
"Mas, tolong katakan yang sebenarnya! dimana kamu sembunyi anak kita!"
Papa Adolf yang sedang memeriksa email menghentikan aktivitasnya. Lama dirinya menatap sang istri yang masih menangis. Sudah tiga hari Siti hilang tanpa kabar, membuat semua yang dikeluarga kalang kabut, kecuali papa Adolf. Dia terlihat lebih santai, entah kenapa dia tidak terlihat khawatir seperti yang lainnya.
"Kamu tenang saja, dia di tempat yang aman, sayang. Aku cuma mau mingit dia sebelum pernikahannya minggu besok." ucap Adolf sambil memeluk sang istri.
"Mas, tega! mas jadikan anak kita untuk pernikahan bisnismu. Jahat kamu, mas!" pekik Fatimah.
"Sayang, ini untuk kebaikan Tiara. Kamu mau punya menantu seperti Rama, yang pernah melakukan asusila ke wanita lain."
"Rama, itu bukan pelaku asusila, Adolf."
Ibu langsung menengahi pembicaraan mereka di ruang tamu. Ibu sudah habis kesabaran melihat cara Adolf memperlakukan sang putri.
"Dia dijebak saat itu. Tiara juga tahu kasus itu, dulu dia dipenjara karena menghajar seorang lelaki mengganggu kekasihnya, Tiara juga tahu itu karena berada dilokasi kejadian." jelas Aisyah.
"Mas, dengarkan! Turunkan egomu!"
Adolf cuma hanya bisa diam. Pilihannya tetap zack, seorang lelaki mapan, tampan, pokoknya lebih segalanya dari ilham. Apalagi dulu dia sudah terlanjur berjanji pada keluarga william untuk menjodohkan putrinya dengan zack.
"Mas! kalau kamu masih seperti ini, lebih baik kita pisah!" Ancam Fatimah.
Ibu menggelengkan kepala melihat kekerasan hati Adolf. Dengan penuh emosi dia mendekati lelaki yang berstatus adik iparnya.
Plaaakk
Sebuah tamparan mendarat di wajah Adolf. Dengan berani ibu meluapkan perasaannya pada lelaki itu.
"Siapa kamu yang berhak mengatur kehidupan anakku?
Siapa kamu yang berhak mencarikan jodoh anakku?
Kamu bukan siapa-siapanya Tiara, Adolf. Kalian berdua tiba-tiba muncul dikehidupan kami! Mengaku sebagai orangtua."
"kak"
"Orangtua macam apa, yang membuang anaknya hanya karena gendernya tak sesuai keinginan.Emangnya kalian Tuhan! yang bisa menentukan seperti apa yang kalian inginkan.
Aku yang membesarkannya, mendidiknya, menyayanginya, Bukan kalian!
Kalian tiba-tiba datang ke kehidupan kami! Mengaku sebagai orangtuanya, padahal kalianlah yang sudah membuangnya. Mau kalian apa!"
"Maaf, kak!" Adolf hanya bisa menunduk mendengar amukan kakak iparnya.
__ADS_1
Adolf sadar dulu adalah keegoisannya karena menganggap anak lelaki yang harus diutamakan. Dulu, keluarganya pun mempunyai pedoman yang seperti. Sepupunya yang adalah raja Brunei pun bangga mempunyai dua anak laki-laki salah satunya Mateen.
Karena kebiasaan keluarganya yang seperti itulah Adolf menceraikan istri pertamanya. Sang istri pertama diketahui hamil anak perempuan. Membuat lelaki itu murka, hingga menalak sang istri yang sudah hamil besar. Tapi Adolf tidak lepas tangan, dia tetap membiayai sang istri hingga melahirkan. Sang putri pun lahir, namun tak lama meninggal dunia.
Setelah satu tahun menduda, Adolf bertemu Fatimah yang saat itu adalah asisten rumah tangga. Fatimah bekerja di kediaman kerabat Adolf, mereka dekat dan akhirnya menikah.
Sama seperti pernikahan sebelumnya, Adolf juga menekankan pada Fatimah kalau dia mau anak laki-laki. Keinginannya tidak bisa diubah dengan alasan apapun.
Saat Fatimah tahu anak mereka perempuan. Fatimah memilih pulang ke indonesia, dengan dalih ingin dekat dengan keluarga. Tanpa curiga Adolf menuruti keinginan istrinya.
