
Suasana kompleks perumahan sekitar daerah ciracas sangat lengang. Beberapa waktu yang lalu sekitar komplek heboh satu keluarga terjangkit covid-19 dan dijemput oleh ambulans covid. Semenjak itu semua kegiatan di sekitar perumahan terhenti. Karena banyak yang tidak berani keluar rumah.
Tiara berdiri didepan pagar rumah menunggu abang sayur yang biasa mangkal. Tapi ternyata si abang tidak muncul.
"Dek Tiara ngapain depan pintu?" tanya bu Ida yang muncul diteras sambil menyiram bunga.
"Eh, bu Ida. Ini bu saya menunggu si abang sayur daritadi nggak kelihatan. Banyak belanjaan yang mau saya beli." Tiara membalas sapaan bu Ida.
"Percuma kamu menunggu. Nggak akan datang!"
"Kenapa, bu? si abang sakit? atau sudah nggak mangkal disini lagi?"
"Komplek kita sudah zona siaga gara-gara ada yang kena covid kemaren." Jelas bu Ida.
"Beneran, bu ada yang kena covid disini?" Seketika bulu kuduknya merinding saat mendengar berita itu. Penyakit yang satu ini memang tidak bisa disepelekan karena nyawa taruhannya.
Terbayang dibenaknya bagaimana suaminya menghadapi pasien covid dirumah sakit.
Ya, Allah lindungi suamiku dimanapun dia berada. Dia sedang berjuang menyelamatkan nyawa banyak orang. Jauhkanlah dia dari segala marabahaya, termasuk wabah ini.
Lindungi para dokter disana yang masih berjuang menyelamatkan banyak nyawa.
Hanya kepadamu aku meminta ya Allah.
Tiara masuk ke dalam rumah. Pagi sekali Mama dan Papa mertuanya berangkat ke cibubur karena oma drop lagi. Tiara pengen sekali ikut, tapi suaminya sejak semalam belum pulang. Dia takut kalau suaminya pulang tak ada orang dirumah.
Lagi-lagi aku sendirian dirumah.
Tiara menghubungi suaminya untuk meminta izin berkunjung ke apartemen orangtuanya. Rasa rindu pada keluarganya sudah lama dipendamnya. Sayangnya, lagi-lagi suaminya susah dihubungi. Rasa bosan mulai mendera, pada akhirnya dia nekat ke tempat kerja orangtuanya.
"Mau kemana, non?" tanya indro yang melihat menantu majikannya sudah rapi. Tiara berjalan kearah pagar menunggu grab yang akan menjemputnya.
"Mau ke tempat orangtuaku, mas indro. Kangen sama mereka." Ucapnya dengan ramah.
"Sendirian? non kan lagi hamil. Kata orangtua zaman dulu orang hamil muda nggak boleh keluyuran. Nggak bagus. Saya antar ya, non. Non, Tiara sudah kabari den Ilham belum?"
Tiara menghela nafas panjang. Dia sudah beberapa kali menghubungi suaminya tapi tidak diangkat.
"Maaf saya kesannya mengajari, non. Saya pernah jadi seorang suami dan saya juga seorang ayah, non. seorang istri itu harus nurut sama suami. Kalau suami bilang jangan ya harus dituruti. Apalagi non sekarang lagi hamil, den Ilham pasti nggak ngizinin non pergi sendirian." ucap Indro yang membuat Tiara terduduk seketika.
Ya, Allah apa aku salah kalau hanya ingin bertemu keluargaku. Aku rindu mereka, aku juga kesepian hanya dirumah saja. Memang surga istri di bawah kaki suami, tapi apa iya mau ketemu orangtua sendiri saja tidak boleh.
__ADS_1
Tak lama grab yang dipesan Tiara telah sampai. Karena merasa tak enak, Tiara tetap masuk kedalam mobil tersebut.
"Mas indro saya berangkat dulu. Kalau mas Ilham sudah pulang suruh jemput saya di apartemen." Pamitnya.
"Iya non, nanti saya sampaikan pada den Ilham. Hati-hati ya, non."
Maafkan aku, mas. Maafkan aku yang tidak menurutimu kali ini. Aku bosan dirumah terus. Aku butuh aktivitas diluar rumah. Lagian kamu juga sedari tadi tidak bisa dihubungi.
Tiara berdiri memasuki perusahaan milik Papanya. Ini pertamakalinya dia menginjak perusahaan milik papanya.
"Assalamualaikum, mbak?" Tanyanya pada resepsionis
"Iya, mbak ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu dengan tuan Adolf dan Ibu Fatimah. Apakah mereka ada diruangannya?" tanya Tiara pada resepsionis yang menggunakan hijab pink.
