Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
46. Menjelang pernikahan (2)


__ADS_3

Di puskesmas Sukasari


Jo menatap pilu siti yang terbaring lemas. Tubuh gadis itu kembali berbalut infus dan beberapa jarum di tangannya. Ada rasa bersalah dalam dirinya, karena sejak kedatangannya di Sukasari Siti sudah mengalami banyak tekanan batin.


Maafkan aku, Siti. Maafkan keluargaku. Aku tidak menyangka bakal seperti ini.


Aku tidak menyangka mama bisa menghancurkan segalanya.


Aku pikir mama merestui kita, tapi ternyata kejadian kemarin membuka segalanya.


Aku tidak bisa melindungimu, Siti.


Tapi apapun itu, aku tetap akan menikahimu. Kita akan berjuang bersama, meraih restu mama dan papa.


Kamu sendiri yang bilang padaku, kalau kamu mau berjuang bersamaku. Aku mohon kamu bangun!


"Jo" Vika berdiri disamping Jonathan. Menguatkan lelaki yang pernah ada di hatinya. Vika merasa bersalah karena terjebak permainan Tante Linda. Toh, walaupun dia berjuang, Tante Linda tetap akan menjodohkan Jonathan dengan Jihan, bukan dengan dirinya.


"Rasanya sakit melihatnya berbaring disana, Vika." Jo terus meratapi semua yang sudah terjadi. Bulir air mata terus menetes. Dalam pelukan Vika, Jo terus menangis.


"Kamu harus, kuat. Luka sayatan di tangan Siti belum terlalu dalam, untung kita cepat menemukannya. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan selamat." Ucap Vika yang terus menguatkan Jonathan.


Dari jauh terlihat sepasang mata menatap Vika dan Jo. Mata itu menyiratkan kesedihan yang sama, seperti yang Jo rasakan.


Mata itu berasal dari mata seorang ibu. Seorang ibu yang anaknya nekat menyayat tangannya hanya karena gunjingan warga. Di tambah ibunya Jo datang membuat Siti tersudut.


Maafkan ibu, nak. Ibu tidak tahu kalau ternyata ibunya Jonathan sangat membencimu. Ibu cuma ingin kebahagiaanmu, nak. Bukan soal materi. Ibu tidak mau apa yang ibu alami dulu juga menimpamu.


Kamu tahu, nak. Ayahmu meninggalkan ibu yang saat itu sedang mengandungmu. Ayahmu lebih memilih menikahi mantan pacarnya tanpa menceraikan ibu terlebih dahulu.


Dan ayahmu pulang ke rumah bersama istri barunya. Sakit rasanya, nak. Ibu memilih pergi dari rumah.


Pada akhirnya ibu bertemu ayahnya Edwar, dia yang banyak membantu kebutuhan ibu. Walaupun beberapa kali dia mengajakku menikah. Tapi saat itu ibu masih berstatus istri ayahmu. Hingga saat kamu berusia dua tahun, ayahmu kembali datang dalam keadaan sakit-sakitan. Sebagai istri, ibu tetap merawatnya. Sampai akhirnya ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat ibu melihat Raisa melabrak Ilham di rumah sakit. Ibu seperti melihat masa lalu. Masa dimana ibu berada di posisi yang sama.


Masa dimana ibu diseret-seret oleh keluarga wanita itu.


Ibu takut kamu akan mengalami hal yang sama, nak. Salahkah ibu ingin melindungimu? salahkah ibu jika ini menyangkut kebaikanmu?


Ibu Aisyah menatap tubuh Siti yang dalam perawatan puskesmas. Berita percobaan bunuh diri Siti menjadi omongan warga. Padahal omongan mereka jugalah yang membuat Siti nekat.


"Rasain, Bu Aisyah! Serakah banget sih! anaknya di paksa nikah sama si gondrong."


"Iya, padahal Siti itu anak yang baik. Sayang keluarganya yang nggak baik. Ingat Edwar dulu pernah narkoba!"


"Kalian ngomong apa sih? Bu Aisyah itu baik, Siti yang mau nikah sama kak Jo. Bukan di paksa seperti yang kalian bilang." bela salah satu warga.


"Tapi ibunya Jo mau ngambil tanah desa kita. Katanya ibu buat mahar pernikahan Jo dan Siti. Kata ibunya Jo, itu atas permintaan Siti."


"Nggak mungkin! itu paling fitnah dari mereka! Jangan percaya! Siti nggak gitu!"


Flashback on


"Kami tidak mau pergi dari desa ini!" Teriak para warga.

__ADS_1


Beberapa hari ini, tersiar berita bahwa desa Sukasari akan di kosongkan. Banyak warga yang ingin tahu siapa yang ingin membeli tanah desa tersebut.


Kepala proyek di desa Sukasari, membeberkan bahwa akan ada penggusuran desa. Mereka memberikan jaminan kepada warga, akan memberikan uang pengganti.


"Saya akan memberikan uang jaminan pengganti kepada kalian. Jadi saat kalian pergi dari desa ini, tidak dengan tangan kosong." ucap kepala proyek utusan perusahaan Hermawan.


