Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
21. Dua puluh satu


__ADS_3

Flashback on


"Siti apa kau mencintaiku?"


Siti menaikkan alis matanya. Seperti mendapat pertanyaan rumit, tapi gampang di jawab.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu meragukan aku ya, ham?" ucap Siti sambil menyiapkan masakan di dapur kediaman Ilham.


"Ragu sih tidak, tapi aku butuh pembuktian."


Siti tertawa mendengar permintaan Ilham. Baginya dengan sikap romantis Ilham selama ini sudah menjadi pembuktian cinta mereka.


Siti sedang memotong bawang merasa sangat pedih. Air matanya terus membasahi, Ilham mengira Siti sedang menangis.


"Kamu nangis, ti?" Ilham mengambil tisu untuk menghapus wajah Siti yang sembab.


"Bawang ... bawang ..." Siti mengibaskan matanya yang kepedihan.


"Kamu mau aku ambilkan bawang, mau yang putih apa merah." Ilham memeriksa bumbu dapur di rak dekat kompor.


"Pedih...pedih ..." Siti masih merasa efek bawang masih terasa perih dimatanya.


Dengan sigap Ilham meniup mata Siti, pelan-pelan tapi sangat terasa. Bukan hanya matanya saja yang terasa, tapi jantung Siti berasa berdetak kencang.


"Kamu mau bukti kalau aku sangat mencintaimu, Siti" Ilham menyenderkan tubuh siti didepan kulkas. Siti tahu apa yang ingin ilham lakukan, dengan cepat Siti menghindar.


"Kamu ingin bukti kan, ham. Kalau kamu serius temui orangtuaku. Atau sebagai perantara kamu minta restu sama kak Alam. Berani nggak!" tantang Siti.


Siti tahu kalau Ilham dan Alam sampai sekarang belum akur. walaupun keduanya sudah tahu kalau mereka kakak adik.


"Oke siapa takut! Jangankan dengan alam, di suruh nikah besok pun aku mau?" Ilham melingkar tangannya ke pinggang Siti. "Apapun itu, asalkan bersamamu. Kamu tahu kalau semangat hidupku ada padamu. Jika wanita itu bukan kamu entah apa jadinya."


"Gombal!" Siti menimpuk kepala Ilham dengan spatula.


"Ehmmm!!! ingat cctv!" Mama Mila nimbrung saat melihat kemesraan keduanya.


"Nah tuh! ingat! ada cctv. Ilham bandel tuh Tante." adu Siti.


"Mau diapain Ilhamnya?" Hasut Mama Mila. calon mertua dan menantu itu tersenyum nakal.


"Kalian mau kemana?" tanya Ilham melihat Siti dan mama Mila hendak berpergian.


"Mama dan Siti mau shopping. Kamu jaga rumah, selesaikan iris bawangnya tadi." mama menarik Siti keluar bersama ke mall.


"Ilham antar ya?" Ilham menyodorkan diri agar terhindar hukuman. Tapi ternyata mama dan Siti sudah di grab. Ilham mencari kunci mobilnya tidak ketemu.

__ADS_1


Mama Mila dan Siti sebenarnya bukan ke mall melainkan ke cafe yang sedang naik daun. Mama Ingin mendekatkan diri dengan gadis pilihan putranya.


"Ti."


"Iya, Tante."


"Kamu serius dengan Ilham? Maaf dengan pertanyaan saya ini, saya takut ilham kecewa lagi. Kamu tahu kan Ilham dan Gita sudah beberapa kali gagal menikah. Ilham sampai saat ini belum juga melupakan Gita. Tante mohon sama kamu nak. Tolong jangan tinggalkan Ilham. Tante cuma ingin anak Tante bahagia.


Sejak sama kamu,ti. Ilham banyak berubah menjadi lebih baik. Tante berharap sekali sama kamu Siti. Mulai sekarang jangan panggil saya Tante, panggil saya mama Mila." Siti dan Mama Mila berpelukan. Siti seperti mendapat ibu kedua setelah ibunya di kampung.


"Hmmmm... Tante .. eh mama, kalau Ilham nyusul kita gimana." Siti takut kalau Ilham mencari ke mall padahal lagi makan di cafe


dekat rumah.


Mama Mila menggoyangkan sebuah benda yang menurutnya Ilham tidak akan bisa kemana-mana. Mereka tertawa membayangkan Ilham akan kelimpungan mencari kunci mobil.