Saat itu, Aisyah masih hamil 8 bulan. Sedangkan Fatimah hanya menunggu waktu saja. Saat melahirkan,Fatimah tanpa didampingi suaminya.
Tepat usia Tiara satu bulan, Ibu Aisyah tiba- tiba melahirkan semua sigap membantu persalinan Aisyah. Termasuk mantan suami Aisyah, jamil namanya.
Sebenarnya Jamil masih sah suami Aisyah, tapi saat Aisyah menyusulnya ke jakarta Jamil malah menikah lagi dengan perempuan lain. Aisyah syok, ditambah sang putri sulung hilang saat mereka baru sampai diterminal.
Persis dengan kejadian yang dia lihat saat ilham menikahi Gita. Semenjak itu Ibu Aisyah tidak menyukai Ilham. Karena dia pun pernah mengalami hal yang sama seperti Raisa.
Kembali ke kisah Tiara, Saat Adolf tiba ke indonesia. Dia mendapati kabar bahwa sang anak sudah meninggal dunia. Tanpa diketahui Adolf dan Aisyah, kalau Fatimah mengganti nisan anak Aisyah dengan bin suaminya.
Saat itu Aisyah tak tahu kalau bayinya laki-laki yang dia tahu dari Fatimah anaknya perempuan. Aisyah menamai sang putri Siti Marlina. Sama dengan namanya Siti Aisyah. Siti tumbuh menjadi anak yang kuat meskipun selalu dibully karena tak punya ayah.
Kembali ke masa sekarang, dimana Aisyah masih mempertanyakan kenapa mereka kembali. Setelah kedua suami istri tersebut membuang Siti. Aisyah juga kecewa dengan tindakan Adolf yang melakukan sesuatu tanpa bicara.
"Tolong kembalikan anakku, Adolf." Ibu Aisyah dan Fatimah bersujud dikaki lelaki itu.
"Tiara di vila kita di sukabumi. Sengaja kupingit karena ada seseorang yang akan meminangnya. Aku dan keluarga laki-laki itu sudah sepakat akan hal ini. Tolong restui rencana ini."
"Siapa lelaki itu?"
Adolf membisikkan sesuatu ke telinga keduanya. Sesaat kedua wanita tersebut tersenyum ketika mendengar rencana Adolf.
klik
Dikediaman Alex
Jihan duduk nonton tv dikamar, dikejutkan dengan kedatangan Clara yang super heboh. Clara, sahabat jihan sejak masa SMA datang membawa beberapa makanan seperti pizza, donat dan beberapa cemilan.
"Nih, aku bawain beberapa film korea." Clara menyodorkan beberapa kaset.
"Ini bukan film Clara, ini mah drakor." protes Jihan.
"Sama aja, yang penting ada koreanya. Buat ngehibur nona Jihan yang ditinggal nikah."
__ADS_1
"Eh, yang ada gue tambah newek, dodol!" Jihan menjitak jidat Clara.
"Makanya cari, nona Jihan! Umur lo udah mau uzur!"
"Enak aja bilang gue uzur!" Jihan langsung menimpuk clara dengan bantal.
"Eh, kamu jangan banyak gerak. Tuh, perut ntar koyak lagi. Gue yang berabe!"
"Lo sahabat gue, gue sakit lo juga sakit, lo senang lo juga seneng. By the way, gimana hubungan lo sama suami,lo. Nggak jadi cerai kan?"
Clara nyengir saat mendengar ocehan jihan. Tak lama mama kiki masuk.
"Eh, ada clara? Kapan datang?"
"Baru aja, tante. Oh, ya tante ini ada oleh-oleh dari mama, kemarin mama baru pulang dari padang." Clara menyerahkan satu kantong tas berisi beberapa makanan.
"Wah, makasih ya Clara." mama kiki mengambil oleh-oleh lalu keluar kamar lagi.
"Jihan, ini ada kiriman coklat buat kamu." Mama menyerahkan pada jihan.
"Dari siapa, ma?"
"Dari Jonathan."
"Romantis juga si gondrong, ya?" Celetuk clara.
"Dia udah nggak gondrong lagi." protes Jihan.
"Ciyee dibela." Goda Clara mengambil coklat pemberian Jonathan.
"Pesan gue satu, nona Jihan. Hati-hati! Jangan gampangan!"
...#####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung