Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
130. Resepsi (Jihan dan Akbar)


__ADS_3

“Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia salat dua rakaat di belakangmu” (HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah)


...🍇🍇🍇🍇...


Suasana pesta mulai terlihat aktivitasnya. Beberapa para tamu undangan mulai berdatangan. Ada yang sendiri, membawa pasangan, membawa anak dan istrinya. Jihan dan Akbar menyambut kedatangan mereka dengan ramah.


"Selamat, ya, bar. Kamu akhirnya kembali mendapatkan pasangan hidup. Semoga samawa." Ucap Komandan iptu Anjasmara.


Terimakasih, pak Jas. Sayang, ini pak Anjas, guru aku. Pak Anjas ini sepupu bapak." Ucap Akbar memperkenalkan lelaki didepannya.


Jihan menyalami iptu Anjas dengan salam tempel. Wajah lelaki itu terlihat berwibawa. Pak Anjas lalu memperkenalkan istrinya dan putrinya. Mereka saling bersalaman, Jihan senang diperkenalkan oleh salah satu keluarga suaminya.


"Hay, bro. Selamat ya." Akbar menyambut salah seorang lelaki yang berseragam tentara. Mereka saling bersalaman, tampak beberapa lelaki berseragam sama berjejer menunggu antri bertemu pengantin.


"Mas, Akbar selamat, ya." Seorang wanita berseragam Polwan menyalami kedua mempelai.


Akbar terdiam saat wanita itu muncul dihadapannya. Lama dia tak bergeming sampai akhirnya wanita itu mengucapkan sesuatu pada Jihan. "Mbak aku titip Akbar, ya. Dia laki-laki yang baik, mbak beruntung dapatin dia." Ucap wanita itu.


"Tia" Panggil Akbar saat wanita itu hendak meninggalkan pelaminan. Akbar mendekati Tia.


"Terimakasih sudah mau datang ke pernikahanku."


"Sama-sama,bar. Aku datang sebagai temanmu, bukan sebagai mantan istrimu. Semoga dia tidak mengecewakanmu, bar. Tidak seperti aku dulu. Aku pamit." Tia meninggalkan Akbar keluar dari panggung pelaminan.


Jihan menatap suaminya seolah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagai seorang istri, wajar dia merasa cemburu melihat perubahan wajah Akbar setelah bertemu wanita itu.


Siapa wanita itu sebenarnya? mengapa Mas Akbar terlihat pucat setelah kedatangan wanita itu? Ya, Allah jika Akbar punya masalalu dengan wanita lain aku harus terima. Sebagaimana Akbar menerima keadaanku.


"Bar, Jihan. Selamat, ya." Ucap Jonathan muncul sambil menggandeng Ilham.


"Kak Jihan, Akbar selamat ya. Akhirnya kakakku menemukan pasangan hidupnya. Semoga samawa." Ucap Ilham.


"Terimakasih kak Jo, terimakasih Ilham. By the way, kalian tumben akur? Gandengan pula?" Jihan terkikik melihat kedua pria didepannya gandengan mesra.


"Hahahahaa...korban ngidam, Ji. bininya mau kita gandengan, kalo nggak ntar anaknya ileran." Ucap Jonathan melirik lelaki disampingnya yang sudah berwajah masam.


"Kalau nggak dituruti alamat aku bakal tidur diruang tamu." Jawab Ilham.


"Hahahahaaha" Jihan, Akbar, dan Jonathan berbarengan menertawakan nasib Ilham.


"Sabar, enam bulan lagi kamu bebas." jawab Jonathan.


"Kami pamit, ya. Pokoknya aku titip Jihan, bar. Dia sudah seperti saudara buat kami berdua." Pamit Jonathan diikuti Ilham dari belakang.


"Mas, tamu istimewa kita sudah datang."


Beberapa wanita berbaju hijau army berderet memasuki panggung pelaminan. Mereka adalah para pembaca aktif di novel yang berjudul Mengejar Cinta Siti. Ya, walaupun kebanyakan yang mampir rata-rata author ketimbang pembaca murni.


Eh, Authornya kok malah curhat. wkwkwkwkwkwkw.

__ADS_1


Ada mbak Rhina Sri, bunda Aqila, mbak lina ulfi, dan masih banyak lagi. Ada beberapa pemeran novel lain yang mampir ke acara mereka.


"Selamat ya, mas Akbar dan mbak Jihan." Ucap Dewa yang datang bersama dua wanita cantik.


"Wah, mas dewa istrinya dua, ya. Boleh kasih tipsnya nggak siapa tahu nular. Awwww!" Akbar meringis kesakitan karena cubitan istrinya.


"Istri saya cuma satu mas Akbar. Cuma Mara seorang, dan yang cantik disebelah saya adalah mbak Rasty." Dewa memperkenalkan dua wanita yang ikut dengannya.


Dewa dan Mara pun berpamitan dari panggung pengantin.


Bruuuukkk!


"Oh, maaf saya tidak sengaja, mbak nggak papa" Jonathan tak sengaja tertabrak dengan seorang gadis berhijab cantik.


"Nama saya Jonathan. Kamu bebas manggil saya Jo atau Nathan juga boleh. Asal jangan panggil Paijo aja."


