
Langit sudah mulai menampakkan sinar jingga. Matahari pun sudah mulai bersembunyi berganti tugas dengan sang penerang malam. Udara kota jakarta yang panas berganti menjadi sejuk bergulir peralihan waktu. Angin bertiup pelan membuat sebagian daun-daun bergoyang.
Tapi tidak bagi Akbar, peralihan waktu tak membuat dirinya mencoba beranjak. Sejak pertengahan acara hingga acara sudah mulai bubar, dia tetap duduk di bangku bambu dekat pohon mangganya.
"Bang!" panggil Mayang saat melihat lelaki itu masih termenung di bawah pohon mangga.
Akbar menoleh kearah wanita muda yang duduk disampingnya. Lama dia menatap wajah Mayang hingga terbit ukiran manis diwajah lelaki itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Mayang
"Teringat dulu kamu masih kecil. Kamu suka mengadu pada abang kalau ada yang menjahili. Sekarang status kamu adalah seorang istri. Rasanya waktu begitu cepat, may." Kenang Akbar.
Mayang tersenyum simpul. Di tepuknya bahu lelaki itu lalu menggenggam erat kedua tangan kekar itu. Mereka kembali menatap langit yang sudah mulai gelap.
"Bang, masuk yuk sebentar lagi adzan magrib." Ajak Mayang.
"Bang, tadi kak Jihan menelpon." lapor Mayang.
"Kamu bilang kan seperti instruksi abang?"
Mayang menghela nafas "kenapa harus bohong sih? Kalau abang cinta sama dia, perjuangkan. Bukan dihindari."
Akbar hanya melengos pergi ke kamarnya. Meninggalkan sang adik yang masih bingung dengan pemikiran Abangnya. Sejak pulang tak pernah dia melihat abangnya murung seperti itu.
Flashback on
"Kenapa kamu tidak bisa menerima aku, han. Apa karena Rangga lebih kaya dari aku? aku sadar diri kalau aku bukan anak pengusaha." ucap Akbar saat mendapat penolakan dari Jihan.
Jihan menunduk. Dia juga suka sama Akbar, dimatanya Akbar itu lebih baik daripada ilham ataupun Rangga. Tapi dia juga sadar diri kalau Akbar harus mendapatkan wanita sempurna dan wanita itu bukan dirinya.
"Maaf, bar. Ini bukan masalah kaya atau bukan. Ini masalah hati, aku mulai suka sama rangga. Jadi aku mohon kamu tetap menjadi sahabatku tidak lebih dari itu." ucap Jihan sedikit berbohong pada lelaki itu.
Han, sejak kedekatan kita setelah pestanya non Tiara. Aku selalu ada untukmu walaupun aku yakin kamu ada rasa sama aku. Tapi, saat rasa ini semakin berkembang dan kamu malah memilih lelaki lain. Rasanya sakit, han. Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Maaf jihan, aku tidak bisa terus melanjutkan kedekatan ini.
"Han, aku pulang dulu, ya." Pamit Akbar meninggalkan rumah Jihan.
Jihan memeluk punggung Akbar "Maafkan aku, bar. Aku yakin kamu akan menemukan wanita yang bisa menerimamu apa adanya. Dan jika kamu menemukannya kenalin ke aku, ya."
__ADS_1
Akbar melepaskan tangan Jihan yang melingkar dipinggangnya. Kakinya melangkah pergi menjauhi wanita yang sudah mengisi relung hatinya dua bulan ini. Berharap wanita itu menahannya tapi ternyata tidak seperti harapannya.
Maafkan aku, bar. Sepertinya kita lebih baik seperti ini. Aku tak ingin merusak persahabatan yang sudah kita bina. Walaupun ada sedikit terisi untukmu. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.
Sejak saat itu, tak ada komunikasi lagi antara Akbar dan Jihan. Akbar pulang ke rumahnya saat mendengar kabar sang adik akan menikah dengan pujaan hatinya. Banyak para tetangga yang ingin mengenalkan putri mereka untuk Akbar. Tapi sepertinya lelaki itu belum tergerak mendekati wanita lain.
