Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
50. Beasiswa


__ADS_3

"Ham, aku dengar ada beasiswa dari sebuah maskapai international." ucap Toni saat makan siang dikantin rumah sakit.


Ilham hanya diam, sibuk dengan beberapa data yang ada dilaptopnya. Sejak pulang dari jakarta, ilham memilih menyibukkan diri. Walaupun setiap sudut rumah sakit selalu membuka kenangannya bersama Siti.


Memang akhir-akhir ini beredar rumor kalau ada perusahaan penerbangan memberikan beasiswa. Juga ada yang dia dengar kalau maskapai tersebut mau mencari menantu untuk Puteri mereka. Tapi ilham tidak tertarik dengan semua itu. Baginya sekarang adalah fokus dengan pekerjaannya.


"Ham" panggil dokter Sasono.


Dokter Sasono adalah dokter paling senior di rumah sakit kasih bunda. Usianya tidak jauh dari papa pramono 57 tahun. Seharusnya dokter Sasono sudah bisa menikmati pensiunnya. Tapi beliau ingin menggembleng ilham untuk menjadi penerusnya.


"Iya, dok." ilham mendekati dokter Sasono yang sudah seperti ayahnya sendiri.


"Ini." Dokter sasono menyerahkan sebuah formulir beasiswa yang sedang hangat di rumah sakit.


"Kasih sama yang lain saja, dok" Tolak ilham


"Jangan kecewakan kami." Bujuk dokter Sasono.


Dia tahu kalau ilham masih sedih karena kekasihnya pergi tanpa kabar.


"Tapi..dok" Ilham merasa ada yang lebih berhak mendapat kesempatan daripada dirinya.


"Om, cuma ingin kamu memikirkan masa depanmu. Siapa tahu dengan prestasimu ini. Kamu bisa menemukan gadismu itu." Bujuk dokter sasono.


"Iya, ham. Kami semua mendukungmu. Kami yang mengajukan dirimu untuk ikut beasiswa dokter. Kamu akan bersaing dengan dokter se-Asia. Untuk saat kamu ikut dulu proses penyaringan dengan sesama dokter se-indonesia." sahut dokter-dokter yang lain.


"Tapi kalau untuk jadi menantu mereka aku tidak tertarik." Jawab ilham.


"Idih, geer, lagian saingan kamu banyak. Diatas langit masih ada langit. Belum tentu juga kamu yang dapat." Ledek Dodo.


Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memang target utamanya bukan jadi menantu pengusaha itu. Dia cuma ingin melebarkan sayapnya di dunia kedokteran.


"Baiklah aku akan mempertimbangkan semua ini. Aku akan bicarakan dulu dengan mama dan papa."


Dokter sasono memeluk ilham layaknya seorang ayah "Apapun keputusanmu, kami akan mendukungmu."


Ilham kembali ke ruangannya menatap formulir yang ada didepan mata. Sebuah perusahaan yang bernama Ford airlines.


Lalu beralih ke photo siti yang ada di handphonenya.


"Mungkin ini kesempatan aku untuk mengembangkan sayap. Dengan ini aku bisa mencari pengalaman untuk belajar memimpin rumah sakit yang di dirikan oleh keluarga ayah.


Siti, dimanapun kamu berada, aku ingin kamu yang melihat keberhasilanku nanti.


Aku merindukanmu, siti. Kenapa kamu menghilang tanpa kabar. Tidakkah kamu tahu ini sudah sangat menyiksaku.

__ADS_1


Apakah ini yang kamu mau? Apakah ini caramu membalaskan sakit hatimu padaku? semoga saat kita bertemu nanti kamu bisa memberikan jawabannya."


"Mungkin iya, ham. Ini hukuman buat kamu. Kamu tahu, ham. Siti menunggumu untuk memperjuangkan hubungan kalian. Tapi bukannya berjuang kamu malah mundur." ilham menoleh melihat siapa yang berbicara padanya.


"Kak jo!" ilham berhambur memeluk lelaki rivalnya itu.


"Kak jo kapan pulang dari jepang." tanya ilham sambil mengajak jonathan duduk di ruang kerjanya.


"Semalam. Kamu apa kabar? Aku pikir semenjak kepergian siti, kamu akan kurus. Tidak tahunya badan makin kekar. Ini aku ada oleh-oleh buat kamu." Jo mengeluarkan sebuah bingkisan.


Saat ilham hendak membuka kadonya, Jo melarang membuka di tempat kerja. "Bukanya di rumah saja, ham."


