Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
139. Menjelang persalinan


__ADS_3

Pov Tiara


4 bulan kemudian


Usia kehamilanku sudah memasuki 9 bulan dua minggu. Tapi sampai sekarang belum ada tanda tanda mereka mau launching.


Rasanya aku tidak sabar melihat mereka datang ke dunia. Menikmati nikmatnya menjadi seorang ibu. Tidak tanggung-tanggung Tuhan akan mengirimkan sepasang malaikat yang nantinya akan mewarnai kehidupan kami sebagai orangtua.


Saat HPL sudah semakin dekat . Aku merasakan susah nafas beberapa minggu ini, tidurpun gelisah. Pokoknya tidak menemukan rasa kenyamanan saat beristirahat, makanya aku kalau susah tidur dialihkan dengan membaca novel online. Terkadang mas Ilham suka mengomel saat tahu aku belum tidur.


Sejak usia kandunganku menginjak 8 bulan. Mas selalu siaga, dia sering memijat bahu dan kaki saat aku merasa lelah. Ketika malam pun begitu mas Ilham membaca dongeng untuk janinku, walau terkadang dia yang bacain tapi dia yang malah tertidur.


Mas Ilham malah membelikan aku pamper dewasa agar aku tidak sering pipis. Tapi tetap saja rasanya tidak enak dan boros, kalau disuruh memilih aku maunya alami saja. Pipisnya terasa sakit, kata mas Ilham itu tandanya janinnya sudah mulai turun kebawah, dan waktu lahir semakin dekat. Masalahnya sampai sekarang belum ada tanda-tanda mereka akan launching. Itu yang bikin aku cemas. Suamiku bilang rata rata bayi kembar lahir cesar.


"Aku nggak mau sesar, mas. Kalau bisa normal kenapa harus sesar."


"Tapi, ti. Kamu itu hamil kembar. Jadi harus disesar.


Karena yang aku tahu jarang hamil kembar bisa melahirkan normal. Apalagi HPL sudah melewati yang seharusnya. Harusnya si kembar sudah lahir awal bulan tapi udah minggu kedua, Ti."


"Mas aja yang nggak tahu. Karena kamu bukan dokter kandungan, coba mas tanya sama kak Mona.Siapa tahu ada pencerahan. Pokoknya aku mau normal, TITIK!"


"Iya, nanti aku tanyakan sama Mona. Satu yang kamu tahu, Ti. Mau kamu melahirkan normal atau sesar, kamu tetaplah seorang ibu yang memperjuangkan hidup nyawa baru. Tidak ada yang salah kok kalau memang harus melalui cesar. Perjuangan kita bukan sekedar antara cesar atau normal. Tapi perjuangan seorang ibu dimulai bagaimana membentuk akhlak anaknya agar berguna dikemudian hari."


Jujur aku tidak bisa membayangkan saat beberapa orang mempertanyakan kenapa aku harus cesar. Omongan julid dari berbagai pihak yang pasti bikin hati panas. Aku ingat saat kak Dinda melahirkan Aura melalui cesar karena bayinya susah keluar. Terpaksa mereka mengambil jalan pintas yaitu cesar. Meskipun, awalnya kak Dinda menolak operasi cesar.


Dan apakata orang-orang di desa sukasari.


"Manja, nggak kuat ngedennya."


"Nggak mau sakit dia itu, manja banget. Jadi ibu itu harus tahan sakit."


Begitu banyak omongan ibu-ibu di kampungku yang membuat kak Dinda down. Jangankan kak Dinda. Aku dan Sita saja yang mendengarnya ikut takut dengan yang namanya cesar.


"Cesar itu nggak sakit, ti. Cuma efeknya yang bikin sakitnya lama. Kalau normal sakitnya nggak sampai seminggu." Cerita Sita saat itu.


Aku membayangkan pisau atau alat-alat yang akan membelah tubuhku saja sudah membuat aku bergidik ngeri.


"Tidak! Aku tidak mau cesar aku mau normal."


"Ya, sudah sayang nanti kita bicarakan sama Mona. Makanya jangan banyak pikiran. Kamu cukup satu aja mikirnya."


"Emang aku harus mikirin apa?"


"Mikirin aku dong, sayang. Nanti setelah anak kita lahir, aku akan cari pembantu untuk urusan rumah tangga. Kamu cukup fokus ke anak kita dan aku."

__ADS_1


"Ish ... kamu ini, aku kira apaan. Ternyata cuma itu. Lagian aku mikirin kamu, tapi kamunya pernah mikirin aku nggak sih?"


