
POV Siti
Aku membuka mata, menatap sosok yang tertidup lelap diatasku. Kalian tahu! Perasaan ini tidak bisa diungkapkan dengan hal apapun. Bahagia! pasti. Karena pria yang kuharapkan sekarang menjadi suamiku.
Setelah kami semalam hampir melakukan malam pertama. Hampir, ya! tiba-tiba dikejutkan dengan kondisi papa mertuaku yang drop. Belum lagi saat aku sendiri dikamar hotel, banyak drama horor yang kutemukan. Awalnya aku mencoba mengabaikan saat keran kamar mandi tiba-tiba hidup. Berusaha menutupi ketakutan menutup tubuhku dengan selimut. Tapi teror tak berhenti sampai disitu. Selimutku beberapa kali ditarik sama si kasat mata tersebut.Takut? Iya, aku takut. Maka aku memberanikan diri kabur ke kamar ibu.
Aku pun menjadi susah tidur. Bantal dan guling serasa horor dimataku. Tiba-tiba kak Jihan mengajak aku ke rumah sakit. Padahal sudah jelas Ilham bilang agar aku tetap dihotel.
"Lihat kamu kayak ketakutan aku jadi kasihan. Ilham harus tahu kondisi istrinya! Sudah, kamu ikut sama aku."
Haduh, kak Jihan drama banget sih. Mau tidak mau aku mengikuti keinginannya. Kami meminta bodyguard yang bernama Akbar mengantarkan ke rumah sakit. Kubayangkan reaksi ilham ketika aku melanggar perintahnya.
Tapi sampai dirumah sakit, justru berbalik. Saat kak Jihan menceritakan kejadian di kamar itu, tak ada protes darinya. Untunglah, aku jadi lega.
Pagi ini, ketika mataku terbuka ada wajahnya yang sedang terlelap. Wajah yang semoga bisa bersamaku hingga masa tua nanti. Tergerak aku untuk mengecup kening, seperti yang dulu dia lakukan padaku. Aku mencoba bangun, namun terhenti ada tangan yang menarikku. Tubuhku kembali terjatuh, bukan dipangkuannya, melainkan dibawah tubuhnya.
"Morning, sayang." sapanya
"Mo..mo...morning juga." Balasku.
Ya Allah kenapa momen seperti ini membuatku takut! Lebih takut dari kejadian tadi malam. Aku mencoba bangkit tapi tubuhnya masih menahanku.
"Mas, malu ah! nggak liat disamping masih ada papa."
"Papa kan tidur." Senyumnya terlihat seperti nakal.
Aku memaksa mendobrak tubuhnya. Meskipun dia lebih kuat dari tubuhku. Tapi aku bisa melepaskan diri. Paling tidak, aku tahu situasinya sedang tidak memungkinkan.
"Mau kemana?" panggilnya
"Lapar." Aku merasa ada yang protes didalam sana.
"Yuk!" Tangannya menarikku dengan paksa. Bak seperti tersihir, aku mau saja ditarik paksa seperti itu.
klik
POV author
Tak jauh dari gedung rumah sakit, ada sebuah warung kecil yang kebetulan sudah buka. Warung tersebut menyediakan sarapan seperti nasi uduk, lontong dan soto.
Pilihan mereka tentu saja soto, dilengkapi nasi panas dengan taburan bawang dan kerupuk emping pastinya.
"Aku suapin ya" Ilham menyodorkan satu suapan soto bersama nasi ke mulut Tiara.
"Aku makan sendiri aja, mas. Kamu habis sotomu juga."
Tiara dengan lahapnya menyantap soto yang ada didepannya. Sampai Ilham menegur istrinya agar makan dengan pelan.
"Laper banget kayaknya."
__ADS_1
"Banget! Tahu dari semalam nggak makan apa-apa." cerocos Tiara dengan mulut yang masih penuh.
"Kenapa nggak bilang? Kalau tahu begitu kan aku beliin kamu makanan."
Tiara menghentikan makannya. Seingatnya sebelum sholat dia sudah bilang kalau perutnya sangat lapar.
"Bukankah aku sudah bilang semalam? seharusnya kamu lebih peka, dong."
"Iyakah, aku kok nggak ingat, ya?" Ilham menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat jawaban Ilham sontak membuat Tiara kesal bukan main.
"Kalau yang seperti ini aja kamu bisa lupa, apalagi hal yang lain. Memang sudah sifat kamu, ya, NGGAK PEKA!" Tiara meninggalkan Ilham di warung tersebut.
"Sayang!" pekik Ilham saat menyadari istrinya tak ada ditempat.
Ilham saat melihat bercak darah di baju belakang Tiara. Dengan sigap dia membuka piyamanya untuk menutup pinggul istrinya. Dia rela jadi tontonan dengan tubuhnya yang sixpac dari pada istrinya yang jadi tontonan.
