
"Dia itu pelakor. Menggoda suami saya dan menggoda tunangan anak saya. Kalian tahu, lelaki itu menghajar suami saya sampai kritis. Nah, kalau anak ibu atau suami ibu kenal sama dia, harus hati-hati. Sekarang saja dia mendekati keluarga kaya, yaitu keluarga Hermawan. Hati-hati ya sama perempuan yang bernama Siti Marlina."
Mama Kiki menutup video live streamingnya. Untuk menjelekkan Siti. Jika nama Siti jelek, keluarga Hermawan akan berpikir lagi untuk menjadikannya sebagai menantu.
Mama Kiki berharap hubungan Siti dan Jo kandas, sehingga bisa memasukkan jihan keluarga itu.
Wanita itu duduk sambil mengecek komentar-komentar pedas yang di tujukan ke Siti. Senyum mengembang di bibirnya menandakan kemenangan akan tiba.
Siti...Siti...kamu itu cuma cewek kampung yang bermimpi menjadi menantu konglomerat. Jangan harap,ya. Kamu tidak bisa mengalahkan putriku Jihan. Aku heran kenapa keluarga Hermawan mau saja menerima Siti sebagai menantunya. Padahal mereka itu sangat selektif.
Ah, bodo amat! Yang pasti sebentar lagi aku akan mempunyai besan konglomerat. Tapi, gimana dengan mbak Mila.
Hmmmm... nanti aku pikirkan. Sekarang aku harus mempersiapkan pertemuan antara Jihan dan anak keluarga Hermawan.
Mama Kiki langsung memencet gawainya, seperti akan menelpon seseorang. Sambil mengecek komentar nitizen tentang Siti. Senyumnya mengembangkan tatkala komentar yang memojokkan siti.
klik
Langit mulai nampak gelap. Sang fajar sudah bersembunyi di balik sang rembulan. Decitan jangkrik mulai terdengar. Pekikan cicak pun tidak mau ketinggalan. Siti duduk di dapur sambil termenung. Mengingat kejadian hari ini yang penuh kejutan.
Tadi saat Siti sampai di kantor Jo tadi siang, dia tidak menemukan lelaki itu. Menurut staf disana, Jo dan papanya pergi bersama klien baru mereka. Di tambah nyinyiran para staf terhadap dirinya. Lagi-lagi Siti pulang dengan hampa, mbak Susi tak henti-hentinya menghibur Siti.
"Ti." ibu membuyarkan lamunannya.
"Iya, Bu."
"Kamu kenapa? daritadi murung saja."
"Nggak papa, bu. Aku kangen rumah. Kita pulang yuk, Bu."
Ibu terkejut. Tiba-tiba putrinya mengajak pulang padahal beberapa hari yang lalu Siti menolak pulang. Ibu duduk disamping Siti, mengusap rambut Siti yang ikal. Menatap manik milik putrinya, ibu melihat ada gurat kesedihan.
"Kamu kenapa, nak? berantem sama Jo." Siti hanya menggeleng.
"Apa ini masih ada kaitannya dengan Ilham?" Siti kembali menggeleng.
Dia cuma ingin pulang. Dia lelah dengan semua ini. Mungkin dengan pulang bisa melupakan semua masalahnya di Jakarta.
Aku yakin ini masih ada hubungannya dengan Ilham. Ya, Allah Siti, tidakkah kamu sadari kalau Tuhan pun tidak merestui kalian. Kenapa kamu masih memaksakan hatimu pada Ilham. Segitunya cinta kamu pada lelaki itu.
__ADS_1
Ya Allah, semoga engkau membukakan pintu hati anakku.
Tak lama Siti tertidur. Saat ibu ingin tidur dia mendengar ketukan pintu di luar. Ibu keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang. Bi Endah menghampiri ibu "Ada den Ilham diluar,Bu. Nyari Siti."
"Bilang Siti sudah tidak disini lagi."
"Nggak mungkin, Bu. Tadi saya bilang Siti ada dikamar." jelas bi Endah sambil berlalu meninggalkan ibunya Siti.
Ibu langsung ke teras depan rumah. Matanya menyangar melihat lelaki itu di depannya. Aura negatif terpancar di wajah wanita itu. Menandakan ketidaksukaannya pada Ilham.
Ilham langsung menyalami ibu. Lalu menanyakan kabar wanita yang di depannya.
"Ibu apa kabar?"
"Baik. Kamu ngapain kesini?" ibu masih dingin terhadap Ilham.
"Mau ketemu ibu yang cantik didepanku."
"Ehmm ..." jawab ibu masih dengan sikap dinginnya.