"Always, ti. I always think about you every moment, every breath I blow, there is only you."


"Thank you, my husband."


"I Love you, My wife."


Dia suamiku, seorang lelaki yang menghalalkanku. Pernikahan yang penuh kejutan, sama dengan perjalanan cinta kami yang penuh dengan kejutan. Dia yang selalu membuat aku tenang, Dia juga sedang berusaha menyenangkan aku walaupun aku banyak tingkah.


*


*


*


"Ti, jadi kamu mau normal." Dokter Mona memeriksa keadaan janinku.


"Iya, dok. Kalau bisa normal. Apakah ada kendala?"


"Susah, ti. Salah satu dari bayi kalian bobotnya lebih besar. Dan ini akan menghambat janin yang satunya keluar. Ketuban kamu sudah diserap mereka karena kelamaan disana." Jelas dokter Mona.


"Jadi?"


"Jadi jalan satu-satunya sesar."


"Sayang, kamu tenang aja. Ada aku yang menemanimu diruang operasi."


"Tapi tetap saja aku takut."


Klik


POV Author


Persalinan merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang ibu untuk menghadirkan kehidupan yang baru di dunia. Setiap ibu pasti menginginkan kehamilan yang sehat, dan persalinan yang lancar.


Tapi tak heran, setiap ibu pasti akan memiliki perasaan khawatir, cemas dan perasaan takut yang tak kunjung reda sebelum melahirkan.


Hari demi hari Tiara terus dirasuki rasa takut akan operasi sesar. Diawali dengan banyak cerita tentang sakitnya operasi cesar, usia kandungannya sudah 39 minggu. Perkiraan kelahiran yang sudah melewati tanggal yang sebenarnya. Ada rasa cemas yang mendera dimana tetangga selalu bertanya.


"Kok belum lahir mbak?"


Tiara mulai gelisah karena sang bayi terlalu nyaman didalam sana. Padahal kata Dokter Mona, janinnya sudah turun. Tapi tetap saja belum ada tanda mereka mau keluar.


Ilham tak hentinya mengajak sang anak berkomunikasi. Terkadang Ilham mengajak sang bayi mengobrol, jalan pagi 30 menit, memijat perut istrinya.

__ADS_1


Dokter Mona menawarkan pada Tiara opsi antara operasi cesar atau induksi. Namun semua keluarga meminta Tiara untuk memilih sesar mengingat usia kehamilannya yang melebihi waktunya.


"Ti, kalau dokter sudah bilang begitu. Artinya itu solusi yang sudah terbaik. Nggak akan mungkin dokter minta sesar kalau bayimu baik-baik saja. Kamu jangan takut,nak. Kami akan selalu mendoakanmu."


"Ham, apakah kalian sudah menyiapkan nama untuk si kembar?"


"Belum, bu. Tadi ada nama yang sudah Ilham siapkan, tapi siti nggak suka dengan nama itu."


Ibu Aisyah menatap putrinya " Kenapa, ti?"


"Terlalu bule. Kita orang indo bu, jadi pake nama yang khusus orang kita.aja. Seperti Bagus dan Indah."


"Hmmm .... Bagus dan Indah ... keren juga nak, ibu malah pengen cucu ibu dikasih Yusuf dan Zulaika, atau Adam dan Hawa."


Tiba-tiba ...


"Bu...perutku...." Pekik Tiara.


Semua panik saat Tiara merasakan kontraksi hebat.


"Ham, Kamu bawa siti ke rumah sakit. Biar barang perlengkapan bayinya ibu yang siapkan." Titah ibu Aisyah.


Ibu Aisyah pun mengabarkan pada keluarga yang lain kalau Tiara mau melahirkan. Mereka janjian akan berkumpul dirumah sakit.


"Maaaas....sakit!" Pekik Tiara.


"Sabar, ti. Kita akan kerumah sakit. Indro bisa tolong cepat jalannya."


"Iya den. Ini sudah cepat den, kalau terlalu ngebut nanti kasihan non Tiara." jawab Indro.


Ilham terus mengelus perut istrinya. Sambil mengelus llham mengumandang sholawat pada calon anaknya.


Sholatullah Salamullahi


‘Alaa Thoha Rosulillah


Sholatullah Salamullahi


‘*Alaa Yasiin Habibilla***h**


Tawasalna Bibismillah


Wabil Hadi Rosulillah


Wakulli Mujahidin lillah

__ADS_1


Bi Ahlil Badri Ya Allah


Ajaibnya kontraksi sedikit berkurang dari sebelumnya. Tiara pun tak sadarkan diri.


__ADS_2