Mengejar Cinta Siti

Mengejar Cinta Siti
73. Lamaran dadakan (Jihan dan Jo) 2#


__ADS_3

Pukul 19:00, Di lorong Rumah Sakit Kasih Bunda


Jihan menatap cahaya lampu ruang inap yang ditempatinya sekarang. Ada rasa gugup yang menerpanya apalagi sebentar lagi akan dioperasi.


"Ma" Jihan memanggil sang mama yang duduk disampingnya.


"Iya, nak."


"Apakah ilham dan Siti sudah sampai?"


Mama kiki terdiam sejenak. Dia malas berurusan dengan ilham, karena yang dia ketahui ilham yang menghamili jihan.


"Belum, nak. Nanti kalau mereka sudah sampai pasti kesini." mama mencoba menenangkan jihan yang sedari tadi menanyakan perihal siti dan ilham.


"Ma, jihan mau buat pengakuan."


"Soal?"


"Makanya aku menunggu mereka. Karena mereka berhak tahu, agar salah paham ini bisa terselesaikan. Jadi kalau terjadi sesuatu padaku, aku bisa pergi dengan tenang."


Mama kaget mendengar ucapan terakhir jihan. Pikiran Jihan sudah sampai kearah kematian. Mama berusaha menyabarkan sang putri agar kuat dan bertahan.


"Nak, Jangan ngomong seperti itu. Kamu pasti sembuh kok, ini cuma rahim diluar kantong kok. Nggak sampai membahayakan kesehatanmu."


"Assalamualaikum" Sebuah suara memasuki ruang rawat jihan.


"Siti, ibu Aisyah." seru jihan. Orang yang ditunggu sudah datang.


Mereka saling memeluk, terutama ibu Aisyah yang sangat sayang pada Jihan. Jihan menatap keduanya seperti ada yang kurang.


"Ilham mana?"


Siti dan Ibu Aisyah saling berpandangan. Menurut siti, seharusnya ilham sudah ada, karena ilham dokter dirumah sakit ini.


Kemana ilham? Seharusnya dia sudah lebih dulu disini. Masa kalah cepat dari kami yang jarak jauh.


Siti keluar dari ruang rawat inap Jihan. Menyusul keruang kerja ilham, tak ada siapapun dalam ruangan itu. Siti berjalan mengitari meja kerja ilham.


Sudah tiga hari, sejak kejadian malam itu, mereka tidak bertemu ataupun saling kontak. Karena handphonenya ditahan papanya. Siti baru mengetahui kabar Jihan, karena Jihan mengabari lewat ponsel ibu Aisyah.


Sebuah tangan mengalung ke pinggangnya, membuat Siti tersentak. Mata mereka bertatapan lama, jantung berdegup kencang. Selama tiga hari mereka menahan rasa rindu yang mendera. Ilham memeluk Siti dengan erat, mengecup pucuk rambut sang kekasih.


"Kamu kemana saja? Kenapa tidak pernah mengabariku? Kamu tahu betapa tersiksanya aku, wahai rembulanku."


Siti menyembunyikan wajahnya dibalik dada Ilham. Wangi parfum lavender membuat betah lama dalam pelukan itu.


"Maaf, handphoneku disita papa. Untung kak Jihan mengabari lewat ponsel Ibu. Jadi ada alasan untuk keluar rumah."


"Kamu tahu, ti. Sehari saja tidak mendengar kabarmu, aku sudah gelisah. Apalagi ini sudah tiga

__ADS_1


hari? Rasanya .." ilham menghentikan ucapannya saat melihat beberapa bodyguard berdiri didepan ruangannya.


"Ti, papamu ..." llham memberi kode pada Siti saat anak buah Adolf mendekati ruangannya.


"Rasanya apa ..." Siti tidak peduli dengan kedatangan anak buah papanya. Yang diinginkannya saat ini adalah bersama Ilham.


"Karena kamu sudah membuatku tersiksa, maka kamu harus kuberi hukuman."


"Nanti saja soal itu, kita harus menemui kak Jihan, Dia sudah menunggu." Siti menarik tangan ilham.


Tapi lelaki itu menahan tubuhnya, membuat Siti tidak karuan.


"Hukumannya dulu, baru pergi." Ilham masih menahan tubuh Siti.


Siti menghela nafas panjang.


Susah ya punya pacar otak mesum.


"Baiklah, daripada kamu kebawa mimpi buruk, sampai ileran pula." Sungut Siti.


