesuatu pada istrinya, Ilham mendobrak pintu dengan keras.
Pada akhirnya pintu terbuka dan Ilham mencari keberadaan Siti dan ketiga anaknya.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat melihat sebuah surat dan sebuah photo. Lama Ilham memahami apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa istrinya pergi bersama anak- anaknya. Hingga akhirnya memandang sebuah photo, dimana photo itu memperlihatkan dia tertidur dibahu seorang wanita.
Dibelakang photo itu tertulis "Aku mencintaimu".
Apa ini perbuatan Mauren?Ya Allah bodohnya aku tidak peka akan hal ini.
Siti maafkan aku.
Kamu dimana, sayang.
Ya Allah, ujian apalagi ini.
Ilham syok. Dia baru menyadari terkait omongan Siti yang menuduhnya punya hubungan dengan Mauren. Ilham juga baru tahu kalau Mauren punya perasaan padanya.
Klik.
Bandara Internasional Sciphol
Siti duduk dan ketiga pasukan ciliknya memilih duduk di dekat loket antrian tiket. Dia menatap Zalika yang cemberut sepanjang perjalanan dari rumah menuju Bandara. Tangannya membelai rambut Zalika dengan penuh kasih sayang. Tapi ditepis keras oleh gadis 4 tahun itu.
"Sayang?"
"Pokoknya Zalika tidak mau ikut kalau papa tidak ikut!" Ucap Zalika sambil membuang mukanya.
"Kan mama bisa bawa papa biar nggak ketemu sama tante itu." Dita ikut menyambung pembicaraan Siti.
Dita tahu mamanya marah saat ada yang mengirim photo papanya. Tapi Dita yakin papanya tidak seperti yang dituduhkan. Dita juga paham kalau mamanya memang over jealous. Apalagi kalau yang ramah sama papanya lebih cantik.
Ting ..
Dita merogoh kantong tas selempangnya. Merasa gawainya bergetar.
💌 Papa
Kamu dimana, nak?
💌 Dita
Dibandara, pa. Mama mengajak kami pulang kerumah Oma.
💌 Papa
Jangan kemana-mana. Tunggu papa, ngerti!
__ADS_1
💌 Dita
Oke, Pa.
Selang satu jam pada akhirnya Siti berjalan ke loket untuk Check in tiket.
"Pak, tiket ke Jakarta untuk lima orang. Dua. dewasa dan tiga anak." Siti kaget dengan suara dibelakangnya.
"Nggak usah segitunya ngeliat aku." Ucapnya sambil mengedipkan matanya.
Tanpa basa basi Ilham merangkul bahu istrinya. Siti yang tadinya mau marah pada Ilham seakan terkunci.
"Ti, maafkan aku. Aku tahu ini kesalahanku. Jika ada yang tidak kau sukai tolong katakan, jangan main kabur terus. Kasihan anak-anak." Ilham memegang kedua tangan istrinya.
"Ti."
Siti membuang muka. Ada rasa sesak menyeka dalam hatinya. Lintasan photo yang dikirim Mauren menari-nari dalam ingatannya. Tangannya yang digenggam Ilham pelan-pelan dilepaskannya.
"Ma, maafin papa. Kata guru sekolahku kalau orang sudah minta maaf harus dimaafin. Dosa nanti, ma."
Ucap Dita melihat mamanya masih ngambek.
"Pa, mana lolipopnya." Ucap Zalika.
"Untuk apa?"
"Biar mama nggak ngambek lagi atau papa belikan coklat sama mama." usul Zalika lagi.
"Ini yang mau mama apa Zalika?"
"Ya kan kalau mama nggak mau kan bisa buat aku, pa."
Ilham mencubit hidung putri bungsunya "Zalika lupa kemarin giginya dicabut." Ilham mengingatkan kalau sebelumnya gigi putri bungsunya sudah dicabut akibat sering makan manis.
Klik
Jihan duduk merenung disebuah taman. Memikirkan nasib pernikahannya dengan Akbar. Mengingat Akbar masih perhatian pada mantan istrinya. Ditambah keluarga senang, saat mendengar Siti hamil dan akan pindah ke Jakarta.
"Jihan" Suara bariton menyapanya.
Dengan cepat Jihan menoleh kearah sosok dibelakangnya. Matanya membulat melihat siapa yang didepan.
"Ra.. Rangga!"
__ADS_1