Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
155. Pulang ke sukasari 2 (Final)


__ADS_3

Dear readers


Cinta itu berputar seperti roda. Kadang diatas kadang kita berada di titik terbawah. Seperti yang aku rasakan saat Ilham memilih pergi tanpa berjuang mengejar restu Ibu. Seperti kak Jonathan yang sudah sepenuhnya mencintaiku tapi hatiku tak terarah padanya.


Gila memang!


Hanya karena seorang Ilham Ramadhan aku bertahan dengan hatiku.


Padahal aku tahu kalau saat itu Ilham masih terombang ambing dengan Gita dan Aku.


Jahat kedengarannya saat aku menolak cinta tulus Jonathan.


Tapi aku akan lebih jahat lagi kalau mempertahankan hubungan ini.


Mungkin bagi sebagian readers pendukung Siti dan Jonathan yang aku lakukan cukup bodoh.


Dimana ada lelaki tulus, tapi aku memilih sosok lain yang bikin kalian kesal.


Dan satu per satu kalian mundur mendengar kisahku. Hanya karena tidak suka dengan Ilham.


Oke


Dimasa lalu Ilham adalah sosok yang menyebalkan. Dimana dia meninggalkan Gita dan memilih Raisa. Tapi semua ada alasannya. Gita yang memutuskan hubungan. Padahal aku tahu Ilham masih berusaha mengejar cinta Gita.


Apakah manusia yang buruk dimasa lalu tidak bisa mendapat kesempatan kedua.


Kesempatan kedua untuk menjadi sosok lebih baik dari sebelumnya.


Dan kesempatan kedua itu aku berikan padanya. Walaupun ujian yang kami hadapi cukup pelik.


Tanpa perjalanan hidup ini, kami tidak akan berada diposisi sekarang.


Tanpa perjuangan cinta ini, mungkin kami tidak akan berada pada satu titik kebahagiaan.


Yaitu


CINTA


...🍇🍇🍇...


Setelah melakukan perjalanan panjang dari Jambi hingga mobil mereka memasuki gapura selamat datang di kota sarolangun. Mereka sampai dibandara pukul dua belas siang, jarak tempuh dari kota Jambi menuju Sarolangun sekitar empat jam dua puluh lima menit. Belum lagi mereka singgah dirumah makan lintas daerah membuat perjalanan lebih santai.


Pukul 17:00

__ADS_1


Mobil bawaan Edwar tiba di desa Sukasari. Beberapa warga pun tampak berkumpul menyambut kedatangan Siti dan Keluarganya. Mata Siti tertuju pada pemandangan desa yang tidak banyak berubah. Tidak ada perubahan disana, masih banyak rumah warga yang mempertahankan gaya leluhurnya. Sebagian rumah ada yang sudah berlapis beton.


Hamparan sawah, kebun dan ladang yang sangat menyejukkan mata. Suasana yang sudah lama sangat dirindukannya. Siti mengajak kedua buah hatinya melihat pemandangan tersebut. Terbayang masa kecilnya bersama Edwar, Alam dan Dinda, saat mereka bermain diladang orang, memetik buah dan dikejar sama pemilik ladang.


Seandainya Siti bisa memilih, dia ingin tinggal saja di Sukasari. Dia sudah penat dengan kehidupan kota yang menyesakkan hati. Tapi apa dikata sebagai seorang istri, dia akan ikut dimana suaminya berpijak. Helaan nafas panjang terdengar berat.


"Selamat datang kembali ke desa Sukasari, Ibu Aisyah dan Siti."


Ketua adat pun ikut menyambut kedatangan mereka. Siti pun merasa terharu dengan penyambutan istimewa dari warga Sukasari. Mereka pun disambut dengan Tari sekapur sirih.


Tari Sekapur Sirih merupakan tari tradisional dari daerah Jambi. Tari Sekapur Sirih menggambarkan mengenai ketulusan masyarakat setempat dalam menyambut tamu. Di mana tarian tradisional tersebut mengungkapkan ketulusan, sopan santun, serta keramah tamahan.


Dalam menari, penari Sekapur Sirih menggunakan pakaian adat dengan diiringi alunan musik pengiring.


Salah satu muda mudi dari karang taruna mengalungkan kalung dari bunga melati. Sebagai tanda sambutan mereka atas kepulangan Siti dan Ibu Aisyah.