"Pokoknya kami tidak mau pergi dari sini! Walaupun kalian menyogok kami dengan uang jaminan ataupun pengganti. Ini tempat kelahiran kami!" teriak Edwar yang saat itu ikut berdemo.


Semua warga berkumpul dengan aspirasinya. Berharap mereka tidak akan diusir dari desa.


Karena mereka besar dan tumbuh di desa itu.


Termasuk Edwar dan teman-temannya. Edwar tidak tahu kalau yang ingin mengambil alih desa itu adalah calon mertua adiknya.


"Bu Aisyah! Bu Aisyah!" teriak salah satu warga


"iya, min. Ada apa?" ibu Aisyah langsung menyamperin Mimin yang menyusulnya ke kebun.


" Di balai ada demo!"


"Demo apa, min?"


"Demo tentang penggusuran desa. Katanya desa kita mau di jadikan mahar buat calon menantunya. Mau dibuat komplek perumahan elit."


"Astaghfirullah!"


"Yuk kita kesana, Bu. Edwar sudah disana menjadi penggalang demo." Ajak Mimin


Ibu Aisyah dengan cepat membersihkan diri. Lalu mengikuti jalannya Mimin. Ada perasaan cemas saat mendengar berita tersebut. Karena baru pertama kalinya ada orang yang ingin menggusur desa Sukasari.


Bersama dengan Siti dan anak-anak karang taruna. Jo mendatangi lokasi kejadian tersebut.


Jantung Jo berdetak kencang saat itu siapa yang hendak menggusur desa. Jo berdiri diantara para warga yang meminta hak mereka.


Salah satu pekerja proyek mengenali Jo sebagai putra atasan mereka. Petugas mendatangi Jo


"Mas, Jo kok disini?"


Jo masih berdiam diri menatap pekerja tersebut.


"Apa apaan ini!" Bentak Jonathan.


"Maaf, mas. Kami hanya menjalankan tugas."


"Tugas apa!"


"Kata ibu, desa ini mau dijadikan perumahan untuk di jadikan mahar buat non Siti."


"Kan sudah saya bilang! Rumah sakit yang di Sarolangun yang akan diubah nama menjadi nama Siti. Kenapa malah mengusik desa ini! Sekarang kalian bubar! Sebelum warga berpikiran yang aneh-aneh!"


Tak lama saat warga mulai membubarkan diri, Mama Linda muncul di tengah kerumunan warga. Berdiri dengan sombongnya, menatap para warga dengan remehnya.


Ibu yang ada di kerumunan kaget, karena mengenal wanita itu. Ya, ibu tahu kalau yang berdiri di tengah warga adalah calon besannya.


"Jo" panggil mama Linda

__ADS_1


Semua warga menatap kearah Jo dan Siti. Seakan mereka ingin tahu apa hubungan wanita itu dengan Jo ataupun Siti.


"Selamat siang semuanya. Saya Linda Hermawan, saya kesini atas permintaan anak saya, Jonathan Abraham Hermawan.


Dimana anak saya akan menikah dengan seorang gadis yang sangat dicintainya yaitu Siti.


Atas permintaan anak saya, saya selaku pemilik proyek perumahan ini, akan membeli desa ini untuk mahar pernikahan mereka.


Betulkan Siti?" mama Linda menatap Siti dengan senyum penuh arti.


"Jadi setelah resepsi mereka. Kalian semua angkat kaki dari desa ini."


"Mama! Jangan fitnah! Aku tidak pernah meminta desa ini sebagai mahar pernikahan."


"Semuanya tolong percaya sama saya! ini semua fitnah!" Jo mencoba meyakinkan warga.


Karena ini memang bukan rencananya.


Para warga menatap Siti dengan penuh amarah.


"Pengkhianat kamu Siti! Kamu menjual desa ini untuk kepentingamu sendiri!" teriak salah satu warga.


Edwar yang tadinya berkoar, perlahan berjalan mundur. Karena dia tahu sebentar lagi, warga akan menghajarnya.


"Kak Jo, bawa Siti pergi dari sini!" teriak Edwar.


Saat Jo berbalik, warga sudah mulai melempar kearah tubuh Siti. Jo menutup tubuh Siti, agar calon istrinya tidak terluka sedikitpun.


"Dasar keluarga matre!"


"Perempuan sundal!"


"Uuuuuhhh! nggak nyangka kamu Siti! Kamu di jual ibumu demi mendapat menantu kaya!"


Siti memegang telinganya. Suara suara sumbang warga terus mengalir di pikirannya.


Siti membanting semua barang-barang yang ada di sekitarnya.


Satu jam kemudian, Jo ingin menenangkan Siti yang sedari tadi mengamuk. Lama tak terdengar sahutan, entah feeling merasa tidak enak. Jo mendobrak pintu kamar Siti.


"Sitiiiii!!!!"


Tangan Siti memegang silet dengan darah yang masih segar.


PRAAAANGG.


Ilham yang saat itu sedang menyeduh kopi, gelas yang dipegangnya jatuh tiba-tiba. Entah kenapa pikirannya tidak enak. Apa akan terjadi sesuatu pada orang-orang terdekatnya.


Ada apa ini!


Firasat apa ini!


Ya Allah Lindungi mereka yang aku sayangi!


...####...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2