"Mas, kamu ngapain buka baju?" Tiara kaget melihat tubuh suaminya jadi tontonan para suster dirumah sakit.
Salah seorang suster menyeletuk "Ih, mas nya ganteng. Badannya keren lagi."
Tiara yang mendengar itu langsung melotot "Apa liat-liat suami orang!"
Ilham mencoba menenangkan istrinya yang sedari tadi sensi. Sesekali menghela nafas karena semua yang menatap dirinya kena damprat Tiara
"APA!Senang, ya. jadi tontonan mereka!"
"Kamu tunggu sini, ya!" Ilham kembali berlari meninggalkan istrinya.
Tak lama kembali membawa kantong hitam kecil.
"Sepertinya kamu lagi haid, sayang. Jadi aku belikan ini." Bisik Ilham menuntun sang istri ke toilet.
"Maafkan aku tadi, mas. Nggak tahu dari tadi bawaannya kesal mulu.Kamu, sih, nggak peka!"Tuduh Tiara menatap suaminya dengan tajam.
Kaki kecilnya berjalan memasuki kembali ruang rawat papa Pram. Mereka menatap aneh ketika Ilham tidak berbaju dan Tiara masih memakai daster.
Alam menatap keduanya dengan meledek "Abis ngapain kalian, nyetak gawang lagi?"
Tiara dan Ilham saling menatap, seakan tidak mengerti dengan ucapan Alam. Ilham menyeret Alam pergi keluar ruangan.
"Kenapa?" Alam masih heran dengan penampilan Ilham.
"Kak tolong jawab! Kalau perempuan lagi haid boleh nggak ..."
Alam menepok jidat. Seorang dokter menanyakan hal itu pada non medis. Menurut Alam, harusnya Ilham lebih tahu karena statusnya sebagai dokter.
"Kak!"
__ADS_1
"Nggak boleh! Kamu harus puasa dua minggu!"
Ya dua minggu! Semalam aja udah gagal dan sekarang harus menunggu dua minggu! Ya Allah bisa berkarat nih! batin Ilham.
Alam cuma tertawa melihat ekspresi adiknya
"Yang, sabar ya, ham. Aku tahu kamu kuat." Alam terkikik meninggalkan Ilham yang sudah tidak karuan.
"Mas kita pulang dulu yuk. Ganti baju. Gerah!" Tiara mengibas-ngibas tubuhnya hingga terlihat totol merah dilehernya.
Lagi-lagi Alam mengganggunya "Wah, ham. Si genderuwe penunggu udah duluan tuh!"
"Yuk!" Ilham menarik tangan Tiara untuk menghindar dari gangguan Alam.
"Eh, tunggu! Kalian mau pulang seperti ini?"
Alam menatap keduanya dari atas sampai bawah. Lalu menggeleng kepala melihat kelakuan adiknya dan iparnya.
"Siti biar aku antar aja! Kamu pulang ke rumah ayah aja, ham. Aku lihat bajumu masih ada disana. Kamu mau ke hotel kan,ti?"
Tiara menggeleng. Dia ogah pulang ke hotel lagi.
"Aku mau pulang ke vila aja."
klik
Bu, aku mau pulang ke jakarta." Pamit Jihan pada Ibu Aisyah.
Sudah tiga hari dirinya berada di Sukabumi. Tadi malam papanya meminta Jihan pulang karena ada trouble di kantor. Matanya menatap hamparan perkebunan teh yang sangat jarang ditemui. Lama dirinya berjalan sendiri ke perkebunan tersebut, sambil sesekali memotret indahnya kebun teh.
Jihan menghirup udara segar, aroma daun teh yang mewangi, membuatnya tak ingin beranjak.
"Kamu mau pulang, han?" Sebuah suara mengagetkan lamunannya.
"Iya, pekerjaanku sudah menunggu." jawab Jihan sambil mendaratkan punggungnya ke batang pohon yang besar.
"Hmmm..boleh aku main ke tempatmu?"
"Bolehlah masa enggak, bar?" Jihan tertawa renyah membuat akbar tak berkedip.
"Masalahnya aku ini orang miskin, han. Aku takut diusir. Kamu itu kelihatan bukan dari keluarga sembarangan. Bukan seperti aku!" Akbar mencoba merendah.
"Bar, rumahku welcome sama siapa saja, bar."
Jihan beranjak dari dahan pohon lalu berjalan kembali kearah vila. Diikuti Akbar yang berjalan disampingnya.
Han, aku akan mengejar cintamu. Bersaing dengan Jonathan. Tunggu aku, ji.. Aku akan menghalalkanmu tanpa harus pacaran.
Bar, kamu pria yang baik. Tapi akan lebih baik kamu mendapatkan yang sepadan, bukan aku yang sudah tak suci lagi. Jika kamu tahu yang sebenarnya, apa kamu mau menerimaku? Aku rasa tidak!
__ADS_1