Flashback Off


Siti masih termenung mengenang masa indahnya bersama Ilham. Deburan ombak yang mengenai tubuhnya tidak dia pedulikan. Tatapannya kosong menatap ke laut.


"Sayang, kita pulang yuk!" ucap Jo yang khawatir melihat Siti cuma terdiam.


Hari ini Siti pulang dari rumah sakit. Di temani Jonathan, Jihan dan Ilham. Siti merengek ingin ke pantai sebelum pulang. Akhirnya Jo mengalah menemani sang kekasih ke pantai.


Jo sempat mendengar keterangan dari dokter kalau Siti bukan hanya sakit fisik, tapi ada psikisnya yang mulai bermasalah. Siti perlu hiburan untuk menenangkan hati dan pikirannya.


bagaimana bisa aku membuat Siti tenang kalau dia bertemu dengan Ilham. Bagaimana bisa aku menyembuhkan luka hati Siti kalau terus bertemu Ilham.


Cuma satu caranya yaitu membawa Siti pulang ke Jambi. Oke besok kita pulang, ti. Aku tidak mau kamu makin terluka jika terus menerus bertemu Ilham.


Jo menemani duduk di pasir pantai yang basah. Tangan Siti menggenggam erat, kepalanya menyender di bahu. Saat ini yang Siti butuhkan adalah sosok yang menjadi sandaran.


Tak lama Siti tertidur di bahu Jo. Dengan sigap Jo meletakkan Siti di dalam mobil.


"Yuk pulang! Siti sudah tidur." ajak Jo pada Jihan dan Ilham. Jo menatap tangan Jihan yang menggelayut di tangan Ilham.


klik


Pagi ini kediaman Jihan kedatangan mama Jonathan. Tante Kiki, mama Jihan senang sekali saat kedatangan tamu agung di rumahnya.


Siapa yang tidak kenal keluarga Hermawan yang terkenal kaya raya. Bahkan kekayaannya diatas keluarga Spencer.


Keluarga Hermawan juga terkenal arogan. Dia tidak pandang bulu kalau soal lawan. Termasuk menyingkirkan orang tidak disukainya meskipun orang itu kalangan bawah.


Tante Kiki menyambut dengan manis kedatangan mama Jonathan. Mama Jo di jamu dengan istimewa.

__ADS_1


"Jeng, kesini ada urusan apa?" tanya Tante Kiki dengan ke kepoannya.


"Saya kesini mau ketemu calon menantu saya." ucap Mama jo.


"Calon menantu? Maksudnya anak saya. Ya, ampun jeng kok Jihan nggak cerita ya soalnya.."


"Disini ada yang namanya Siti?"


"A ... a ..ada. Sebentar saya panggilkan. Siti! ada yang mencari nih." panggil Tante Kiki.


"Heran, masa anaknya Hermawan mau sih sama Siti. Gadis kampung gitu!" umpat Tante Kiki dalam hati.


Siti muncul dengan balutan dress Sabrina. Sejak tinggal di rumah Jihan Siti banyak dapat baju di belikan Jihan. Walaupun terkadang Tante Kiki sering ngomel ke Jihan karena terlalu baik pada Siti.


Siti menyalami tangan mamanya Jo. Lalu duduk mengobrol santai dengan calon mertuanya itu.


"Ti. Kamu mau menemani saya jalan-jalan di luar." ajak mama Jo


"Kemana, Bu?"


"Jangan panggil saya ibu, panggil saya mama Linda."


"Ibu .. eh mama Linda. Kita mau kemana?" Siti kembali bertanya pada mama Linda.


"Sudah, kamu ikut saja. Nggak usah ganti baju. Ini sudah cantik kok." kata mama Linda menarik Siti masuk ke mobil.


Mama Linda ternyata baik juga. Aku pikir dia orangnya sombong seperti yang dibilang kak Jihan. Terimakasih mama Linda sudah menerimaku yang miskin ini. Semoga ini adalah awal buat aku dan kak Jo.


Siti terkejut saat mobil mereka berhenti di suatu tempat yang tidak asing baginya. Mama Linda menatap Siti memberikan sebuah amplop kuning dan sebuah tiket.


Kemana mama Linda mengantarkan Siti?


Apa isi amplop kuning tersebut?


...####...


Bersambung


Pagi-pagi sudah up ya


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan


Tetap pantengin cerita ini


Saya masih menerima saran dan kritik yang membangun untuk cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2