"Persembahan ini kami lakukan sebagai permintaan maaf kami atas yang terjadi pada kalian. Permintaan maaf ini kami lakukan tulus dari hati yang terdalam. Kami tahu bahwa tidak akan mudah menghapus luka yang pernah tertoreh di kehidupan kalian.Tapi izinkan kami untuk membersihkan nama kalian."


Edwar menatap sinis dari kejauhan.


"Gampang mereka bilang begitu. Mereka baik karena sudah ada sumbangan besar untuk pembangunan desa yang berasal dari tuan Adolf. Makanya mereka pasang muka manis ke Siti. Dasar penjilat." Bisik Edwar pada Alam.


Alam hanya terdiam mendengar ucapan Edwar. Jika memang benar begitu, berarti penyambutan ini tidak tulus.


"Enggak, sayang. Ante lagi sibuk." jelas Alam sambil menghela nafas berat.


"Shasa bilang apa, lam?"


"Dia nanyain Ina-nya?"


"Ooooo ... yang mirip Gita itu, ya?" Alam mengangguk.


"Kayaknya anakmu dekat banget sama tantenya. Eh, bukannya itu adiknya tante Lia. Kenapa Shasa manggilnya.."


"Ina nya nggak mau dipanggil Oma atau nenek. Dia maunya dipanggil tante."


"Hahahahaa.. wajar sih. Dia masih muda malah dipanggil Oma. Tengsin dong." Gelak Edwar yang memancing tatapan orang-orang.


Sampai akhirnya Siti dan keluarganya di boyong ke sebuah rumah. Siti terdiam menatap rumah yang ada di hadapannya. Rumah tempat dia dibesarkan, rumah pertama tempat perteduhannya saat pertama kali menginjak Sukasari.


Rumah yang tidak banyak berubah bentuknya. Hanya saja dinding kayu sekarang diganti dengan beton. Teras sekaligus tempat jemuran mereka pun tidak berubah.


"Rumah ini sengaja kupertahankan arsitekturnya. Rumah ini memiliki kenangan yang berarti, aku, Siti dan juga Alam tumbuh disini. Maka itu aku sengaja tidak mengubah dekorasi rumah.

__ADS_1


Dirumah ini ada tawa bahagia, dirumah ini ada yang selalu berduaan (Edwar menjelit kearah Alam), dirumah ini ada tangis bahagia dan tangis kesedihan."


Pukul 17.58


Adzan maghrib pun berkumandang. Seluruh keluarga besar Edwar pun menggelar tikar diruang TV. Mereka sholat bersama di imami Ilham. Saf belakang Imam ada Adolf, Edwar, Akbar dan Irwan, sementara Alam sudah pulang ke rumah Bibi.


Sementara saf belakang ada Siti, Ibu Aisyah, Fatimah dan Jihan.


Sholat pun berlangsung dengan khusyuk. Setelah sholat, para pria duduk berkumpul di teras, Siti bermain bersama kedua buah hatinya, sedangkan ibu Aisyah, Jihan dan Fatimah memasak di dapur untuk makan bersama.


"Mas temenin si kembar ya. Aku mau bantu ibu didapur." Titah Siti.


"Baik ratu, hamba masuk kekamar dulu. Apakah mereka sudah tidur?"


"Sudah paduka raja, tuan putri dan pangeran sepertinya kelelahan. Hamba pamit ke dapur dulu paduka."


Siti yang hendak keluar tiba-tiba tangannya di tarik kedalam kamar. Dengan cepat Ilham mengunci pintu kamar.


"Kenapa pintunya dikunci?" Tanya siti masih heran.


Ilham muncul dengan senyuman nakal.Tangannya membelit kearah pinggang Siti.


"Paduka Ratu masih ingat kenangan kita dikamar ini?


Paduka Ratu masih ingat ada belum selesai saat itu?


Seandainya kita selesai saat itu, kita langsung menikah dan tak perlu terpisah. Seandainya selesai malam itu, aku langsung jadi pemenang dan tidak perlu bersaing dengan kak Jo. Seandainya ...."


"Seandainya memang benar terjadi kamu tidak tahu bagaimana berjuang mengejar cinta seorang Siti. Seandainya ...."


Siti dibungkam oleh serangan bibir dari ilham. Tangannya membelit kearah kepala Ilham. Belitan kedua semakin dalam membuat Siti semakin melambung tinggi.


Tangan Siti membuka kancing kemeja Ilham.


Hingga


Tok .. Tok ....


"Siti .. Ilham ... makan malam sudah siap ..."


Oweeeeeee... Oweeeee


"Haduh Gagal lagi" Ilham hanya mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2