"Bang, maaf kalau aku melangkah abang." ucap Mayang sebelum akad nikah dimulai.
"Nggak papa, jodohmu lebih cepat sampai dari abang." Ucap Akbar sambil mengantar sang adik bungsu masuk ke ruang acara. Dimana penghulu dan calon suaminya sudah menunggu.
Akbar duduk disebelah penghulu karena dirinya yang akan menikahkan Mayang.
"Saudara Arif Rahman, saya nikahkan kamu dengan adik saya yang bernama Mayangsari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mayangsari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana, sah"
"Saaaaah."
"Ibu ... bapak ... aku sudah mengantarkan Mayang ke kehidupan barunya. Tugasku sudah selesai sebagai orangtua." Akbar menyeka air matanya saat melihat rona bahagia diwajah sang adik.
"Terus kita kapan?" seorang wanita tiba- tiba muncul disamping Akbar.
"Sari? Kamu kapan datang?" Akbar menyapa Sari
"Aku udah berbulan-bulan disini, bar. Kamu aja yang ngga pernah pulang padahal sama-sama dijakarta." Ucap Sari sambil mencubit manja lengan Akbar.
"Aaaauuuwww, sakit. Kamu tuh nggak berubah badan kecil tapi tangannya ganas." Akbar mengelus tangannya.
"Hahahahhaa ... aku pikir badan gede mu nggak mempan dengan rasa sakit." Goda Sari sambil menyenggol lengan Akbar.
Keduanya duduk diteras depan rumah Akbar. Sari adalah mantan pacar Akbar. Keduanya pacaran saat masih SMA, mereka pun pernah berjanji akan menikah selepas tamat SMA. Tapi sayangnya orangtua sari menentang keinginan mereka. Alasannya karena mereka masih muda untuk membina rumah tangga.
Hingga Sari disibukkan kuliah di universitas swasta di bandung. Akbar pun masuk akademi militer sesuai dengan cita-citanya. Mereka pun tidak pernah berkontak lagi. Akbar mendapat rekrutan dari sekolahnya untuk menjadi Bodyguard Adolf Ford.
"Kamu masih kerja di kantor Gunawan?"
__ADS_1
"Enggak, bar. Aku sudah dua bulan kerja di Parmalex"
Uhuuukk ... Uhuuukkk
"Parmalex?" Akbar kaget ternyata Sari kerja dikantor Jihan.
Sari mengangguk "Kenapa? ada yang kamu kenal disana?"
"Nggak ada" kilah Akbar.
Flashback Off
Saat berada dikamar, Akbar merebahkan tubuhnya dipembaringan. Seketika pikirannya melayang tentang pertemuannya dengan Sari, tapi disisi lain dia juga memikirkan perasaannya yang masih bersarang untuk Jihan.
Suara Adzan berkumandang menyerukan umatnya untuk melaksanakan sholat maghrib. Akbar melepas jasnya dan mengganti kemeja putihnya dengan kaos oblong polos. Harusnya dia langsung melaksanakan sholat, tapi karena tubuhnya berasa lengket dan gerah, maka dia memutuskan untuk mandi.
Sehabis mandi Akbar mengganti bajunya dengan koko lalu membentang sajadah. Akbar mulai khusyuk sholat mengadukan perasaannya pada yang maha kuasa. Dia meraih tasbihnya yang diletakkan di meja jatinya.
Selesai sholat Akbar membuka ponselnya. Benar kata Mayang, Jihan beberapa kali mencoba menghubunginya.
"Selamat ya, bar. Semoga kamu dan istrimu menjadi keluarga samawa. Kamu nggak mengundang aku sih. Bukannya kita sahabat. Pokoknya aku tunggu kamu mengenalkan istrimu padaku."
Akbar terdiam saat membaca pesan dari jihan. Ingin rasanya dia bilang yang sebenarnya, tapi gengsinya tertahan. Baginya, kalaupun dia jujur tetap tidak akan mengubah Jihan memilih Rangga.
...####...
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung
__ADS_1