"Sudah ada janji belum?"
"Belum sih, mbak. Tapi bilang saja sama mereka kalau saya Tiara."
"Mbak dari perusahaan mana? Kalau belum ada janji saya tidak berani mempersilahkan anda masuk." Ucap resepsionis tersebut.
"Saya ini anaknya, Tiara Ford. Masa saya mau ketemu sama orangtua saya sendiri pake janji segala." Tiara mulai sedikit ngotot. Dia kesal hanya sekedar menanyakan apakah mama dan papanya ada dikantor saja ribetnya minta ampun.
"Non Tiara"
Tiara menoleh kearah suara yang memanggilnya. Ada rasa lega karena ada yang mengenalinya. Tiara berjalan menuju wanita itu, sementara wanita itu sepertinya siap memarahi resepsionis tersebut.
"Kamu tahu dia siapa?"
Resepsionis itu menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu siapa wanita itu, yang dia lakukan tadi hanya sebagai profesional kerja. Kepalanya terus menunduk saat dimarahi wanita yang status jabatannya diatas dirinya.
"Itu anak bos kita. Kalau saja bos tahu kamu bisa dipecat."
Mendengar kata pecat wanita resepsionis tadi langsung menegakkan kepala. Terbayang di wajahnya nasib kedua anaknya kalau dirinya benar-benar dipecat.
"Maaf, mbak. Saya nggak tahu kalau mbak Tiara anak pak Adolf. Saya minta maaf mbak. Tolong jangan pecat saya, saya janda mbak, anak saya masih kecil." mbak resepsionis bersujud dikaki Tiara.
Tiara hanya diam. Sebagai pengalihan suasana dia minta wanita mengantarkan ke ruangan papanya. Ada rasa bersalah karena sudah membuat staf papanya dimarahi. Tapi disisi lain dia juga merasa kesal karena si resepsionis sempat meremehkan dirinya. Seolah tidak percaya kalau dirinya anak bos.
Terbayang di ingatannya, saat ada yang menjelekkan dirinya sewaktu mendatangi kantor Jonathan. Lelaki itu datang membelanya tapi dengan seenaknya memecat karyawan itu.
__ADS_1
"Ti"
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Adolf yang mengenakan kemeja biru langit dan jas silver memasuki ruangannya. Adolf mendapati sang putri tengah mencoba kursi putarnya dengan riang. Seperti seorang anak yang mendapat mainan baru.
"Kursinya empuk, pah." Ucapnya riang saat sang papa mendekati dirinya.
"Anak papa apa kabar? Gimana dengan cucu papa? Ilham menjagamu apa tidak?" cerca Adolf sambil membelai rambut sang putri.
"Satu-satu pah, nanyanya. Aku bingung mau jawab yang mana?"
Tiara melanjutkan ucapannya."Alhamdulillah kabarku baik, papaku sayang. Cucu papa sehat wal afiat. Papa harusnya bangga punya menantu seperti Ilham. Dia siaga jadi suami. Bahkan waktu aku ngidam nggak mau sekamar sama dia, dia rela tidur didepan pintu jagain aku."
"Tiara, anak mama" Mama Fatimah datang saat mendengar sang putri datang kekantor. Mama Fatimah langsung memeluk, mengecup wajah putri yang dirindukannya.
"Tumben main ke kantor. Biasanya langsung ke apartemen."
"Aku kan belum pernah kesini, ma, pa. Ini aja ngandelin alamat di Maps. Aku pengen tahu seperti apa kantor milik orangtuaku."
" Wajib kamu tahu, nak. Sebentar lagi ruangan ini milik kamu, nak. Kamu yang akan menggantikan papa disini."
Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Mama, papa, tiara cuma tamat SMA. Tidak punya basic khusus buat menjadi direktur perusahaan ini. Cari oranglain saja yang lebih pantas, Ilham sedang mengajukan s2 di belanda. Otomatis aku pasti ikut kesana."
"Ma, pa, Tiara boleh minta sesuatu tidak?"
"Apa itu, nak?"
"Belikan ibu Aisyah rumah. Berikan modal usaha untuk bang edwar supaya tidak meninggalkan anak istrinya pergi ke tambang lagi. Mereka keluargaku, pa. Cuma itu permintaanku."
Tiara memandang kaca, mengingat bahwa keluarganya di sukasari yang mulai dilupakannya. Paling tidak sebagai wujud terimakasihnya karena ibu aisyah dan Edwar menerimanya sebagai keluarga.
####
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung