Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
119. Arisan Berondong


__ADS_3

Masih di Cafe Great


Pukul 15:00


Tiara dan Lani sampai didepan cafe Great. Tiara pertama membuka safebelt dengan cepat, dia melihat Lani kesulitan membuka tali pengaman tersebut, Tiara membantu Lani membukakan safebelt.


"Makasih, Ra." Ucapnya sambil turun dari mobil.


"Sama-sama, mbak." Tiara mengikuti Lani meninggalkan tempat parkiran mobil.


Dengan Lani menggandeng Tiara layaknya seorang teman. Tiara senang dengan perlakuan Lani, semenjak Gita meninggal dunia dia tidak punya lagi teman akrab. Dulu yang akrab dengannya adalah Jihan, tapi semenjak kasus cinta segitiganya dengan Ilham mereka merenggang sampai sekarang. Tiara melihat Jihan selalu datang memberinya support walaupun tidak seintim dulu.


Mereka melangkah menuju tangga pintu penghubung parkiran dengan cafe.


"Mereka mana, ya?" Lani memandang sekitar cafe.


"Tadi mereka sibuk cepat datang. Sekarang giliran sampai nggak ada yang kelihatan batang hidungnya." Omel Lani sambil mengajak Tiara duduk di sofa busa.


Tiara merasa handphone berdering.


"Halo, assalamualaikum, mas."


"Waalaikumsalam, kamu dimana?"


"Aku dicafe bareng mbak Lani. Ikut acara arisan dari kantormu."


"Pulang."


"Tapi, mas ..."


"Aku jemput kamu kesana sekarang!" Suara Ilham terdengar menahan marah.


Tiara menutup teleponnya.Merasa tidak enak karena pergi tanpa pamit pada suami. Namun pikirannya yang lain mengatakan kalau bukan salah dia kalau pergi duluan, bukankah dia sudah berusaha mengabari Ilham.


"Siapa?" tanya Lani.


"Mas Ilham. Dia mau nyusul aku kesini." Ucap Tiara datar.


"Nah, kan apa kubilang? Kamu tuh nggak bebas sama dia. Pengekang. Lihat mas Toni, dia nggak pernah marah kalau aku keluar rumah. Asalkan aku muasin dia di ranjang, rumah beres, anak-anak beres, dan selesai. Aku tinggal hangout bareng teman-teman." Lani menceritakan kehidupan rumah tangganya dengan bangga.


"Anak mbak berapa?"


"Anak pertamaku kembar sepasang. Ini yang kedua." Lani mengelus perutnya.


"Sama mbak calon bayiku juga kembar." Tiara ikut mengelus perutnya.


"Kamu hamil juga, Ra?" Tiara mengangguk.


Bukannya kata mas Toni dulu Ilham ada masalah dengan reproduksinya. Apa sudah sembuh?Mungkin sudah sembuh si Ilham.


"Kamu mau pesan apa,Ra?"

__ADS_1


"Aku jus jambu aja."


"Terus makanannya?"


"Aku samaan sama mbak Lani aja."


Beberapa wanita datang menghampiri mereka. Pakaiannya yang glamor dan serba mewah membuat dirinya minder seketika. Sekitar ada enam wanita dan dua lelaki yang datang. Dua lelaki itu menggandeng pasangannya masing-masing.


"Suaminya ikut juga, ya, mbak?" Tanya Tiara dengan polosnya.


"Itu suami arisan mereka" Bisik Lani


Suami arisan?


"Iya, suami arisan alias pacar berondong mereka. Setiap arisan saja mereka membawa "suaminya". Yang aku ada kok, cuma sejak hamil nggak kupakai dulu. Tapi aku panggil dia buat nemenin kamu. Mau kan? Nggak aneh-aneh kok, cuma duduk berdua di cafe doang. Nggak sampai ke hotel."


Bulu kuduk Tiara merinding. Bayangkan jika suaminya tahu soal arisan ini. Dia yakin pasti Ilham akan marah besar. Buktinya tadi ditelepon Ilham malah suruh dirinya pulang. Tiara beranjak dari sofanya, pelan-pelan dia berjalan menjauh dari orang-orang tersebut.


Mas, cepat datang. Aku takut.


"Aaaku, ke toilet dulu." Ucapnya pada Lani. Nada suaranya terdengar berat.


Setelah Tiara menjauh, salah satu anggota arisan berbisik.


"Itu istri dokter Ilham kenapa?" Bisiknya pada Lani


Lani tersenyum tipis "Biasanya awalnya dia kaget. Ntar lama-lama dia biasa kok."


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Tiara mengira suaminya sudah datang. Dugaannya salah, seorang lelaki muda berdiri di depannya.


"Mbak Tiara yuk gabung. Mereka dari tadi menunggu, mbak." Seorang lelaki menarik tangannya berjalan keluar lorong khusus toilet.


"Kamu siapa? Ngapain tarik-tarik tangan saya?"


Lelaki itu tersenyum "Nama saya Jano. Saya suami arisannya mbak. Yuk, sayang kita kumpul bareng teman-teman."


Tiara memberontak "Lepasin saya. Saya bukan istri kamu. Saya sudah punya suami, kamu jangan macam-macam ya sama saya." ancamnya.


Jano tetap menarik tangan Tiara tanpa memperdulikan sikap berontak wanita itu. Senyumnya mengembang, terbayang di otaknya membawa wanita itu ke sebuah kamar. Tapi rencana itu hanya sebatas khayalan.


Klik


Ilham dan Toni sudah berada di cafe Great, dimana dia mendapat kabar kalau istrinya sedang berada disana. Ilham mendekati para wanita yang sedang asyik tertawa riang.


"Mana Tiara!"


Suara bentakan Ilham membuat satu ruangan menjadi hening. Sebagian dari mereka menatap Ilham dengan tatapan remeh.


Ilham berdiri diantara kerumunan para wanita, dari semua wanita tersebut hanya Lani yang dia kenal. Ilham kembali menghampiri Lani, mempertanyakan keberadaan istrinya.


"Mana Tiara! atau kalian akan saya laporkan dengan suami kalian masing-masing." Ancam Ilham dengan lantang.

__ADS_1


"Tiara tadi ke toilet." sahut salah satu anggota arisan.


"Mungkin dia lagi senang-senang sama berondongnya. Aman banget kalau main di toilet." Sahut yang lain di sambut tertawa orang-orang disana.


Ilham meninggalkan lobby cafe, kaki melangkah ke arah toilet. Rasa cemas terus bergulir di pikirannya, dia paham istrinya pasti cemas menunggu dirinya.


"Lepasin, saya!"


"Kamu sudah bayar saya, jadi kamu harus bertanggung jawab atas pekerjaan saya."


"Saya tidak bayar kamu! kenal saja tidak!"


"Tapi ketua arisan yang bilang kamu sudah bayar saya. Saya tidak suka yang gratisan."


"Siapa ketua arisan?"


"Mbak Lani"


Suara gaduh itu semakin jelas terdengar di lorong dekat lobby. Sang wanita tetap melakukan pemberontakan, tapi tangan lelaki itu lebih kuat darinya.


Mas cepat datang selamatkan aku.


Buuuggg!


Sebuah bogem mendarat di wajah Jano. Tangan itu tak henti-hentinya mendarat diwajah dan perut. Bagaimana dia tidak emosi ketika melihat wanita yang dicintai dalam bahaya.


Jano yang sudah memberi sinyal untuk menyerah. Tapi Ilham yang terlanjur emosi menghajar lelaki itu tanpa ampun. Tiara mencoba melerai suaminya, tapi naas bogeman Ilham mengenai wajahnya. Tubuh Tiara tersungkur menabrak kotak sampah besi didekatnya.


Tiara hanya mendengar suara suaminya memanggil namanya. Setelah itu dia cuma merasakan perih dan gelap.


Klik


"Ham, maafkan istriku. Aku juga tidak menyangka dia mengadakan arisan berondong berkedok pekerjaan kita."


Ilham menatap Toni dengan tajam. Perasaan marahnya pada istri sahabatnya masih bertaut didadanya. Bagi Ilham yang dilakukan Lani sudah keterlaluan.


"Entahlah, Toni. Aku belum bisa berpikir jernih. Yang pasti kalau saja aku terlambat datang, entah bagaimana nasib istriku. Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku. Aku tidak akan memaafkan Lani." Ucap Ilham yang masih dikuasai emosi.


Toni bersujud dikaki Ilham. Berharap temannya itu tidak membawa masalah ini ke jalur hukum.


"Ham, tolong jangan bawa masalah ini ke jalur hukum. Aku mohon, ham, aku susah payah berada diposisi ini, aku nggak mau semua hancur."


"Makanya didik istri kamu! Kelakuannya sudah membahayakan nyawa orang lain!"


Toni menggepal tangannya "Bukan istriku yang buat Siti seperti ini. Tapi kamu, ham. Kamu tadi yang buat Siti pingsan. Jangan cari kambing hitam atas kesalahanmu sendiri. Istri kamu lagi hamil ngapain dia keluyuran sendiri."


Ilham menatap Tiara yang masih belum sadarkan diri di salah satu penginapan terdekat. Ada rasa bersalah karena membuat sang istri babak belur.


"Maafkan aku, siti."


...#####...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2