"Nak Ilham tahu Siti sekarang sudah punya seseorang. Harusnya nak Ilham tahu batasan bertandang malam-malam dengan status perempuan bersuami. Tolong jangan ganggu Siti lagi, nak Ilham. Hidupnya sudah tenang sejak kamu pergi. Jangan buat hidupnya kacau lagi. Ibu tidak ingin apa yang dialami Gita dan Raisa juga dialami Siti. Jadi ibu minta sangat, tolong jangan temui Siti lagi."
"Bu, saya serius dengan Siti. Saya sangat mencintai Siti. Apapun akan aku lakukan demi Siti, Bu. Tapi jika ibu meminta saya pergi dari hidup Siti..." Ilham mengambil nafas panjang. Kembali di tatapnya ibu. "Baiklah, Bu. Saya akan menjauhi Siti. Maafkan saya, kalau selama ini sudah membuat Siti terluka. Maafkan saya, kalau saya sudah mengacaukan hidup Siti. Saya pamit, Bu."
Maafkan aku, Siti. Aku akan pergi meninggalkannya semua cerita kita. Agar kamu bahagia bersama kak Jo. Maafkan aku jika selama ini telah melukai hatimu. Mungkin ini karma buatku setelah yang kulakukan di masa lalu. Apapun yang terjadi aku masih menunggu kamu, ti. Sampai kamu benar-benar menikah dengan Jo, maka saat itu juga aku berhenti mencintaimu.
Ilham pulang dengan perasaan hancur. Sebelum sampai di rumah Ilham mampir ke mesjid dekat kantor Spencer. Ada seorang ustad sedang membersihkan lantai mesjid. Ilham memulai sholatnya. Khusyuk se khusyuknya. Hati nya sedang di landa galau.
Setelah pulang ke rumah. Ilham di kagetkan dengan kedatangan Polisi ke rumahnya.
"Ada apa ini, ma? Kenapa ada polisi?" tanya Ilham masih bingung rumahnya ramai sekali.
"Ham, kamu buat apa lagi, nak? Mereka bilang kamu mukulin orang? itu bohong, kan, nak?" tangis mama Mila melihat polisi memborgol tangan Ilham.
"Maafkan Ilham, ma. Itu memang benar. Ilham memukul papanya Jihan karena dia mencoba menggoda Siti."
"Siti? Kenapa, nak! Kenapa setiap kamu dekat dengan perempuan pasti ada aja berurusan dengan polisi.
Pak tolong jangan bawa anak saya! Saya yakin anak saya tidak bersalah, tolong pak!" mama Mila memohon-mohon pada polisi.
__ADS_1
Ilham menatap mama Mila dengan tatapan pilu. Ayahnya sakit, kakak perempuannya sudah meninggal dan sekarang dia harus meninggalkan mamanya sendirian.
Maafkan Ilham, ma.
klik
Pagi ini Siti dan ibu sudah bersiap-siap pulang ke Jambi. Semua barang sudah diangkat ke mobil Jo. Dengan mesranya jo memeluk Siti, di kecupnya kening Siti. Karena gadisnya akan pulang dan Jo akan membawa Siti kembali setelah mereka menikah nanti.
"Aku pasti akan merindukan kamu, ti. Nggak ada lagi yang ngirimkan aku nasi uduk ikan asin. Kamu tunggu aku ya, ti. Insyaallah dua Minggu lagi aku akan datang. Akan menghalalkan kamu, akan menjadi pacar kamu seutuhnya, pacaran setelah menikah." Ucap Jo sambil menyatukan kening mereka.
Siti menatap pagar, berharap ada yang datang. Tapi lagi-lagi dia Kembali menelan kekecewaan. Karena yang diharapkannya tidak akan mungkin datang.
Siti mengambil nafas panjang, lalu menatap ibu yang tersenyum. Ibu mengelus kepala Siti dan Jo.
"Kami pamit dulu." ucap ibu pada keluarga Gita.
Gita dan Siti saling berpelukan. Kedua sahabat bertangisan "Aku pasti bakal kangen banget sama kamu, ti."
"Tapi kamu datangkan ke nikahan aku."
"Insyaallah ya ti." lalu Gita membisikan ke telinga Siti "Kamu nggak pamit sama Ilham."
Siti hanya menggelengkan kepalanya.
Bagi Siti, urusannya sama Ilham sudah selesai.
Selamat tinggal Ilham!
semoga kamu bahagia bersama kak Jihan!
...****************...
Akankah perjuangan mereka terhenti sampai di sini?
Tidak! perjuangan antara Siti Ilham dan Jo baru akan dimulai.
karena itu terus pantengin cerita mereka.
Bersambung
__ADS_1