
Ilham baru saja keluar dari kamar mandi membersihkan dirinya. Hari ini dirinya akan mengikrarkan janji sehidup semati dengan seorang wanita. Wanita yang mungkin baru akan dikenalnya setelah menikah. Wanita yang dia sendiri tak tahu wujudnya. Lama dirinya terduduk di sofa kamarnya.
Lalu bergegas mengambil satu persatu barang yang akan dipakainya.
Tatapannya kearah sebuah parfum. Parfum yang dulu disukai wanginya oleh Gita. Sekarang parfum itu juga membuat Siti betah bersembunyi dibalik dadanya. Ilham menyimpan parfum tersebut, berjanji tidak akan memakainya lagi. Ilham memakai jas pengantinnya untuk akad nikah. Warna putih yang sepadan dengan kulit. Kemarin dia mendengar kalau tema pernikahannya adalah white alias putih. Dia juga mendengar kalau itu permintaan pengantin wanita.
Sama dengan kamu, ti. Kamu juga suka warna putih.
"Wah, ternyata adikku ganteng juga." Alam masuk ke ruang milik Ilham. Mengecek kesiapan sang adik. Alam membantu Ilham merapikan jasnya.
Semenjak Gita meninggal, Alam dan Ilham sedikit demi sedikit mulai mendekatkan diri. Alam juga mulai menerima Brian sebagai ayah kandungnya. Itu juga karena Gita selalu mencoba mendekatkan mereka bertiga. Setiap ada acara, Gita selalu mengajak Ilham dan Brian untuk gabung.
Flashback on
"Kamu harus kasih contoh untuk anak kita. Tidak ada hidup yang sempurna, sayang. Perlu ada kerikil untuk menjadi yang sempurna. Aku nggak sempurna, kamu juga nggak sempurna. Kamu ingat, kita bersama sekarang tentu ada kerikil dulu, dari kita jatuh ke lobang, bertemu lagi setelah bertahun-tahun, terpisah lagi setelah banyak masalah diantara, dan sekarang..." Ucap Gita kala itu.
"Begitu ayah Brian dan Ilham, kalian bisa berkumpul juga perlu perjuangan. Mama marni sudah cerita kalau Ayah Brian tidak tahu mama Marni hamil, dan ayah Brian meninggalkan mama Yulia di hari pernikahannya demi mencari mama Marni. Seperti aku dulu, yang berjuang sendiri melawan buta dan lumpuh, tapi yang kutunggu zonk."
Alam memeluk sang istri "Maafkan, aku, Gita. aku mencarimu, aku terus menunggumu saat kamu dibawa ke singapura, tapi saat kamu pulang, kamu malah mau menikah dengan Ilham."
"Dan sekarang hidupku makin sempurna setelah bersamamu, sebentar ada malaikat cantik yang menyempurnakan cinta kita." Alam menjentik hidung sang istri.
"Nah, itu pinter. Tumben suamiku otaknya encer." Gita mencium pipi suaminya. Tapi bukan Alam namanya yang tidak cari kesempatan. Alam menarik wajah sang istri lalu dengan rakus melahap bibir wanita yang hampir satu tahun dinikahinya.
Flashback off
"Kak!" Panggilan ilham membuyarkan lamunannya teringat akan sang istri.
Alam menyeka air matanya, lalu beranjak ke hadapan Ilham. Lelaki yang baru-baru ini diakui sebagai adiknya, lelaki yang dulu dia jauhi karena memperebutkan seorang yang sudah jadi istrinya, lelaki yang masih disayang almarhumah istrinya. Sekarang sesuai permintaan terakhir sang istri, untuk mengawalnya sampai menikah. Sekarang lagi-lagi dirinya memenuhi keinginan itu.
"Bagaimana penampilanku?" Ilham meminta pendapat sang kakak.
"Keren" Alam memberikan jempol pada sang adik.
"Akhirnya kamu kembali melepas masa dudamu, ham. Semoga ini yang terakhir, jangan lirik wanita lain lagi setelah menikah."
Ilham tertawa mendengar wejangan sang kakak. Tangannya menepuk bahu Alam "Sabar, ya, kak. Sebentar lagi kakak pasti menemukan pengganti Gita."
Alam membalas tepukan Ilham "Nggak akan. Nggak akan pernah ada yang bisa gantiin Gita." Lalu mereka berjalan keluar kamar menemui keluarga yang sudah menunggu.
