Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
114. Party


__ADS_3

"Kita mau kemana lagi, mas."


Ilham hanya diam saja. Sepanjang perjalanan menuruni tangga dirumah sakit istrinya terus bertanya tentang tujuan mereka. Tapi tetap saja lelaki itu bungkam seribu kata.


Mobil akhirnya membawa mereka pergi dari rumah sakit. Pemberhentian tertuju pada hotel mereka, dimana sebuah aula yang mereka masuki.


"Mas, ini bukannya aula yang dulu dipakai buat bridal shower Gita. Kenapa kita disini?"


Ilham membuka pintu ruangan tersebut. Gelap dan sepi suasananya. Tiara memegang keras baju suaminya, dia takut gelap. Tiba-tiba dia merasa suaminya lepas dari genggamannya.


"Mas...." pekiknya ketakutan.


Tiba-tiba lampu menyala


"SELAMAT ULANG TAHUUN!" Suara orang - orang di ruangan membuat Tiara terharu.


Semua bertepuk tangan menyanyikan lagu ulang tahun. Tiara tidak menyangka suaminya tahu tanggal lahirnya. Padahal dirinya tak pernah memberitahukan hari lahirnya.


Hari ini adalah ulang tahunnya, kejutan terindah dari sang suami dokter Ilham Ramadan. Pesta dengan tema indoor di hotel milik keluarga Ine. Ruangan luas yang dihiasi lampu tumblr, balon merah yang menghiasi setiap ruangan.


Semua keluarga berkumpul. Baik kedua orangtuanya maupun mertuanya juga keluarga besar wijaya (keluarga papa Pramono hadir disana), tak hanya itu keluarga Gunawan juga keluarga Spencer pun ikut hadir.


Mertuanya?


Tiara menatap pasangan yang sudah membesarkan suaminya. Mama Mila menatap dirinya dengan senyuman teduh. Senyuman hangat yang sangat dirindukannya. Mama Mila memeluk menantunya dengan lembut. Pelukan yang sempat hilang karena ketidakpercayaan wanita itu yang sempat hilang.


"Selamat ulang tahun anak mama yang cantik." ucapnya masih dalam pelukan.


"Ma..makasih, ma. Aku kira mama masih..."


Mama Mila menutup telunjuk tangannya didepan bibir Tiara.


"Mama nggak pernah marah sama kamu, nak. Mama bahagia karena kamu memberi mama cucu. Ini semua ide suamimu, dari kejadian mama marah hingga kamu dibawa ke hotelpun semua ide dia."


Papa Pramono dan Oma pun mendekati mereka. Oma yang terlihat segar memeluk cucu menantunya dengan lembut.


"Akhirnya aku punya cicit." Ucap Oma mengelus perut Tiara.


"Kak Tiara cantik sekali." Seru Dea yang berlari memeluk Tiara.


"Makasih, dea."


"Iya, dong. Istri siapa dulu." Ilham muncul ditengah-tengah dea dan keluarganya yang mengerumuni istrinya.


"Elehhh, harusnya kak Rama yang beruntung punya istri seperti kak Tiara. Untung dia mau sama kakak."


Pletaaak!


"Anak kecil nggak sok tau!"

__ADS_1


Dea hanya membalas dengan juluran lidah. Tiara memeluk adik sepupu suaminya dengan penuh keakraban.


"Tapi sumpah kak Tiara benar benar cantik. Apa ini efek hamil kali, ya?"


Tiara hanya tersenyum mendengar celotehan gadis 22 tahun itu. Banyak para keluarga yang takjub dengan tampilan cantik menantu Pramono Wijaya.


Ilham berdiri didekat istrinya, memperhatikan para tamu yang datang.


"Mas apa ini nggak papa?" Tanya Tiara melihat acara yang dibuat suaminya terlihat rame.


"Nggak papa mereka sudah ikut prokes kok."


"Sitii!"


"Kak Jihan apa kabar?" Tiara dan Jihan saling berpelukan.


"Alhamdulillah, baik. Selamat, ulang tahun kadonya hamil pula. Keren pokoknya." Sahut Jihan.


Tak lama matanya mulai berkaca teringat masa kehamilannya dulu. Walaupun cuma bertahan 3 bulan. Ilham meninggalkan keduanya agar lebih leluasa mengobrol.