"Oh ya gimana? Kamu mau kan ikut beasiswa dari perusahaan maskapai itu."


"Eng... anu..itu .. aku pikir-pikir dulu kak." ilham masih belum bisa berpikir soal beasiswa itu.


Sudah 6 bulan sejak kepergian siti. Ilham belum mau dekat dengan wanita manapun, termasuk jihan yang mendatanginya. Padahal ilham sudah membatalkan perjodohan itu.


Jonathan duduk sofa ruang kerja ilham. Matanya menatap meja kerja ilham, sebuah papan nama bertuliskan Ilham Ramadhan sp.PD.


Nama itu merupakan hasil jerih payah ilham selama ini. Jonathan paham karena sudah mengenal ilham saat awal-awal pacaran dengan Raisa dulu. Ilham memang lelaki setia, bahkan adiknyalah yang menikung ilham saat sedang kuliah di Thailand. lima tahun pria berusia 30 tahun itu berkecimpung di dunia kesehatan.


"Ham."


"Iya, kak Jo."


Sudah 6 bulan Siti tidak ada kabar. Sejak itulah jo bertekad menyatukan kembali siti dan ilham. Walaupun jo tahu, dia sangat mencintai siti.


Saat ini jo belum menemukan sosok yang lebih dari siti. Egois memang, tapi itulah cinta yang dirasakan jonathan. Dia yakin akan ada sosok yang nantinya menjadi pendampingnya. Jo juga tak malu dengan usianya sudah kepala 4.


Karena bagi jo, seorang laki-laki yang semakin tua semakin matang pemikirannya.


Dengan beasiswa ini, aku harap bisa mempertemukan kalian lagi, Ham, Ti. Aku tahu pemilik perusahaan ini adalah tantenya siti. Paling tidak bisa meringankan rasa bersalahku pada kalian.


"Kak jo ngomong apa sih? Justru aku berterimakasih pada kakak. Karena sudah menjaga siti saat kami berjauhan."


"Bukan aku yang menjaga siti, tapi kamu, ham. Kamu yang mendonorkan darah buat siti, kamu yang menyelamatkan siti saat dia hampir dilecehkan rudi, kamu kembali mendonorkan darahmu saat siti bunuh diri di rumahnya." terang jo.


"Sudah, Kak. Yang lalu biarlah berlalu."


klik


hueeeek hueeeek


Sudah seharian dodo merasakan perutnya mual. Bahkan mencium bau obat saja sudah pusing. Staf yang ada disana melihat keanehan yang dialami dodo.

__ADS_1


"Ih, jangan-jangan si ina bunting tu sama si dodo." ucap mira salah satu perawat.


"Ah, jangan ngaco.Ina mah cewek baik-baik." sambung perawat yang lain.


"Kalau dia cewek baik-baik dia terus kesini nyamperin dokter Alfredo. Keliatan tuh cewek yang kegatelan sama dokter dodo." Timpal yang lain.


"Sudah...sudah... Jangan ngerumpiin orang nggak baik. Lagian sama pacar kak dodo yang lain kali."


"Emang kak dodo playboy! nggak mungkin!" sahut perawat yang lain.


"Dokter dodo mah anak baik. Bukan kayak dokter ilham yang gonta-ganti cewek."


"Ehmmm..." suara seseorang yang mengagetkan para perawat.


"Eh... dokter maaf saya tadi ada panggilan..." salah satu perawat mencoba menghindar.


"Saya juga..!"


"Saya tadi di suruh ke ruangan bayi.."


Semua para perawat yang menggosipkan dirinya satu per satu pergi.


Dodo terduduk lemas karena kondisi badannya tidak fit. Kalaupun dia memang ngidam atau morning sickness, pasti sudah ada yang minta pertanggungjawaban dirinya.


Tapi dodo dan ina belum pernah melakukan itu.


Lalu apa yang terjadi padaku!


Apa iya ini morning sickness!


Ah, sepertinya bukan!


Paling juga masuk angin biasa!


Dodo masuk ruang kerjanya, lalu mengecek ponselnya.


Ada 20 panggilan tak terjawab dari jihan.


Ngapain sih perawan tua itu masih ganggu aku!


Jujur awalnya aku memang menyukainya tapi setelah tahu dia terlalu terobsesi pada ilham. Rasa simpatikku hilang.


...######...


Hayo Dodo di cariin tuh sama jihan!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2