"Hey, bolehkan aku minta no hp, Wa, instagram atau fesbuk." Sahut Jonathan.


Gadis itu hanya berlalu sambil tersenyum. Meninggalkan segudang rasa penasaran di hati sang bujang lapuk tersebut.


Wanita itu tertawa kecil mendengar celotehan Jonathan. "Rasty. Kamu hanya boleh panggil saya Rasti saja." sahutnya saat berbalik menyahut panggilan lelaki itu.


Gadis itu manis sekali. Ah, Jo jantungmu berdetak kencang.


"Akbar dan Jihan selamat, ya. Semoga langgeng sampai kakek dan nenek. Selamat ya, han. Akhirnya kamu nikah sama Akbar. Kirain kamu jadi sama Jonathan." Ucap wanita yang bernama Nofi khanza dan Ayu widia bergantian.


"Siti"


"Kok kamu nangis, ti?"


"Aku bahagia melihat kakak akhirnya menemukan tambatan hati. Semoga Samawa ya, kak."


Tiara dan Jihan saling berpelukan penuh keharuan. Dua sahabat yang sempat retak karena memperebutkan satu lelaki. Tapi Tiaralah yang memenangkan hati lelaki itu. Tampak dari jauh ibu Aisyah terharu melihat keakraban keduanya. Dalam pandangannya seakan melihat Jihan dan Siti di masa lalu.


Pesta telah usai. Semua yang terlibat di acara pun sudah menyelesaikan tugasnya. Undangan satu persatu sudah pamit pada pengantin. Sekarang Keluarga Alex prasetyo dan juga kedua pengantin sudah pulang ke rumah.


"Alhamdulillah, sayang. Akhirnya selesai juga acara kita. Dan akhirnya kita resmi suami istri beneran." Sahut Akbar saat mereka sudah berada dikamar pengantin.


"Alhamdulillah, mas. Capek juga ya, ternyata. Kalau tahu begini mending kita akad aja nggak usah pake pesta." Keluh Jihan.


"Kenapa, udah nggak sabaran,ya?" Goda Akbar sambil menghisap ceruk leher istrinya.


"Mas"


"Iya"


"Kamu punya hutang cerita padaku"


Akbar mulai merapikan posisi duduknya.

__ADS_1


"Hutang cerita?" Akbar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Soal perempuan tadi."


Akbar menundukkan kepala. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Wajahnya berubah menjadi sendu, mengingat ada rasa pahit yang pernah dialaminya.


"Namanya mutiara. Aku suka memanggilnya Tia. Dia calon istri sahabatku, Wira. Tia dan Wira rencananya akan menikah, lalu Wira meninggal saat bertugas. Kudengar kabar kalau Tia terancam dikeluarkan karena hamil dan keluarga Tia memintaku menikahi anaknya. Karena mereka tidak mungkin meminta pertanggung jawaban wira, karena Wira tidak punya orang tua dan besar dipanti.


Setelah anaknya Tia lahir aku diminta menceraikan Tia. Aku pun menyanggupi karena kami tidak pernah serumah. Hanya ikatan saja membelenggu kami. Tidak ada yang tahu status pernikahan kami. Hanya mayang saja yang tahu."


Jihan hanya terdiam setelah mendengar cerita suaminya. Setiap orang pasti punya masalalu, baik dirinya maupun Akbar saling menerima kekurangan masing-masing.


"Sayang, maaf aku baru cerita sekarang. Aku juga tidak menyangka Tia datang ke pernikahan kita."


"Mas, aku nggak marah. Cuma agak kaget saja, ternyata kamu duda. Tapi apapun itu, mas. Aku nggak masalah dengan masalalumu. Bukankah kita harus menerima semua milik pasangan kita. Kalau kamu bisa menerimaku masa aku enggak."


Akbar mencium tangan Jihan. Mata mereka beradu. Jihan mencoba menahan degup jantungnya yang terasa kencang.


"Sekarang sudah jam berapa sayang?"


Jihan melirik handphonenya "Jam 8 malam, mas."


"Kita sholat isya yuk." Jihan mengangguk mengikuti suaminya untuk berwudhu.


"Aku berniat salat sunah setelah nikah dua rakaat karena Allah Ta'ala Allah Maha Besar."


Dalam ibadah salat sunah ini, sang suami menjadi imam bagi istrinya. Pasangan baru ini pun melangsungkan ibadah itu dengan berdua saja. Selain itu, bacaan salat yang dilakukan boleh diucapkan secara keras. Jihan dan Akbar akhirnya selesai menunaikan ibadah sholat sunah dilanjutkan dengan Sholat Fardhu.


"Han"


"Iya, mas."


"Aku menginginkannya. Bolehkah?"


"Apa kamu tidak kecewa nantinya?"


Akbar menggeleng. Dia sudah menerima kekurangan istrinya. Jihan akhirnya menyanggupi permintaan suaminya.


Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.


Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”


Akbar mengecup kening istrinya. Bibir mereka beradu, dari kecupan kecil berubah menjadi menuntut. Akbar merebahkan tubuh jihan diatas ranjang, tangannya mulai menuntun kearah tali lingerie istrinya.


Dan


Tangannya mematikan lampu meja dikamarnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2