__ADS_1
"Wah, anak mama gagah sekali." Mama Mila memeluk ilham dengan penuh haru. Di susul dengan papa pramono dan ayah Brian. Oma pun meneteskan air matanya.
"Kenapa pada sedih? Aku mau nikah, bukan pergi jauh." Ilham heran sama orang-orang didalam ruangan yang mewek semua.
"Kami terharu melihatmu, nak. Akhirnya ada juga yang mau sama kamu, nak." ucap oma sambil tertawa walaupun wajahnya masih sembab.
"Omaaaaa..." Rengek Ilham.
"Hahahahhhaa... ternyata adik aku bisa merengek juga. Cepetan nikah biar tahu rasanya malam pertama. Kalau bingung tinggal telpon aku saja." goda Alam.
Semua pada melihat ke arah Ilham. Kaget dengan apa yang dituturkan Alam.
"Jadi kamu belum .." Mama menatap seperti tak percaya.
Ilham menatap Alam seperti mau menerkam. Merasa lelaki didepannya tak bisa menjaga mulut.
Kurang asam kak Ronal! Ngapain dia buka suara disaat seperti ini? Kan kan mereka mulai menggodaku. Dasar! awas aja!
"Lam, tolong ambil kan dasi hitam yang ada dimeja." Perintah Ayah Brian.
"Loh, itu ayah sudah pakai dasi. Buat apalagi?"
"Ambil aja dulu." Brian tetap meminta putra sulungnya mengambil dasi hitam.
"Kok ditutup sih? Sebenarnya aku ini mau nikah apa mau diculik sih." protes Ilham.
"Udah kamu diam aja. Nggak usah bawel" Ucap ayah Brian.
Semua yang di ruangan hanya tertawa kecil melihat kekesalan Ilham. Karena mereka tahu ini adalah pernikahan surprise buat sang duda. Semua menuntun ilham untuk menuju ke tempat akad yaitu yaitu sebuah lokasi taman dekat hotel selabina.
klik
Suasana dipelataran akad mulai ramai. Para undangan masih menunggu kedua pengantin sampai. Dekorasi yang cantik bernuansa putih, shabby chic dan vintage menambah keindahan area pernikahan.
Mobil pertama adalah pihak mempelai pria. Beberapa dari mereka memakai jas putih sesuai dengan atribut konsep acara. Bahkan pihak WO juga menyediakan spot cantik untuk berselfie ria.
Ilham yang matanya ditutup, dituntun duduk di tempat akad. Perasaan deg-degan pasti ada, walaupun bukan pernikahan pertama. Tapi entah seperti yang pertama.
"Apakah sudah boleh dibuka?" Ilham sudah tak tahan karena pandangannya gelap gulita.
__ADS_1
"Sabar. Biar nanti kami yang membukanya." Bisik Alam sebagai pendamping pengantin.
Huft, kenapa aku deg-degan. Aku berasa mau nikah sama Siti, bukan sama si Lina. Aduh, lupain Siti, dia pasti sudah nikah sama pilihan papanya. Sekarang jodohmu lina, ham! ingat Lina! bukan siti!
Ilham terus bermonolog menutup perasaan groginya. Tangannya berkali-kali bermain-main. Alam yang duduk didekatnya tertawa terkikik melihat tingkah adiknya.
"Tarik nafas" Ilham mengikuti instruksi sang kakak.
"Lepaskan" lagi-lagi ilham mengikuti instruksi Alam.
"Lega?" tanya Alam.
Ilham menggeleng. Bukan lega yang dirasa, melainkan bertambah grogi.
"Ini baru akad,ham. Gimana kamu pas nemenin istrimu melahirkan."
Tak lama iringan pengantin wanita datang. Sama seperti Ilham, sang mempelai wanita pun matanya di ditutup. Tiara berjalan dengan perasaan tidak karuan. Kepala sedikit menunduk menandakan ketidaksiapannya dengan sosok yang akan menjadi suaminya.
Suara mc pun terdengar
"Kedua pengantin sudah berada di altar akad nikah. Sebentar lagi kita akan menyaksikan sepasang dua anak manusia yang akan mengikrarkan janji sehidup semati. Berjuang bersama mengarungi kehidupan baru yaitu rumah tangga.
Kepada pendamping pengantin harap membuka penutup mata keduanya."
Pada akhirnya Jihan dan Alam membuka penutup mata sang calon mempelai.
Keduanya yang tadi saling menunduk mulai menaikan kepalanya.
Dan ..
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpakalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
__ADS_1
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
Bersambung