Ilham memasang wajahnya berharap Siti menciumnya. Siti tersenyum melihat gelagat sang kekasih. Siti menatap kucing yang sedang lewat, terlintas ide jahil.


Cup!


Ilham masih memejamkan matanya merasakan nikmatnya emutan tersebut.


"Buka matanya dong." sahut Siti sambil duduk dikursi ilham. Lalu mengendap keluar ruangan. Siti melihat anak buah papanya sudah pergi.


"Sitiiii!"


Siti terkikik saat mendengar jeritan ilham. Sekarang dirinya sudah diluar ruangan untuk kembali menemui jihan.


Klik


"Kamu darimana, ti? lama sekali?" Omel ibu Aisyah.


"Maaf, bu... tadi aku..."


"Kalian malah sibuk pacaran pasti, ini sudah mulai larut malam." omel ibu Aisyah melihat Siti baru kembali.


Jihan memaklumi obrolan ibu dan anak tersebut. Dia tahu kalau Siti sedang mabuk asmara, Dia juga tahu kekhawatiran seorang ibu.


"Maaf, baru datang. Tadi ada pasien jantung yang harus di cek." Ilham muncul setelah mencuci wajahnya.


"Loh, bukannya itu tugas Dodo. Dia kan dokter jantung." Ucap Jihan setengah penasaran. Dia juga ingin tahu apa kabar lelaki itu. Bukan karena ada rasa tapi cuma ingin tahu saja.


"Dodo sudah diberhentikan, kak. Dia mengidap HIV Aids, jadi kebijakan rumah sakit untuk memberhentikannya. Demi menjaga reputasi rumah sakit." cerita Ilham sambil duduk disamping Jihan.


"Sekarang kalian sudah berkumpul, ada yang mau aku jelaskan." Jihan memulai pembicaraan inti.

__ADS_1


Mereka menunggu apa yang mau diceritakan jihan.


Penasaran apa yang mau dijelaskan oleh wanita usia 32 tahun tersebut.


"Mama..Ibu Aisyah.. Siti dan juga Ilham. Maafkan Jihan, ya. Jika selama ini banyak menyakiti kalian baik di sengaja dan tak di sengaja. Jihan minta maaf jika selama ini meresahkan kalian.


Bayi ini bukan anak Ilham, tapi anak Dodo. Maafkan aku Ilham jika hal ini menghambat hubunganmu dengan Siti. Maafkan aku, ti jika aku sudah banyak menyakitimu, itu karena aku cemburu padamu. Maafkan aku Ibu Aisyah, mungkin selama ini ada sikapku yang kurang mengenakkan pada ibu."


Mama kiki terkejut mendengar pengakuan Jihan, ada rasa tak enak karena sudah curiga macam-macam pada ilham dan keluarganya. Mama terus menyeka air matanya, sesak terasa didada. Wajahnya dialihkan agar sang tak melihat kesedihannya.


"Kak Jihan aku sudah maafin kakak. Kakak nggak salah kok, wajar sikap kakak seperti karena di PHP sama dia." Ucap Siti sambil menunjuk orang dimaksud.


"Ibu Jihan mari kita menuju ruang operasi." Panggil suster yang masuk ke ruang rawat Jihan.


Suara roda hospital bed terdengar nyaring sepanjang koridor rumah sakit. Semua yang ada disana ikut mengantar Jihan sampai depan ruang operasi.


"Kamu harus kuat, ya. Kami disini akan mendoakanmu." Ucap mama Kiki sambil mengecup kening sang putri.


Dari kejauhan sepasang mata memantau Jiham hingga masuk ruang operasi. Ingin rasanya membaur dengan mereka, tapi dirinya bertemu keluarga jihan.


Mereka adalah orang yang menghancurkan keluargaku.


Aku akan masuk ke kehidupan mereka dan mengambil kembali milik keluargaku


Aku bersumpah demi keluargaku


Akan memporakporandakan keluargamu, Alex.


Lihat saja nanti!


Lelaki itu tersenyum saat melihat photo Jihan di sosmed. Lalu pergi meninggalkan rumah sakit dengan sejuta pemikiran.


Siapakah lelaki itu?


Apa yang akan dia lalukan pada jihan?.


...####...


Tetap terus pantengin cerita ini.


Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.


Jangan lupa likenya


Jangan lupa komennya juga rate


Kalau berkenan bantu vote dan hadiah


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2