Mata Jihan berputar melihat sekelilingnya, berharap yang dia cari menampakkan hidungnya.


Nggak mungkin dia ada.


Jihan dan Tiara berjalan menyapa orang-orang yang ada dipesta.


"Kenapa dia nggak percaya? Ya, wajarlah aku hamil aku punya suami. Kecuali aku dan Ilham belum nikah boleh dia nggak percaya." ucap Tiara dengan santai.


Jihan terdiam. Pikirannya kembali menerawang dimana dia berjuang mempertahankan janinnya. Walaupun Dodo tidak mau mengakui kalau itu akibat kekhilafan mereka. Untungnya Ilham masih mau menemaninya kontrol ke dokter kandungan.


"Kak Jihan kenapa?" Tanya Tiara melihat wanita didepannya berwajah mendung.


"Aku nggak papa, ti. Mungkin kecapekan saja. Soalnya aku tadi langsung kesini dari kantor." Kilah Jihan.


"Kalo kakak capek istirahat saja. Kakak tunggu bentar, ya."


Tiara berkeliling mencari salah satu bodyguard. Matanya tertuju pada Akbar yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.


"Bar!"


"Iya, non"


Tiara menarik Akbar menuju tempat Jihan terduduk.


"Tolong carikan kak Jihan ruangan untuk istirahat, bar." Titah Tiara lalu meninggalkan mereka berdua.


"Ayo, han." Akbar mengangkat tubuh Jihan untuk berdiri. Tapi ditepis Jihan, dia kekeuh merasa kuat dengan berdiri sendiri.


"Aku bisa sendiri! Kamu balik saja ke pekerjaan!" Usir Jihan.

__ADS_1


Akbar mendengus pelan. Walaupun jihan berjalan meninggalkannya, tapi dia tetap mencoba mengawasi wanita itu. Sesekali tubuh Jihan sedikit tumbang, tapi tetap berusaha berdiri sendiri.


Jihan berjalan keluar hotel. Masih dalam mode pengawasan Akbar, wanita itu berlari menerobos hujan lebat mencari mobilnya. Dengan sigap Akbar membuka jasnya untuk menutupi tubuh jihan. Langkah Akbar terhenti saat ada sosok lain yang lebih dulu memayungi Jihan.


"Kamu ngapain hujan-hujanan? Nanti kalau kamu sakit gimana?" Ucap lelaki itu terdengar nada cemas.


Jihan kaget saat melihat lelaki itu ada disampingnya. Karena dia merasa tidak mengajak lelaki itu "Ngapain kamu disini?" Jihan menatap lelaki itu dengan rasa bencinya.


"Menjaga kamulah." Jawab lelaki itu dengan santai.


Lelaki itu adalah Jonathan yang selalu tahu dimana jihan sedang berdiri. Jonathan yang ingin melancarkan aksi dendamnya, walaupun dilubuk hatinya mulai jatuh cinta pada Jihan.


Sementara pesta telah usai. Tiara yang sedang dikamar duduk didekat kaca. Waktu sudah menunjukkan larut malam.


Pikirannya menerawang dengan ucapan mama mertuanya.


Mama nggak pernah marah sama kamu, nak. Mama bahagia karena kamu memberi mama cucu. Ini semua ide suamimu, dari kejadian mama marah hingga kamu dibawa ke hotelpun semua ide dia.


"Jadi ini semua rencana kamu, mas? Aku sampai tidak bisa tidur memikirkan masalah ini, aku sampai suudzon sama mama dan papa karena masalah ini.


Kenapa kamu senang mempermainkan aku, mas. Kenapa?" Tanpa sadar airmatanya menetes.


Tiara merasa bersalah sudah berpikiran negatif pada mertuanya.


"Sayang, ini sedikit prank. Ya improvisasi untuk acara kejutan." Jawab Ilham memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Gampang kamu bilang begitu. Karena bukan kamu yang merasakan tapi aku. Akting kamu bagus sekali, seolah-olah kamu ikut merasakan apa yang kurasakan."


Tiara melempar bantal kearah Ilham. Tapi lelaki itu tidak melawan. Dia tidak menyangka istrinya semarah itu setelah mengetahui yang sebenarnya.


"Sayang"


"KELUAR!"


ilham hanya menunduk lalu keluar dari kamar "Maafkan aku, ti"


####


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2